
Erland yang baru saja tiba di rumah, langsung bergegas menuju ke kamar untuk berkemas. Tadi ia sudah menelpon sang ayah dan menjelaskan tentang masalah yang dihadapinya dan tentu saja langsung diiyakan. Itu karena sang ayah lebih setuju ia dengan Marcella daripada Floe yang tengah hamil benihnya.
Ia mengecas ponsel miliknya dan berjalan ke walk in closet untuk berkemas. Berpikir jika ia mungkin akan cukup lama berada di London sampai Marcella pulih karena benar-benar berharap wanita yang sangat dicintainya itu bisa segera lepas dari masa kritis dan sadar.
Saat ia sudah memasukkan pakaian ke dalam koper besar miliknya, indra pendengaran menangkap suara dering ponsel dari luar ruang ganti tersebut.
"Siapa lagi yang menelpon? Apa Floe lagi? Aku tidak ingin lemah dan berubah pikiran hanya gara-gara dia memaksaku demi janin yang sedang dikandungnya. Anakku akan baik-baik saja, sedangkan Marcella saat ini sedang kritis dan lebih membutuhkanku. Sementara di sekeliling Floe ada keluarganya yang sangat peduli," ucap Erland yang kini memilih untuk menyelesaikan semuanya.
Meskipun panggilan telepon kembali berdering untuk kedua kali, sama sekali tidak diperdulikan karena yakin jika itu adalah Floe yang mungkin tengah berusaha membuatnya berubah pikiran dengan tidak mengizinkannya pergi ke London.
"Nanti saja aku telpon dia saat hendak naik pesawat saja." Setelah ia selesai berkemas dan memastikan tidak ada yang tertinggal, kini melangkahkan kaki panjangnya keluar sambil melepaskan kancing kemeja karena hendak pergi mandi.
Namun, ia memastikan terlebih dahulu apakah benar yang menghubungi adalah Floe atau bukan. Begitu melihat kontak yang di daftar panggilan, benar apa tebakannya.
"Sebenarnya apa mau dia? Bukannya tadi bilang di depan mama kalau tidak akan melarangku pergi menemui Marcella dan merasa bersalah?" Saat ia masih menatap ke arah layar ponsel miliknya, dering ponsel kembali berdering dan membuatnya mengerutkan keningnya.
"Panjang umur sekali mama, baru juga diomongin." Saat ia tidak membuang waktu untuk mengangkat telepon dengan menggeser tombol hijau ke atas, bisa mendengar suara bernada panik dari sang ibu.
"Erland, cepat ke Rumah Sakit!" ucap wanita paruh baya yang saat ini tengah berada di dalam mobil dan terjebak macet.
Sementara itu, Erland masih tidak paham kenapa sang ibu menyuruhnya ke Rumah Sakit di saat ia bahkan tengah bersiap untuk pergi ke London.
"Rumah Sakit? Memangnya apa yang Mama lakukan di Rumah Sakit? Mama sakit?" tanya Erland yang terlihat bertelanjang dada. Hingga ia membulatkan matanya begitu mendengar suara dari sang ibu.
"Bukan Mama karena baik-baik saja. Barusan besan menelpon dan mengabarkan jika Floe berada di Rumah Sakit karena hampir kecelakaan. Sekarang sedang ditangani karena mengalami pendarahan. Semoga tidak terjadi sesuatu pada cucuku." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara seperti benda terjatuh.
Erland yang merasa sangat terkejut, seketika ponsel di tangannya jatuh ke lantai. Jantungnya berdetak kencang melebihi batas normal kala mengetahui keadaan ibu dan juga calon anaknya tengah tidak baik-baik saja.
"Tidak mungkin. Itu tidak mungkin," lirihnya dengan suara serak karena rasa sesal serta bersalah dirasakan akibat keputusannya yang bertekad untuk pergi ke London.
Hingga ia kembali mendengar suara dari sang ibu yang membuatnya sadar jika kini sudah menjatuhkan ponsel dalam genggaman. Bahkan tangannya gemetar kala membungkuk untuk mengambilnya kembali.
"Erland! Kamu mendengar Mama, kan? Apa kamu masih di sana?" tanya sang ibu di seberang telepon dengan raut wajah khawatir.
Sebenarnya ia ingin menyalahkan putranya karena berpikir jika tadi Erland tidak naik taksi, pasti tidak akan terjadi hal buruk seperti ini. Hanya saja ia seolah paham dengan apa yang tengah dipikirkan oleh putranya saat ini.
Ia sebenarnya juga ingin mengumpat karena di saat genting seperti sekarang ini, malah harus terjebak macet dan mobil benar-benar padat merayap. Entah berapa lama akan terjebak macet, tapi yakin jika itu akan sangat lama.
"Iya, Ma. Aku mendengar Mama. Aku akan ke Rumah Sakit sekarang karena penerbangan masih cukup lama dan ada waktu untuk melihat keadaan Floe. Semoga tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Floe dan anakku." Erland kini kembali mengancingkan kemeja dan tidak jadi pergi mandi.
Ia bahkan terlihat buru-buru keluar dari ruangan kamarnya dan mendengar suara sang ibu yang menyebutkan Rumah Sakit tempat Floe dirawat.
"Naik motor saja karena sekarang jalanan sangat macet. Tadi besan menelpon saat dalam perjalanan dan bertanya apakah kamu sudah tahu apa belum. Makanya Mama tadi bilang jika kamu sibuk dan belum tahu. Cepat berangkat sekarang!" Tanpa menunggu tanggapan dari putranya, ia langsung mematikan sambungan telepon.
Ia mengembuskan napas kasar karena dari tadi berusaha menahan diri untuk tidak memarahi putranya karena masih bisa berpikir untuk tetap pergi ke London.
"Erland! Kenapa gen buruk dari papamu mendarah daging padamu. Jika gen Mama lebih mendominasi, mana mungkin hatimu sekeras batu dan masih ingin bertemu mantan kekasih saat istri dan anakmu mengalami kecelakaan." Dengan memijat pelipis karena pusing melanda, ia makin frustasi melihat banyaknya kendaraan yang merayap di depan hingga belakang.
Ia pun kini langsung keluar dari mobil begitu menatap pada supirnya. "Aku akan naik ojek online saja. Kembali saja ke rumah."
Sang supir yang awalnya merasa sangat terkejut karena tiba-tiba sang majikan keluar setelah mengumpat putra sendiri, sehingga hanya bisa mengangguk perlahan. "Hati-hati, Nyonya."
"Iya," ucap wanita dengan gaun di bawah lutut berwarna hitam yang menenteng tas berukuran sedang dengan merk terkenal dan keluaran terbaru tersebut.
Ia pun berjalan di antara jalanan yang macet dengan kendaraan roda empat untuk segera menepi agar bisa segera memesan ojek online. Hingga beberapa menit telah berlalu, kini ia bernapas lega kala berhasil terbebas dari kemacetan.
"Semoga menantu dan cucuku baik-baik saja. Lindungi mereka, Tuhan." Dengan memesan ojek online sambil terus merapal doa dan dipenuhi oleh kekhawatiran.
Hingga ia pun terdiam sambil menunggu ojek datang, mengingat perkataan dari besan yang tadi menelponnya. "Apa akan terjadi perdebatan besar nanti di Rumah Sakit? Apalagi jika mereka tahu jika putraku hendak ke London malam ini."
Tidak bisa membayangkan bagaimana murkanya seorang Hugo Madison yang sangat keras dan diktator, ia merasa khawatir pada keadaan putranya. "Aku juga harus segera sampai di Rumah Sakit. Jangan sampai Erland terlebih dulu sampai dan malah mendapatkan pukulan dari mertuanya."
Dengan mengedarkan pandangannya ke jalanan untuk mencari keberadaan ojek online yang dipesannya tak kunjung datang, detak jantungnya makin tidak menentu kala memikirkan berbagai macam kemungkinan terburuk hari ini.
"Semoga semuanya baik-baik saja dan putraku tidak babak belur dihajar ayah mertuanya," ucapnya dengan masih terus menatap jalanan dan berharap ojek pesanannya datang secepat mungkin.
To be continued..