
Kiara yang saat ini menatap seberat belakang sosok kekasih dari sahabat baiknya tersebut, wajahnya kini terlihat penuh penyesalan karena makin merasa bersalah ketika pria di hadapannya sama sekali tidak murka padanya karena menjadi penyebab Marcella datang ke klab malam.
'Dia bahkan tidak marah padaku setelah mengetahui kejadian sebenarnya. Aku lebih senang disalahkan daripada seperti ini karena seumur hidup tidak akan bisa lepas dari rasa bersalah karena telah menghancurkan hidup seorang wanita baik seperti Marcella,' gumam Kiara yang saat ini menoleh ke arah sosok pria yang sudah beberapa hari berada di rumah sakit untuk menemaninya.
Bahkan ketika ia pergi bekerja, menyuruh pria yang merupakan asisten pribadi dari Erland tersebut untuk mengabarkan jika sewaktu-waktu sahabatnya sadar.
Namun, sampai sekarang bahkan sahabatnya masih betah larut dalam ketidaksadaran. Seolah lebih nyaman tidur tanpa memikirkan beban yang terjadi. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menghadapi sahabatnya nanti jika pertama kali melihat saat sadar.
Ia dengan sang asisten yang masih terus berdiri di sebelah kiri. Seolah memberikan kode dengan matanya ketika mengarahkan pada Erland yang masih membumi dengan sesekali menghembuskan napas kasar dan mengacak frustasi rambut hingga berantakan.
Meskipun begitu, tetap tidak bisa membuat aura ketampanan dari kekasih sahabat yang tersebut hilang karena diakuinya jika seorang pria yang berdiri memunggunginya tersebut memiliki paras rupawan dan juga badan proporsional yang pastinya menjadi idaman para kaum hawa.
Hingga sahabatnya tidak pernah sekalipun mempunyai keinginan untuk selingkuh dengan pria lain saat bertahun-tahun menjalani hubungan LDR. Apalagi karir keduanya bisa terbilang sukses dan benar-benar menjadi pasangan serasi.
"Apa yang harus kita lakukan pada bosmu itu?" Kiara menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara ketika berkomunikasi dengan sang asisten.
Sementara itu, Leo yang dari tadi mengunci rapat bibirnya karena tidak berani mengusik dan berakhir babak belur, kini hanya menghentikan bau ketika ditanya oleh wanita itu.
"Aku tidak tahu." Ia melakukan hal sama dengan menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara agar tidak didengar bosnya dan sambil menunjukkan luka lebam yang terasa nyeri di bagian wajahnya karena pukulan sangat kuat beberapa saat lalu.
Kiara kini hanya terdiam karena juga merasa bingung harus melakukan apa dan akhirnya memilih untuk menunggu hingga Erland berbicara setelah mengungkapkan keluh kesah yang dirasakan saat memikirkan Marcella.
Hingga ia melihat Erland berbalik badan dan menatapnya, lalu beralih pada sang asisten.
"Aku yang akan menunggu Marcella di dalam. Kalian pulang saja karena jika terus-terusan melihat kalian, bisa-bisa aku tidak bisa menahan amarah. Aku akan membuat perhitungan dengan kalian saat Marcella sadar nanti." Erland memilih untuk berdamai dengan hatinya ketika sudah bisa berpikir jernih.
Bahwa penyesalan di akhir cerita tidak akan mengubah segalanya dan saat ini hanya ingin fokus pada kesembuhan sang kekasih yang masih berada dalam masa kritis.
"Lakukan itu karena aku lebih senang kau bicara seperti itu daripada diam saja. Aku siap menerima hukuman dari kalian. Marcella akan sadar dan kembali baik-baik saja karena aku tidak akan berhenti berdoa untuk kesembuhannya." Kiara sebenarnya tidak ingin pulang ke apartemen karena akan selalu teringat sahabatnya.
Namun, ia tidak mungkin semalaman duduk di luar ICU ketika Erland memutuskan untuk menjaga sahabatnya. "Aku ambil tas dulu di dalam."
Kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan ICU dan mengambil tas yang tadi ditaruh di atas laci.
Sementara itu, Erland yang saat ini melirik ke arah sang asisten dan bisa melihat wajah lebam berubah membiru. "Lain kali jangan pernah menyembunyikan apapun dariku meskipun kau berpikir itu demi kebaikanku!"
Refleks Leo langsung menganggukkan kepala tanpa berani menatap mata bosnya tersebut. "Iya, Presdir. Saya tidak akan pernah melakukannya lagi dan akan selalu mengingatnya."
"Kembalilah ke hotel karena aku tidak ingin melihatmu untuk malam ini." Erland mengibaskan tangannya dan berjalan masuk ke dalam ruang ICU karena merasa aneh saat Kiara tak kunjung keluar.
"Kalau butuh sesuatu, telepon saja saya, Presdir," seru Leo yang saat ini masih menatap siluet belakang atasannya yang beberapa saat kemudian menghilang di balik pintu ruangan ICU.
Ia saat ini menatap ke arah koper yang berada di tangannya. "Astaga, aku lupa dengan ini. Apa aku bawa saja ke hotel karena tidak mungkin kembali bertanya pada bos. Bisa-bisa aku akan kembali dihajar jika banyak bertanya."
Saat ia masih menatap ke arah koper di atas lantai putih itu, kini berpikir untuk menunggu Kiara agar bisa pulang bersama.
Sementara itu, sosok wanita yang tak lain adalah Kiara, tadinya hendak langsung keluar dari ruang ICU setelah mengambil tas. Namun, ia yang berpamitan pada sahabatnya, kini mencium kening Marcella yang masih memejamkan mata itu.
"Erland sudah datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untukmu. Kamu harus segera sadar agar kalian kembali bersatu. Erland akan selalu bersamamu dan tidak akan lagi meninggalkanmu," lirih Kiara yang berbicara dengan suara lirih dan bola mata berkaca-kaca.
Ia bahkan tidak bisa menahan bulir kesedihan yang kini jatuh membasahi wajah pucat sahabatnya. "Kamu harus bangun, Marcella."
Kiara kini terlihat membersihkan bulir air mata yang menghiasi wajah pucat sahabatnya dan mendengar suara bariton dari Erland yang baru masuk ke dalam ruangan ICU.
"Pergilah!" ujar Erland yang sudah tidak sabar untuk bisa segera berbicara dengan sang kekasih.
Ia bahkan merasa sesak di dada ketika memikirkan tentang sosok wanita yang sudah bertahun-tahun dicintainya tersebut. Apalagi saat ini terlihat sangat mengenaskan dengan alat-alat kesehatan yang menunjang kehidupannya.
Selang oksigen juga terpasang dan membuatnya makin iba pada keadaan malang sang kekasih. Namun, ia juga memikirkan sesuatu hal ketika melihat Marcella.
Satu hal tiba-tiba terlintas saat ini adalah wanita lain yang juga tengah berada di rumah sakit dan belum sempat dilihatnya.
'Floe ... apakah keadaannya juga seperti ini setelah keluar dari ruangan operasi?' gumam Erland yang saat ini menggelengkan kepala beberapa kali untuk menyadarkan dirinya agar tidak memikirkan wanita lain ketika berada di hadapan Marcella.
Hingga ia tersadar dari semuanya begitu mendengar suara dari Kiara yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Ya, aku pulang sekarang. Jaga Marcella dan ajak terus ia berbicara agar bisa mendengar suaramu. Semoga kedatanganmu membuatnya sadar karena dia sangat mencintaimu dan saat ini membutuhkanmu." Kiara kini melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah pintu keluar tanpa menunggu respon dari pria yang hanya diam saja ketika menatap Marcella yang masih belum sadarkan diri.
Tidak ingin menjadi saksi pertemuan antara pasangan kekasih yang sama-sama masih saling mencintai, tapi harus mengalami cobaan luar biasa yang menerpa hubungan mereka, ia pun ini sudah membuka pintu dan melangkah keluar.
'Semoga cobaan ini makin menguatkan perjalanan cinta kalian dan tidak akan terpisahkan setelah Marcella sadar nanti,' gumam Kiara yang saat ini menatap ke arah sosok pria dengan memegang koper di tangan.
"Aku sengaja menunggumu agar bisa pulang bersama." Saat Leo menutup mulut ketika mengungkapkan niat baiknya agar bisa pulang bersama karena berpikir bahwa ini sudah sangat larut dan khawatir jika membiarkan seorang wanita pulang sendirian.
Namun, melihat respon dari Kiara yang seperti curiga padanya ketika mengerutkan kening saat menatapnya, sehingga membuatnya menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
"Jangan sampai kejadian Marcella menimpamu jika pulang sendirian malam-malam begini. Jadi, jangan berpikir macam-macam padaku karena aku bukanlah orang jahat seperti rekan Marcella itu. Semoga dia membusuk di penjara setelah mendapatkan hukuman setimpal karena perbuatannya," sarkas Leo sambil meringis menahan rasa nyeri pada pipinya yang masih meninggalkan bekas lebam dan mungkin akan hilang cukup lama.
Kiara yang tadinya merasa aneh ketika harus pulang bersama dengan seorang pria karena khawatir akan terjadi kesalahpahaman jika sampai sang kekasih mengetahui, kini mengerti dan tersenyum masam.
"Maaf. Semenjak kejadian yang menimpa Marcella, membuatku jadi parnoan begini. Zack tadinya terlihat sangat baik dan sopan, tapi aku sama sekali tidak menyangka jika ada niat jahat terselubung untuk menghancurkan Marcella." Ia bahkan saat ini mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya berubah merah ketika mengingat sosok pria yang dipercayainya.
Sementara itu, Leo yang saat ini bisa mengerti bagaimana perasaan seorang sahabat ketika merasa bersalah, membuatnya memaklumi. "Pria itu memang tidak punya nurani, tapi jangan menyalahkan semua pria dengan berpikir jika di dunia ini sudah tidak ada lagi pria baik."
"Pria yang mencari aman selalu berbicara seperti itu," sarkas Kiara yang masih tidak bisa menghilangkan pikiran negatif pada para pria di muka bumi ini.
Bahkan ia juga melakukan hal yang sama pada sang kekasih karena butuh pelampiasan untuk meredam semua perasaan membuncah yang dirasakan. Ia berlalu pergi tanpa menunggu reaksi dari Leo.
Leo yang saat ini hanya dia menatap ke arah sosok wanita yang berjalan menuju ke arah lift, hanya geleng-geleng kepala dan mengikuti pergerakan Kiara. 'Para wanita memang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau disalahkan.'
'Apa dia tidak sadar jika sendirinya juga mencari aman untuk menyerahkan bahwa semua pria di dunia ini sama saja. Padahal zaman sekarang ini para wanita juga sama saja, memiliki lebih dari satu pria dengan mengatakan harus punya cadangan,' gumam Leo yang sampai sekarang belum berani menjalin hubungan dengan satu wanita pun karena berpikir tidak ingin hidupnya dipenuhi dengan kerumitan.
Apalagi harus sakit hati jika wanita yang dicintai diam-diam memiliki cadangan di belakangnya. Hal itulah yang membuatnya tidak percaya pada para wanita sampai sekarang ini dan memilih untuk fokus pada karir serta merasa nyaman pada statusnya yang masih jomlo.
Ketika ia masuk ke dalam lift mengikuti wanita yang terlebih dulu berada di dalam ruang kotak besi yang membawa mereka ke lantai dasar, memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Kira-kira apa yang terjadi di dalam ruangan ICU saat ini? Apa tuan Erland akan menangis ketika pertama kali melihat nona Marcella? Tadi bagaimana wajahnya?" Ia mendadak merasa sangat penasaran dengan bagaimana respon dari seorang kekasih yang melihat pasangan yang dicintai tengah berjuang melawan maut.
Raut wajah masam Kiara ini berubah begitu apa yang ditanyakan oleh Leo tidak bisa dijawabnya karena tadi melihat seorang Erland berwajah datar ketika menyuruhnya keluar dari ruangan ICU.
"Bukankah kau yang setiap hari bersamanya dan pasti mengetahui bagaimana perangai bosmu? Aku bahkan hanya beberapa kali bertemu dengannya karena memang jarang berinteraksi saat berada di London. Aku tidak ingin mengganggu pasangan kekasih yang sedang melepas rindu dan selalu memilih untuk pergi menjauh." Ia teringat saat terakhir kali bertemu dengan Erland.
Saat itu sahabatnya mengajak untuk pergi makan siang bersama ketika weekend karena memang Erland datang, tapi ia menolak mentah-mentah dan memilih untuk pergi bersama sang kekasih karena tidak ingin dijadikan obat nyamuk ketika sahabatnya berduaan.
Hanya saja ia bisa mengetahui bahwa perasaan keduanya sangatlah kuat karena berhasil menjalani hubungan hingga bertahun-tahun lamanya. Meskipun sampai sekarang belum menikah karena terhalang oleh cita-cita Marcella.
Kini, ia menoleh ke arah Leo yang tidak langsung menjawab karena terlihat seperti orang kebingungan. "Jangan bilang jika kamu tidak mengerti bagaimana peran bosmu meskipun sudah lama bekerja bersamanya."
"Bukan begitu," sahut Leo yang merasa bahwa watak dari atasannya sangat sulit dipahami.
"Lalu?" Kiara mengerutkan kening karena makin aneh melihat sikap sang asisten yang seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Leo dulu sempat melihat bagaimana angkara murka yang ditunjukkan oleh atasannya ketika berada di rumah keluarga Madison karena menjadi saksi di pernikahan mendadak atasannya tersebut.
Jadi, jujur saja saat ini merasa bingung dengan sikap dari bosnya yang berubah-ubah. Tadinya ia berpikir jika pernikahan atasannya akan langgeng dan meninggalkan sang kekasih, tapi nyatanya sekarang berada di London dan terlihat terpuruk.
"Bos di tempat kerja sangat berwibawa dan aku belum pernah melihatnya berinteraksi dengan nona Marcella. Makanya aku tidak tahu. Bukankah pria sangar pun akan berubah lemah di depan wanita yang membuatnya bucin? Tapi aku belum pernah melihat Tuan Erland bucin." Leo sangat berhati-hati berbicara karena tidak ingin sampai meloloskan nama wanita yang berstatus sebagai istri atasannya.
Sementara itu, Kiara yang saat ini terdiam, membenarkan jika apa yang dikatakan oleh Leo benar. Hingga suara pintu lift yang terbuka kini membuat mereka berjalan keluar beriringan.
"Mungkin saat ini Erland menangis begitu melihat keadaan Marcella yang sangat menyedihkan. Tidak ada pun pasangan yang tidak hancur melihat wanita yang dicintai diperkosa dan memilih untuk mengakhiri hidup." Ia kini kembali berkaca-kaca karena merasa bersalah menjadi penyebab Marcella mengalami kejadian malang.
"Ini semua salahku!" sarkas Kiara yang saat ini beberapa kali memukul kepalanya sebagai bentuk penyesalan akibat perbuatannya yang mengajak sahabatnya pergi ke klab malam untuk pertama kali dan berakhir tragis.
Leo yang tadinya berjalan di sebelah kanan Kiara sambil menarik koper milik bosnya, seketika berhenti dan menahan tangan wanita itu agar tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri.
"Berhenti! Tidak ada gunanya melakukan itu karena semua sudah terjadi dan penyesalan di akhir cerita tidak akan mengubah semua kejadian yang telah tercipta." Ia masih menahan pergelangan tangan kanan wanita dengan raut wajah sembab dan kembali berurai air mata tersebut.
Sementara itu, Kiara yang masih tidak bisa memaafkan diri sendiri, beberapa kali menggelengkan kepala karena dipenuhi oleh rasa bersalah. "Aku memang tidak bisa mengubah semua kejadian malang yang menimpa Marcella, lalu harus dengan cara apa aku memperbaiki semua ini?"
"Dengan selalu berada di samping Marcella saat sadar nanti dan memberikan support untuknya agar tidak larut dalam kesedihan. Itu jauh lebih baik daripada kau sibuk menyalahkan diri sendiri, bukan?" tanya Leo yang saat ini bergerak ke hadapan Kiara begitu melihat wanita itu hendak kembali memukul kepala dengan tangan kiri.
Namun, di saat bersamaan mendengar suara bariton dari seseorang yang menggema di lobi rumah sakit dan membuatnya membulatkan mata begitu menoleh ke belakang.
"Apa yang kalian lakukan?"
Leo dan Kiara seketika beralih menatap ke arah seseorang yang baru saja datang dan berjalan mendekat ke arah mereka.
Kemudian saling bersitatap karena merasa bingung dengan posisi mereka yang sangat intim karena berhadapan dan hanya berjarak beberapa senti saja.
To be continued...