Married by Accident

Married by Accident
XCIV



Dalam perjalanan pulang Renjani dan Nana sudah tertidur sedangkan Kelana masih sibuk dengan tablet di tangannya. Menjelang tengah malam Kelana masih saja bekerja, sesekali ia melihat Renjani dan Nana di sampingnya. Setiap kali melakukan itu, segaris senyum terbit di wajah Kelana.


Renjani telah mengubah Kelana menjadi pribadi yang hangat dan murah senyum. Bukan lagi Kelana yang temperamental dan dingin. Kelana sudah tidak pernah memecahkan barang-barang di apartemen, seingat Yana terakhir kali adalah saat Renjani pergi dari rumah. Setelahnya Kelana hampir tidak pernah marah besar. Yana lega mengetahui fakta bahwa Kelana bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Itu artinya perabotan di apartemen aman dan Yana tidak perlu sering membeli barang-barang baru. Walaupun pekerjaan Yana memang sudah jauh berkurang sejak ada Renjani. Ditambah lagi sekarang Yana sedang kuliah, Kelana meminta Yana lebih fokus pada kuliahnya.


Saat pulang dari acara tertentu mobil mereka selalu penuh oleh barang pemberian penggemar. Kali ini tak hanya Kelana yang mendapatkannya, Nana juga mendapat hadiah yang dibungkus dengan cantik oleh para penggemar. Di belakang kepala Kelana, sebuah buket bunga berukuran besar tampak menyembul membuatnya tidak bisa banyak bergerak.


Suara getaran ponsel membuat Kelana mengangkat wajahnya, melihat ke arah jok depan dimana Yana berada. Yana melihat layar ponselnya tapi menolak panggilan tersebut.


"Siapa? angkat aja." Tukas Kelana khawatir jika ponsel Yana yang terus menerus bergetar dapat membangunkan Renjani dan Nana.


"Nggak tahu Mas." Yana mengabaikannya karena tidak mengetahui siapa penelepon tersebut.


"Nggak ada di kontak kamu?"


"Nggak ada."


"Coba aku lihat." Kelana mengulurkan tangan ke depan dan Yana segera memberikan ponselnya.


Kelana meletakkan tablet dan memeriksa ponsel Yana. Jika ada sesuatu yang tidak beres maka Kelana akan menjadi orang pertama untuk melindungi Yana. Bagi Kelana, Yana adalah bagian dari keluarganya begitupun sebaliknya.


"Ini ada fotonya." Kelana melihat foto siluet seorang lelaki dengan latar belakang sebuah jendela kaca berukuran besar. Kelana menyipitkan matanya, sepertinya ia tidak asing dengan jendela tersebut.


Yana juga sudah melihat foto profil penelpon tersebut tapi ia tidak bisa melihat wajahnya. Yana tidak ada waktu untuk basa-basi berkenalan dengan orang tersebut.


Kelana menelepon balik orang tersebut, tanpa menunggu lama seseorang di seberang sana menjawab. Suaranya terdengar sedikit terbata.


"Ada urusan apa menelepon Yana?" Kelana to the point, karena itu adalah ponsel pribadi Yana maka tidak sembarang orang bisa mendapatkannya.


"Maaf sudah mengganggu, apa ini pacar Yana?"


"Kamu teman kuliahnya?" Kelana mengabaikan pertanyaan konyol tersebut.


"Bukan, saya ingin kenal lebih dekat dengan Yana."


"Jadi kamu naksir Yana?"


Yana menoleh ke belakang mendengar pertanyaan Kelana, matanya melebar terkejut. Sejak kapan ada lelaki yang naksir dirinya?


"Bukan begitu."


"Saya nggak suka cowok yang nggak tegas seperti kamu." Kelana tidak mau Yana dipermainkan cowok manapun.


"Saya memang menyukainya."


Kelana tersenyum, dasar cowok zaman sekarang memang begitu mudah ditebak. Tentu saja Kelana tidak termasuk cowok zaman sekarang karena ia sudah punya satu putri yang sangat menggemaskan. Kini orang-orang boleh menyebut Kelana bapak-bapak.


"Kalau begitu temui saya besok, kamu harus bicara dengan saya sebelum mendekati Yana." Kelana segera mematikan sambungan lalu mengembalikan ponsel Yana.


"Mas Kelana nggak perlu melakukan itu." Yana tak mau membuang waktu Kelana dengan menemui orang asing itu.


"Kenapa? kamu sudah dewasa, wajar kalau ada laki-laki yang naksir kamu."


"Tapi saya nggak pernah berpikir untuk dekat dengan siapapun Mas, apalagi pacaran."


"Memangnya kenapa, benar kata Renjani, ini saatnya kamu menjalin hubungan dengan seseorang, aku nggak mungkin mengikat kamu dengan pekerjaan untuk selamanya, kamu juga punya kehidupan."


"Jangan pecat saya Mas."


Kelana terkekeh, ia sama sekali tidak berniat memecat Yana karena ia mungkin tak akan mendapatkan asisten sebaik Yana lagi. Namun Kelana selalu memikirkan perkataan Renjani bahwa Yana berhak menjalin hubungan seperti gadis pada umumnya.


"Tabungan mu sudah cukup banyak."


"Saya menyukai pekerjaan ini."


"Kamu sudah mengatakan itu ratusan kali."


Yana tertunduk malu, ia memang selalu mengatakan itu setiap kali Kelana menyinggung soal dirinya yang tidak pernah berpacaran. Yana bahkan tidak tahu bagaimana caranya jatuh cinta, ia selalu sibuk dan tidak pernah memperhatikan sekitarnya.


"Jangan." Renjani membuka mata, jika Kelana menggendongnya lalu siapa yang akan menggendong Nana.


"Lanjutin tidurnya di kamar sebentar lagi."


Renjani tersenyum mengusap pipi Kelana, mengapa suara Kelana sangat lembut seperti sedang berbicara dengan anak kecil, Renjani merasa tersentuh dengan perlakukan Kelana yang begitu lembut.


Sampai di apartemen Renjani tidak langsung tidur karena Nana terbangun dan ia harus menyusuinya sampai Nana kembali tidur.


"Kenapa kamu nggak pakai baju?" Kelana terkejut melihat Renjani tidak mengenakan pakaian duduk di kursi khusus menyusui. Gaun putih yang Renjani kenakan sudah tergeletak di lantai.


"Aku mau ganti baju tapi Nana keburu bangun."


Kelana memungut gaun Renjani di lantai dan menutup sepanjang kaki Renjani dengan selimut.


"Kamu bisa kedinginan." Suara Kelana serak, sebenarnya dari pada khawatir Renjani akan kedinginan Kelana lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri karena mungkin ia tak bisa menahan diri melihat sang istri hanya mengenakan underwear.


"Makasih Papa." Renjani mengerlingkan mata menggoda Kelana.


"Jangan menggodaku." Kelana memilih pergi ke walk in closet untuk mengenakan baju tidur, ia juga mengambil piyama untuk Renjani.


Setelah Nana tidur, Renjani memindahkannya ke dalam box lalu gilirannya membersihkan diri dan ganti baju.


"Ada cowok yang naksir Yana?" Renjani tak sengaja mendengar obrolan Kelana dan Yana tadi.


"Sepertinya begitu."


"Siapa?"


"Aku juga belum tahu, besok kami akan bertemu di restoran bawah."


"Jangan galak-galak, nanti dia nggak jadi mau deketin Yana." Renjani membalikkan badan menghampiri Kelana yang duduk bersandar pada ujung tempat tidur.


"Aku akan melakukan hal yang sama jika ada cowok yang mendekati Renjana, aku akan galak."


Renjani tertawa, anak mereka masih bayi tapi Kelana sudah berpikir sejauh itu.


"Kamu bahagia malam ini?" Renjani menggenggam tangan Kelana lalu menciumnya bergantian.


"Sejak memilikimu aku bahagia tapi malam ini lebih bahagia lagi."


"Kamu pantas mendapatkannya, ini hadiah dari semua kerja keras mu selama ini."


"Terimakasih karena kamu selalu mendukungku." Kelana mengecup kening Renjani, sejak dulu ia memang pekerja keras dan ambisius tapi sekarang ia merasa hidupnya lebih bermakna. Tak hanya meraih impian-impiannya tapi juga memberikan cinta pada orang lain. Renjani mengajarkan Kelana bahwa kebahagiaan itu penting, dulu Kelana tak peduli tentang kebahagiaan dalam hidupnya. Namun Renjani telah mengubah pemikiran Kelana.


"Ayo tidur, besok aku harus ke kantor pagi-pagi." Renjani membaringkan tubuhnya begitupun dengan Kelana.


"Buku baru nya akan diantar?" Kelana menarik selimut untuk mereka dan mematikan lampu ruangan.


"Iya, besok bakal sibuk banget." Renjani sudah meminta tim nya untuk datang lebih pagi.


"Kalau gitu giliran ku jaga Renjana." Kelana menarik Renjani untuk mendekapnya, senyumnya semakin lebar membayangkan besok akan menghabiskan waktu berdua dengan Nana.


"Jangan diapa-apain." Renjani menunjuk wajah Kelana seraya menyipitkan matanya, terakhir ia meninggalkan mereka berdua, Kelana membawa Nana ke tempat gym. Bahkan Kelana menjadikan Nana sebagai dumble nya.


Kelana menahan tawa, rupanya Renjani tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Kelana sudah merencanakan kegiatan apa saja yang akan ia lakukan besok bersama Nana.


"Tapi Nana senang lho diajak ke tempat gym apalagi waktu aku angkat dia ke atas."


"Jangan aneh-aneh deh Papa." Renjani menepuk dada Kelana gemas. Anehnya Nana memang tidak rewel saat bersama Kelana.