
Erland dan Floe tiba di rumah sudah gelap dan keduanya sama sekali tidak berbicara ketika berada di dalam mobil. Seolah keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Begitu masuk ke kamar masing-masing, mereka pun langsung membersihkan diri dan tidak berniat untuk keluar kamar karena sudah sama-sama kenyang.
Floe yang sudah selesai membersihkan diri dan memakai piyama, memilih untuk menselonjorkan kaki di atas ranjang karena merasa sangat capek. Ia pun saat ini memilih untuk bersantai sambil bersandar pada punggung ranjang untuk membaca buku yang tadi bisa dibilang dibelikan oleh Harry.
Namun, baru saja membuka satu lembar halaman, pikirannya kembali tertuju pada perkataan Erland mengenai sang ayah yang menginginkan diadakan acara resepsi pernikahan.
"Apa mau daddy sebenarnya? Apa benar tidak masalah jika numpang di acara resepsi pernikahan Kirana?" Ia kini mengambil ponsel yang ada di atas nakas dan mencari kontak sang ayah.
Memang tadi menyuruh Erland untuk menghubungi sang ayah agar bertanya sendiri, tapi ia tidak sabar ingin mengetahui apa yang diinginkan oleh keluarganya. Kini, terdengar suara bariton dari sang ayah di seberang telepon.
"Tumben telpon Daddy." Hugo Madison sebenarnya merasa sangat kesal pada putrinya karena tidak menelpon untuk mengabarkan keadaannya saat tinggal di rumah putra dari keluarga musuh besarnya.
Ia dari dulu tidak menyukai keluarga Felix dan sama sekali tidak menyangka jika putrinya malah menikah dengan putra musuhnya tersebut seperti yang ada di film-film.
Makanya juga tidak ingin menghubungi putrinya meskipun sangat mengkhawatirkannya. Meskipun sekarang sedikit merasa lega karena putrinya menelpon.
"Daddy masih marah padaku karena aku menikah dengan Erland yang merupakan ayah kandung dari janin yang ada di rahimku?" Floe sudah cukup pusing menghadapi Erland tadi dan sekarang bertambah pusing ketika sang ayah juga bersikap sama seperti seorang anak kecil saat merajuk.
Ia bahkan terlihat memijat pelipis untuk meredakan rasa pusing di kepalanya karena ada banyak hal yang dipikirkan hari ini.
"Buat apa Daddy marah? Sudahlah, lupakan itu. Daddy tahu jika kamu menelpon ini pasti ada sesuatu yang ingin ditanyakan, bukan?" tanya Hugo Madison yang saat ini sudah bisa menebak jika putrinya ingin bertanya mengenai resepsi yang diinginkannya.
Floe tidak langsung menjawab karena hanya tertawa ketika sang ayah sudah sangat hafal dengan apa yang diinginkan selama ini.
"Aku sebenarnya sedang membaca buku tentang kehamilan, Dad. Hanya saja, tiba-tiba teringat tentang perkataan Erland yang membahas mengenai resepsi pernikahan. Memangnya Daddy tidak keberatan jika resensi pernikahan dilakukan di acara pernikahan iparku?" Saat ia baru saja menutup mulut, seketika menjauhkan ponsel dari daun telinga karena mendengar suara teriakan sang ayah yang seperti sangat marah.
Hugo Madison yang tidak pernah terpikirkan hal itu, sangat terkejut dan seketika membulatkan mata, sampai suaranya menggema di ruangan kamar dan mendapatkan cubitan cukup keras di bagian pinggang.
Sang istri yang berada di sebelahnya langsung memberikan ultimatum agar tidak bising di malam hari. Apalagi memang iya refleks berteriak karena terkejut.
"Apa kamu bilang? Resepsi pernikahan kalian akan diadakan bersama dengan pernikahan anak kedua keluarga Felix? Astaga! Apa-apaan ini! Sepertinya besok aku harus mendatangi kantor pria tua bangka itu untuk memberikan pelajaran!" sahut Hugo Madison yang saat ini merasa sangat kesal sekaligus murka karena putri satu-satunya tidak mendapatkan hal yang istimewa dari keluarga Felix.
Saat Floe sudah menduga jika sang ayah akan bereaksi demikian, sehingga membuatnya menguraikan kesalahpahaman dengan menjelaskan pembicaraannya tadi di restoran seafood bersama dengan Erland yang bertanya padanya.
"Daddy jangan salah paham. Jadi, seperti itu ceritanya. Lalu, kenapa Daddy tadi tidak membalas pesan Erland yang imut bertanya mengenai acara resepsi yang diinginkan? Kupikir Daddy tidak mempermasalahkan karena yang terpenting adalah para media tahu jika aku sudah berstatus sebagai istri Erland."
Saat ini Floe turun dari ranjang untuk mengambil air minum. Berbicara dengan sang ayah yang selalu mengandalkan emosi, membuatnya kehausan.
Namun, ia mengingat sesuatu yang tadi dibicarakan dengan Erland. "Daddy jangan sepenuhnya menyalahkan Erland karena dia tidak bersalah. Katakan saja apa mau Daddy. Biar besok saat jam makan siang, aku suruh ke perusahaan agar bisa membahas resepsi pernikahan."
"Tapi sebenarnya bagiku itu tidak penting dan tidak ada salahnya jika numpang di acara ipar. Sekalian repot dan persiapan sudah hampir 70%, jadi hanya tinggal menambahkan jika jadi dilakukan penambahan resepsi kami." Floe berjenggit kaget saat sang ayah menolak mentah-mentah.
Bahkan semua alasan yang diucapkan oleh sang ayah memang masuk akal dan membuatnya tidak berkutik. Namun, satu hal yang dipikirkannya hanyalah janinnya. Ia takut jika nanti kelelahan dan akhirnya berdampak pada buah hatinya yang masih belum dilahirkan.
"Daddy sudah membicarakan resepsi pernikahan dengan pihak wedding organizer. Jadi, acara resepsi pernikahan diadakan di hotel kita. Sebenarnya Daddy hanya sedang mengerjai pria tua bangka itu dan putranya untuk melihat apa yang akan mereka lakukan untuk putriku satu-satunya."
Hugo Madison membahas tentang tamu undangan serta konsep resepsi pernikahan untuk meminta pendapat dari putrinya karena tidak mengetahui apa yang diinginkan Floe.
Ia memang tadinya berencana menelpon putrinya untuk menanyakan hal itu, hanya saja menahan diri karena masih kesal dan akhirnya bisa mendengar suara Floe lagi.
Sejujurnya ia sangat merindukan putri satu-satunya yang telah pergi ke rumah baru bersama suami. Hingga rumah yang ditempati seketika sepi tidak ada putrinya dan membuatnya beberapa hari ini menyadari jika selama ini sering marah-marah.
Hingga membuatnya menyesal karena tidak lebih menyayangi putrinya saat berada di rumah. Baru terasa ketika putrinya pergi setelah menikah.
"Dad, aku saat ini sedang hamil dan tidak kuat untuk acara resepsi pernikahan yang pastinya akan menyita waktu serta tenaga. Apa boleh aku kali ini meminta sesuatu dari Daddy?" Kini, Floe merendahkan nada bicaranya agar terdengar memelas dan mendapatkan belas kasihan dari sang ayah.
Ia yang dulu memang mempunyai wedding dream ketika belum menikah, tapi setelah berbadan dua dan sering lelah serta ada ikatan batin dengan janin di dalam rahimnya tersebut, semuanya seolah merubah pemikirannya.
Bahwa pernikahan yang hanya berlangsung satu hari tersebut tidaklah penting karena baginya saat ini yang paling harus dipikirkan adalah janin di dalam rahimnya.
Ia bahkan saat ini bisa mendengar jawaban diri dari sang ayah yang sudah tidak lagi terdengar emosi seperti beberapa saat lalu.
"Apa? Kenapa nada bicaramu seperti itu, Sayang? Daddy seperti mencium sesuatu yang tidak beres. Apa pria itu menyakitimu? Apa kamu menderita di sana?" Hugo Madison saat ini beranjak dari ranjang karena berpikir ingin menjemput putrinya jika sampai apa yang ditakutkan yang terjadi.
Bahwa putra dari musuh besarnya tersebut hanya ingin membalas dendam dengan menyiksa putrinya. Ia berjanji tidak akan melepaskan pria itu jika sampai menyakiti putrinya walau hanya seujung kuku pun.
Hingga ia seketika terdiam karena pemikirannya tidak berdasar saat putrinya menjelaskan keinginannya.
Floe kembali berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamar. "Tidak, Dad. Aku di sini baik-baik saja dan selalu makan dengan teratur. Aku bahkan punya banyak teman baru di kampus di hari pertama belajar. Aku hanya ingin menjaga bayiku agar tidak terjadi hal-hal buruk. Jadi, tidak perlu mengadakan resepsi yang berlebihan."
"Aku rencananya hanya akan muncul beberapa menit saja dan kembali beristirahat. Ini semua demi kebaikan cucumu, Dad." Kini, ia merasa lega karena sudah menyampaikan keinginannya agar sang ayah berubah pikiran untuk tidak berlebihan dalam menggelar acara resepsi saat kondisinya tengah hamil.
'Aku tahu jika daddy pasti ingin menunjukkan pada semua orang dan juga gengsi jika hanya menggelar acara sederhana pada putri satu-satunya. Semoga daddy mengerti dan berubah pikiran,' gumam Floe yang saat ini terdiam karena masih keheningan yang tercipta di antara mereka.
"Apa kamu benar-benar tidak ingin digelar acara resepsi pernikahan yang megah karena merupakan satu-satunya putri keluarga Madison?" tanya Hugo yang ingin memastikan sekali lagi mengenai keinginan putrinya.
Sementara itu, Floe yang memang sudah merasa yakin, tanpa pikir panjang langsung menyahut, "Tentu saja aku dengan sadar dan sudah memikirkan semuanya, Dad. Setelah hamil, aku merasa jika hal lain tidak penting kecuali anakku. Aku sudah bisa menerima kehadirannya sepenuhnya."
"Aku pun dia segera dilahirkan ke dunia agar bisa melihat kakek neneknya yang suka mengomel," ucap Floe sambil terkekeh geli ketika berusaha untuk meyakinkan sang ayah yang juga akhirnya tertawa.
Ia bahkan ikut tertawa karena memang leluconnya seperti sebuah sindiran sekaligus penghiburan untuk mereka agar tidak terlalu mementingkan apa kata orang.
Hugo Madison yang tadinya memencet loudspeaker ketika sang istri ingin juga mendengarkan suara putri mereka, seketika tertawa bersama dengan wanita yang sudah menemaninya lebih dari 23 tahun tersebut.
Ia menoleh ke arah sang istri yang masih tertawa. "Kamu dengar sendiri, kan? Putrimu sendiri yang bilang jika kamu juga cerewet. Pasti nanti cucu kita juga seperti Floe. Bilang jika kakek neneknya sangat cerewet."
"Ya, wajar jika seorang wanita itu cerewet. Yang tidak wajar adalah seorang pria cerewet. Makanya jadi ayah dan kakek nanti jangan suka mengandalkan emosi. Biar cucumu nanti tidak mengejekmu cerewet seperti seorang wanita." Lestari Juwita saat ini merasa jika sang suami benar-benar sangat lucu ketika mengungkapkan nada protes.
Bahkan sudah seperti seorang anak kecil yang tidak terima diejek dan membuatnya kini berbicara dengan putrinya dengan suara cukup nyaring.
"Kamu sekarang sudah dewasa, Sayang. Mommy benar-benar bangga padamu karena sudah bisa menerima kehamilanmu. Semoga kamu dan cucuku selalu sehat. Jangan lupa selalu penuhi asupan vitamin untuk cucu Mommy."
Tanpa memegang ponsel karena sang suami mengarahkan padanya, ia berharap putrinya baik-baik saja meskipun sudah tidak tinggal lagi bersama orang tua.
"Mommy akan sesekali datang ke sana. Jadi, kamu tidak perlu ke sini karena kandunganmu masih rawan. Pulang kuliah langsung istirahat dan jangan sampai kecapean." Ia kali ini berbicara dengan berkaca-kaca karena tidak percaya jika waktu berlalu begitu cepat.
Bahwa putri yang sangat disayangi dan dulu masih terasa seperti baru kemarin digendongnya, sebentar lagi akan memiliki anak dan Ia mendapatkan gelar baru sebagai nenek.
Dengan mengusap kulit air mata yang sudah ditahan agar tidak sampai jatuh membasahi pipinya, Lestari Juwita kini mendapatkan pelukan hangat dari sang suami yang mendekat untuk mencoba menghiburnya.
"Mommy nangis?" tanya Floe yang bisa mendengar jika suara sang ibu bergetar seperti orang yang menahan tangis.
Ia tadinya ingin mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan tidak perlu khawatir, tapi karena mendengar suara sang ibu bersedih, seperti mendapatkan aliran listrik karena ikut terbawa suasana dan berkaca-kaca hingga berurai air mata.
"Mommy tidak menangis. Memangnya Mommy anak kecil," sahut Lestari Juwita yang kini berusaha sekuat tenaga agar tidak membuat putrinya bersedih karena perasaan rindunya.
Floe berusaha untuk menenangkan diri saat hatinya terasa sesak ketika disiksa oleh rindu karena memang ini merupakan pengalaman pertama untuknya pergi dari rumah dan tidak menggantungkan hidupnya pada orang tua.
Berharap sang ibu tidak bisa mendengar jika ia ingin menangis, sehingga membuatnya berakting tertawa.
"Aaah ... aku pikir Mommy berubah menjadi anak kecil yang suka menangis. Oh ya, Mom. Aku sekarang sedang membaca buku tentang seputar kehamilan. Aku mau lanjut baca dulu biar jadi ibu yang pinter dan cantik seperti Mommy," ucapnya yang sebenarnya hanya beralasan semata karena kini bulir air mata sudah membasahi pipinya.
Namun, ia masih bisa menormalkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang menangis. Merasa bahwa kemampuan aktingnya sangat bagus dan mungkin akan mendapatkan penghargaan karena bisa membuat sang ibu tidak tahu jika ia saat ini sudah berurai air mata.
"Baiklah. Kamu lanjutkan saja baca bukunya. Kalau ada yang tidak kamu pahami, bisa bertanya pada Mommy. Mengenai resepsi pernikahan, anggap saja semua beres dan serahkan pada suamimu. Apalagi keadaan cucuku jauh lebih penting daripada tanggapan orang. I love you, Sayang." Menoleh ke arah sang suami untuk mencari tahu apakah akan marah.
Ia merasa lega karena sang suami tidak mempermasalahkan lagi dan bisa menerima keinginan dari putrinya yang sudah dewasa.
Floe yang kini ikut senang, seketika bernapas lega karena tidak akan ada lagi perdebatan mengenai resepsi pernikahan dan semua berjalan seperti rencana Erland.
"Iya, Mom. I love you too," ucapnya yang mematikan sambungan telepon dan rencananya untuk melanjutkan tangkisnya tidak jadi dilakukan karena hanya ada kelegaan yang dirasakan saat ini.
"Syukurlah. Kakekmu yang sangat keras itu bisa luluh karenamu, Sayang," ucap Floe yang kini mengusap lembut perutnya beberapa kali.
Ia kini ingin mengatakan semuanya pada Erland agar pria itu tidak lagi mengkhawatirkan pemikiran dari sang ayah, sehingga beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu.
Namun, seketika membulatkan mata ketika melihat sosok pria yang hendak ia temui ternyata ada di depan kamarnya. Ia bahkan sampai mengusap dadanya yang berdebar hebat karena benar-benar sangat terkejut.
"Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini? Mengagetkan saja, tahu nggak?" sarkas Floe yang seketika mengarahkan pukulan pada lengan kekar di balik kaos kasual berwarna putih tersebut.
Sementara itu, Erland yang tadinya berniat menemui Floe untuk mengacak menelpon sang ayah mertua karena ingin membicarakan mengenai persepsi pernikahan.
Namun, ia kebetulan mendengar suara Floe yang ternyata tengah berbicara dengan ayahnya dan ini mengetahui jika wanita di hadapannya tersebut bersikap sangat dewasa dan membelanya.
Jadi, ia tadinya berniat untuk mengucapkan terima kasih dan tidak langsung pergi, tapi masih merasa ragu untuk mengetuk pintu. Hingga yang terjadi malah pintu terbuka dan menampilkan Floe di hadapannya.
Ia pun menceritakan semuanya. "Terima kasih karena membelaku di depan orang tuamu. Kamu bahkan mengatakan jika bahagia berada di sini. Padahal faktanya kamu selalu bad mood karenaku," ucapnya yang kini mengulurkan tangannya.
Floe kini menjabat tangan Erland dan suasana hatinya semakin bertambah baik malam ini. Hingga ia pun kini menunjuk ke arah freezer.
"Temani aku makan es krim. Ambilkan yang rasa jagung, ya. Aku tunggu di taman depan," ucapnya yang kini berjalan meninggalkan Erland dengan wajah ceria dan senyuman mengembang di bibirnya.
"Siap, Nyonya," sahut Erland yang tersenyum dan kini mulai membuka freezer untuk mengambil es krim. "Sepertinya nanti saat besar, anakku akan sangat menyukai es krim."
To be continued...