
Kelana mendatangi kantor Renjani bertepatan dengan mertuanya yang tengah mengantarkan novel baru terbitan Asmara Publishing. Kelana lebih dulu menyalami papa Renjani dan menanyakan kabarnya padahal sebenarnya ia ingin segera menemui Manda atau karyawan lain, mungkin saja mereka mendengar kabar Renjani. Kantor ini tak akan bisa lanjut beroperasi tanpa Renjani. Kelana juga tidak berminat untuk mengurusnya. Perusahaan penerbitan bukanlah dunia Kelana. Perusahaan ini adalah hadiah khusus untuk Renjani.
"Kamu belum dapat kabar dari Renjani?" Tanya Aji.
"Belum Pa." Kelana mengajak Aji duduk di lobi kantor.
"Saya tahu pasangan muda seperti kalian pasti sering bertengkar tapi harusnya Renjani tidak meninggalkan rumah seperti itu, kalian harus menyelesaikannya saat itu juga jangan dibiarkan berlarut-larut."
"Maafkan saya Pa, saya akan berusaha lebih keras untuk mencari Renjani, saya juga meminta orang lain mencari Renjani secara diam-diam, jangan sampai media tahu." Kelana tidak mau ada berita buruk tentang Renjani, itu akan semakin memperkeruh keadaan.
"Saya tidak bisa memberikan banyak nasehat karena nyatanya saya tidak mampu mempertahankan rumah tangga dengan Mama nya Renjani dulu."
"Andai saya bisa menahan Renjani untuk tidak pergi."
"Saya yakin Renjani baik-baik saja, sekarang dia hanya sedang marah setelah ini dia pasti kembali." Aji menepuk paha Kelana untuk menenangkannya, ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Renjani sekarang. Namun ia percaya Renjani bisa jaga diri. Renjani bukan anak manja, ia sudah hidup mandiri sejak lulus SMA.
"Saya harap begitu Pa."
Kelana justru berpikir sebaliknya, ia takut Renjani tak akan pernah kembali dan membesarkan anak mereka sendiri. Membayangkannya saja Kelana ngeri, ia tidak bisa hidup normal lagi tanpa Renjani.
"Sebenarnya Renjani sedang hamil Pa, saya juga baru tahu setelah dia pergi."
"Dia pergi dalam keadaan hamil?" Alis Aji terangkat, ia juga sudah berusaha menghubungi nomor Renjani tapi tidak bisa.
Kelana mengangguk, ia mengembuskan napas berat. Ingin sekali Kelana menjelaskan pada Renjani bahwa ia tidak mungkin menolak kehadiran anak mereka. Kelana akan menjaga dan merawat anak mereka bersama-sama. Namun bagaimana Kelana akan menjelaskan itu jika bertemu saja ia tidak bisa.
"Kok bisa kamu nggak tahu kalau istrimu hamil?"
"Maaf Pa, ini kesalahan saya." Kelana tak bisa mengatakan apapun selain maaf karena ini memang kesalahannya. Bagaimanapun caranya Kelana harus menemukan Renjani.
Kelana izin pergi ke lantai dua, ia dengar selama Renjani tidak ada, Manda yang akan menggantikan posisinya. Itu artinya Manda sudah mendapat arahan dari Renjani.
"Pak Kelana," Jeno beranjak dari kursinya melihat Kelana datang.
"Saya mau bicara dengan Manda."
Manda tegang mendengar Kelana hendak bicara dengannya, bagaimana jika Kelana bertanya macam-macam. Manda tipe orang yang tidak bisa berbohong, ia pasti langsung ketahuan ketika berbohong.
"Mari Pak." Jeno mengambil kursi untuk Kelana dan mempersilakannya duduk.
Biasanya saat Kelana datang, Manda yang paling semangat untuk menemuinya tapi sekarang ia justru tak ingin berhadapan dengan Kelana. Manda melangkah ragu mendekat pada Kelana, jantungnya berdegup kencang. Manda berharap mulutnya tidak keceplosan. Ia sudah berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun jika Renjani pernah menghubunginya.
"Renjani menelepon mu?" Tanya Kelana to the point.
"Tidak Kak." Manda menunduk tidak berani menatap Kelana.
"Lalu siapa yang memberi mu arahan untuk menggantikan posisinya?"
"Itu atas inisiatif kami sendiri karena perusahaan sedang mempersiapkan penerbitan buku baru."
"Jadi kamu tahu Renjani pergi?"
"Tahu Kak."
"Bagaimana kamu bisa tahu, saya belum memberitahu mu?" Kelana yakin tak ada yang tahu Renjani pergi kecuali dirinya dan Yana. Bahkan Jesi tidak tahu jika Renjani pergi.
"Hm?" Manda mengangkat wajah, ia terkejut. Kelana pandai sekali menjebaknya atau Manda yang memang polos dan tidak bisa berbohong.
Manda mengangguk samar, "tapi dengan nomor pribadi jadi kami tidak bisa menelepon Mbak Renjani balik."
"Kamu tahu Renjani ada dimana?"
"Mbak Rere tidak memberitahu kami Kak, dia hanya memberi kami arahan untuk tetap memproses penerbitan meski tanpa Mbak Rere."
"Manda, tolong jika dia menghubungimu lagi, katakan padanya bahwa saya sangat mengkhawatirkannya, saya merindukannya, saya akan menjemputnya dimanapun dia berada."
"Iya Kak."
"Yang terpenting adalah dia harus bisa menjaga dirinya dan bayi kami, sampaikan maaf saya."
"Baik Kak Kelana." Manda mengangguk patuh.
Kelana undur diri dari sana, ada sedikit perasaan lega mengetahui kabar Renjani meski ia belum tahu dimana keberadaan Renjani sekarang. Kelana hanya ingin memastikan Renjani baik-baik saja.
Manda langsung mengembuskan napas keras ketika Kelana sudah tidak terlihat. Ia menepuk-nepuk jidatnya karena tidak bisa merahasiakan kabar Renjani. Namun ia juga tidak tega melihat wajah Kelana yang tak seperti biasanya. Kelana selalu tampil sempurna di depan semua orang apalagi wajah tampannya yang bisa menghipnotis siapapun. Namun hari ini Kelana terlihat seperti orang lain, wajahnya kucel, penampilannya juga acak-acakan. Kelana terlihat sangat menderita, setidaknya ucapan Manda bisa membuatnya sedikit tenang.
"Mbak Rere hamil?" Eve menghampiri Manda.
Manda mengangguk, ia juga baru dengar kalau Renjani hamil. Mereka tak tahu masalah apa yang sedang menimpa rumah tangga Kelana dan Renjani.
Manda harap masalah mereka segera selesai dan Renjani kembali ke kantor ini.
"Kasihan Mbak Rere lagi hamil tapi nggak ada Kak Kelana di sampingnya."
"Semoga mereka cepet baikan deh."
Suasana kantor juga jadi tidak nyaman jika tidak ada Renjani. Meskipun Renjani atasan mereka tapi ia selalu bersikap seperti teman. Mereka akan merindukan momen makan mie instan bersama di kantor setelah bekerja seharian.
******
Kelana tidak pernah merasa sebodoh ini karena telah memilih pergi ke konser Elara hari itu padahal Renjani memberinya pilihan, bukan satu kali tapi dua kali Renjani menanyakan hal yang sama. Namun bodohnya Kelana tetap pergi, ia sangat menyesal.
Kelana membenturkan kepalanya ke kemudi beberapa kali, bagaimana jika Renjani tidak mau kembali padanya. Kelana hanya akan merasa menyesal seumur hidup.
"Re, aku khawatir sama kamu, tolong kembali." Kelana menyandarkan kepalanya kursi, perhatiannya teralih pada layar ponselnya yang menyala. Ada satu pesan dari Elara.
Aku mau berangkat ke bandara, kamu mau mengantar ku?
Kelana melempar ponselnya ke jok samping dan menyalakan mesin mobil.
Mobil Kelana melesat membelah jalan kota Jakarta yang ramai siang itu.
Jika Elara berpikir Kelana akan datang setelah mengirim pesan itu maka ia salah besar, Kelana tak mungkin melakukan kesalahan dua kali. Kelana sudah memperjelas semuanya pada Elara waktu itu bahwa perasannya sudah berubah. Kelana hanya mencintai Renjani, istrinya yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya. Kelana akan memperjuangkan Renjani.
Kelana menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, ia merasa hampa tanpa kehadiran Renjani. Apartemen itu juga terasa sepi dan dingin, tak ada yang membuat Kelana marah-marah karena Renjani berjalan dengan kaki basah dari kamar mandi. Tak ada yang membuat kopi dan jeruk peras untuknya.
Setiap sudut di apartemen ini mengingatkan Kelana pada Renjani.
Kelana paling tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun, saat tangannya cedera saja ia masih memaksakan diri bermain piano dan menghasilkan beberapa lagu. Namun kali ini Kelana tak ingin melakukan apapun, ia hanya meringkuk di atas tempat tidur dan merenung berjam-jam. Pandangannya kosong, ia seperti seonggok raga tanpa jiwa. Kelana kehilangan separuh hidupnya—terbawa angin entah kemana.