
Pemandangan langit malam kota Jakarta tanpa bintang membuat Renjani merasa didukung untuk melamun di balkon kamar. Bulan sabit hampir tak terlihat tertutup mendung.
Pandangan Renjani menerawang ke atas langit, melihat bulan ia jadi ingat tentang lagu Jupiter yang Kelana ciptakan untuk menceritakan kisahnya bersama Elara. Kini Renjani mengerti mengapa semua lagu baru Kelana berirama sedih, itu menggambarkan suasana hatinya setelah ditinggal Elara. Renjani bisa merasakan betapa Kelana mencintai Elara.
Renjani menghela napas berat, ia mengusap-usap lengannya merasakan dingin yang semakin menusuk kulit. Renjani membiarkan udara malam memeluknya.
"Sadar diri Re." Bisik Renjani pada dirinya sendiri, ia tak pernah lupa untuk menyadarkan dirinya bahwa dari awal ia bukan siapa-siapa. Namun setiap kali Kelana bersikap manis, Renjani jadi terlena dan ingin menjadi milik Kelana selamanya.
Pintu kaca yang menghubungkan kamar dan balkon bergeser, Kelana muncul membawa selimut.
"Dingin Re." Kelana menyampirkan selimut itu ke badan Renjani.
Renjani terkejut melihat kedatangan Kelana, karena asyik melamun ia tidak mendengar suara pintu balkon terbuka.
"Ayo masuk."
"Masih mau disini." Renjani butuh udara segar berharap ini bisa menjernihkan pikirannya. Kini otaknya keruh oleh kisah asmara Kelana dan Elara.
Kelana duduk di samping Renjani, pandangannya ikut menengadah ke langit mendung yang menurutnya tidak menarik. Ia lebih suka langit penuh bintang—walaupun sebenarnya ia tak ada waktu untuk sekedar melihat langit.
"Kamu habis nangis?" Kelana melihat jejak air mata di wajah Renjani.
"Enggak." Renjani menggeleng, ia bahkan tidak sadar jika dirinya menangis.
"Kamu kenapa, sejak pulang dari tempat percetakan jadi murung."
"Nggak apa-apa, lagi mikirin kerjaan aja."
"Kamu udah janji untuk cerita apapun ke aku."
"Aku nggak pernah janji." Renjani beranjak melenggang masuk ke kamar.
Kelana bingung melihat sikap Renjani, apakah dugaannya benar jika Renjani cemburu terhadap Elara. Bukankah wanita memang tak pernah mau mengakui perasaannya.
"Udah mau tidur?" Kelana melihat Renjani membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia menunggu beberapa saat tapi tak terdengar jawaban dari Renjani. Akhirnya Kelana mematikan lampu ruangan dan menggantinya dengan lampu tidur.
"Mau saya bikinin kopi Mas?" Tanya Yana begitu melihat Kelana keluar kamar, dari ekspresinya ia menebak Kelana sedang frustrasi yang alasannya tidak ia ketahui. Yana hafal betul pada Kelana, jika sudah mengacak-acak rambut atau mondar-mandir pasti Kelana tengah berpikir keras menghadapi persoalan.
"Boleh deh." Kelana menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia benar-benar tidak mengerti mengapa Renjani tiba-tiba pendiam. Biasanya Renjani akan bercerita banyak hal hingga Kelana bosan mendengarkannya tapi sekarang bahkan ia harus meminta Renjani menceritakan sesuatu.
"Mas Lana kenapa?" Yana meletakkan segelas kopi di atas meja.
"Rere kenapa ya?" Kelana menatap kopi yang masih mengepulkan asap itu.
"Memangnya Mbak Rere kenapa?"
"Aneh banget sikapnya, aku samperin dia langsung pergi, aku tanya kenapa dia cuma bilang lagi mikirin kerjaan tapi aku tahu dia bukan orang seperti itu." Kelana tahu Renjani bukan tipe orang yang akan memikirkan masalah pekerjaan begitu lama.
"Mungkin lagi capek aja Mas, hari ini kan habis wawancara sama calon pegawai."
"Kamu pernah jatuh cinta nggak?"
"Hm?" Yana membelalak, ini pertama kalinya Kelana bertanya tentang hal seperti itu.
"Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan sampai aku lupa bertanya tentang itu, kamu berhak jatuh cinta dan pacaran."
Yana tertawa,dari awal ia mengurus semua kebutuhan Kelana dengan tulus. Saat ini Yana juga menikmati pekerjaannya mengurus keperluan Kelana dan Renjani. Yana lebih senang lagi setelah kedatangan Renjani. Hidupnya sudah cukup bahagia dan ia tidak pernah berpikir untuk memiliki pacar.
Kelana adalah orang yang menyelamatkan Yana dari keterpurukan dan ia tak akan pernah melupakan itu. Yana ingin mengabdikan hidupnya untuk Kelana tanpa diminta.
"Tabungan mu sudah cukup banyak, belilah sesuatu yang kamu suka dan pergi ke tempat yang kamu inginkan." Kelana menghirup aroma kopi yang bisa sedikit menenangkannya.
"Mau beli apa Mas, Mas Lana sudah memenuhi semua kebutuhan saya."
"Kamu butuh libur panjang?"
"Tidak Mas." Yana lebih suka dirinya melakukan banyak hal, libur membuatnya stress.
Gadis seusia Yana sekarang ini pasti sedang asyik nongkrong di tempat hits dengan teman-temannya. Sedangkan Yana diusia 23 tahun sudah bisa mengurus Kelana dan Renjani sekaligus, ia tumbuh dewasa lebih cepat.
"Oh iya, kayaknya tadi pagi Mbak Rere baik-baik aja Mas."
"Itu makanya aku bingung, kamu kan perempuan, kira-kira kamu bisa tebak nggak dia kenapa "
"Tadi dia putar lagu aku yang judulnya Jupiter, dia tanya kenapa judulnya Jupiter, aku jawab karena salah satu satelit Jupiter itu Elara."
Yana manggut-manggut, ia mulai mengerti situasinya.
"Aku cuma nggak mau menyembunyikan apapun dari Renjani, aku berusaha jujur terhadap segala sesuatu."
Yana tersenyum, walaupun belum pernah jatuh cinta tapi ia tahu jika saat ini Renjani tengah cemburu.
"Mungkinkah dia cemburu?"
"Exactly!" Yana mengangguk beberapa kali.
"Tapi Elara bahkan nggak ada disini, jadi menurutku nggak masuk akal kalau dia cemburu." Kelana masih tidak mengerti alasan Renjani cemburu. Ia hanya menjawab pertanyaan lalu Renjani ngambek begitu saja.
"Kadang wanita seperti itu Mas, Elara adalah orang yang sempat mengisi hati Mas Lana jadi wajar aja kalau Mbak Rere cemburu." Yana juga merasa jika kadang wanita itu tidak masuk akal. Namun begitulah perasaan seorang wanita.
"Aku cuma jawab pertanyaan dia apa adanya."
"Mas Lana sayang ya sama Mbak Rere?" Akhirnya Yana berani menanyakan hal itu, ia menyadari perasaan antara keduanya mulai tumbuh dan kian subur semakin berjalannya hari. Kelana juga jauh lebih ceria sejak kehadiran Renjani—tidak se-kaku dulu.
"Kamu tahu jawabannya." Kelana kembali menyesap kopinya.
Renjani terpaku di belakang pintu, ia merasa berdosa karena diam-diam mendengar obrolan Kelana dan Yana. Renjani menggerutu dalam hati, kenapa Kelana tidak menjawab pertanyaan Yana dengan jelas. Renjani penasaran bagaimana perasaan Kelana terhadap dirinya.
Renjani masih ingin mendengarkan obrolan mereka tapi ia kebelet ingin buang air kecil. Renjani dengan langkah tertatih menuju kamar mandi jika tidak, ia bisa ngompol di belakang pintu.
"Wajar aja kalau Kelana belum bisa ngelupain Elara." Renjani menggumam, bahkan semua orang mengakui bahwa Elara dan Kelana pasangan yang serasi.
"Aduh Kelana bisa marah lihat lantai basah gini." Renjani berjongkok mengelap lantai yang basah dengan keset. Renjani selalu berjalan dengan kaki basah saat keluar dari kamar mandi yang akan memancing emosi Kelana. Jadi sebelum Kelana marah, Renjani harus mengelapnya hingga kering.
"Ngapain Re?"
Renjani terkesiap mendengar suara Kelana, ia nyengir berharap Kelana tidak memarahinya kali ini.
"Udah aku lap kok." Kata Renjani.
"Aku udah taruh keset di depan pintu, keringin dulu kaki kamu, kalau nanti kepleset kan bahaya." Kelana mengambil keset di tangan Renjani lalu mengelap lantai yang masih basah.
Renjani tertegun melihat reaksi Kelana, kenapa Kelana tidak marah-marah.
"Aku pikir kamu sudah tidur." Kelana mengangkat tubuh Renjani dan menghempaskan nya ke tempat tidur.
"Iya kebelet barusan."
Kelana ikut berbaring di samping Renjani, "aku minta maaf karena bikin kamu kesel hari ini."
"Kamu nggak salah kok." Renjani sudah kelewatan karena mendiamkan Kelana sejak mereka kembali dari tempat percetakan.
"Nggak apa-apa aku tetap minta maaf." Kelana menarik Renjani agar lebih dekat dengannya.
Renjani tersenyum, dengan cahaya temaram ia berharap Kelana tidak menyadari bahwa ia sedang tersenyum.
Kelana mendekap tubuh Renjani, apakah perlakuannya selama ini tidak cukup untuk membuktikan perasannya terhadap Renjani. Kelana berusaha memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk Renjani agar perasaannya tersampaikan.
"Kelana." Panggil Renjani.
"Hm?" Kelana menepuk-nepuk punggung Renjani seperti seorang ibu yang hendak menidurkan anaknya.
Gimana kalau aku jatuh cinta sama kamu?
Renjani hanya bisa bertanya dalam hati, kalimat itu sudah ada di ujung lidahnya tapi ia telan kembali dengan susah payah. Renjani tak mau mengungkapkan cinta lebih dulu. Saat itu Renjani mengungkapkan perasaannya lebih dulu pada Arya, pada akhirnya Arya berselingkuh dan hubungan mereka kandas setelahnya. Renjani berpikir mungkin karena ia terlalu mencintai Arya hingga ia dianggap remeh. Renjani tak mau itu terulang lagi.
"Ada apa Re?"
Renjani memejamkan mata pura-pura terlelap.
"Kok cepet tidurnya?" Kelana berusaha melihat wajah Renjani tapi karena cahaya yang minim, ia tak bisa melakukannya.