
Foto-foto Renjani dengan berbagai ekspresi tertata apik pada album dan scrapbook yang Kelana buat. Sudut bibir Kelana terangkat melihat foto Renjani yang sedang makan. Kelana menempel kumpulan foto Renjani bersama makanan di satu halaman khusus karena itu adalah sesuatu yang Renjani suka.
"Apa yang suka?"
"Makan."
"Apalagi?"
"Baca novel."
Obrolan ringan seperti itu jika diingat sekarang terasa amat berharga. Kelana berusaha mengingat setiap momen yang telah ia lalui bersama Renjani bahkan hal kecil seperti sikat gigi bersama di pagi hari.
"Mas, ada Pak Adam." Yana bicara dengan hati-hati pada Kelana yang tengah serius melihat album foto.
Kelana menutup scrapbook dan album foto di pangkuannya lalu beranjak dari sana. Kelana lebih banyak berdiam diri di balkon melamun berjam-jam bahkan makanan yang Yana sajikan untuknya tidak tersentuh. Paling banyak Kelana hanya memakan tiga sendok lalu membiarkannya hingga jam makan berikutnya.
Jeruk peras yang menjadi minuman wajib pun dibiarkan tak tersentuh di meja makan. Stok buah jeruk membusuk di kulkas, pada akhirnya Yana membuang jeruk-jeruk itu dan membeli yang baru dengan harapan Kelana mau meminumnya. Namun semua itu sia-sia, Kelana terlihat kehilangan berat badannya hanya dalam beberapa hari.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini?" Adam menatap Kelana. "Kami sudah membayar semua penalti dengan brand yang awalnya bekerjasama dengan kita, untuk Wearesia mereka akan tetap melanjutkan kontraknya dengan kamu."
Kelana bergeming, ia tidak memikirkan apapun tentang pekerjannya. Ia bahkan lupa kalau harus membayar penalti hingga ratusan juta karena berita pernikahannya dengan Renjani waktu itu.
"Kamu harus segera kembali, kita sudah berusaha untuk mencari Renjani, jangan biarkan dirimu terpuruk."
Entah kapan Kelana bisa kembali menghasilkan karya, otaknya seolah tak berfungsi. Dulu Kelana bisa mendapatkan inspirasi lagu dari mana saja tapi sekarang ia tidak mendapat apapun meski telah duduk berjam-jam di studio musik kecuali kehampaan hati yang semakin terasa.
"Gimana dengan Emma?"
"Dia divonis 2 tahun penjara atau denda 200 juta, kita tahu Emma seperti apa, dia akan membayar sebanyak apapun agar bebas."
"Dia sudah kehilangan popularitas nya, percuma membayar mahal."
"Maka jangan biarkan dirimu kalah oleh Emma."
Kelana terdiam, ia tidak memiliki ambisi lagi untuk mempertahankan karirnya. Kelana pernah berkata pada Renjani bahwa ia rela kehilangan popularitas dan pekerjannya untuk mempertahankan Renjani, ia akan mencoba pekerjaan lain meski satu-satunya bakat yang ia miliki adalah bermain violin. Namun sekarang Kelana justru kehilangan Renjani, maka ia juga tidak bisa mempertahankan pekerjaannya. Kelana kehilangan seluruh dunianya.
"Mas Lana butuh waktu Pak." Sahut Yana.
"Baiklah, saya beri kamu waktu." Adam menepuk paha Kelana, ia sudah kehilangan cara untuk membujuk Kelana agar segera kembali ke dunia hiburan. Ia merindukan Kelana yang selalu berambisi terhadap pekerjaan.
"Saya hampir lupa." Adam mengeluarkan amplop dari kantong jasnya. "Elara menitipkannya pada staf sesaat sebelum pergi ke bandara." Ia meletakkan amplop tersebut di atas meja. "Saya pergi dulu."
"Hati-hati Pak Adam." Yana mengantar Adam hingga pintu depan.
Kelana membuka amplop dari Elara dengan terpaksa, tadinya ia ingin langsung membuangnya. Kelana tak bisa menyalahkan Elara karena semua keputusan ada pada dirinya. Kelana bisa saja memilih tidak datang tapi ia justru menuruti semua kemauan Elara termasuk tampil bersama di panggung. Kelana tidak berpikir bahwa itu akan menyakiti Renjani.
Isi amplop tersebut adalah selembar foto Kelana dan Elara saat berada di atas panggung. Mereka sama-sama tengah memainkan violin.
Kelana memasukkan foto itu kembali dan melemparnya ke tempat sampah.
"Mas Lana harus makan." Yana meletakkan sepiring nasi dan ayam teriyaki di atasnya.
"Aku ingin tahu apa Renjani makan dengan teratur, dia lagi hamil."
Yana menghela napas berat duduk di hadapan Kelana. Mengapa Kelana selalu bertanya sesuatu yang Yana tak tahu jawabannya. Jika boleh mengeluh maka Yana ingin sekali melakukannya dengan berteriak sekencang-kencangnya. Yana tidak suka melihat Kelana seperti ini.
"Mbak Rere pasti baik-baik saja Mas." Pungkas Yana meskipun ia tak tahu keadaan Renjani. Mungkin Renjani sama menderitanya dengan Kelana.
"Dia suka makan."
Tanpa sadar Kelana tertawa, Renjani bisa makan apapun yang ada di hadapannya. Selalu ada ruang di perut Renjani untuk makanan.
"Mas harus makan, jangan sakit." Yana mengangkat piring tersebut dan kembali mendekatkan nya pada Kelana. "Kalau sakit gimana mau cari Mbak Rere."
Akhirnya Kelana mengambil makanan itu dan melahapnya perlahan. Ada banyak hal yang Kelana pikirkan, apakah Renjani tidur di tempat yang nyaman, ia tidak bisa tidur tanpa guling. Apakah Renjani makan makanan enak. Bagaimana jika Renjani ngidam, siapa yang akan memenuhi permintaannya.
"Jangan biarkan kulkas kosong, siapa tahu Renjani tiba-tiba pulang." Gumam Kelana.
"Iya Mas."
Yana prihatin melihat keadaan Kelana sekarang. Kelana kehilangan sinar wajahnya, ia tampak pucat bahkan tidak sempat mencukur kumis yang biasanya dicukur habis.
*******
Devin menuruni tangga menuju lantai satu, ia berbelok ke arah teras samping dimana Tumi dan Edi sedang mengobrol sambil minum teh. Cuaca pagi ini lebih cerah dibandingkan kemarin, teras samping adalah tempat paling nyaman untuk bersantai setelah sarapan.
"Rere nggak kelihatan Bi, dimana ya?" Devin duduk di samping Edi, ia menuang teh beraroma melati buatan Tumi dan meneguknya sembari menghirup aromanya perlahan.
"Ada di kamarnya, barusan saya bawakan sarapan buat dia, kepalanya pusing terus habis muntah-muntah juga tadi jadi saya suruh istirahat."
Mendengar itu Devin langsung beranjak dari sana menuju kamar Renjani. Ia mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Renjani.
"Ini aku." Devin menempelkan telinganya pada daun pintu. "Aku masuk ya." Tanpa menunggu jawaban Renjani, Devin mendorong pintu masuk ke kamar tersebut.
Nasi goreng di atas nakas masih utuh tidak tersentuh, itu adalah sarapan yang Tumi bawakan untuk Renjani.
"Are you okay?" Devin duduk di pinggiran tempat tidur melihat Renjani yang memejamkan mata. "Nasi gorengnya nggak dimakan?"
Renjani menggeleng samar, ia lemas setelah memuntahkan semua isi perutnya. Saat membuka mata Renjani merasa semuanya berputar, padahal kemarin ia baik-baik saja.
"Aku suapin ya."
"Nggak usah." Tolak Renjani dengan suara pelan hampir tidak terdengar, tenggorokannya terasa kering. Membayangkan nasi goreng saja membuat Renjani ingin muntah ditambah aromanya yang menusuk-nusuk hidung. Renjani ingin menyingkirkan nasi goreng itu dari kamar tapi tidak tega karena Tumi sudah susah payah memasak untuknya.
"Kamu mau makan apa biar aku bikinin."
"Tolong keluarkan nasi gorengnya, bukannya aku nggak mau makan masakan Bi Tumi tapi nggak tahu kenapa—" Renjani melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi, ia kembali muntah padahal ia merasa perutnya sudah kosong.
Devin mengerti masuk Renjani, ia membawa nasi goreng itu ke dapur. Devin tahu jika ibu hamil mungkin sensitif terhadap bau.
Devin berinisiatif mengambil dua buah mangga dari kulkas. Buah-buahan segar mungkin bisa memperbaiki selera makan Renjani.
"Renjani nggak mau nasi goreng Bi, dia bilang nggak tahan sama baunya."
"Oh pantas saja dia nggak mau makan, kalau gitu nanti saya bikinin makanan lain, ibu hamil memang begitu, kasihan Renjani harus melalui ini tanpa suaminya."
Devin juga tidak tega melihat Renjani seperti itu. Jika ada Kelana disini pasti Renjani tidak terlalu menderita. Namun Devin juga bisa menggantikan peran Kelana selama berada disini.
"Kamu harus makan sesuatu." Devin membimbing Renjani kembali ke tempat tidur setelah keluar dari kamar mandi. "Aku bawa mangga."
"Makasih ya." Renjani melahap sepotong mangga yang lebih bisa diterima dibandingkan nasi goreng. Untungnya Renjani minta Edi membeli banyak buah di pasar kemarin. "Aku mau istirahat." Ujarnya yang secara tidak langsung meminta Devin keluar dari kamarnya.
"Ya udah, aku keluar dulu." Devin mengusap bahu Renjani sesaat. "Kalau butuh sesuatu bilang Bi Tumi, aku harus balik ke Jakarta."
"Iya." Renjani kembali merebahkan diri di tempat tidur setelah Devin keluar.
Renjani memeluk guling, air mata tiba-tiba meleleh hingga membasahi guling putih dalam pelukannya. Ia merindukan Kelana. Rindu yang tidak berujung sebab temu tak mungkin terjadi bagi keduanya, Renjani yang mencegah hal itu terjadi. Ia harus kuat menahan perih dalam dada dan rasa tidak nyaman saat muntah. Renjani bisa mengatakan pada Tumi atau Devin bahwa ia mampu menjalani ini sendiri. Namun sebenarnya Renjani membutuhkan Kelana di sampingnya padahal lelaki itu jelas-jelas tidak memilihnya.
Renjani sudah menduga sejak ia menyadari perasannya pada Kelana mulai berbeda, ia tahu akhirnya akan seperti ini. Renjani akan menderita seorang diri sebab dari awal ia berada di balik bayang-bayang Elara.