Married by Accident

Married by Accident
Panggilan



Floe yang saat ini langsung membungkuk hormat setelah menganggukkan kepala, lalu menunggu apa reaksi dari pria yang ditabraknya kemarin. Ia bingung harus bagaimana bersikap karena khawatir jika dinilai terlalu percaya diri saat mengatakan kemarin bertemu dengan pria yang membuatnya kini harus mendongak saat menatapnya.


"Mohon bimbingannya ...." Floe merasa bingung harus memanggil apa. Jadi, saat ini ingin pria di hadapannya yang membantunya. "Presdir atau Tuan Dhewa?"


Sementara itu, Dhewa saat ini menyuruh pria di sebelahnya untuk kembali pada tugas utama yang tadi sudah dijelaskan karena ingin berbicara tentang pekerjaan apa saja untuk wanita yang akan membuatnya menjadi baby sitter itu.


Ia refleks langsung mengulurkan tangannya karena mengetahui jika belum memperkenalkan diri secara langsung meskipun sudah mengetahui siapa wanita yang membuatnya merasa seperti melihat seorang bidadari.


"Dhewa."


Floe yang tidak membuang waktu langsung menyambut uluran tangan dari pria yang membuatnya merasa tidak enak. "Ayu Ningrum. Anda belum menjawab pertanyaan saya."


Tidak ingin berlama-lama bersentuhan dengan wanita karena memang dari dulu sangatlah menjaga jarak dengan lawan jenis, Dhewa langsung melepaskan tangannya. "Ya itu jawabannya."


Seolah mendadak menjadi orang bodoh, Floe kini hanya bisa mengusap tengkuknya sekilas. "Tidak mungkin Saya memanggil Anda dengan hanya sebutan nama saja, bukan? Tidak sopan sekali."


Dhewa seketika memalingkan wajahnya dari wanita yang seperti keberatan itu. Kini, ia mengarahkan dagunya pada beberapa pekerja yang mulai aktivitasnya di lokasi dan tentu saja dengan tugas yang berbeda-beda.


"Kamu tahu kan kalau di sini hanya kamu satu-satunya perempuan? Sementara mayoritas pekerja di sini adalah laki-laki dan aku sudah bosan dipanggil pak, padahal belum tua. Sebenarnya aku sudah bilang pada mereka agar memanggil nama saja biar lebih akrab saat membahas pekerjaan." Kemudian ia menoleh ke arah Floe yang masih belum mengalihkan tatapannya dari para pekerja.


Bahkan lihat fokus menatap beberapa pria yang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. 'Hari ini dia datang dengan memakai riasan, tapi tidak tebal dan menor seperti kebanyakan wanita. Tapi aku lebih suka dia tidak memakai apapun di wajahnya karena terlihat jauh lebih cantik seperti bidadari.'


Floe yang tadinya fokus menatap ke arah pekerja, baru mengetahui bagaimana beratnya pekerjaan mereka yang menjadi pilar dari gedung-gedung tinggi menjulang yang menghiasi ibukota.


"Ehm ... jelas saja mereka sama sekali tidak mau karena memang rasanya sangat tidak sopan jika memanggil nama saja pada atasan. Begitu juga dengan saya yang akan memanggil Anda seperti itu, Pak Dhewa."


Saat ini Dhewa seketika tertawa terbahak-bahak karena mendengar kalimat terakhir serasa geli di telinganya. Entah mengapa ia merasa sangat aneh jika dipanggil seperti itu oleh wanita yang kini masih tidak mengalihkan perhatian darinya.


Ia bahkan memegang telinganya karena ingin menunjukkan keanehan yang dirasakan. Mungkin di kantor ia sering dipanggil seperti itu, tapi merasa sangat keberatan dan juga aneh ketika kalimat itu lolos dari bibir sensual berwarna merah jambu tersebut.


"Jangan semakin membuatku merasa seperti pria tua. Sudah kukatakan jika aku risi dipanggil pak. Kamu boleh memanggilku seperti itu jika berada di kantor, tapi ini sangat berbeda karena sekarang berada di lokasi seperti ini. Jadi, tidak perlu terlalu bersikap layaknya di perusahaan." Dhewa kini memberikan sebuah kertas putih berbentuk gulungan yang dari tadi dibawanya.


"Periksa atau pelajari itu dan jika tidak paham, kamu bisa bertanya." Ia kini ingin melihat bagaimana respon dari Floe. Apakah akan mematuhi perintahnya atau tidak.


Berbeda dengan Floe yang saat ini merasa bingung dengan apa yang ada di balik gulungan putih tersebut. Bahkan ia benar-benar merasa kikuk ketika harus memanggil nama saja pada pria yang memiliki paras seperti model tersebut.


"Baik, Pak." Floe seketika membekap mulutnya karena mendapatkan tatapan tajam dan menyadari jika itu adalah sebuah kesalahan. "Eh ... maaf, lupa. Baik, Dhewa."


Ia benar-benar merasa sangat canggung dan seperti merasa lidahnya terpeleset saja ketika menyebut nama pria yang akan membuatnya belajar menjadi seorang penerus yang bertanggung jawab dan berproses.


'Lidahku kepleset saat memanggilnya Dhewa,' gumam Floe yang kini seketika melihat senyuman dari bibir tebal pria yang seperti sangat senang dengan panggilannya.


To be continued...