Married by Accident

Married by Accident
LXV



Pulanglah lebih awal, aku akan memasak makan malam.


Renjani mengirim pesan pada Kelana sebelum ia pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Renjani akan membahas soal anak dengan Kelana. Meski belum menggunakan test pack tersebut tapi Renjani ingin mengetahui pendapat Kelana tentang anak.


Renjani mengambil sepotong dada ayam berukuran besar di kulkas, ia akan membuat steak ayam kesukaan Kelana dengan saus jamur, sayuran panggang dan mashed potato meskipun rasanya tak akan sama dengan masakan restoran. Setidaknya Renjani sudah berusaha membuat makanan untuk Kelana. Soal keterampilan memasak, sebenarnya Kelana lebih jago. Namun Kelana selalu memakan apapun yang Renjani sajikan di atas meja.


Steak adalah hidangan rumit yang sangat jarang dibuat oleh Renjani. Ia lebih suka membuat makanan sederhana tapi karena ingin membahas hal serius maka Renjani harus membuat sesuatu yang spesial.


"Ini nggak segampang kelihatannya." Renjani menggerutu saat membalur dada ayam dengan bumbu lalu meletakkannya di atas panggangan. Ia sudah menonton berbagai tutorial memasak steak ayam di YouTube. Tentu menonton video jauh lebih gampang dari pada mempraktekkan nya.


Renjani menghela napas berat, kejadian yang ia alami akhir-akhir ini sangat sulit. Tidak ada yang bisa menguatkannya termasuk sang mama. Semua orang merendahkan Renjani. Selama ada Kelana maka masalah apapun akan Renjani hadapi. Namun sekarang Renjani merasa terancam dengan keberadaan Elara.


Dia mau jadi seperti Sinar? mimpi aja lu Elara!


"Ah!" Renjani tersadar dari lamunannya saat tangannya tak sengaja menyentuh panggangan. "Hampir aja ikut dipanggang tangan gue."


Setelah menghabiskan waktu lama di dapur akhirnya Renjani berhasil menyajikan sepiring steak ayam, mashed potato dan asparagus serta semangkuk kecil saus jamur.


Jam dinding menunjukkan pukul setengah 9, ini sudah lewat jam makan malam tapi tak ada tanda-tanda Kelana akan datang. Renjani bahkan lupa tidak makan karena serius memasak.


"Nunggu Kelana aja." Renjani merebahkan diri di sofa ruang tamu sambil memakan sisa buah ceri di kulkas.


Renjani memejamkan mata, ia sudah minum vitamin tambah darah tadi tapi kepalanya tetap pusing.


******


Pintu apartemen terbuka. Kelana muncul dari balik pintu, pandangannya langsung terfokus pada Renjani yang tidur di atas sofa. Kelana meletakkan tas nya menghampiri Renjani.


"Re, kok kamu tidur disini?" Kelana mengusap rambut Renjani dengan lembut, "pindah yuk."


Renjani membuka mata melihat jam dinding, pukul 11 itu berarti ia sudah tertidur lebih dari 2 jam disini. Kenapa Kelana pulang selarut ini padahal Renjani sudah mengirim pesan agar Kelana pulang lebih awal.


"Malem banget pulangnya." Renjani beranjak dari posisi tidur.


"Maaf, aku tadi selesain lagu terus ketemu alumni Melodi sekalian makan malam sama mereka."


Jika Kelana bertemu alumni Melodi itu artinya ada Elara juga disitu. Mereka makan bersama padahal Renjani sudah memasak untuk Kelana. Renjani bahkan melewatkan makan malam agar bisa makan bersama Kelana. Namun itu tak ada artinya, lagi pula itu hanya steak ayam yang belum tentu enak. Renjani hanya ingin Kelana menghargainya tapi ah sudahlah.


Renjani menahan rasa sesak yang menghujam dadanya, ia beranjak dari situ menuju kamar. Sungguh Renjani tidak ingin menangis tapi lagi-lagi air matanya mengalir tanpa seizinnya.


Renjani meringkuk di balik selimut, sejak kecil ia sudah terbiasa menangis tanpa suara di balik selimut. Renjani merasa tidak berarti bagi Kelana. Ia memang bukan apa-apa dibanding Elara yang sudah mengisi hati Kelana sejak lama. Mulai sekarang Renjani harus mempersiapkan diri kehilangan Kelana seperti saat awal mereka menikah.


Kelana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas setelah menyusul Renjani ke kamar. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk termasuk dari Renjani. Pesan itu dikirim beberapa jam yang lalu tapi Kelana tidak sempat membacanya. Setelah keluar dari Antasena, Kelana langsung pergi ke restoran yang tak jauh dari sana untuk bertemu alumni Melodi termasuk Elara. Sebelumnya mereka memang tidak membuat janji untuk bertemu. Reuni dadakan itu terjadi untuk menyambut kedatangan Elara.


"Renjani, maaf aku nggak tahu kalau kamu SMS tadi." Kelana mendekati Renjani, ia sangat merasa bersalah karena tidak membaca pesan Renjani. "Kamu bikin apa sayang?"


"Dibuang aja, udah nggak enak." Renjani berusaha membuat suaranya sedatar mungkin agar Kelana tidak tahu jika ia menangis.


"Aku akan tetap makan, kamu udah susah payah bikin itu."


"Nggak usah berlebihan."


"Maaf Re, aku bener-bener nggak tahu kalau kamu SMS." Kelana memeluk Renjani dari samping "Maafkan aku."


Renjani menekan dadanya yang terasa nyeri, sekarang ia mengerti bahwa tak ada tempat bersandar yang bisa kamu percaya di dunia ini kecuali dirimu sendiri.


"Aku salah, maafkan aku sayang." Kelana mendekap Renjani, ia berada di luar terlalu lama hingga membuat Renjani menunggu.


Kelana menunggu beberapa saat tapi tak terdengar jawaban dari Renjani. Ia mengecup pipi Renjani berkali-kali tapi wanita itu tetap tidak berkutik.


Akhirnya Kelana turun dari tempat tidur keluar menuju dapur. Ia melihat sepiring steak ayam dan saus jamur yang tampak menggiurkan meski sudah dingin.


Kelana memotong daging ayam dengan pisau setelah menuang saus jamur lalu melahapnya. Jika Renjani ada disini pasti Kelana akan memuji masakan ini. Kelana merasa beruntung karena Renjani cukup pandai memasak.


"Makan semalam ini?" Kelana tahu ini tidak baik untuk kesehatannya. Namun sekarang Kelana tidak peduli, ia harus menghabiskan masakan Renjani meski perutnya sudah kenyang. Itu artinya besok ia harus berolahraga lebih keras dari biasanya. Sesuatu yang lebih penting dari pada menjaga berat badannya adalah mendapat maaf Renjani.


"Ada apa Re?"


"Maaf aku nggak sengaja." Renjani menatap lampu tidur yang sudah pecah berkeping-keping di atas lantai. Sebenarnya jika hanya sebuah lampu, Renjani bisa menggantinya tapi yang lebih mengenaskan adalah lampu itu jatuh bersama ponsel Kelana. "Barusan aku mau ke toilet terus nggak sengaja nyenggol lampu itu."


"Nggak apa-apa." Kelana menyalakan lampu ruangan.


"Hp kamu pecah juga." Renjani berjongkok memungut ponsel Kelana di antara pecahan lampu. "Kelana, aku nggak sengaja." Ia gemetar, bagaimana tidak—ponsel itu mungkin lebih mahal dari motor Renjani.


Renjani merasa pandangannya kabur dan pusing saat bangun dari posisi berbaring hingga ia melakukan kesalahan fatal tersebut.


"It's okay sayang." Kelana menghampiri Renjani dan memeluknya.


"Maaf."


"Aku maafin, itu cuma hp, bisa dibenerin atau beli yang baru." Kelana mengecup puncak kepala Renjani, ia justru tersenyum karena dengan itu Renjani tidak marah lagi. Kelana lega, tak masalah jika ponselnya pecah atau tidak bisa digunakan lagi yang penting Renjani memaafkannya. "Aku harap kamu maafin aku juga."


Renjani mengeratkan pelukannya, ketika ia berniat mendiamkan Kelana selama beberapa hari ke depan ternyata takdir tidak berpihak padanya. Ia justru membuat kesalahan yang lebih besar.


"Kamu ke toilet gih, biar aku yang bersihin ini." Kelana mengurai pelukan dengan berat hati. Ia harus segera membersihkan pecahan kaca di lantai.


Meski layarnya pecah tapi ponsel itu masih menyala. Kelana berterimakasih pada ponsel tersebut karena sudah meredakan amarah Renjani.


"Steak buatan mu enak." Kelana berbaring di atas ranjang setelah membersihkan pecahan lampu. Ruangan itu jadi lebih gelap dari biasanya karena hanya ada satu lampu tidur.


"Kamu masih makan steak nya walaupun udah dingin?"


"Ya, dingin aja enak, maaf Re lain kali aku kabarin kamu dulu kalau mau pulang telat." Kelana menarik Renjani ke dalam dekapannya.


"Tadi ada Elara?"


"Nggak cuma Elara, kami makan rame-rame, kamu jangan cemburu sama Elara."


"Gimana aku nggak cemburu, dia yang ada di hati kamu."


"Itu dulu, sekarang hati ku udah penuh sama kamu, nggak ada ruang lagi buat orang lain."


"Nggak percaya."


"Setelah semua yang aku lakuin kamu masih nggak percaya? aku udah kasih tahu ke seluruh dunia bahwa kita akan terus bersama."


Renjani tersenyum, ia pikir kalimat itu sudah tidak berlaku setelah kedatangan Elara.


"Kelana, aku boleh tanya sesuatu nggak?"


"Tanya apa?"


"Gimana pendapat kamu soal anak." Akhirnya Renjani bisa menanyakan sesuatu yang sudah mengganggu pikirannya sejak tadi siang. Renjani akan menggunakan test pack itu setelah mendapat jawaban Kelana.


"Anak?" Kelana mengerutkan kening.


Renjani mengangguk.


"Entahlah, aku belum berpikir soal anak." Kelana sudah merasa cukup dengan kehidupannya yang sekarang. Berdua dengan Renjani adalah hal yang paling menyenangkan. Ada banyak hal yang ingin Kelana lakukan seperti konser ke beberapa negara ditemani Renjani.


"Kenapa?"


"Kamu tahu aku selalu merencanakan sesuatu dengan rinci dan anak nggak ada dalam daftar, aku belum bisa jadi orangtua."


Senyum Renjani memudar. Jika seandainya Renjani hamil maka itu akan merusak rencana Kelana tentang apa saja yang ingin ia lakukan di masa depan. Renjani harap ia tidak hamil sekarang.