
Hari ini kamu temani Dhewa menemui mamanya karena dia meminta tolong secara langsung pada Daddy untuk meminta izin bisa membawamu sebagai kekasih pura-puranya. Dia sudah menceritakannya secara langsung dan Daddy merasa iba pada nasibnya yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Floe yang merasa sangat kesal dan tidak terima atas pesan dari sang ayah, seketika memencet tombol panggil untuk berbicara secara langsung karena tidak mungkin hanya membalas pesan tersebut.
"Kenapa Daddy malah membuatku terlibat dalam masalah keluarga Dhewa? Bukan salahku jika dia dijodohkan oleh keluarganya, kan? Ngapain aku harus ikut memusingkannya?" Ia bahkan memijat pelipisnya saat ini karena hidupnya akan bertambah rumit jika terus masuk dalam kehidupan pribadi sang atasan yang seolah memaksanya.
"Membayangkan mendapat penghinaan dari mamanya saja sudah membuatku kesal, apalagi harus mengalaminya secara langsung," umpat Floe yang dari tadi tidak berhenti mengeluh untuk melampiaskan amarahnya karena saking kesalnya pada apa yang dilakukan oleh Dhewa saat menggunakan sang ayah ketika ia menolak.
Floe saat ini menunggu hingga panggilan telepon diangkat oleh sang ayah, tapi cukup lama tidak kunjung mendapatkan jawaban dan tentu saja membuatnya semakin bertambah kesal.
"Daddy pasti sengaja tidak mau mengangkat teleponku. Pasti sudah tahu jika aku akan marah karena kesal. Issh ... menyebalkan sekali!" Floe yang saat ini masih mengenakan kimono dan handuk kecil melilit di rambutnya, kini mendaratkan kasar tubuhnya di atas ranjang king size yang menjadi tempat ternyaman untuknya beristirahat setiap malam.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku benar-benar sangat malas menuruti perintah daddy yang sangat konyol itu. Aku seharusnya marah pada Dhewa sialan itu, tapi tidak tahu berapa nomornya. Hanya Daddy yang tahu," ucap Floe yang saat ini terdiam karena merasa tidak bisa berbuat apapun.
Ia yang tadi mengeluh pada Dhewa karena merasa terganggu saat mendengar suara embusan napas kasar pria itu ketika makan, kini malah melakukannya sendiri. Beberapa kali ia mengembuskan napas kasar untuk melampiaskan perasaan yang membuncah.
"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus meminta penjelasan pria sialan itu. Kenapa harus menghubungi daddy dan menyuruhku untuk mematuhi perintahnya. Apa dia tidak bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan pribadi?"
"Pria sepertinya tidak pantas menjadi seorang atasan." Saat Floe baru saja mengumpat untuk melampiaskan amarahnya, berbunyi dan membuatnya langsung mengambil benda pipih yang tadi dilemparkan di atas ranjang.
Begitu melihat kontak dari sang ayah, refleks ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.
"Kamu pasti saat ini tengah marah-marah dan mengumpat di dalam kamar, kan Sayang?" ucap Hugo Madison yang tadi pergi ke kamar mandi dan belum bisa mengangkat telepon dari putrinya, sehingga begitu selesai, langsung menghubungi untuk membicarakan tentang permohonan Dhewa padanya beberapa saat lalu.
Floe yang tadinya ingin langsung mengungkapkan kekesalannya, seketika terdiam karena sudah diketahui oleh sang ayah. Ia kini hanya mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh ayahnya tersebut karena berpikir percuma kesal.
"Sekarang jelaskan apa alasan Daddy memintaku untuk terlibat dalam urusan pribadinya? Aku saja sudah pusing dengan masalahku sendiri." Ia bahkan saat ini melepaskan handuk kecil yang tadinya melilit di kepalanya.
Itu karena merasa pusing dan memilih untuk melepaskannya sambil menggosok ringan rambutnya yang masih basah.
"Daddy meminta tolong padanya saat perusahaan kita membutuhkan investor. Jadi, dia tanpa pikir panjang langsung menanamkan modal di perusahaan kita. Itulah kenapa Daddy langsung menyetujui saat ia meminta tolong secara tulus."
"Daddy harap kamu paham dengan arti take in give atau balas budi. Nanti kamu juga harus bisa saling memberi dan menerima pada rekan bisnis yang sangat membantu perusahaan. Semua itu dibutuhkan dalam memimpin perusahaan agar bisa terus bertahan meskipun banyak badai yang menerpa. Kamu paham apa maksud Daddy, kan, Sayang?" Saat ia menunggu jawaban dari putrinya, disaat bersamaan mendengar suara notifikasi masuk.
Ia saat ini membaca pesan dari pria yang tengah dibicarakan dengan putrinya dan malah membuatnya tersenyum simpul karena merasa senang.
'Wah ... sepertinya umpanku telah dimakan karena saat ini Dhewa merasa tertarik dengan masa lalu putriku. Dia pasti hanya menggunakan alasan ini demi bisa mencari tahu pria seperti apa pria yang pernah bersama dengan putriku,' gumam Hugo Madison yang kini bergerak mengetik pesan balasan pada Dhewa.
Pria itu bernama Erland Carl Felix. Pasti bukanlah sebuah hal yang sulit bagimu untuk mencari informasi tentang menantu tidak tahu diri itu yang ingin segera kupisahkan dari putriku karena hanya membuat penderitaan pada kehidupan Floe.
Kemudian ia langsung mengirimkan pesan tersebut pada Dhewa dengan perasaan senang karena berpikir jika usahanya tidaklah sia-sia untuk mendekatkan putrinya dengan pria yang dianggapnya merupakan calon menantu terbaik.
Hingga ia pun makin bertambah senang saat Floe, seperti pasrah dan mengeluarkan pendapatnya.
"Baiklah, Dad. Aku akan berakting menjadi kekasih palsunya jika itu bisa disebut membalas budi baiknya untuk perusahaan." Floe benar-benar merasa seperti buah simalakama, jadi sekarang hanya menuruti perintah dari sang ayah saja meskipun tidak sesuai dengan hatinya.
Apalagi ia merasa seperti mengalami Dejavu saat harus berakting sebagai pasangan Dhewa karena mengingatkannya pada Erland. Namun, tidak ingin membuat sang ayah kecewa ataupun menunjukkan apa yang saat ini dirasakan olehnya.
Apalagi suara bariton dari seberang telepon yang terdengar sangat lega dan juga senang atas keputusannya, membuatnya kini tidak berkutik lagi untuk membatalkan keputusannya.
"Kamu memang putriku yang paling hebat, Sayang. Terima kasih karena kamu bisa mengerti posisi Daddy saat ini," ucap Hugo Madison yang kini benar-benar merasa lega karena rencananya berhasil dengan sempurna tanpa ada kecurigaan dari putrinya yang telah dibohongi.
'Berbohong demi kebaikan merupakan sebuah hal yang pantas dilakukan. Apalagi jika nanti mereka berhasil menikah karena saling mencintai, aku pasti akan benar-benar bahagia melihat putriku menemukan seseorang yang bisa meratukanya dan menjadikannya satu-satunya wanita di hati,' gumam Hugo Madison yang kini bercorak kegirangan di dalam hatinya.
"Sekarang kamu siap-siap saja dan datang ke apartemennya dengan diantar oleh supir." Saat baru saja menutup mulut, seketika menjauhkan ponsel dari daun telinganya begitu mendengar suara terkejut dari putrinya.
To be continued...