
Perpustakaan Edelweis masih sama sejak terakhir kali Kelana mengunjunginya tahun lalu. Pagi ini Kelana memutuskan untuk memulai rutinitasnya membaca buku di perpustakaan dengan sedikit harapan bisa bertemu dengan Renjani walaupun itu agak mustahil. Kelana sudah berkali-kali melewati perpustakaan ini, tak ada tanda-tanda keberadaan Renjani. Namun setiap hari berganti, Kelana selalu memiliki harapan baru untuk bertemu Renjani.
"Silakan isi buku tamunya." Seorang penjaga perpustakaan menyodorkan tablet pada Kelana untuk mengisi daftar pengunjung.
Seperti biasa Kelana menulis inisial nya pada tablet tersebut.
"Kak Kelana, sendirian?" Desty baru menyadari kalau lelaki yang berdiri di hadapannya adalah Kelana.
Kelana mengangguk samar dan segera berlalu dari sana, ia tak mau siapapun bertanya tentang Renjani. Pertanyaan itu sama seperti pisau yang mengiris hati Kelana yang sudah terluka.
Lagu Renjani terdengar mengalun merdu ke seluruh perpustakaan menemani para pengunjung. Setelah 4 bulan sejak dirilis pertama kali, Renjani masih menduduki tangga pertama lagu populer di seluruh Indonesia.
Banyak orang memuji lagu tersebut dan penciptanya yakni Kelana. Mereka mengagumi betapa Renjani sangat dicintai oleh Kelana.
Sayangnya bagi Kelana lagu itu justru mengingatkannya akan perih dalam dada akibat ditinggalkan Renjani. Apalah arti lagu tersebut tanpa kehadiran Renjani. Kelana bertanya-tanya apakah Renjani juga mendengarkan lagu tersebut sekarang. Lagu yang Kelana tulis untuk mencurahkan seluruh perasaannya untuk sang istri.
Lagu itu diputar dimana-mana, tapi apakah Renjani juga mendengarnya lalu menyadari betapa Kelana saat ini tengah menunggunya kembali.
Setelah mendapatkan satu buku, Kelana duduk di kursi kosong dekat jendela.
Berjanjilah untuk selalu bersamaku hingga akhir waktu
Kelana mencoba konsentrasi membaca buku di tangannya tapi lagu itu membuatnya tak bisa fokus. Kelana beranjak menghampiri Desty.
"Tolong ganti lagunya." Pinta Kelana.
Desty melongo untuk beberapa saat tapi setelahnya ia mengangguk dan segera mengganti Renjani dengan lagu Azalea sesuai permintaan Kelana. Lagu Kelana selalu menjadi favorit seluruh pengunjung perpustakaan.
"Azalea nggak apa-apa?" Tanya Desty, ia khawatir Kelana tidak menyukai lagu tersebut. Padahal itu adalah lagu yang sedang digemari masyarakat.
Kelana hanya mengangguk sebelum kembali ke kursinya.
"Kamu benar-benar pergi Re?" Kelana bergumam.
Kelana sudah melakukan pencarian ke seluruh Jakarta dan Bandung dibantu oleh banyak orang yang memang dikhususkan untuk mencari Renjani. Namun tetap saja pencarian itu tidak membuahkan hasil. Sudah empat bulan berlalu, Kelana amat merindukan Renjani. Setiap malam ia memimpikan sang istri dan bangun dalam keadaan berderai air mata. Ini seperti momen saat Kelana ditinggalkan mama nya bahkan lebih parah.
Saat Karalyn pergi, Kelana tahu tempat yang harus ia tuju ketika merindukan sang mama sedangkan Renjani—ia tak tahu kemana harus pergi untuk melepaskan rindu. Kelana dihantui rasa penasaran, kemanakah Renjani pergi. Mengapa orang yang Kelana bayar mahal tak juga menemukan wanita itu.
Saat Elara pergi, Kelana masih bisa bermain violin yang akhirnya menghasilkan lagu. Namun sekarang Kelana lebih banyak berdiam diri dan melamun.
Kelana menyerah untuk membaca buku, ia beranjak dari kursinya dan mengembalikan buku tersebut ke tempat semula. Tadinya Kelana berpikir buku bisa mengalihkan pikirannya dari Renjani tapi itu tidak berhasil. Setiap detik yang Kelana lewati, Renjani selalu menguasai pikirannya. Sedang apa dia sekarang, apakah dia makan dengan baik, apakah calon buah hati mereka sehat dan banyak pernyataan lain yang selalu memenuhi kepala Kelana.
"Tolong berhenti di cafe depan." Kelana ingin minum kopi sebelum kembali ke apartemen.
"Biar saya yang keluar Mas." Yana menawarkan diri untuk membelikan sesuatu yang Kelana inginkan di cafe tersebut.
"Nggak usah." Kelana keluar dari mobil.
Yana melihat Kelana hingga masuk ke dalam cafe bergabung dengan antrean pengunjung lain, ia menghawatirkan Kelana karena semenjak Renjani pergi, Kelana jadi super sensitif. Yana dan Dayat selalu menjadi sasaran amukan Kelana. Yana bisa memaklumi itu tapi ia selalu berharap Renjani segera kembali.
Aroma kue dan kopi menyergap indra penciuman Kelana ketika ia masuk ke cafe. Berbagai jenis kue terpajang di etalase tapi bukan itu tujuan Kelana.
"Dua americano dan satu cappucino." Kelana menyebutkan pesanannya, ia juga membeli untuk Dayat dan Yana.
"Kelana."
Kelana memutar kepala pada seseorang yang berada di antrean sebelah, itu adalah Devin.
"Lama nggak ketemu." Devin menepuk punggung Kelana. "Gimana kabar kamu?" Meskipun memakai masker tapi Devin masih bisa mengenali Kelana. Ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah beberapa waktu Kelana tidak terlihat keluar apartemen.
"Seperti yang kamu lihat."
"Kapan kembali, kami semua merindukan karya-karya kamu." Devin ingin mengatakan pada Kelana bahwa Renjani saat ini baik-baik saja dan tak perlu khawatir tapi ia sudah berjanji pada Renjani untuk tidak memberitahu siapapun terutama Kelana.
"Mungkin aku akan hiatus."
"Kenapa?" Devin terkejut mendengar hal tersebut.
"Pikiranku kacau banget semenjak Renjani pergi jadi aku nggak bisa fokus bikin lagu." Bahkan selama beberapa waktu ini Kelana sama sekali tidak menyentuh violin atau alat musik apapun di studio nya.
"Silakan mau pesan apa kak?" Karyawan yang berdiri di belakang kasir menegur Devin.
"Satu brownies yang ukuran medium."
"Kacang almond."
Mendengar pesanan Devin, Kelana jadi ingat jika Renjani paling suka kue rasa coklat dan brownies dengan kacang almond. Kelana tersenyum getir, semua hal selalu mengingatkannya pada Renjani bahkan kue yang orang lain pesan juga membuatnya seperti itu.
Sembari menunggu pesanan selesai dibuat, Kelana dan Devin duduk di kursi yang telah disediakan.
"Renjani belum ditemukan?"
"Belum." Kelana tampak putus asa tapi selalu ada secercah harapan agar dirinya segera bertemu dengan Renjani.
"Dia pasti baik-baik saja di suatu tempat."
"Aku harap begitu."
Kelana membayangkan Renjani pasti kesulitan hidup sendiri dengan kehamilannya, pasti sekarang perutnya sudah membesar. Kelana ingin mendapat kesempatan mengajak ngobrol bayi mereka di dalam perut Renjani.
Devin beranjak lebih dulu untuk mengambil kue yang sudah ia pesan.
"Aku duluan ya." Pamit Devin pada Kelana.
Kelana menjawabnya dengan anggukan. Di tengah keramaian cafe itu, Kelana merasa kesepian. Kapankah ia bisa mendengar tawa ceria Renjani lagi.
"Buat kamu dan Pak Dayat." Kelana kembali ke mobil, ia memberikan kopi untuk Yana dan Dayat.
"Mas Lana tadi baca buku apa?" Tanya Yana, ia selalu mencoba mengobrol dengan Kelana untuk mengalihkan pikirannya dari Renjani walaupun hanya sebentar. Yana harus menjaga Kelana tetap waras di tengah kesedihan ini.
"Seri detektif Galileo yang belum selesai aku baca sejak tahun lalu dan hari ini pun cuma baca setengah halaman."
"Ceritanya jelek ya Mas?"
"Bukan itu." Kelana menatap keluar jendela, entah apa yang dilihatnya, kepadatan kendaraan tentu bukan hal yang menarik. Itu adalah akhir pekan dimana orang-orang berlomba untuk keluar pergi ke tempat wisata. Pandangan Kelana justru jauh menerawang.
Yana tidak bertanya lagi karena pasti Kelana akan teringat pada Renjani lagi. Setiap pembahasan pasti akan berujung pada Renjani padahal Yana sudah berusaha keras untuk mengalihkan pikiran Kelana.
Satu-satunya hal menarik di luar sana adalah papan billboard yang menampilkan iklan Wearesia dengan Kelana dan Renjani sebagai modelnya.
Hal pertama yang dilakukan Kelana setelah sampai di apartemen adalah pergi menuju balkon untuk melihat bunga Alyssum yang Renjani tanam.
Tiga pot Alyssum tumbuh subur, bunganya merekah dan lebat hingga pot nya tidak terlihat. Kelana rajin menyiramnya setiap pagi dan memberinya pupuk satu bulan sekali. Kelana tidak tahu cara merawat bunga tapi ia belajar melalui internet demi Alyssum.
"Semoga kamu tetap tumbuh subur sampai Renjani kembali." Kelana menyentuh bunga berwarna putih tersebut. Ia merasa terluka dan senang pada saat bersamaan. Senang karena bunga itu tumbuh subur tapi juga terluka karena Renjani menanamnya sendirian tanpa Kelana.
"Mas Lana, ada Pak Wira di depan."
Kelana memutar badan melihat Yana di ujung pintu yang memisahkan antara balkon dan kamar. Apakah Kelana tidak salah dengar, setelah sekian lama mengapa Wira masih ingin menemuinya.
"Suruh dia masuk."
"Baik Mas."
Pandangan Kelana dan Wira terkunci untuk beberapa saat, sejak Kelana memutuskan hubungan dengan papanya, mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bagi Wira hubungan antar anak dan orangtua tidak akan pernah putus dengan cara apapun. Darahnya juga mengalir di dalam tubuh Kelana.
"Papa akan bantu kamu cari Renjani, jangan tolong bantuan ini, kalian sudah mencarinya lebih dari 4 bulan tapi tidak membuahkan hasil, semakin banyak orang yang mencari Renjani maka semakin cepat juga dia ditemukan." Tukas Wira langsung pada intinya, ia tahu Kelana paling tidak suka basa-basi. "Papa ini tetap Papa kamu Kelana."
Bibir Kelana bergerak hendak mengucapkan sesuatu tapi tak ada suara yang keluar.
"Papa tidak mungkin membiarkanmu seperti ini terus-menerus." Wira selalu memantau anak sulungnya tersebut dan ia tahu selama Renjani pergi, Kelana tidak pernah muncul di media.
"Terserah Papa." Kata Kelana akhirnya, perkataan Wira ada benarnya. Cara apapun akan Kelana lakukan untuk menemukan Renjani.
"Biarkan Papa memelukmu." Wira mendekat dan memeluk Kelana, ia menepuk-nepuk punggung Kelana untuk memberi sang anak kekuatan. "Maafkan Papa, selama ini Papa terlalu keras sama kamu, bukan karena Papa benci, sebaliknya Papa tidak mau kamu jadi anak lemah dan kamu sudah membuktikannya."
Wira menyesal karena menyia-nyiakan waktu yang seharusnya ia habiskan bersama Kelana. Sejak Karalyn meninggal, Kelana hanya punya Wira. Namun Wira selalu memperlakukan Kelana dengan keras karena ia ingin anaknya itu tumbuh menjadi anak yang kuat. Didikan itu terbukti bahkan Kelana kelewat keras.
"Jangan pernah bilang kalau kamu tidak punya Papa."
Kelana bergeming tidak menanggapi ucapan Wira tapi ia juga membiarkan papa nya memeluknya.