
Beberapa saat lalu, Floe yang baru selesai mengganti pakaiannya, merasa bosan menunggu karena sangat penasaran dengan apa yang dilakukan mertuanya saat ini. Tidak hanya itu saja, sejujurnya sangat ingin tahu penyebab tingkah mencurigakan dari Erland yang buru-buru pergi untuk menerima telepon.
"Lebih baik aku mencari tahu daripada stress di sini karena bertanya-tanya." Kemudian ia bangkit berdiri dari sofa yang menjadi tempat duduknya selama beberapa menit.
Ia terlihat melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah depan dan tentu saja mengedarkan pandangannya ke sekeliling area butik mertuanya tersebut, tapi tidak menemukan sosok yang dicari.
Kemudian ia semakin berjalan ke depan dan melihat sekilas siluet ibu dan anak yang berada di depan pintu masuk butik, sehingga langsung berjalan keluar.
"Kenapa mereka terlihat semakin mencurigakan?" Awalnya ia ingin menghampiri dan bertanya, tapi begitu keluar dari pintu, mendengar suara Erland yang tengah berkeluh kesah karena menyesali perbuatannya yang berakhir menikahinya karena hamil.
Ia saat ini hanya bisa meremas kedua sisi pakaian berwarna biru muda yang dikenakan dan menahan perasaan membuncah di dalam hatinya.
'Harusnya aku sadar dari awal dan tidak menahannya untuk membohongi hati yang sampai sekarang masih terpaku pada wanita bernama Marcella itu,' gumam Floe yang seketika merasa tidak ada gunanya menahan pria itu dengan alasan impas.
Hingga tanpa sengaja bersitatap dengan pria yang kini sangat terkejut melihatnya dan memanggil namanya. Namun, ia berusaha untuk bersikap tidak terjadi apapun pada hatinya dengan mengulas senyuman ketika mendengar suara bariton pria di hadapannya.
"Apa kamu sudah lama di situ, Floe?" tanya Erland yang merasa tidak enak karena mengungkapkan keluh kesahnya pada sang ibu dengan didengarkan oleh wanita yang tengah mengandung benihnya tersebut.
Sementara itu, wanita paruh baya yang saat ini seketika menoleh ke belakang untuk melihat menantunya, tentu saja merasa sangat terkejut karena tidak menyangka jika wanita yang sedang berbadan dua tersebut mendengar pembicaraan mereka.
"Sayang, kamu di sini? Mama dan Erland barusan membicarakan tentang ...." Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh Floe.
"Aku sudah mendengar semuanya, Ma. Jadi, tidak perlu menjelaskannya. Aku yang menjadi penyebab Marcella bunuh diri. Meskipun permintaan maaf tidak mungkin bisa membalikkan keadaan menjadi lebih baik, tapi aku benar-benar menyesal karena telah membuat Marcella bunuh diri." Floe kini berjalan mendekati mertua serta pria yang berstatus sebagai suami di atas kertas tersebut.
Ia menahan amarah yang bergejolak di dalam hatinya karena menjadi seorang wanita yang sama sekali tidak berguna bagi keluarga karena tidak bisa menjaga nama baik, peserta menjadi penyebab seorang wanita bunuh diri.
"Pergilah temui dia dan pastikan baik-baik saja. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri jika sampai sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi." Kemudian beralih menatap ke arah mertuanya karena tidak kuat lebih lama untuk bersitatap dengan pria yang bahkan sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku pulang dulu, Ma. Tadi mommy memintaku untuk ke sana setelah selesai fitting gaun pengantin. Pasti mereka kangen pada putri satu-satunya ini," ujarnya dengan mencoba untuk tersenyum simpul demi menguraikan aura keheningan di antara mereka.
Sang ibu yang saat ini merasa bingung untuk menjawab, hanya tersenyum dan mengusap lengan menantunya tersebut. Kemudian beralih menatap ke arah putranya yang terlihat seperti orang bisu.
"Kamu antar Floe. Kalian pasti perlu berbincang lebih serius tanpa Mama." Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan putra dan menantunya agar lebih santai berbicara tanpa harus merasa sungkan atau tidak enak padanya.
"Ma, tidak perlu. Aku pulang sendiri saja," teriak Floe yang merasa jika mertuanya saat ini seperti tengah memberikan kesempatan untuk berbicara berdua dengan Erland.
Sementara itu, Erland yang saat ini hanya memikirkan tentang keadaan Marcella yang kritis di rumah sakit, seperti tidak punya topik pembicaraan dengan Floe.
"Baiklah jika itu maumu. Aku pesan taksi untuk mengantarmu," ucap Erland yang gini langsung mengeluarkan ponsel miliknya yang tadi dimasukkan ke dalam satu celana.
Floe sebenarnya ingin menolak agar bisa segera pergi meninggalkan pria di hadapannya tersebut, tapi berpikir jika itu akan terlihat seperti tidak menghargai kebaikan Erland, akhirnya hanya diam di tempat.
'Sikapnya 180 derajat berubah padaku. Erland kini kembali dingin seperti pertama kali datang ke rumah dengan mengancamku agar menikah dengannya demi keturunan,' gumam Floe yang saat ini merasa sandiwara pernikahannya akan kembali pada titik awal.
Bahwa tidak akan ada lagi kehangatan dari sikap seorang suami sekaligus calon ayah di dalam rumah yang selama beberapa hari ini menjadi tempat ternyaman.
'Harapku tak tak selaras dengan inginmu. Berbahagialah dengan pilihanmu yang tak menjadikan aku tujuan hidupmu,' lirih Floe yang saat ini terbangun dari kenyataan tentang sebuah harapan semu yang diukir dalam sebuah kepalsuan.
To be continued...