Married by Accident

Married by Accident
Hanya ingin fokus



"Di mana Floe, Erland?" tanya wanita paruh baya yang baru saja memeriksa bersama pegawai mengenai gaun pengantin sang menantu yang tadi dicoba.


Ia mengerutkan kening dan menatap penuh intimidasi pada putranya karena mempunyai firasat buruk. Hingga ia seketika memukul lengan kekar putranya di balik setelan lengkap untuk acara resepsi pernikahan.


"Dia pulang naik taksi, Ma." Erland yang ingin segera ganti pakaian karena ingin pulang agar bisa segera berkemas.


Ia juga ingin berbicara pada sang ayah untuk mengurus perusahaan saat berada di London karena tidak tahu sampai berapa lama di sana. Bahwa ia akan selalu berada di sisi Marcella hingga sadar dan pulih.


"Dasar suami keterlaluan! Bisa-bisanya kau membiarkan istrimu yang tengah hamil pulang sendirian naik taksi. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Sang ibu yang merasa sangat geram dari pertama kali Erland menikah mendadak dan sekarang malah terkesan tidak peduli.


Sementara itu, Erland hanya diam meskipun dipukul beberapa kali karena berpikir jika ia tidak bersalah. "Dia yang keberatan kuantar, Ma. Aku tidak mau repot-repot memaksanya demi kebaikannya yang gampang berubah mood. Aku mau ganti pakaian dulu karena harus berkemas." Kemudian melangkahkan kakinya yang panjang menuju ke ruang ganti.


Ia sebenarnya tadi ingin mengatakan pada Floe jika akan membiarkan Floe berbuat sesuka hati tanpa melarang ini dan itu seperti biasa. Bahkan juga hendak mengatakan jika akan lebih mementingkan Marcella, tapi tidak bisa melakukannya karena Floe enggan menatapnya atau pun mengobrol.


'Harusnya aku bilang padanya jika membebaskannya dan tidak akan menyuruhnya tinggal bersama di rumah,' gumam Erland yang bisa mendengar suara dari sang ibu, tapi sama sekali tidak diperdulikan karena merasa percuma membahas tentang sesuatu yang telah terjadi.


"Erland, tunggu! Mama belum selesai!" Wanita yang kini berniat hendak mengejar putranya untuk memberikan pelajaran, kini mengurungkan niatnya ketika dipanggil oleh pegawainya.


"Nyonya, ponsel Anda berdering dari tadi." Wanita dengan seragam hitam tersebut mengulurkan tangannya yang membawa ponsel bosnya.


Itu karena tadi memang sedang disuruh untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja saat buru-buru ingin membantu menantunya mencoba gaun pengantin di acara resepsi nanti.


"Siapa? Mengganggu saja," ucapnya yang kini menerima ponsel dari pegawai dan bisa melihat nomor dari salah satu klien VIP.


Ia berbicara sambil menatap ke arah tiga orang pegawainya yang masih membantu membawa gaun berwarna biru muda ala-ala princess tersebut.


"Siap, Bos," sahut tiga wanita itu dengan kompak dan bersamaan melihat bos mereka berbicara di telepon dengan sangat serius.


Berbeda dengan sosok pria yang berada di ruang ganti. Erland yang baru saja selesai berganti pakaian, kini mulai berjalan menuju ke arah cermin sambil menatap penampilannya.


Ia terdiam beberapa saat hingga tiba-tiba ada bayangan dari dua wanita yang tak lain adalah Floe dan Marcella dengan wajah sama-sama murung dan memelas, sehingga membuatnya tidak tega.


"Marcella?" Menatap bergantian dua wanita itu. "Floe?"


Ia seperti bisa melihat masa depan karena bayangan Floe tengah mengusap perutnya yang membuncit. "Aku hanya perhatian pada darah dagingku, sama sekali tidak ada perasaan padamu, Floe."


"Cintaku hanya untuk Marcella dan aku akan melakukan apapun agar ia bisa selamat dari maut. Aku tidak akan pernah memaafkan diri sendiri jika sampai ia tidak selamat." Saat ia baru menutup mulut, mendengar suara ponsel miliknya yang tadi ia masukkan ke saku celana lagi.


Begitu melihat yang menelpon adalah kontak Floe, ia merasa bingung harus menjawab atau tidak. Selama beberapa saat ia hanya menatap ke arah layar ponsel yang berdering tersebut hingga mati.


"Mulai hari ini, aku tidak ingin ada sesuatu hal yang lebih di antara kita karena aku hanya ingin fokus pada Marcella." Erland kini merasa lega karena berpikir jika keputusannya benar dan tidak akan lagi ragu untuk hanya memikirkan Marcella yang tengah kritis.


To be continued...