
"Lebih baik Papa pulang saja dan beristirahat di rumah karena besok harus bekerja. Papa pasti sangat lelah." Lestari Juwita yang saat ini duduk di sebelah sang suami ketika menunggu putrinya yang masih belum sadar setelah proses kuratase.
Bahkan mereka sudah menunggu selama 4 jam lebih dan terlihat Putri satu-satunya yang masih betah memejamkan mata di atas ranjang perawatan.
Sementara itu, Hugo Madison yang sama sekali tidak berniat untuk pulang ke rumah sebelum melihat putrinya sadar. Ia tadi memang sudah mendengarkan penjelasan dari sang dokter mengenai keadaan putrinya yang baik-baik saja dan semuanya normal tanpa ada suatu masalah setelah proses kuratase.
"Aku adalah seorang laki-laki kuat. Menunggu putriku di sini sampai dia sadar dan aku adalah laki-laki pertama yang dilihatnya saat sadar, agar dia tahu bahwa orang tuanya lah yang merupakan orang-orang paling menyayanginya." Dengan menatap intens sosok putrinya yang masih belum sadarkan diri, ia sebenarnya merasa tidak tega jika membicarakan tentang masalah perceraian saat baru saja kehilangan janin.
Lestari Juwita yang sudah hafal dengan perangai sang suami saat tidak bisa diubah ketika memiliki pendirian, sehingga tidak lagi menyuruh untuk pergi meninggalkan rumah sakit.
Ia menatap ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri sang suami. "Ini sudah jam satu dini hari. Apa kau sama sekali tidak mengantuk?"
Bahkan ia berbicara sambil menguap karena memang sudah mengantuk, tapi melihat sang suami tidak sepertinya, sehingga membuatnya bertahan sampai putrinya sadar. Tadi dokter mengatakan jika putrinya akan sadar setelah kurang lebih 4 sampai 5 jam setelah menjalani proses kuratase.
Jadi, ingin melihat putrinya sadar dan tentu saja berusaha untuk menghibur agar tidak terlalu bersedih ketika mengetahui jika janin yang dikandungnya tidak dapat diselamatkan.
"Kamu tidur saja dulu. Biar aku yang menunggu Floe. Nanti aku bangunkan jika putri kita sudah sadar." Hugo Madison yang saat ini bergerak memijat pundak sang istri karena merasa iba ketika melihat wanita yang sudah lama menjadi istrinya tersebut terlihat sangat lelah.
Namun, gelengan kepala menjadi jawaban dari pertanyaannya dan menganggap jika sang istri sangat bandel karena tidak memperdulikan kesehatan.
"Tidak! Aku ingin melihat putriku yang baru saja sadar setelah mengalami kejadian buruk dalam hidupnya. Dia pasti sangat bersedih dan sebagai seorang ibu, aku harus menghiburnya agar tidak berlarut-larut ketika memikirkan janinnya yang tidak bisa diselamatkan." Saat ia tidak berkedip menatap ke arah sosok putrinya yang tak jauh darinya, Lestari Juwita mengingat sosok menantu yang tadi diketahui akan pergi ke London.
"Aku benar-benar tidak akan memaafkan Erland karena sama sekali tidak memikirkan Floe. Seharusnya dia membatalkan niatnya untuk mengunjungi kekasihnya di London setelah mengetahui jika Floe baru saja kehilangan janinnya."
"Pria macam apa itu! Dasar pria tidak punya hati. Aku harap dia terkena karma atas perbuatannya." Masih dengan wajah memerah karena kesal sekaligus murka, bahkan deru napas memburu kini terdengar jelas memenuhi ruangan terbaik di rumah sakit itu.
Melihat sang istri yang selama ini merupakan seorang wanita baik hati dan jarang marah karena sangat penyayang dan tidak pernah dendam pada siapapun, tapi sekarang berubah karena perbuatan menantu yang sudah dianggapnya bukan lagi menjadi suami putrinya.
"Jangan mengingat atau membicarakan bajingan itu lagi karena aku benar-benar ingin menghabisi pria berengsek itu! Aku sangat yakin jika apa yang dia tanam, akan dituainya sebentar lagi. Penyesalan akan dirasakannya dan itu sudah tidak lagi berguna." Hugo Madison yang terlihat memerah wajahnya dengan kedua tangan mengepal saat mengingat kejadian di depan IGD serta ruangan operasi.
Lestari Juwita yang merasa bersalah karena kembali mengingatkan tentang kejadian beberapa saat lalu dan membuat sang suami marah. "Maafkan aku karena telah membuatmu kembali mengingatnya. Penyesalan yang datang di akhir cerita, tidak akan mengubah kisah putriku yang telah selesai dengan sempurna."
Dengan suara serak karena menahan beban berat yang dirasakan ketika merasa iba pada nasib buruk putrinya yang harus menjadi janda di usia yang masih sangat muda, ia tidak bisa menahan bulir kesedihan yang menganak sungai di wajahnya.
Seolah air mata yang kini jatuh tanpa seizinnya, menjadi saksi atas perasaan tidak tega pada putri satu-satunya yang sangat disayangi. "Floe, kenapa nasibmu seburuk ini, Sayang?"
Hugo Madison yang saat ini merengkuh tubuh kurus sang istri agar meluapkan semua perasaan penuh kesedihan yang dirasakan. "Menangislah sepuasnya agar beban yang kamu rasakan segera sirna karena saat putri kita sadar nanti, kamu tidak boleh menangis seperti ini."
Dengan beberapa kali mengusap lembut punggung sang istri, Hugo Madison berharap perbuatannya bisa sedikit memberikan sebuah ketenangan di hati wanita yang sangat dicintainya tersebut agar bisa berkurang kesedihannya ketika memikirkan nasib putri mereka yang malang.
"Putriku adalah seorang gadis yang sangat baik dan cantik, tapi kenapa nasibnya sangat buruk? Ini semua mungkin tidak akan terjadi jika Rafadhan tidak mengkhianatinya." Kini, Lestari Juwita yang tadinya bersandar pada pundak sang suami untuk menenangkan diri, seketika mengangkat kepalanya dan menoleh pada pria yang menjadi pusat dunianya tersebut.
"Selama ini aku berpikir jika Rafadhan bukan pria yang baik untuk putri kita tanpa berniat untuk membalas perbuatannya yang telah mengkhianati Floe. Tapi sekarang aku tidak ingin mentolerir perbuatannya setelah melihat keadaan putriku yang sekarang."
"Beri dia pelajaran agar tidak bisa melanjutkan hidup dengan tenang." Ini adalah pertama kalinya seorang ibu tidak terima dengan perbuatan pria yang merupakan mantan kekasih putrinya tersebut.
"Erland pun juga harus merasakan hal yang sama. Buat dia menyesal karena telah membuat putriku kehilangan janinnya saat sudah mulai bisa menerimanya. Dia tidak boleh hidup berbahagia bersama dengan wanita itu saat putriku seperti ini." Lestari Juwita sebenarnya tahu jika dendam merupakan sebuah hal yang buruk, tapi tidak memperdulikan hal itu saat melihat putrinya yang malang.
Berbeda dengan Hugo Madison yang merasa sangat senang dan tersenyum menyeringai karena untuk pertama kalinya melihat sang istri mendukungnya untuk membalaskan dendam pada para pria yang menyakiti putrinya.
"Karena kamu telah memberikan izin padaku, sekarang aku tidak akan ragu-ragu lagi untuk memberikan pelajaran pada mereka. Serahkan saja semuanya padaku. Kamu hanya perlu fokus pada putrimu." Ia saat ini sudah berhasil mendapatkan sebuah rencana untuk menghancurkan Rafadhan dan Erland.
"Floe mungkin akan sangat bersedih di awal-awal mengetahui jadinya sudah tiada, tapi waktu yang akan menyembuhkan luka di hatinya. Jadi, kamu harus selalu ada di sisinya dan memberikan dukungan penuh serta support." Senyuman penuh seringai tampak jelas dari wajahnya ketika membayangkan jika dua pria yang telah membuat putrinya terluka akan mendapatkan balasan setimpal.
Sementara itu, sosok wanita yang sudah berurai air mata hingga sembab tersebut, kini menganggukkan kepala atas persetujuannya pada tindakan sang suami untuk memberikan sebuah hukuman demi membalaskan dendam putrinya yang malang.
"Aku akan selalu ada di samping putriku dan memberikannya suntikan semangat agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan." Kemudian ia bangkit berdiri dari sofa setelah melepaskan pelukan dari sang suami.
"Aku cuci muka dulu agar tidak terlihat sembab ketika putriku sadar." Kemudian berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Hugo Madison yang tidak tega melihat dua wanita yang sangat disayanginya, hanya mengembuskan napas kasar. "Putriku, kamu tenang saja karena Daddy akan membalaskan dendammu. Istriku, air matamu hari ini akan terbayar lunas setelah melihat penderitaan dua bajingan itu."
Sementara itu, sosok wanita yang masih betah memejamkan mata di atas ranjang perawatan, tak lain adalah Floe, sebenarnya beberapa saat lalu sudah sadar.
Ia tadinya hendak membuka mata, tapi indra pendengaran menangkap samar-samar suara orang tuanya dan lama-lama menjadi jelas. Hingga ia bisa mendengar semua perkataan dari ayah dan ibunya tersebut ketika membicarakan mengenai janinnya yang ternyata sudah tidak bisa diselamatkan.
Floe hanya bisa diam dan berpura-pura masih tidak sadarkan diri dan hanya bisa menahan sesak di dada dengan berkeluh kesah di dalam hati. Ia berusaha untuk menguatkan diri agar tidak menjadi seorang wanita yang lemah dengan menangis tersedu-sedu karena mengingat Erland yang sama sekali tidak memperdulikannya.
'Bahkan saat kau mengetahui bahwa calon anak kita tidak bisa diselamatkan, masih tidak membuatmu membatalkan niat untuk pergi mengunjungi wanita itu. Ya, aku memang bukan siapa-siapa untukmu, tapi bukankah kau sangat menyayangi calon anak kita?'
'Bahkan dulu kau mau melakukan apapun demi keturunanmu, tapi ternyata semuanya hanya omong kosong karena kau sama sekali tidak bersedih ketika anak kita tidak sempat dilahirkan ke untuk melihat indahnya dunia,' gumam Floe yang saat ini berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata dari bola matanya yang masih tertutup rapat.
Ia hanya bisa menggenggam erat bagian kanan pakaian yang dikenakan sambil menenangkan deru napas memburu yang mendominasi saat ini. Rasa sesak dirasakan ketika mengingat perasaannya pada sosok pria yang bahkan sama sekali tidak pernah sekalipun memiliki rasa cinta padanya.
Sementara rasa cintanya makin berkembang dan berharap semuanya berubah menjadi kebencian seperti yang dirasakan oleh orang tuanya.
'Aku harus membencinya karena dia tidak pantas mendapatkan cinta tulusku. Sadarlah, Floe! Ada banyak pria di dunia ini yang pantas mendapatkan cintamu, kecuali Erland yang tidak tahu cara menghargai wanita.' Floe masih berusaha untuk menenangkan diri agar saat membuka mata nanti tidak terlihat berkaca-kaca.
Jadi, ia mempersiapkan diri sebelum berpura-pura baru sadar dari efek obat bius. Bahkan ia bisa mendengar suara sang ibu yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka agar tidak terlihat buram di depannya.
"Pergilah ke kantin untuk kopi karena aku ingin mataku tetap terbuka sampai putriku sadar." Lestari Juwita yang tidak ingin tertidur karena meskipun sudah mencuci muka tadi, tetap saja menguap dan khawatir jika akan tertidur.
Hingga ia seketika menoleh ke arah putrinya begitu mendengar suara yang sangat ia hafal.
"Mom," lirih Floe yang akhirnya membuka mata karena tidak ingin sang ayah pergi ke kantin ketika ia sadar.
Ia tadi juga mendengar bahwa sang ayah tidak ingin pulang karena ingin menjadi laki-laki pertama yang melihatnya baru sadar dari obat bius, sehingga merasa saat ini adalah batu yang paling tepat untuk membuka kelopak mata dan berakting layaknya baru terbangun.
Tentu saja pasangan suami istri yang tadinya saling bersitatap dan secepat kilat menoleh ke arah putri mereka, seketika berjalan mendekat ke arah ranjang.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Putriku," ucap Hugo Madison dan sang istri secara bersamaan.
Mereka sebenarnya merasa tidak tega melihat putrinya yang pucat saat baru saja sadar dari tidur panjangnya. Namun, tetap berakting tersenyum meski hati serasa teriris sembilu.
Floe yang saat ini bergantian menatap ke arah orang tuanya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk berpura-pura bertanya tentang apa yang dirasakan.
"Kenapa aku berada di sini, Mom, Dad." Kemudian ia berpura-pura untuk mengingat kejadian apa yang menimpanya. "Aku tadi terjatuh saat diselamatkan oleh Harry dan mengalami pendarahan."
Kemudian ia refleks mengusap perutnya dan menyadari jika benjolan yang selama ini dirasakan sudah tidak ada lagi.
"Mom ...." Ia tidak kuasa melanjutkan perkataannya untuk mengatakan jika janinnya sudah tidak ada lagi di rahimnya.
Jadi, ia hanya menatap sendu pada sang ibu dan kini tidak bisa menahan bola matanya yang telah berkaca-kaca.
Tidak tega melihat putrinya yang seperti sudah mempunyai feeling jika janin di dalam rahimnya tiada, Lestari Juwita seketika menghambur putrinya untuk menenangkan agar tidak dipenuhi oleh kesedihan dan perasaan hancur ketika mengetahui semuanya.
"Sayang, sabar, ya. Ini semua sudah takdir dari Tuhan. Ya, Sayang, janinnya sudah diambil oleh Tuhan karena lebih sayang dia. Kamu harus bisa menerimanya karena mungkin ini adalah yang terbaik. Tuhan tahu mana yang terbaik untukmu, Sayang." Dengan menahan perasaannya yang hancur kalah melihat putrinya menangis tersedu-sedu, ia berusaha untuk menguatkan hatinya.
Ia sebenarnya juga ingin menangis untuk meluapkan semua perasaan yang dirasakan ketika tidak tega melihat putrinya, tapi ingin menjadi seorang ibu yang kuat agar Floe tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena kehilangan janinnya.
"Mom, aku sangat menyayanginya. Kenapa saat aku sudah menerimanya, malah kehilangannya? Apakah ini hukuman untukku karena dulu berniat untuk menggugurkannya ketika mengetahui aku hamil?" Floe berbicara dengan suara serak dan tubuh bergetar karena masih menangis tersedu-sedu.
Ia seperti mendapatkan karma atas perbuatannya ketika dulu ingin menggugurkan kandungannya begitu mengetahui jika dirinya hamil.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang." Sebagai seorang ibu yang harus berpura-pura kuat untuk menenangkan putrinya yang sedang hancur hatinya, ia benar-benar menahan air matanya agar tidak menganak sungai seperti beberapa saat lalu.
Sementara itu, Hugo Madison yang saat ini tidak tega melihat dua wanita yang sama disayanginya saling berpelukan untuk meluapkan kesedihan yang dirasakan, sehingga langsung bergerak mendekat untuk memeluk mereka.
"Sayang, semua ini sudah takdir dan kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas. Mungkin memang semuanya terasa berat di awal, tapi waktu yang akan menyembuhkan semuanya. Sabar dan jangan menganggap bahwa kejadian ini adalah akhir dari segalanya." Saat ia baru saja menutup mulut, malah mendengar suara tangisan putrinya yang makin menjadi-jadi.
Suara tangisan Floe kini menghiasi ruangan perawatan terbaik di rumah sakit. Saat ia sudah tidak kuasa untuk menyembunyikan perasaan hancur dan terluka atas takdir yang menimpanya, sehingga meledakkan semua kesedihan, tanpa memperdulikan jika suaranya memecahkan keheningan malam.
"Anakku, Maafkan Mama karena tidak bisa menjagamu. Mama pantas mendapatkan hukuman karena dulu hendak menyingkirkanmu," lirih Floe yang makin hancur ketika mengingat niatnya dulu saat ingin menggugurkan kandungannya.
Rasa bersalah dan berdosa kini menjadi satu dan merongrong dirinya hingga membuatnya seperti orang paling berdosa di dunia.
To be continued.....