Married by Accident

Married by Accident
Mematahkan asumsi



Floe saat ini bisa mengerti jika sang ibu tidak tega melihatnya hancur berkali-kali karena pria yang salah. Ia sangat terluka saat Erland memilih Marcella dan sama sekali tidak meliriknya. "Mungkin aku akan berpura-pura menerimanya kembali agar dia merasa senang dan percaya diri, tapi setelah itu mengatakan jika itu hanyalah akting."


"Mommy tidak perlu kuatir karena apa yang ditakutkan tidak akan terjadi. Ya, aku memang sempat memiliki perasaan untuknya, tapi tidak ingin terluka lagi karena lebih baik dicintai daripada mencintai." Floe tanpa ragu mengungkapkan semua yang ada di pikirannya dengan penuh pertimbangan.


Ia tahu jika Erland sama sekali tidak memiliki perasaan sedikit pun padanya. Jadi, berpikir jika orang baru tidak akan sanggup mengalahkan orang lama dan mungkin akan kembali merasa terluka jika Erland kembali memperlakukannya seperti sekarang.


Lestari Juwita yang tidak langsung percaya pada perkataan putrinya karena ingin mencari sebuah kejujuran dari sorot mata yang dikuncinya dalam-dalam.


"Sayang, kamu yakin? Kamu benar-benar tidak akan lemah menerima Erland lagi, kan? Karena Mommy berencana untuk mengirimmu kuliah ke Jepang daripada harus membiarkanmu kembali pada menantu tidak punya hati itu!" Saat amarahnya terkumpul menjadi satu, ia bisa mengingat bagaimana raut wajah Erland ketika tidak berubah pikiran untuk pergi ke London.


Bahkan saat ia sangat kesal mengingat itu, malah melihat putrinya seolah ingin menenangkannya dengan mengusap lengannya beberapa kali.


"Aku tahu perasaan, Mommy. Tapi percayalah karena aku sekarang lebih memilih logika daripada hati yang hanya akan membuatku terlihat bodoh. Jika memang kalian menyuruhku untuk pergi ke Jepang, aku sama sekali tidak keberatan karena malah bisa tinggal bersama grandma dan granpa."


"Aaah ... jadi kangen mereka kan jadinya." Floe yang terakhir kali datang ke Jepang setahun lalu, kini tiba-tiba ingin berlibur ke sana. "Sepertinya aku perlu refresh otak ke Jepang, Mom. Tapi sayangnya sebentar lagi ujian."


Saat ini Floe sudah merancang sebuah rencana untuk bisa berlibur ketika liburan nanti. Ia kini mengingat sesuatu hal yang tadi dibahas oleh sang ibu. "Oh ya, tadi Mommy mau cerita apa tentang dia?"


Tidak ingin menyebut nama pria yang membuatnya patah hati karena hanya akan mengingat luka, Floe berjanji untuk tidak menambah daftar kebodohannya karena masalah percintaan yang selalu tidak sesuai dengan harapannya.


Saat Lestari Juwita sedikit merasa terhibur sekaligus percaya pada perkataan putrinya yang sudah menjawab dengan jujur karena sorot matanya terlihat jelas tidak ada kebohongan di sana.


Tentu saja ia yang sudah mengandung selama 9 bulan lebih dan juga membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang, mengetahui karakter Floe jika berbohong.


Ia pun kini menceritakan tentang obrolannya tadi di kantin. Panjang lebar ia bercerita dengan penuh semangat karena merasa senang saat mengetahui jika Erland langsung membayar tunai apa yang ditanam.


"Dia pikir London adalah Jakarta dan bisa berbuat sesuka hati, tapi dia sama sekali tidak berkutik saat berhadapan dengan keluarga pria itu yang masih ada keturunan darah biru dari nenek moyang." Bahkan saat menceritakannya saja sudah membayangkan bagaimana raut wajah menantunya tersebut.


"Jadi, masalah yang dialami oleh wanita itu tidak akan tercium publik karena sudah di manage oleh keluarga Pieterson. Apa kamu senang dia mendapatkan karma atas perbuatannya?" tanya Lestari Juwita yang saat ini ingin tahu bagaimana perasaan putrinya.


Apakah ikut merasa senang dan puas sepertinya karena tanpa mengotori tangan, malah sudah langsung ditunjukkan oleh kuasa Sang pencipta yang telah memberikan balasan setimpal.


"Hasilnya belum keluar, Mom. Jika wanita itu tidak hamil, mereka tidak punya kuasa dan Erland bisa kembali ke Jakarta untuk menikahinya. Jadi, lebih baik Mommy jangan berekspektasi terlalu tinggi ataupun senang dulu sebelum hasil keluar. Daripada nanti kecewa sendiri dan malah bertambah kesal." Jauh di lubuk hatinya terdalam, ia tadi ingin sekali bersorak kegirangan karena berpikir bahwa Tuhan menunjukkan keadilan padanya.


Namun, sengaja menyembunyikannya agar sang ibu tidak melihatnya. Seperti yang dikatakannya beberapa saat lalu bahwa ia akan merasa malu jika sampai Marcella tidak hamil dan akhirnya menjadi pemenangnya.


Sang ibu yang saat ini tidak sependapat dengan putrinya, seketika menggelengkan kepala. "Tapi Mommy yakin jika wanita itu hamil karena memang sama-sama tidak memakai pengaman. Sama sepertimu yang langsung hamil tanpa mengetahuinya, bukan?"


Floe hanya terdiam karena itu memang benar, tapi masih saja berusaha untuk tidak terlalu senang sebelum semuanya jelas. "Iya, Mom. Lebih baik kita tunggu saja hasilnya. Jadi, tadi Mommy berpikir bahwa aku akan kembali menerimanya jika dia pulang ke Jakarta dengan tangan kosong?"


Saat ini wanita itu langsung menganggukkan kepala tanpa pikir panjang, sambil mengusap rambut panjang putrinya yang terurai dan sudah tidak kusut seperti beberapa saat lalu.


"Tentu saja Mommy khawatir itu terjadi karena tidak ingin putri kesayanganku menjadi pilihan kedua oleh pria yang bahkan bukan satu-satunya keturunan Adam di negara ini. Ada banyak pria yang bersedia untuk menjadikanmu ratu satu-satunya dalam hidupnya." Ia mendengar suara ponsel miliknya di saku gaun yang dikenakan.


Begitu melihat salah satu rekannya menghubungi, bangkit berdiri untuk berbicara di luar karena berpikir putrinya akan merasa terganggu. "Sebentar, Sayang. Kamu istirahat saja dulu. Mommy akan mengangkat telepon. Sepertinya ini cukup lama karena akan membahas masalah saham."


"Ya, Mom." Floe kini melihat sang ibu sudah berjalan keluar dan ia kembali sendirian di ruangan penuh keheningan itu.


Selama beberapa menit berlalu, ia terdiam ketika mengingat semua cerita dari sang ibu. "Apakah aku boleh tertawa terbaca sekarang? Rasanya aku sangat puas melihatmu terpuruk setelah menghancurkanku."


"Jadi second choice? Itu tidak akan berlaku untuk Floella Khaisyla karena hatiku sekarang telah mati dan mengubur dalam rasa yang salah ini." Floe yang merasa bahwa takdir kini berpihak padanya dan posisinya berupa 180 derajat hanya dalam waktu satu hari.


Ia bahkan tidak pernah sedikit pun berpikir jika bisa menjadi penonton yang bertepuk tangan melihat kehancuran Erland. "Aaah ... puasnya. Nikmat mana lagi yang kau dustakan."


Floe saat ini kembali memposting sesuatu dengan sebuah caption yang mewakili perasaannya karena apapun yang terjadi padanya selalu menciptakan sebuah kalimat mutiara.


Kini, ia mengetik sesuatu di layar ponselnya dengan diawali hastag dan langsung memposting di media sosial miliknya.


#Jika hari ini kamu anggap takdir tidak adil padamu, akan ada masanya Sang pencipta menunjukkan kuasa-Nya demi mematahkan asumsimu. Saat kau kehilangan seseorang yang sangat diinginkan, percayalah, suatu saat nanti akan ada jodoh terbaik menurut Versi-Nya dan itu adalah bukti yang mengubah keraguanmu#


To be continued...