
Dhewa yang akhirnya membiarkan Floe berbuat sesuka hati, kini buru-buru masuk ke dalam mobil karena ingin mengejar waktu agar tidak terlambat sampai di bandara. Ia yang ini sudah duduk di belakang kemudi, langsung mengemudikan kendaraannya keluar dari area kampus.
Ia fokus menatap ke arah jalanan saat mengemudi dan tidak ingin berbicara sepatah kata pun karena khawatir hanya akan membuat wanita di sebelah kirinya tersebut bertambah kesal padanya.
'Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan dan juga kusampaikan padanya, tapi pasti dia hanya akan bertambah kesal. Lebih baik aku diam dan menunggu hingga dia berbicara,' gumam Dhewa yang saat ini masih mengunci rapat-rapat bibirnya dan fokus mengemudi.
Sebenarnya ia tadi merasa jika Floe semakin terlihat cantik saat mengenakan gaun pilihannya yang ternyata tidak disukai warnanya. Ia bahkan merasa penasaran kenapa wanita yang menurutnya secantik bidadari tersebut malah tidak suka dengan warna putih.
'Sebenarnya apa alasannya tidak menyukai warna putih? Apa dia punya kenangan buruk dengan warna itu? Mungkin suatu saat nanti aku akan mengetahuinya jika sudah lama mengenalnya. Semoga lama-kelamaan mau menerima aku sebagai temannya dan bisa berakhir lebih dari itu,' gumam Dhewa yang sebenarnya merasa sangat tidak nyaman dengan diamnya Floe, tapi tetap saja tidak berani untuk membuka suara.
Hanya keheningan yang tercipta di antara mereka saat ini. Sepanjang perjalanan menuju ke bandara hanya dihiasi dengan suara hembusan napas mereka. Seolah keduanya saat ini tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Floe yang saat ini membuka tas miliknya, mengambil sisir serta bedak untuk merapikan penampilannya karena tidak ingin terlihat berantakan di depan wanita yang masih mempunyai darah bangsawan tersebut.
Namun, ia yang barusan mengaplikasikan bedak tipis di wajahnya, seketika menoleh ke arah Dhewa yang tengah mengemudi.
"Kamu tampil apa adanya saja karena seperti itu sudah cantik dan pasti mamaku akan sadar dengan kelebihanmu yang tidak dimiliki oleh Camelia." Dhewa tadinya hanya melirik sekilas apa yang dilakukan oleh Floe.
Namun, gagal menahan diri untuk tidak berkomentar dan akhirnya menyesal karena mulutnya berbicara sesuai dengan apa yang dirasakan. 'Kenapa kau tidak diam saja sih! Sudah baik jika tidak ada perdebatan di antara kalian. Pasti Kanjeng Ratu Widodariku ini makin bertambah kesal padaku.'
"Apa kau sedang membual padaku? Semua laki-laki itu munafik! Mata tidak berkedip saat melihat penampilan wanita yang cantik, putih, seksi, tapi bilangnya malah lebih baik cantik natural. Apa kalian pikir cantik natural itu murah? Justru membutuhkan biaya banyak untuk perawatan agar terlihat cantik natural!" Floe benar-benar menyesal karena memperbaiki penampilannya agar tidak berantakan.
Ia makin bertambah kesal karena semua yang dikatakan oleh pria di balik kemudi tersebut memicu amarahnya. Kini ia berusaha meredam emosi dengan mengusap dadanya dan kini makin bertambah marah saat suara bariton Dhewa seperti menusuk gendang telinga.
"Kalau kamu jadi pasanganku, aku tidak akan keberatan mengeluarkan uang untuk biaya perawatanmu agar terlihat cantik meskipun tampil natural. Mungkin memang mayoritas pria itu suka dengan wanita yang terlihat cantik dengan memakai make up tebal yang menutupi kekurangan di wajahnya, tapi itu tidak berlaku padaku karena aku jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali tidak memakai riasan apapun di wajahnya."
Dhewa berbicara sambil mengingat pertemuan pertamanya dengan Floe di depan perusahaan Madison. Ia bahkan tidak pernah melupakan kejadian itu karena menganggap sangatlah penting baginya.
Pertemuan pertama dengan seorang wanita yang membuatnya seperti merasa bertemu dengan seorang bidadari yang turun dari kahyangan, sehingga membuatnya sering memanggil Kanjeng Ratu Widodariku, tanpa sepengetahuan Floe.
Awalnya Floe menganggap jika pria di sebelahnya tersebut sama seperti yang lain, yaitu sangat munafik karena tidak mau mengakui. Namun, ia malah teralihkan dengan kalimat terakhir yang sebenarnya membuatnya penasaran dari semenjak bertemu dengan sosok wanita bernama Camelia.
Ia saat ini memiringkan tubuhnya untuk bisa menatap dengan jelas sosok pria di balik kemudi tersebut. "Kau jatuh cinta pada seorang wanita? Jadi, itu alasanmu tidak mau menerima perjodohan dengan Camelia?"
"Jika kamu jatuh cinta pada wanita itu, lalu kenapa tidak mengatakannya dan mengajaknya untuk bertemu dengan mamamu? Kenapa malah melibatkanku dan membuatku pusing karena harus masuk dalam masalah pribadimu?" sarkas Floe yang saat ini menatap tajam dengan raut wajah penuh penasaran seperti apa sosok wanita yang membuat seorang Dhewa jatuh cinta dan menolak Camelia yang menurutnya sangat cantik dan seksi.
Bahkan sebenarnya ingin sekali langsung mengatakan seperti apa wanita yang membuat pria itu jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi harga dirinya terlalu tinggi dan sangat gengsi jika harus mengungkapkannya secara langsung.
'Sebenarnya seperti apa sosok wanita yang membuatnya menolak berjodohan dengan wanita secantik Camelia? Sial, baru pertama kali ini aku merasa penasaran dengan wanita yang disukai oleh seorang pria yang sama sekali tidak ada hubungannya denganku,' gumam Floe yang kini menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu yang saat ini meluap di pikirannya.
Berbeda dengan Dhewa yang tengah memutar otak untuk mencari alasan untuk membohongi Floe agar percaya pada karangannya. Namun, tidak menemukan cerita yang pantas dikatakan pada wanita secerdas Floe.
"Besok saja kita bahas itu karena sekarang yang paling penting adalah membahas mengenai hubungan kita karena jika mamaku bertanya nanti, bisa sama menjawabnya. Aku tidak mau kita berbicara berbeda dan bertolak belakang karena pasti mamaku akan curiga dan nanti aku akan terkena imbasnya dengan tetap disuruh menikahi Camelia." Dhewa sesuatu dari saku kemeja yang dikenakan.
Kemudian ia memberikan kertas yang dilipat kecil dan tadi sudah disiapkan dari rumah. "Aku yakin jika mamaku akan menanyakan hal itu dan sudah kutulis di sana jawabannya. Jadi, tolong baca dan ingat-ingat jawabannya agar tidak salah dan membuat mamaku curiga."
Floe sebenarnya ingin mengungkapkan nada protes karena tidak berhasil membuat pria itu mengatakan tentang sosok wanita yang dimaksud, kini terpaksa menerima kertas berwarna putih yang sudah ada di tangannya dan mulai membacanya.
Ada 10 poin yang tertulis di sana dan ia fokus membaca. "Kenal di mana, berapa lama kenal, berasal dari mana, orang tua kerja apa, sekarang kerja apa, saudara berapa, lulusan apa."
Floe yang membaca jawabannya, kini memijat pelipis dan belum melanjutkannya karena mengingat-ingat semua yang dituliskan oleh pria itu. "Apa mamamu mau sensus penduduk? Apa pertemuan pertama selalu bertanya hal konyol seperti ini? Astaga! Kenapa hidup kalian ribet amat sih."
"Aku tahu jika orang-orang kaya itu sangat mementingkan bibit, bebet, bobot dari calon anaknya, tapi kalau di pertemuan pertama saja sudah membuat ilfeel seperti ini, sudah pasti wanita yang kamu sukai itu akan kabur karena risi ditanya seperti sedang sensus penduduk." Floe berbicara sambil melanjutkan membaca karena memang tidak ada pilihan lain selain patuh dan melaksanakan apa yang diinginkan Dhewa.
Namun, percuma ia berbicara panjang lebar sampai mulutnya berbuih, malah membuatnya serasa tidak berguna begitu mendengar satu kalimat yang lolos dari bibir pria di sebelah kanannya tersebut.
"Maaf," lirih Dhewa yang saat ini baru saja membelokkan kendaraannya memasuki area bandara.
Ia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan tentang sang ibu atas nada protes dari Floe. Apalagi sekarang fokus memarkirkan mobilnya dan berharap sang ibu belum keluar dari terminal kedatangan.
Floe sebenarnya ingin melempar sesuatu ke wajah Dhewa karena sangat kesal, tapi tidak menemukan apapun dan saat ini hanya bisa memalingkan wajah maka tidak semakin bertambah amarahnya.
'Kenapa ada pria yang se-menyebalkan ini sih! Rasanya aku ingin menjambak rambutnya,' sarkas Floe yang saat ini benar-benar sangat kesal dan harus menahan diri untuk tidak meluapkan emosi yang membuncah di dada.
To be continued...