
Renjani tampak cantik mengenakan dress merah muda untuk acara makan malam bersama crew Antasena. Renjani membiarkan rambutnya tergerai, ada satu jepit yang tersemat manis di kepalanya. Renjani menggunakan lipstik yang Kelana belikan untuknya hingga riasannya tampak segar. Renjani menolak Yana yang hendak membantunya merias wajah, lagi pula itu hanya makan malam biasa. Renjani tidak mau tampil mencolok, ia sudah cukup mencuri perhatian dengan dua tongkat yang harus ia gunakan untuk melangkah.
"Harusnya kamu mengikuti saran ku untuk menggunakan kursi roda." Kelana memapah Renjani saat turun dari mobil menuju restoran.
"Terus kapan aku bisa jalan kalau pakai kursi roda terus?"
Kelana tidak membalas ucapan Renjani karena mereka sudah sampai di dalam restoran.
Kedatangan Kelana dan Renjani membuat suasana yang tadinya riuh langsung tenang. Renjani menyapa semua orang yang ada disana sambil mengulas senyum lebar, ia ahlinya tersenyum.
Selain crew dan entertainer Antasena, penyanyi yang ikut dalam konser Kelana juga hadir malam itu seperti Zaneta, Miya, Cantika dan Devin.
"Gimana kabar mu?" Devin menjabat tangan Renjani disertai senyum lebar.
"Sudah jauh lebih baik." Balas Renjani.
Renjani baru sadar kalau Devin sangat tampan dilihat dari dekat. Saat bertemu di backstage waktu itu, Renjani tak bisa melihat wajah Devin dengan jelas karena penyinaran minim.
"Aku turut prihatin terhadap kecelakaan yang menimpa mu."
Kelana melepaskan tautan tangan antara Devin dan Renjani. Apakah perlu berjabat tangan begitu lama? bahkan mereka baru saling kenal.
Renjani hendak membalas ucapan Devin tapi Kelana lebih dulu mengajaknya duduk di kursi kosong yang telah disediakan untuk mereka.
"Jangan ada yang menyisakan daging malam ini." Tukas Kelana yang disambut oleh seruan heboh oleh lainnya.
Karena Kelana telah membooking satu restoran maka mereka wajib makan banyak tanpa menyisakan nya sedikitpun.
"Terimakasih banyak untuk semuanya, kalian sudah bekerja keras sehingga konser ini berlangsung luar biasa." Kelana mengedarkan pandangan ke seluruh crew dan teman-teman entertainer yang hadir malam itu.
"Sukses terus Antasena Entertainment!" Adam berseru yang langsung dibalas oleh semua orang yang tersebar di seluruh ruang utama restoran.
Mereka mengacungkan gelas anggur lalu meneguknya bersamaan.
Musik jazz di sudut ruangan yang dimainkan oleh band lokal menemani acara makan malam mereka.
Aroma daging panggang menguar ke seluruh restoran memancing liur untuk memenuhi rongga mulut. Daging panggang adalah pilihan terbaik untuk menguras kantong Kelana. Namun tentu saja Kelana tidak keberatan, justru yang mereka lakukan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan makan malam ini.
"Makan tenderloin, teksturnya lebih empuk." Kelana meletakkan daging yang sudah matang sempurna ke piring Renjani.
"Makasih." Renjani sumringah mendapat daging dengan potongan besar yang sudah siap santap.
"Kamu nggak bawa tali rambut?" Kelana risih melihat Renjani kesulitan makan dengan rambut tergerai.
"Enggak." Renjani meletakkan potongan daging dan sosis di atas panggangan. "Katanya lebih cantik kalau rambutnya digerai. "
"Siapa yang bilang?"
"Aku sendiri." Siapa lagi yang akan memuji Renjani cantik jika bukan dirinya sendiri. Renjani hanya merasa lebih percaya diri dengan rambut tergerai walaupun itu ide yang kurang bagus. Renjani harus memegangi rambutnya saat melahap makanan.
"Siapa yang peduli kamu cantik atau enggak?" Kelana meminta tali rambut pada Yana, ia yakin Yana membawanya. Di dalam tas besar Yana, ia menyimpan semua barang yang Renjani dan Kelana butuhkan. Itu seperti kantong ajaib bagi Kelana.
"Aku nggak peduli sebelum jadi istri kamu." Tandas Renjani di dekat telinga Kelana. Walaupun Kelana tidak pernah mengatakan bahwa Renjani harus selalu menjaga penampilan tapi dari Yana yang selalu mengatur pakaian Renjani, ia sadar akan hal tersebut. Renjani tak mau membuat Kelana malu.
Kelana beranjak setelah mendapatkan tali rambut dari Yana. Kelana menguncir rambut Renjani yang panjang bergelombang.
Beberapa orang yang berada satu meja dengan Kelana saling berbisik. Itu adalah pemandangan langka karena selama ini Kelana terkenal dengan sifat dinginnya seperti es batu. Namun sekeras apapun batu tersebut, ia akan mencair saat terkena panasnya matahari. Renjani adalah matahari bagi Kelana.
"Kamu cantik digerai ataupun dikuncir." Bisik Kelana saat ia kembali duduk di kursinya.
Wajah Renjani memanas mendengar bisikan Kelana. Itu pasti karena panggangan kan, bukan karena kalimat Kelana. Renjani berusaha menepis pikirannya, ia tak boleh terlalu percaya diri.
Emma tersenyum miring melihat adegan itu, ia tak percaya jika akhirnya Kelana luluh pada wanita yang bahkan tidak memiliki kelebihan apapun itu. Ia muak melihat Renjani, seharusnya wanita itu tidak ada disini.
"Ah!" Renjani memekik terkejut ketika potongan daging yang baru selesai dipanggang mengenai tangannya.
Renjani menatap Emma sambil mengusap-usap tangannya yang melepuh. Gila nih orang kayak sengaja mau bikin tangan gue melepuh.
"Eh maaf-maaf, aku nggak sengaja." Emma hendak memeriksa tangan Renjani.
Renjani menarik tangannya sebelum Emma berhasil melihatnya.
"Ya ampun hati-hati dong kak Emma." Tukas yang lain memperingatkan Emma.
Kelana segera memeriksa tangan Renjani yang terlihat melepuh, ia meniupnya untuk mengurangi rasa panas. Kelana melempar tatapan tajam pada Emma, rupanya wanita itu belum puas setelah membuat tulang kaki Renjani patah.
"Jangan diusap-usap nanti kulitnya terkelupas."
Renjani ingin meneriaki Emma karena ia tahu Emma sengaja melakukan ini. Jarak mereka tidak terlalu dekat tapi mengapa daging itu bisa mengenai Renjani. Namun Renjani harus menahan amarahnya sekuat tenaga di depan semua orang. Menyandang status sebagai istri Kelana membuat Renjani tak bisa berbuat semaunya. Ini benar-benar mengesalkan.
"Saya ambil salep dulu di mobil." Yana segera beranjak dari sana.
"Sekali lagi saya minta maaf." Ujar Emma.
"Nggak apa-apa, cuma melepuh doang." Sahut Renjani seraya tersenyum hambar pada Emma. Ia sengaja menekankan kata melepuh.
Renjani kehilangan selera makan padahal ia sengaja mengosongkan perut sejak tadi siang agar bisa makan banyak malam ini.
"Permisi Mbak." Yana mengoleskan salep dengan hati-hati pada punggung tangan Renjani.
"Makasih ya, sorry jadi ganggu makan kamu."
"Ini sudah tugas saya." Yana tersenyum sekilas lalu memasukkan salep ke dalam tasnya.
Emma menahan senyum, dalam hati ia bersorak kegirangan apalagi saat melihat wajah Renjani yang memerah dengan mata berkaca-kaca. Bayangkan saja kulit mulus itu beradu dengan panasnya daging yang baru diangkat dari panggangan.
"Mau makan yang lain?" Kelana melihat Renjani berhenti makan padahal biasanya Renjani akan memakan apapun yang disajikan di hadapannya. "Mereka ada menu lain kok."
"Ini aja." Renjani kembali melahap potongan daging yang tak perlu butuh tenaga untuk mengunyahnya. Renjani tak pernah makan daging seperti ini sebelumnya.
"Aku suapin." Kelana mendekatkan sepotong daging ke bibir Renjani.
Mata Renjani melebar, "malu tahu dilihatin yang lain." Gerutunya dengan suara sangat pelan.
Kelana mengabaikan ucapan Renjani, ia tetap menempelkan daging itu ke bibir Renjani. Akhirnya mau tidak mau Renjani membuka mulutnya dan mengunyah daging tersebut.
"Mau daun nggak?" Kelana menyodorkan sepiring daun selada pada Renjani.
Renjani mengambil satu lembar selada dan melahapnya sekaligus, baru beberapa menit yang lalu ia merasa selera makannya hilang. Namun setelah dipancing daging, selera makannya langsung kembali.
"Agak mirip domba." Kelana menahan tawa melihat cara makan Renjani.
Renjani menendang kaki Kelana lalu melihat sekeliling, ternyata orang lain membungkus daging dengan selada lalu melahapnya sekaligus. Tidak seperti Renjani yang memakannya terpisah, tapi ia biasa makan seperti ini begitupun dengan Jesi. Ia pikir semua orang begitu. Ternyata selama ini pergaulan Renjani yang begitu sempit.
"Ini domba paling imut yang pernah kamu lihat." Renjani mengedip-ngedipkan matanya yang memancing senyum lebar di bibir Kelana. Jika tidak sedang berada disini pasti Kelana sudah mendekap Renjani dan menggigit bahunya karena gemas.
"Kak Lana tolong nyanyi satu lagu dong." Celetuk salah satu crew dari meja lain. Celetukan itu disusul oleh lainnya yang meminta Kelana bernyanyi. Mereka pernah melihat Kelana menyanyi di video yang Yana rekam diam-diam.
Kelana menggeleng, ada banyak penyanyi disini tapi kenapa mereka justru meminta dirinya bernyanyi.
"Sekali ini aja, kapan lagi seorang Kelana nyanyi." Rayu mereka.
"Jangan bohong Kak, kita pernah lihat video Kak Kelana lagi nyanyi dan suaranya enak banget."
Yana panik karena mereka membahas video yang pernah direkamnya diam-diam saat Kelana bernyanyi di dapur. Yana membagikannya di grup obrolan Antasena yang Kelana tidak bergabung di dalamnya.
Kelana melirik Yana, sepertinya ia tahu dari mana video itu berasal.
"Aku juga penasaran sama suara kamu." Renjani ikut-ikutan merayu Kelana.
"Kenapa kamu jadi ikut-ikutan?" Gerutu Kelana.
"Mereka bilang suara kamu bagus."
"Kalau suaraku bagus, mungkin sekarang aku udah jadi penyanyi."
"Aku kuliah analis kesehatan tapi kerja jaga perpustakaan."
"Nyanyi nyanyi nyanyi!" Mereka berseru bersamaan membuat Kelana tidak bisa berbuat apapun untuk menolak. Akhirnya Kelana beranjak dari sana menuju sudut restoran.
Mereka bersorak bertepuk tangan untuk Kelana. Bahkan mereka bersiap menyalakan kamera ponsel untuk merekam video.
Terasa kini
Pesonamu hadir debarkan hari
Restoran itu seketika senyap ketika suara merdu Kelana mulai terdengar. Mereka tidak berbohong ketika mengatakan suara Kelana enak. Itu benar-benar terdengar merdu menyentuh gendang telinga.
T'lah kau datangkan hayal nyata janji
Kedalam sukmaku
Menuai rinduku
Harum tubuhmu
Buai lelapku
Sirnakan segala resahku
Tatapan Kelana mengarah pada Renjani. Renjani terperangah mendengar suara Kelana, apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Kelana. Bermain violin, piano bahkan bernyanyi ia bisa. Renjani jatuh makin dalam meski ia menahannya .
Sedalam dalam cintamu kuselami
Warna warna terindah yang ada di bumi
Terlukis di jiwa t'lah membelai kalbu
Sedalam cintamu tercipta untukku
Mereka terbuai oleh lagu Sedalam Cintamu milik Indra Lesmana tersebut. Restoran itu berubah menjadi seperti konser tunggal sang violinist Kelana Radiaksa.
Ketika hati
Tak kuasa pergi menyepi sendiri
T'lah kau yakinkan setia yang teruji
Dibatas waktuku
Menggapai cintaku
Aura hatimu
Sentuh hatiku
Sinari ruang asaku
Lampu restoran meredup, Adam meminta pihak restoran melakukannya. Digantikan oleh para crew menyalakan flash kamera.
Dada Renjani menghangat walaupun lagu itu tak diperuntukkan khusus untuknya. Namun sejak lagu dimulai, Kelana tidak melepaskan pandangan dari Renjani.
Tepuk tangan riuh terdengar ke seluruh restoran mengakhiri lagu Kelana malam itu.
"Keren banget." Puji Renjani.
Kelana menutup wajahnya dengan tangan, ia jadi malu karena ini pertama kalinya ia bernyanyi di depan orang banyak. Tentu bernyanyi dan bermain violin jauh berbeda.
"Re, kamu sama Yana ke mobil dulu ya, aku mau bicara sebentar sama yang lain." Ujar Kelana pada Renjani, ia membantu Renjani beranjak dari kursi.
"Iya."
Dengan sigap Yana memapah Renjani. Mereka pamit pada yang lain dan mengucapkan terimakasih karena sudah hadir malam ini.
"Aku mau bicara sama kamu, berdua." Kelana mendekat pada Emma.
"Aku?" Emma menunjuk dirinya.
"Ikut aku." Kelana melangkah ke ruangan lain di restoran itu.
Emma menyembunyikan keterkejutannya, mengapa tiba-tiba Kelana ingin bicara padanya. Apakah karena kejadian tangan Renjani yang melepuh barusan.
"Ada apa?" Tanya Emma terbata. Ia melihat Kelana memunggunginya.
"Aku cuma mau memperingatkan kamu, jangan macam-macam lagi sama Renjani."
"M ... maksud kamu apa?" Emma pura-pura tidak mengerti.
"Jangan pura-pura nggak tahu, semua orang melihat dan tahu kalau tadi kamu sengaja melakukan itu sama Renjani." Kelana menatap Emma penuh intimidasi.
"Aku nggak sengaja kok."
"Kalau kamu berani seperti itu lagi, aku nggak akan maafin kamu."
"Kelana, aku udah minta maaf dan itu emang nggak sengaja."
Kelana tak tahan melihat akting Emma. Wanita itu sungguh tidak pandai berakting.
"Aku tahu kamu orang yang ada di belakang Rehan."
Emma tertegun mendengar Kelana menyebutkan nama Rehan. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Kelana segera pergi dari sana meninggalkan Emma yang terpaku di tempatnya.
Aku menemukan visual Kelana dan Renjani!