Married by Accident

Married by Accident
LIII



Apartemen bukanlah tujuan pertama Kelana setelah keluar dari rumah sakit. Kelana ingin pergi ke rumah papa nya, lebih tepatnya ke studio musik milik mama nya. Kelana harus memastikan bahwa studio musik mama nya tidak berubah. Selama ini Kelana telah berusaha membuat bentuk ruangan itu tetap seperti saat mama nya masih ada. Bahkan ketika bunga azalea yang Karalyn tanam tiba-tiba layu dan mati, Kelana menanam bunga baru di pot yang sama.


Kelana turun lebih dulu dari mobil setelah sampai di halaman rumah diikuti oleh Renjani dan Adam. Orang pertama yang menyambut Kelana adalah Ratih—wanita itu memasang wajah sedih yang dibuat-buat dan menanyakan kabar Kelana.


"Papa, Kelana datang!" Ratih setengah berteriak memanggil Wira.


Beberapa saat kemudian Wira datang tergopoh-gopoh dari arah belakang. Ia melihat Kelana dari atas sampai bawah memastikan anaknya itu baik-baik saja. Namun melihat arm sling di lengan Kelana, kekhawatiran kembali menghantuinya.


"Papa perlu bicara sama kamu." Pungkas Wira.


"Nggak perlu." Kelana melenggang pergi meninggalkan Ratih dan Wira di ruang tamu. Apalagi yang bisa mereka bicarakan lagi pula Kelana tak ingin mendengar apapun dari Wira.


Rahang Kelana mengeras melihat pintu studio musik benar-benar rusak. Bahkan Wira tidak memperbaikinya. Kelana mendorong pintu dengan kakinya dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.


Tidak banyak yang berubah, hanya dua violin yang tergeletak di atas lantai. Sepertinya Valia langsung meletakkannya setelah memainkan violin itu. Kelana membungkuk untuk memeriksa violin nya.


"Gimana Kelana?" Adam melongokkan kepala melalui pintu, ia tak berani melangkah masuk karena takut kena marah Kelana. Pada saat seperti ini Kelana bisa saja membunuh orang hanya dengan pandangan matanya. Adam tak mau cari masalah dengan Kelana.


"Sesuai rencana pertama." Kelana melangkah keluar.


"Kamu kembali ke apartemen dulu, biar ini saya yang urus."


Kelana mengangguk samar lalu melangkah pergi. Renjani tidak mengerti apa yang Kelana dan Adam bicarakan tapi ia tak berani bertanya. Renjani hanya mengekori Kelana seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


Kelana menyandarkan kepalanya ketika sampai di mobil, ia memejamkan mata berusaha mengingat kenangan baiknya bersama Wira saat ia masih kecil. Dulu Kelana sering berenang bersama papa nya lalu pergi ke pusat perbelanjaan membeli mainan yang Kelana inginkan dan bahan masakan untuk Karalyn. Mereka akan makan masakan Karalyn bersama-sama setelahnya. Namun kenangan seperti itu tak banyak tersimpan di otak Kelana karena setelah Karalyn meninggal lalu Ratih dan Valia hadir, hubungan Kelana dan papa nya memburuk. Kenangan indah yang sedikit itu terhempas oleh keburukan Wira.


Hingga saat ini ketika Kelana ingin mengingat kenangan indah itu, ia merasa sangat kesulitan. Semua itu berubah menjadi gelembung sabun yang akan hilang dalam sekejap mata.


Kelana membuka mata ketika mendengar pintu mobil terbuka, sorot matanya berubah tajam melihat Wira masuk ke mobil. Dimana Renjani?


"Maafkan Papa, Kelana." Suara Wira rendah, rasa bersalah begitu terlihat di wajahnya.


Kelana melempar tatapan ke luar jendela, maaf untuk apa? maaf karena Wira telah merusak pintu demi Valia atau karena ia telah memaksa Kelana membuat lagu. Atau perselingkuhan yang Wira lakukan dulu saat Karalyn masih hidup. Atau Wira yang selalu menuntut Kelana untuk menjadi violinist sempurna.


"Maaf atas semua perlakuan Papa selama ini, Papa cuma nggak mau kamu jadi anak yang manja, itu sebabnya Papa selalu keras padamu, Papa jarang memuji penampilan mu karena Papa mau kamu jadi violinist hebat."


Menahan rasa sesak yang kian menghimpit dadanya, Kelana menatap papanya.


"Apa aku pernah punya kesempatan untuk jadi anak manja ketika anak-anak lain selalu diantar Mama nya ke sekolah sedangkan aku nggak, aku sudah kehilangan kesempatan itu sejak Mama meninggal lalu Papa berbuat se-kejam ini sama aku? apa aku masih bisa disebut anak Wira Radiaksa? bahkan para wartawan menyadari bahwa hubungan kita makin memburuk, Papa aja yang merasa paling benar."


"Ini semua demi kamu, Kelana."


"Keluar." Ujar Kelana dingin seraya membuang muka. Ia tak menerima permintaan maaf apapun dari Wira. Bukankah sudah terlalu terlambat untuk minta maaf sekarang.


"Aku akan memindahkan semua alat musik Mama ke apartemen."


"Kenapa?"


"Karena pintunya rusak." Sindir Kelana.


"Kamu nggak perlu memindahkannya, Papa bisa perbaiki pintunya."


"Papa nggak usah repot-repot ngelakuin itu, sekarang Papa keluar."


Wira menuruti perkataan Kelana untuk keluar dari sana.


"Semoga Papa bahagia dengan mereka, mulai sekarang aku anggap nggak pernah punya Papa." Kelana tersenyum dingin mengakhiri kalimatnya.


Renjani bergegas masuk ke mobil ketika melihat Wira keluar. Yana dan Dayat juga menyusul masuk. Tanpa diminta, Dayat menjalankan mobil meninggalkan halaman rumah Wira. Dayat mengerti apa yang Kelana inginkan hanya dengan melihat ekspresi wajahnya.


Wira masih berdiri kaku di tempatnya setelah kepergian Kelana. Ia tak menyangka Kelana akan mengatakan hal seperti itu padanya. Wira merasa kosong, kalimat Kelana terus terngiang di telinganya. Wira sengaja mendidik Kelana dengan keras agar setelah dewasa seperti sekarang Kelana bisa menghadapi dunia yang kejam dengan penuh keberanian. Namun Wira melupakan satu hal, ia tak pernah memberikan kasih sayang pada Kelana.


Terlalu terlambat untuk menyesal sekarang, Wira terduduk di halaman rumahnya yang luas. Kini ia berpikir apakah dirinya benar-benar telah melakukan yang terbaik untuk Kelana atau sebaliknya. Hubungan mereka tak akan pernah bisa seperti dulu lagi. Wira yang membuat jarak antara dirinya dan Kelana semakin jauh.


******


Renjani membuka gorden agar cahaya matahari masuk ke kamar. Kelana merebahkan diri di atas tempat tidur, ia ingin menenangkan pikirannya yang kacau saat ini. Kelana bisa menghadapi masalah rumit sebelumnya karena ia memiliki energi lebih saat bermain violin. Namun sekarang bahkan ia hanya bisa menyentuh violin itu tanpa bisa memainkannya. Itu seperti mencintai tapi tidak bisa memiliki.


"Kamu mau pindahin semua alat musik Mama Karalyn kemana?" Renjani duduk di samping tubuh Kelana.


"Kamar Yana." Karena Yana sudah pindah ke apartemen sebelah maka Kelana bisa menggunakan bekas kamar Yana untuk studio musik mama nya. "Itu nggak akan sama lagi."


"Walaupun nggak kelihatan sama tapi kamu bisa menyimpan semua kenangan mu sama Mama disini." Renjani menyentuh dada Kelana. "Walaupun studio nya berubah tapi kenangan di dalam dada kamu nggak akan pernah berubah, kenangan itu milik mu."


Kelana menatap Renjani kagum, sebelumnya ia tak pernah berpikir seperti itu. Kalimat Renjani ada benarnya, tak peduli meski studio nya berubah kenangan Kelana dan mama nya akan selalu sama.


"Kita bisa mengulang kenangan itu."


"Aku nggak punya banyak kenangan."


"Coba kamu pikir lagi, pasti ada hal-hal yang bisa kita lakukan sekarang untuk mengulang kenangan itu."


"Aku akan memikirkannya."


Renjani tersenyum melihat cahaya kembali menyala di wajah Kelana. Ia menaikkan selimut sebatas pinggang Kelana.


"Aku kerja dulu." Renjani beranjak mengambil laptop di atas meja. Ia tak tahu apa yang akan dikerjakannya tapi dari pada tidak melakukan apapun lebih baik ia menyibukkan diri mencari naskah novel atau sekedar membaca ulasan pembeli Meet Sunshine.


"Tunggu." Kelana menegakkan badannya.


Renjani yang hendak keluar dari kamar pun berhenti dan membalikkan badan.


"Kamu butuh apa?" Renjani kembali menghampiri Kelana.


"Terimakasih Re." Kelana mengecup kening Renjani lama, "aku beruntung punya kamu."


Renjani terpaku mendengar kalimat itu, dadanya berdesir seperti pasir yang tersapu ombak. Ini pertama kalinya Renjani mendengar seseorang mengatakan hal seperti itu. Bahkan orangtua Renjani tak pernah mengatakan bahwa memiliki Renjani adalah keberuntungan.


"Kenapa?"


Mata Renjani melebar lalu bibirnya mengerucut yang justru memancing tawa Kelana. Renjani sudah membayangkan Kelana akan mengatakan kalimat romantis seperti di film. Namun Renjani memang tidak ditakdirkan mendengar kalimat semacam itu.


"Jahil banget sih kamu!" Renjani mendorong dada Kelana pelan.


"Aku bicara jujur, bahkan bubur hambar rumah sakit aja kamu habisin."


"Tahu ah." Renjani berjalan pergi meninggalkan Kelana.


Renjani membuat segelas kopi untuk menemaninya berkutat dengan laptop. Renjani membaca komentar pembaca novel Meet Sunshine. Renjani tersenyum lebar mengetahui semua pembeli menyukai novel versi cetak tersebut. Renjani tidak akan salah memilih novel untuk diterbitkan apalagi ia mengikuti perjalanan Meet Sunshine sejak pertama kali ditulis di aplikasi novel online.


Renjani menghela napas berat, jika jumlah pembeli tidak bertambah, Asmara Publishing tak akan bisa bertahan. Membuka perusahaan sendiri tidak semudah bayangan Renjani. Semua uangnya juga sudah habis untuk menggaji para karyawan. Sekarang Kelana juga akan libur dalam waktu lama. Renjani tak mungkin menggunakan uang Kelana terus-terusan.


Renjani membuka aplikasi novel online tempatnya biasa membaca novel. Menemukan cerita bagus seperti Meet Sunshine cukup sulit bagi Renjani apalagi ia lebih sering membaca novel fisik di perpustakaan. Banyak novel populer tapi Renjani belum tentu menyukainya.


"Ck ini kayak nyari jarum dalam jerami." Keluh Renjani dramatis setelah kurang lebih setengah jam membaca sinopsis novel populer tapi tak ada yang menarik baginya.


Akhirnya Renjani memutuskan untuk mengubungi Manda. Ia meminta Manda membaca novel online dengan harapan bisa menemukan novel yang tepat untuk mereka. Renjani dan Manda memiliki selera novel yang sama.


"Aahhh!" Renjani kembali menghela napas keras, ia menjatuhkan kepalanya di atas meja hingga membuat gelas kopinya bergeser. Kepalanya terasa pening memikirkan biaya produksi yang tidak murah.


Langit mulai gelap tapi Renjani belum menemukan naskah yang menurutnya menarik. Berkali-kali ia melihat data pemesanan yang juga tidak berubah. Renjani ingin menyerah dari pada menghabiskan lebih banyak uang untuk mewujudkan mimpinya. Renjani harus menekan egonya demi Kelana yang saat ini juga kesulitan.


Langit bergemuruh, awan hitam pekat perlahan bergerak menggantung di atas kota Jakarta. Renjani cemberut, dibandingkan langit, mendung di hatinya jauh lebih tebal.


******


Suara petir menyambar membangunkan Kelana dari tidurnya. Kelana melihat ke arah jendela, rupanya langit sudah gelap, itu artinya ia cukup lama tertidur. Kelana hampir tidak pernah tidur siang tapi kali ini ia tidur hingga langit gelap.


"Dimana Rere?" Kelana turun dari ranjang melangkah keluar kamar mencari Renjani.


Kelana berjalan ke dapur untuk minum segelas air karena kerongkongannya terasa amat kering.


"Dimana Rere menyimpan obat ku?" Kelana mencomot satu roti tawar dan mengoleskan selai bluberi dengan susah payah karena ia hanya bisa menggerakkan satu tangan.


"Ah!" Kelana menggeram, ia menyerah untuk mengoleskan selai. Kelana langsung melahap roti dengan selai yang berantakan tersebut. Kelana harus makan sesuatu sebelum minum obat tapi ia tak tahu dimana Renjani menyimpan obat-obatnya.


Kemarahan Kelana perlahan mereda setelah melihat Renjani di ruang tamu. Renjani menempelkan dahinya pada meja dengan kertas berserakan di sekitarnya.


"Re." Kelana duduk di atas sofa, "kamu tidur?" Ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Renjani.


"Hm?" Renjani mengangkat kepala, "kamu udah bangun?" Ia kebingungan melihat sekitar, ia hanya tidur sebentar tapi langit tiba-tiba sudah gelap.


"Dimana obat ku?"


"Ada di laci nakas, sebentar aku ambilin." Renjani beranjak dari lantai untuk mengambil obat Kelana.


Beberapa saat kemudian Renjani kembali dengan sekotak obat dan air hangat.


"Maaf Kelana, aku ketiduran." Renjani mengeluarkan obat Kelana satu per satu, total ada 5 obat yang harus Kelana minum tiga kali sehari. "Kamu habis makan apa?" Renjani mengulurkan tangan mengusap noda di sudut bibir Kelana.


"Makan roti."


"Oh jadi kamu yang jatuhin selai di dapur."


"Iya, susah olesin selai pakai satu tangan."


"Ini salahku."


Kelana mengambil obat di tangan Renjani dan menelannya satu per satu lalu meneguk segelas air hangat hingga tandas.


"Kamu masih mau hidup sama aku?"


Renjani mengerutkan kening, "kenapa tiba-tiba nanya gitu?"


"Aku cacat sekarang."


Renjani melongo lalu tertawa, ia sama sekali tidak menyangka jika Kelana akan berpikir seperti itu.


"Tangan kamu masih bisa sembuh." Renjani berpindah duduk di samping Kelana setelah membereskan kotak obat.


"Kalau nggak bisa sembuh kamu masih mau sama aku?"


"Masih lah, uang kamu kan juga masih banyak." Renjani merangkul perut Kelana dari samping menggelayut manja.


Kelana tertawa, ia tahu Renjani bercanda soal itu, kalaupun benar Kelana tak akan pernah menyesal menikahi Renjani. Itu artinya Kelana harus bekerja keras untuk menghasilkan banyak uang.


"Aku nggak mungkin ninggalin kamu cuma karena hal ini, waktu kaki ku patah juga kamu yang rawat aku sampai sembuh, aku nggak punya alasan untuk ninggalin kamu."


Kelana menatap Renjani, bolehkan ia meminta Renjani untuk selalu bersamanya. Kelana ingin melupakan perjanjian satu tahun pernikahan mereka. Kelana ingin melalui tahun demi tahun bersama Renjani.


"Aku nggak tahu apa omongan kamu bisa dipegang."


"Nggak bisa, emang ada omongan yang bisa dipegang?"


Kelana merapatkan giginya geregetan dengan jawaban Renjani. Sedetik kemudian Kelana menyambar bibir Renjani dan melumatnyaa.


"Berjanjilah."


"Janji apa?" Mata Renjani berbinar-binar menatap Kelana setelah mendapat ciuman.


Untuk tidak meninggalkanku. Kalimat itu sudah berada di ujung lidah Kelana tapi ia tak bisa mengucapkannya. Kelana menelan kembali kalimat itu, ia merasa tidak pantas mengucapkannya pada Renjani. Kelana sudah berjanji hanya akan meminta waktu Renjani selama satu tahun. Kelana harus menepati janji tersebut.