Married by Accident

Married by Accident
XX



Harusnya kalimat-kalimat itu sama sekali tidak mengusik Renjani, toh pernikahan mereka memang atas dasar perjanjian tertentu bukan karena cinta. Renjani berusaha memikirkan hal lain dari pada ucapan 3 artis di toilet tadi. Bukankah masih banyak yang harus Renjani pikirkan seperti apa yang akan ia makan untuk sarapan besok atau merek shampo yang akan ia beli Minggu depan. Hal-hal sepele itu jauh lebih penting dibandingkan memikirkan ucapan Emma dan kawan-kawannya.


Renjani menatap pantulan dirinya melalui cermin, ia baru selesai membersihkan riasan dan mencuci muka bersiap untuk tidur. Renjani memang bukan apa-apa, ia hanya gadis penjaga perpustakaan yang sungguh tidak pantas berdiri di samping Kelana yang bercahaya. Renjani punya dua pilihan, membiarkan orang-orang menggunjingnya atau membuktikan pada mereka bahwa ia pantas bersanding dengan Kelana meski hanya satu tahun. Renjani akan memulai usahanya sendiri yakni menerbitkan buku. Itu adalah mimpinya sejak dulu, mungkin alasannya sederhana tapi ia harus mewujudkannya.


Renjani meraih ponselnya dan menelepon Jesi melalui panggilan video. Ini sudah hampir tengah malam, semoga Jesi belum tidur.


"Duh silau banget!" Wajah Jesi yang menggunakan sheetmask muncul pada layar ponsel Renjani.


"Apaan sih?" Semprot Renjani, "apanya yang silau?"


"Elu silau banget sekarang, gue tadi lihat muka lu di TV, gue sampe bilang gila beneran ini sahabat gue yang dulu kusut kayak buku usang itu?"


"Eh gue cantik kali dari dulu." Renjani meletakkan ponsel pada phone holder dan menyisir rambut.


"Ya beda lah Re, pasti Kelana bawa lu ke salon tiap hari kan makanya kecantikan elu tuh bertambah dua kali lipat."


"Belum tidur lu?" Renjani mengabaikan pujian Jesi yang sama sekali tidak membuatnya senang.


"Mau nyelesain laporan dulu ini, lu baru pulang ya?"


"Iya." Renjani mengusap wajahnya, tiba-tiba ia mengantuk setelah bicara dengan Jesi.


"Gimana rasanya nonton konser Kelana?"


"Ini pengalaman baru buat gue, dia jago banget main violinnya, sepanjang acara gue dibuat merinding sama Kelana." Bahkan sampai sekarang Renjani merasa masih berada di Soehanna Hall. Terlepas dari tekanan yang Kelana terima, musik adalah dunia keduanya. Kelana tampak damai saat memainkan violin.


"Emang Kelana hantu?"


"Bukan gitu Jes, ih lu mah!" Renjani bedecak kesal.


"Lain kali ajak gue dong kalau si Kelana manggung." Jesi tampak melepas sheetmask yang dari tadi menempel di wajahnya lalu menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Lah bukannya lu nggak suka sama Kelana?" Renjani meraih remote dekat ponselnya dan mematikan lampu ruangan menggantinya dengan lampu tidur. Awal pindah kesini ia bingung karena tidak ada sakelar, ternyata apartemen Kelana menggunakan remote control untuk menyalakan lampu.


"Lebih tepatnya kita tuh nggak terlalu ngikutin dunia musik tapi kalau diajak nonton gratisan gue nggak nolak."


"Gampang deh nanti kalau ada kesempatan gue ajak lu."


Pintu kamar Renjani terbuka membuat pemiliknya terperanjat, ia melihat pantulan seseorang menyelinap masuk ke kamarnya.


"Kelana?" Renjani beranjak dari kursi meja riasnya melihat Kelana masuk.


"Aku tidur disini." Kelana duduk di pinggiran tempat tidur.


"Kenapa?" Renjani melongo.


"Kenapa?" Kelana memiringkan kepalanya, kenapa? ini apartemennya, ia berhak tidur dimanapun kan.


"Kenapa nggak tidur di kamar kamu sendiri?"


Bukannya menjawab Kelana justru berbaring di atas tempat tidur Renjani dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Eh Jes, gue tutup dulu ya."


"Ih kalian mau ngapain, jangan-jangan mau—"


Renjani memutus sambungan sebelum Jesi menyelesaikan kalimatnya. Ia melangkah mendekati Kelana hendak melayangkan protes karena pria itu tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa permisi. Namun Renjani tidak tega melakukannya lagi pula ini apartemen Kelana sedangkan dirinya hanya numpang.


Renjani menghempaskan tubuhnya ke ranjang berbaring di samping Kelana, ia menopang kepalanya dengan dua tangan menatap langit-langit kamar yang berwarna kekuningan terkena cahaya dari lampu tidur. Ia menghela napas berat, mengapa satu tahun ini sangat lama. Renjani ingin kembali ke dunianya yang sederhana tanpa kilatan cahaya blitz ataupun orang-orang yang bergosip di belakangnya. Tak hanya Jesi, Renjani juga merasa dunianya kini menyilaukan.


"Ada apa?" Kelana menyingkap selimutnya menatap Renjani.


"Hm?" Renjani memutar kepala.


"Kenapa kamu menghela napas begitu, kamu nggak suka aku tidur disini?"


"Enggak kok." Renjani memunggungi Kelana dan memejamkan mata. Ia ingin tidur cepat dari pada memikirkan ucapan tiga wanita tadi. Sebanyak apapun mereka membicarakan Renjani itu tak akan berpengaruh untuk kehidupannya. Mereka hanya membuang energi sia-sia toh Renjani tetap memenangkan Kelana. Dari sorot matanya, Renjani tahu bahwa mereka menyukai Kelana.


"Besok jangan bangunkan aku, aku ingin tidur sampai siang."


"Emangnya aku pernah bangunin kamu?" Renjani kembali memutar badan melihat Kelana.


"Entah lah, terakhir tidur denganmu hidungku terasa nyeri, mungkin ada yang sengaja memencetnya."


"Kamu nuduh aku?"


Tak terdengar jawaban dari Kelana. Renjani berbalik dan melihat Kelana sudah terlelap. Wajah tenang Kelana ketika tidur membuat Renjani merasa iba. Pasti berat menjadi seorang Kelana. Semakin banyak orang yang menyukainya beban Kelana juga akan bertambah. Kelana tak akan pernah bisa hidup atas keinginannya sendiri.


"Ganteng juga Kelana dari deket." Gumam Renjani tanpa sadar memuji Kelana dua detik kemudian ia menutup mulutnya takut jika Kelana mendengarnya padahal cowok itu sudah terlelap. Sepasang alis yang melintang sempurna dengan mata tajam, tulang hidung yang tinggi serta bibir— Renjani menggeleng kuat berusaha menyadarkan dirinya untuk segera mengalihkan pandangan dari sosok Kelana.


"Dari jauh ganteng juga sih."


Ini sudah lewat tengah malam tapi Renjani begitu sulit memejamkan mata, beberapa kali ia mengubah posisinya. Renjani meraba nakas dan meraih ponselnya, siapa tahu bermain ponsel akan membuatnya mengantuk.


Media sosial Renjani dipenuhi oleh berita tentang suksesnya konser Kelana malam ini. Foto-foto Kelana juga terpampang bersama komentar dari para fans dan sedikit komentar hatters. Tentu saja tak semua orang menyukai seorang Kelana, pasti ada saja yang membencinya.


Renjani terkejut melihat fotonya yang tengah menggandeng Kelana juga bertebaran. Ini baru pertama kalinya bagi Renjani melihat fotonya yang bukan di akun media sosial miliknya. Renjani membaca komentar pada salah satu foto saat dirinya bersama Kelana.


Sampai sekarang nggak ngerti kenapa Kelana milih nikahin cewek ini.


Kelana lebih cocok sama Emma


Renjani terlalu jelek buat ada di samping Kelana


Please gue dulu nge-ship banget Kelana sama Emma


Gue fans lama dan gue yakin Kelana masih nggak bisa move on dari Elara.


Iseng Renjani melihat balasan netizen lain pada komentar tersebut saat membaca nama Elara. Renjani penasaran pada sosok Elara tersebut.


Bener banget, Kelana cintanya cuma sama Elara


Mereka berdua cocok banget, Elara itu vibes nya beda sama cewek lain yang pernah ngedeketin Kelana. Jauh lebih berkelas.


Berharap mereka bisa balikan.


Udah lah, mau komentar apapun juga Renjani itu tetep istri resmi Kelana.


Dari sekian banyak komentar, Renjani bisa menghitung dengan jari komentar yang membela dirinya. Renjani tak tahu apakah ia harus sedih setelah membaca komentar pedas tersebut. Komentar yang jauh lebih pedas dari seblak jeletet murni level 5 yang pernah Renjani beli.


"Kamu belum tidur?"


"Ahh!" Renjani memekik ketika suara Kelana tiba-tiba terdengar begitu dekat, ia berbalik mendapati wajah Kelana berada tepat di hadapannya sekitar 2 centimeter. "Kamu ngagetin aja sih." Ia spontan menyembunyikan ponselnya di balik bantal.


"Kenapa belum tidur?"


"Nggak bisa tidur."


Kelana merubah posisi menjadi terlentang menatap langit-langit kamar yang gelap.


Renjani melirik Kelana, "Kelana, aku boleh nanya nggak?"


"Nanya apa?"


"Elara itu siapa?" Renjani ragu-ragu takut membuat Kelana tersinggung tapi ia tak tahu harus bertanya pada siapa lagi. Renjani sudah bertanya pada Yana tapi tetap tidak mendapat jawaban. Elara Adaline begitu misterius bagi Renjani.


Raut wajah Kelana langsung berubah mendengar nama itu, dari mana Renjani tahu soal Elara.


"Kenapa kamu tanya soal Elara?" Kelana bangun dari posisi tidurnya dan melihat Renjani. Meski suasana kamar temaram tapi Kelana dapat melihat wajah Renjani.


Renjani mengedikkan bahu, "aku penasaran aja."


"Ingat ya, kamu nggak usah baca komentar orang-orang di internet apalagi penasaran soal Elara." Rahang Kelana mengeras, jika ruangan itu tidak gelap pasti Renjani dapat melihat sepasang netra Kelana berubah merah karena amarah.


Renjani terkejut dengan reaksi Kelana, ia hanya bertanya soal seseorang. Kalaupun Kelana tidak mau memberitahu, Renjani tak akan bertanya lagi asal jangan marah-marah seperti ini.


Kelana kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal dan memunggungi Renjani.


"Ya sorry." Renjani menyentuh lengan Kelana, ia tidak bisa protes karena walau bagaimanapun ia tak mengerti apa-apa soal kehidupan Kelana. Renjani tidak mau mengulangi kesalahannya lagi dengan ke-soktahuannya.


"Jangan sentuh aku." Kelana mengedikkan bahunya agar Renjani menyingkirkan tangan dari lengannya.


"Sensitif banget sih kayak cewek lagi datang bulan." Renjani menggeser tubuhnya hingga berada di pinggir ranjang. Ia juga memaksakan diri untuk segera terlelap.


Reaksi Kelana yang demikian justru membuat Renjani semakin penasaran pada sosok Elara. Foto-foto mereka bertebaran di internet tapi mengapa Yana tidak mengetahuinya.