
Beberapa saat lalu, Dhewa berniat untuk merokok di sebelah kiri dari bangunan gedung yang tengah dalam proses pembangunan, tapi ia berhenti di salah satu tumpukan bata ringan untuk melihat dari dekat mengenai kualitasnya karena sesuai dengan arahan, harus menggunakan yang terbaik.
Namun, tanpa sengaja kakinya terantuk sesuatu yang membuatnya terhuyung ke depan dan menubruk tumpukan bata ringan tersebut hingga membuat kepalanya berdarah.
"Tuan!" teriak beberapa pekerja yang langsung berhamburan menghampiri sang atasan yang terjatuh.
Beberapa orang yang ingin membantu sang atasan, malah tidak berkutik saat pria yang bagian keningnya berdarah itu tidak mau ditolong.
"Aaah ... memalukan sekali," seru Dhewa yang saat ini meringis menahan rasa sakit di bagian keningnya dan menyadari jika tangannya menyentuh cairan berwarna merah.
Ia pun melihat ke sekeliling karena para pekerja sudah berkerumun di hadapannya. "Aku tidak apa-apa. Jangan kuatir. Ini hanya luka kecil dan akan kuobati."
"Sebaiknya Anda pergi ke Rumah Sakit, Tuan. Saya akan mengantarkan Anda agar bisa segera diobati oleh pihak medis," sahut salah satu pria yang berada di posisi paling depan.
Hingga suara dari seorang wanita membuatnya menoleh.
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa sampai berdarah begitu?" tanya Floe yang merasa sangat terkejut dengan keadaan Dhewa saat sudah dihiasi darah di bagian keningnya.
Floe bahkan saat ini berjalan semakin mendekat setelah memberikan asal paper bag yang berisi makanan dari Camelia tadi pada pekerja. Hingga ia kini menghampiri sosok pria yang kini bersikap seolah-olah kuat dan tidak merasakan sakit sama sekali meskipun ada darah yang mengalir.
"Benar apa yang dikatakannya. Tuan Dhewa harus segera ke Rumah Sakit. Biar saya antarkan," ucap Floe yang masih tidak mengalihkan perhatiannya dari wajah pria dengan rahang tegas tersebut.
Bahkan saat ini ia merasa iba kala melihat pria yang tadi ditolak mentah-mentah ketika ingin berteman dengannya.
Sementara itu, Dhewa yang merasa jika semua orang terlalu berlebihan atas luka kecil yang dialaminya, termasuk Floe yang menganggapnya lemah, membuatnya kini mengeluarkan dompet miliknya dan mengambil uang. Lalu memberikan uangnya pada Floe.
"Ini hanya luka kecil dan akan kuobati sendiri. Tolong belikan aku obatnya di apotik. Ini uangnya. Aku akan menunggu di ruangan sambil membersihkannya dengan air dulu." Tidak ingin menjadi pusat perhatian dari para pekerja dan dianggap sangat lemah, sehingga membuatnya memilih untuk berlalu pergi dari kerumunan orang-orang dan juga wanita yang baru saja menerima uangnya.
"Lanjutkan istirahatnya dan jangan lupa makan!" teriak Dhewa yang berbicara sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang untuk melihat beberapa pekerja yang masih belum beranjak dari tempat yang masing-masing.
Bahkan ia seperti orang yang tidak merasa kesakitan, kini kembali meringis saat sudah menjauh dari kerumunan dan juga Floe. 'Aaah ... sekarang baru terasa nyerinya. Bisa-bisanya aku ceroboh tadi. Ini semua gara-gara aku kesal saat ditolaknya. Padahal hanya ingin berteman saja, tapi langsung ditolak mentah-mentah.'
Saat Dhewa baru saja membuka kena pintu dan berniat untuk masuk ke dalam, ia mendengar suara Floe dan membuatnya berbalik badan untuk melihat sosok wanita yang kini sudah berada di belakang dan membuatnya.
"Lebih baik langsung ke Rumah Sakit agar bisa diobati oleh ahlinya karena kita tidak tahu dampak dari lukanya. Bisa saja gegar otak atau mungkin berakibat amnesia. Bisa-bisa nanti malah membuat semua orang yang ada di sini kesusahan karena kehilangan pilar mereka yang menjadi penopang utama pekerjaan." Floe tadinya berniat untuk pergi ke apotik, membeli obat sesuai dengan perintah.
Namun, saat menyadari jika dirinya tidak mempunyai kendaraan dan pastinya akan sangat lama jika harus naik ojek online karena harus memesan dulu. Ia merasa khawatir jika luka yang sudah mengeluarkan darah segar itu akan berdampak buruk.
Jadi, sengaja bergerak cepat untuk menggandeng tangan dengan buku-buku kuat itu. Tanpa memperdulikan ada protes dari pria yang berada di belakangnya.
"Apa kata-kataku tadi belum jelas? Aku tidak ingin pergi ke rumah sakit hanya gara-gara luka kecil seperti ini yang membuatku malah terlihat seperti seorang pria lemah," ucap Dhewa yang saat ini menatap ke arah tangannya ketika digenggam erat oleh Floe.
Bahkan seolah penolakannya tidak membuat wanita itu berhenti berjalan menuju ke arah mobilnya yang diparkir di sebelah kanan. Ia mengerutkan kening karena Floe seolah sudah mengetahui jika itu adalah kendaraan miliknya. Namun, hanya diam saja dan melihat Floe menoleh ke arahnya begitu tepat berhenti di depan mobilnya.
"Mana kuncinya? Biar saya yang menyetir. Jelek-jelek begini saya pernah menjadi supir pribadi dulu." Floe yang tidak ingin dicurigai, sengaja mengarang cerita sambil mengulurkan tangannya agar mendapatkan kunci mobil.
Sementara itu, Dhewa saat ini seketika terdiam dan masih merasa ragu untuk memberikan kunci mobil yang berada di saku celana. "Apa kamu sekarang tengah memaksaku? Asal kamu tahu, aku benar-benar benci Rumah Sakit."
Saat Floe berniat untuk menasihati, kini ia tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara ponsel yang berdering. Bukan miliknya, tapi ponsel milik pria yang saat ini mengangkat telpon, sekaligus memberikan kunci mobil padanya.
Refleks ia langsung memencet remote dan membuka pintu untuk pria yang kini tengah menerima telpon. Kemudian ia berbalik badan untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Berbeda dengan Dhewa yang akhirnya memilih menyerah dan tidak ingin berdebat karena berpikir jika Floe nanti akan lebih dekat dengannya dan akhirnya bisa berteman.
Ia mengerutkan kening ketika mendapatkan telpon dari sang ayah. Refleks ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari sang ayah yang marah-marah padanya.
"Dhewa, kali ini kau membuat ulah apa lagi?" tanya sang ayah yang kini menampilkan wajah masam karena untuk pertama kalinya merasa kecewa.
Berbeda dengan Dhewa yang saat ini bisa menebak ke mana arah pembicaraan dari sang ayah yang seperti tengah menahan kemurkaan padanya.
Ia saat ini hanya mengembuskan napas kasar sebelum memberikan penjelasan dan melalui sekilas ke arah wanita dibalik kemudi yang sudah menginjak pedal gas dan meninggalkan lokasi.
"Sepertinya Camelia sudah memberitahu kalian. Seperti Camelia yang menolak perjodohan, aku juga tidak bersedia, Pa." Tadinya Dhewa merasa sangat percaya diri jika perjodohannya akan dibatalkan, tapi seketika tubuhnya seperti kehilangan tenaga begitu mendengar sesuatu dari sang ayah.
"Menolak bagaimana? Camelia tidak berbicara apapun mengenai perjodohan. Memangnya ada apa? Apa ada kesalahan yang kamu lakukan? Hingga merasa bersalah karena mamamu akan pergi ke Jakarta nanti malam."
Refleks Dhewa menoleh ke arah Floe karena merasa sangat bersalah telah melibatkannya dalam rencananya untuk membatalkan perjodohan dan malah berakhir membuat sang ibu penasaran seperti apa wanita yang ia manfaatkan tersebut.
'Apa dia akan semakin kesal dan marah padaku ketika aku memintanya untuk berakting di depan mama?'' gumamnya yang kini masih mengunci rapat mulutnya karena penuh pertimbangan untuk menyapa Floe yang tengah fokus mengemudi.
To be continued...