Married by Accident

Married by Accident
XXXVIII



Kolam yang biasanya Renjani lihat dari balkon sekarang berada tepat di hadapannya. Kolam itu berwarna biru dengan air jernih. Meski terlihat segar tapi kolam adalah tempat yang menakutkan bagi Renjani.


Kemarin Kelana memaksa Renjani pergi ke gym sekarang ia dipaksa menemani Kelana disini. Kelana sudah menceburkan diri ke kolam sedangkan Renjani duduk di kursi yang terletak di pinggir kolam. Renjani masih mengenakan piyama bahkan ia belum cuci muka. Renjani tak peduli jika orang-orang menatapnya aneh.


Renjani membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata, hari ini ia harus pergi ke kantor untuk memulai mengedit naskah novel Maia. Ia dan tim Asmara Publishing juga sibuk mempromosikan novel Meet Sunshine sebelum diterbitkan. Mereka membuka pre order untuk mengurangi resiko rugi cetak.


Maia juga rajin mempromosikan novel tersebut sekaligus mengumumkan bahwa Meet Sunshine akan segera diterbitkan.


"Ah!" Renjani memekik ketika air memercik ke wajahnya.


Kelana tersenyum lebar, ia sengaja memercikkan air ke wajah Renjani untuk membangunkannya.


"Mau nggak?" Kelana mendekatkan crepes ke mulut Renjani. Ia memesan crepes dengan isian stroberi itu di restoran di lantai satu apartemen.


Meski matanya terpejam tapi Renjani tetap membuka mulutnya menyambut suapan Kelana. Manisnya crepes berpadu dengan segar buah stroberi serta yogurt di dalamnya memanjakan lidah Renjani. Selera Kelana memang bagus, Renjani selalu bisa makan apapun yang Kelana pesan. Atau memang Renjani yang rakus.


"Kamu kok bisa bangun pagi sih?" Renjani membuka mata melihat Kelana yang sekujur tubuhnya basah setelah berenang baru saja. "Padahal kamu tidurnya cuma sebentar."


"Aku udah terbiasa."


Saat bangun tengah malam Renjani mendapati Kelana masih bermain violin di studio musiknya. Sesekali Kelana mencatat sesuatu di bukunya. Renjani tidak tahu pukul berapa Kelana tidur. Ia hanya tahu bahwa Kelana bangun pagi-pagi sekali dan berkutat dengan laptopnya.


"Kesuksesan itu tidak dimiliki oleh orang yang malas."


Renjani mencerna kalimat Kelana lalu perlahan membenarkannya. Selama ini orang-orang di luar sana mungkin berpikir enak menjadi seorang Kelana yang terkenal, tinggal di apartemen mewah dengan fasilitas lengkap dan selalu naik mobil mewah. Bahkan dulu Renjani juga berpikir demikian. Namun mereka tidak tahu betapa Kelana telah bekerja keras untuk mencapai titik ini.


Kelana memiliki waktu istirahat yang sedikit dalam sehari. Ia terus memikirkan karya-karya yang harus diberikan pada masyarakat. Setelah berhasil menciptakan lagu, Kelana tak bisa berpuas diri begitu saja. Ia masih harus menunggu apakah masyarakat menikmati lagu itu atau sebaliknya.


"Kamu lagi ngerjain apa?"


"Kami lagi siapin acara Fan meeting."


Antasena biasanya mengadakan acara Fan meeting satu tahun sekali untuk para artisnya. Kelana juga sudah rutin melakukan ini sejak tahun kedua dirinya terjun ke dunia entertainment. Tahun ini ia juga mengadakan acara yang sama setelah meluncurkan album terbarunya Rain.


"Kamu juga bikin acara kayak gitu?"


"Ya." Kelana mengangguk, hampir semua artis membuat acara seperti itu untuk lebih dekat dengan para penggemarnya. Mereka bisa mengobrol lebih dekat dan lama.


"Eh Kelana, ada yang tenggelam!" Renjani menepuk-nepuk paha Kelana ketika tiba-tiba ia melihat ada seorang yang hampir tenggelam di tengah kolam.


Kelana langsung berlari dan menceburkan diri ke kolam untuk menolong orang tersebut. Renjani menunggu di pinggir kolam dengan gelisah. Renjani melihat sekeliling, tak ada orang lain disini karena ini masih pagi. Hanya Kelana yang berenang pagi-pagi sekali dan seseorang yang tenggelam tersebut.


Beberapa saat kemudian Kelana berhasil membawa orang tersebut ke pinggir kolam. Ia adalah bocah laki-laki berusia sekitar 7 tahunan yang berenang di kolam dewasa.


Sekujur tubuh Renjani gemetar, ia seperti melihat dirinya sendiri sekarang. Apalagi anak itu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Renjani membalut tubuh anak itu dengan handuk yang ia siapkan untuk Kelana.


Dua orang laki-laki dan perempuan datang, mereka adalah orangtua bocah tenggelam tersebut. Mereka berteriak panik melihat anaknya tiba-tiba tak sadarkan diri di pinggir kolam.


"Ya ampun Rio, Mama bilang tunggu dulu sebentar kenapa kamu pergi sendiri?" Perempuan itu berjongkok di samping bocah 7 tahun bernama Rio tersebut.


"Dia pingsan." Ujar Renjani.


"Aku tahu." Desis Kelana.


"Pa, gimana Pa?"


"Kita harus kasih napas buatan."


"Saya bisa." Kelana menjepit hidung bocah itu lalu meniup mulutnya. Kelana melakukan itu berulang-ulang lalu memiringkan tubuh bocah tersebut.


Kelana mengembuskan napas lega melihat bocah itu terbatuk-batuk dan memuntahkan air.


Renjani tertegun, ia seperti dibawa kembali ke masa lalu melihat itu. Renjani mundur beberapa langkah, tangannya mengepal kuat lalu berbalik.


Orangtua Rio mengucapkan terimakasih pada Kelana karena telah menyelamatkan anak mereka.


Kelana melihat sekeliling karena Renjani tiba-tiba menghilang. Kelana menyambar bathrobe miliknya dan berlari mencari keberadaan Renjani.


"Re." Kelana berlari menghampiri Renjani yang meringkuk di koridor yang merupakan akses menuju kolam dari lift. "Re, kamu kenapa?" Ia duduk di hadapan Renjani yang tampak pucat.


"Kelana, kamu pernah ngelakuin itu sebelumnya?"


"Ngelakuin apa?"


"Kasih napas buatan."


Kelana menggeleng samar, ia tak ingat persis apakah dirinya pernah memberikan napas buatan sebelumnya.


"Kenapa kamu tahu kalau kamu bisa kasih napas buatan kalau ini pertama kalinya?"


"Aku pernah belajar RJP dan kasih napas buatan sejak kecil karena Mama punya penyakit jantung dan bisa pingsan sewaktu-waktu."


"Kelana," Renjani menatap Kelana, ia berusaha mencocokkan wajah Kelana dengan anak laki-laki yang menolongnya saat ia tenggelam dulu. Renjani tidak ingat persis wajah anak lelaki yang menolongnya karena saat ia siuman, anak itu langsung pergi sedangkan ia digendong papa nya menjauh dari kolam.


"Kenapa Re?" Kelana menangkup wajah Renjani, ia merasa bersalah karena telah memaksa Renjani menemaninya berenang. Jika tahu akan ada kejadian seperti ini, Kelana pasti pergi berenang sendiri.


"Kamu anak itu?"


"Kamu ingat aku pernah tenggelam?"


"Tentu saja, kamu bilang itu kejadian yang bikin kamu trauma sampai sekarang."


"Waktu itu ada anak laki-laki yang menolongku, dia bawa aku ke pinggir kolam, Mama bilang anak itu juga yang ngasih aku napas buatan."


Kelana melihat Renjani tak mengerti. Renjani tak sabar menunggu jawaban Kelana tapi sepertinya Kelana tak ingat apa-apa. Atau anak itu bukan Kelana.Kenapa Renjani berpikir anak itu Kelana hanya karena ia melihat Kelana menolong anak tenggelam. Bukankah semua orang bisa melakukan itu.


"Walaupun dia bukan aku tapi kalau ada disana pasti aku pasti nolong kamu Re." Kelana hendak memeluk Renjani tapi Renjani mendorong dadanya lalu beranjak dari sana.


Renjani berjalan cepat tanpa mempedulikan panggilan Kelana di belakang sana. Renjani sudah bertindak bodoh, ini sangat memalukan jika anak itu bukan Kelana. Renjani menyesal menanyakan ini lebih awal.


******


"Wah, keren juga kantor lu." Jesi mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Kantor Renjani memiliki dua lantai. Lantai satu digunakan untuk ruang pertemuan dengan para klien sedangkan lantai dua adalah kantor yang sesungguhnya dimana Renjani dan tim akan mengedit naskah serta melakukan pekerjaan lainnya.


"Semuanya diatur gue dan anak-anak jadi kantornya bener-bener sesuai keinginan kami biar kerjanya enak."


"Ada berapa orang?"


"Ada lima, dua cewek tiga cowok." Renjani mengajak Jesi ke lantai dua.


Dinding di sisi kanan tangga dihiasi bingkai berisi kata-kata motivasi yang dikutip dari beberapa penulis terkenal dunia seperti William Shakespeare, Stephen King, Pramoedya Ananta Toer, Tere Liye dan penulis favorit Renjani Dee Lestari.


Jangan sering-sering menoleh ke belakang kalau ingin melangkah maju, nanti kakinya tersangkut.


"Quote apa nih, kocak banget, lu ya yang pilih." Jesi membaca salah satu kata-kata pada dinding tersebut.


"Ya itu buat motivasi gue supaya nggak mikirin Arya mulu."


"Oh iya ngomong-ngomong soal Arya, gue hampir aja lupa," Jesi mengeluarkan kartu undangan dari dalam tasnya.


"Jelek banget undangannya." Renjani membolak-balik kartu undangan berwarna merah tersebut.


"Ye, bilang aja lu iri karena dia udah nikah."


"Lah ngapain iri, gue udah nikah duluan."


"Tapi kan—"


Renjani membekap mulut Jesi sebelum sahabatnya itu mengeluarkan kalimat yang tidak pantas. Orang lain bisa mendengarnya.


"Guys, kenalin ini sahabat aku." Renjani mengenalkan Jesi pada tim nya. "Jesi tapi bukan Jesi Jane."


Mereka tertawa meskipun candaan Renjani garing, itu bentuk menghargai Renjani sebagai atasan.


"Ada Manda, Eve, Ervin, Fatan sama Jeno." Renjani menyebutkan nama mereka satu per satu.


"Wah Jeno, kayak nama member BTS ya." Jesi menjabat tangan mereka dan menyebutkan namanya berulang-ulang.


"Mungkin NCT maksudnya." Eve meralat ucapan Jesi bahwa nama Jeno bukanlah member BTS melainkan NCT.


"Nah lu diprotes Fangirl, jangan ngomong sembarangan." Semprot Renjani.


Jesi terkekeh,di dunia K-Pop ia hanya tahu BTS.


"Lu sengaja milih yang masih muda-muda?"


"Sumpah nggak sengaja, kebetulan aja dapet mereka, semuanya fresh graduate kecuali Fatan, dia seumuran sama aku."


Jesi duduk di salah satu kursi yang berada disana, ia dalam perjalanan ke rumah sakit tempatnya bekerja. Karena letaknya satu arah maka Jesi sekalian mampir ke kantor Renjani.


"Kalian boleh kerja lagi, anggap aja nggak ada Jesi disini." Ujar Renjani pada tim nya.


Renjani meletakkan dua kaleng kopi yang ia ambil dari chiller. Kebetulan ia belum ngopi hari ini karena buru-buru mandi dan pergi setelah menemani Kelana berenang.


"Lu datang kan?" Jesi membuka kaleng kopi itu dan meneguknya.


"Nggak tahu." Renjani mengedikkan bahu, ia malas melihat wajah Arya lagi.


"Lu harus datang."


"Biar kelihatan menyedihkan gitu?"


"Enggak lah, buktiin kalau elu udah bahagia sama Kelana, kalian harus datang."


Apakah Kelana mau jika Renjani mengajaknya pergi ke pernikahan Arya. Renjani masih malu dengan kejadian tadi pagi, bisa-bisanya ia berpikir jika Kelana adalah anak yang menolongnya. Kelana bukan satu-satunya orang yang bisa memberi napas buatan. Ah Renjani ingin menghilang dari bumi saking malunya.