Married by Accident

Married by Accident
Neraka Anna



Kamu cantik


Jadi tetap lah tersenyum


Paris ( waktu itu )


Anna menatap pantulan dirinya di cermin, dress dengan lengan terbuka akan menemani paginya hari ini, tampak sederhana dan elegant seperti keinginan Anna.


Tas senada dengan gaun Anna berlogo Channel siap menemani si cantik, tak perlu berlama-lama berdandan karena kontur wajah Anna yang memang sudah cantik keturunan dari ibunya. Netra berwarna cokelat dengan rambut hitam legam membuat Anna sama sekali tak mirip dengan sang Dady.


Anna melangkah kakinya keluar, memasuki mobil keluaran terbaru hadiah ulang tahun dari sang ayah, mobil berlajan membelah jalanan London, Anna ada janji bertemu dengan Raymond calon suaminya. Entahlah Anna merasa sedikit gugup, berulang kali dia mengecek riasan wajahnya. Anna kembali menatap laporan kesehatan yang dia bawa.


Dady menderita kangker darah.


Anna rasanya ingin kembali menangis, Dady selama ini terlihat baik-baik saja ternyata menderita sakit parah, setelah mendesak Aron asisten pribad sang Dady Anna baru tau selama ini Dady berobat kesana kesini hanya agar dia berumur panjang sampai Anna menikah, Dady selalu tersenyum tak pernah mengeluh. Anna merutuki kebodohan dirinya kenapa dia baru tau sekarang. Anna ingin membuat Dady bahagia maka dari itu dia menyetujui usul sang Dady untuk menikah dengan pilihan Dady. Setidaknya hal ini akan membuat Dady bahagia.


Anna menghapus air mata yang meluncur di pipinya, Mobil memasuki sebuah restoran mewah yang sengaja di pesan khusus untuk pertemuan Anna, terlalu berlebihan memang. Keluar dari mobil Anna di sambut seorang Maid, dia menunjukan tempat di mana Anna harus menemui orang itu.


Anna melihat seorang pria membelakangi dirinya, punggung tegap itu yang akan menjadi suaminya nanti.


Anna berdehem, memberikan isyarat bahwa dia ada di sini.


Pria itu menoleh, sejenak Anna kehilangan dirinya. Pria itu layak di sebut titisan dewa yunani, begitu tampan hingga Anna tersihir dengan pesonanya.


"Raymond Anderson" suara berat pria itu membuat Anna tersadar, tersenyum Anna mengulurkan tangan ya untuk menyalami pria di depannya.


"Anna Kimberly"


Mereka saling tersenyum, duduk berhadapan dan menikmati makan siang bersama. Anna tertawa pria di depannya sangat baik dan menyenangkan, mungkin mereka akan cocok.


"Jadi Anna katakan alasan kenapa kau menerima ku sebagai suamimu" Ray meletakan sendok terakhir, tanda bahwa dia telah menyelesaikan makan siang.


"Aku hanya ingin berumah tangga" jawab Anna sambil menatap Raymond, tentu saja dia tak akan mengatakan alasan sebenarnya.


Raymond menatap Anna, lalu sedetik kemudian tersenyum "kenapa kau begitu yakin Anna, bagaimana jika aku pria jahat"


"Dady tak pernah salah memilih orang Ray"


"Kau tau Anna, aku tak pernah percaya cinta pada pandangan pertama tapi sekarang aku mengalami hal itu"


Anna tersipu, pura-pura menoleh untuk menyembunyikan rona merah di wajah cantiknya. Raymond mengambil kesempatan, dia mengeluarkan cincin dari saku jas dan membukanya tepat saat Anna fokus menatap dirinya.


"Anna Kimberly Will You Marry Me"


Anna menatap Raymond dalam, mencari kebohongan di mata Ray namun nihil dia tak menemukan kebohongan itu.


"Lamaran di kecan pertama?"


"Kenapa?apa kurang romantis"


Anna mengeleng "Aku terima"


***


Anna menatap cincin berlian di jari miliknya, entahlah rasanya terlalu berat, Dady yang kelewat bahagia mempercepat pernikahan mereka. Anna hanya berharap Dady akan sembuh dengan penyakit yang dia derita, Anna belum berani jujur kalau dia tau penyakit sang Dady tapi Anna pastikan Dady menjalani pengobatan dengan baik melalui Aron.


"Anna"


"Ya Dady" Anna menatap sang Ayah Mr.Aland tampak baik-baik saja. Itu yang membuat Anna menyesal kenapa dia tak menyadari obat yang di konsumsi Dady terlalu berlebihan untuk penyakit biasa ya Anna sering memergoki Dady membawa sekantung obat dan selalu mengatakan bahwa itu vitamin, kenapa Anna harus percaya.


"Hari ini Raymond mengajak mu untuk melihat baju pernikahan, apa kau sibuk sayang"


Anna menggeleng "sama sekali tak sibuk Dady"


"Anna kau tau, Dady selalu berharap yang terbaik untuk dirimu, Dady tak pernah menyangka kau akan tumbuh secepat ini, dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain"


Aland menatap Anna sendu, rasanya tak ingin melepas kepergian Anna tapi dia harus, Aron memberi tau musuhnya telah datang pagi tadi ke paris dan sebelum semua terlambat dia harus menyelesaikan tugasnya.


"Anna pernikahan mu di majukan besok"


Anna menjatuhkan ponsel yang dia bawa, kenapa begitu terburu-buru.


"Tapi Dady kenapa" Anna menghampiri sang ayah, menatap dengan saksama "bukankah terlalu cepat"


"Dady merasa umur Dady sudah tak lama" Aland menghembuskan nafas lelah, menatap sang putri lama lalu tersenyum lemah "Dady sakit Anna, dan mungkin tingal sebentar lagi"


Anna menangis, memeluk sang ayah dan terisak "Kenapa?kenapa Dady tak pernah jujur dengan penyakit yang Dady derita"


"Dady tak mau malaikat Dady bersedih, dia harus tetap tersenyum"


***


Pernikahan Anna dan Raymond di percepat, tak butuh waktu lama untuk mempersiapkan segalanya. Aland dan segala uang yang dia miliki.


Anna menatap pantulan dirinya di cermin, cantik seperti biasa, mata sebab Anna di tutup dengan riasan sedemikian rupa. Semalam dia menangis tanpa henti.


"Nona jika anda sudah siap mari kita turun ke bawah, mempelai laki-laki sudah menunggu Nona"


Anna kembali menatap pantulan dirinya di cermin, menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar. Bersama sang ayah Anna berjalan menuju Altar. Di sana Raymond berdiri dengan gagah, menatap dirinya dengan tatapan haru. Jangan di tanya betapa gugupnya Anna saat ini.


Sebelum Anna sampai di Altar suara tembakan tiba-tiba terdengar.


Dor,,,dor,,,dor


Semua orang berlari menjerit, bahkan ada yang berjatuhan terkena tembakan. Anna panik dia tak tau harus bagaimana, seseorang menembak Raymond di Altar pria itu kesakitan Anna ingin mengahmpirinya tapi sebuah tangan menarik dirinya.


Tatapan Anna dengan pria itu terkunci, seakan dunia ikut berhenti Anna kehilangan konsentrasi nya. Pria itu menarik Anna menuju Altar, baru dia sadari sekarang tempat ini kosong hanya ada beberapa orang dengan pakaian hitam dan sang ayah yang memberontak di tawan oleh orang berpakaian seperti Bodyguard.


Beberapa mayat tergelat begitu saja menciptakan mual yang terasa di perut Anna.


"Dady"


"Anna" Dady berteriak, rasanya Anna ingin menghampiri sang ayah tapi cekalan pria itu di tangan Anna begitu kuat di bandingkan dengan Anna.


"Anna Kimberly maukah kau menjadi istriku, setiap selamanya pada diriku, menjadi pria dari anak-anak ku kelak" pria yang menarik dirinya berkata di depan pastor.


Anna menggeleng "Kau siapa"


"Anna apa kau bersedia, jika tidak maka kita lihat apa yang terjadi pada Mr.Aland yang terhormat" kata pria itu dingin menatap ke depan. Tanpa menoleh ke arah Anna.


Anna bimbang dirinya menatap sang ayah yang tersiksa di hajar para Bodyguard.


"Jangan Anna kau tak boleh melakukan hal itu"


"Anna Kimberly keputusanmu akan menyelamatkan banyak nyawa, jika kau tak bersedia maka dalam lima belas detik kau kehilangan segalanya"


Anna gugup "aku bersedia"


"Sean Cetta Xavier apakah anda menerima Anna Kimberly sebagai istri dan pasangan hidup anda"


"Aku terima" jawab pria itu datar. Mengeluarkan pistol lalu menembak Mr.Aland.


Anna berteriak histeris.


"Kau milikku Anna tapi sayang sekali aku tak suka pengkhianatan"


Pria itu tersenyum, rasanya Anna ingin membunuh nya saja.


Dan saat inilah penderitaan Anna telah di mulai.