Married by Accident

Married by Accident
Menunggunya sampai melahirkan



Erland baru saja memukul kepala Zack yang duduk di sebelahnya karena mendengar pria itu berbicara jika hari ini Marcella akan dipindahkan ke tempat yang dinamakan menjadi sebuah perlindungan agar tidak sampai melakukan cara-cara untuk menyingkirkan benih yang ditanam saat memperkosa.


"Kau benar-benar berengsek! Ini namanya tidak ada hak asasi manusia karena memaksakan kehendak pada wanita yang bahkan masih mengalami traumatik!" sarkas Erland yang sama sekali tidak terpikirkan tentang kejadian seperti ini akan menimpa sang kekasih dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Ia yang mengumpat dengan raut wajah memerah, saat ini menatap ke arah dokter yang menangani sang kekasih dan juga direktur rumah sakit turun tangan untuk menyelesaikan masalah ini.


"Apa kalian pun akan mendukung seorang penjahat yang hanya akan membuat traumatik seorang wanita yang menjadi korban makin lebih parah? Di mana hati nurani semua orang di sini?" Erland bahkan menggebrak meja untuk mengungkapkan amarah yang memuncak dan menyesakkan dadanya.


Antara marah, bimbang dan juga sekaligus khawatir jika sampai nanti sang kekasih berakhir depresi karena tertekan. Apalagi ia sudah bersusah payah untuk menghibur agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihan karena kejadian yang mengenaskan itu.


Bahkan saat asistennya masuk pun, juga tidak bisa membantu karena memang bukan berada di negaranya yang dengan mudah bisa diurus apapun olehnya. Hingga jawaban dari direktur Rumah Sakit benar-benar membuatnya kembali dipenuhi kemurkaan.


"Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang sudah dipikirkan oleh aparat medis serta hukum karena semuanya akan diurus oleh yang lebih tahu. Semua ini adalah sebuah jalan terbaik yang ditempuh sebagai pertanggungjawaban dari keluarga Pieterson."


Sang direktur rumah sakit yang secara langsung dihubungi oleh keluarga Pieterson yang tak lain adalah ayah dari pria di hadapannya untuk membantu mengurus semuanya agar dipermudah.


Bahkan diperintahkan untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi yang baik keluarga Pieterson, seperti pria yang tidak bisa diajak berdamai tersebut.


Ia tadi menyuruh salah satu pekerja untuk membuatkan surat pernyataan kerjasama antara pihak wali pasien dengan putra dari keluarga terpandang di London tersebut. Itu dilakukan agar tidak terjadi pertikaian yang lebih besar dan akhirnya membuat Citra rumah sakit terbaik itu buruk.


"Silakan Anda membaca dan menandatanganinya." Ia menurut orang yang saat ini membawa kertas putih berisi perjanjian tersebut ke atas meja agar dibaca oleh yang bersangkutan.


Sementara itu, Zack yang tadinya merasa sangat marah karena kepalanya dipukul oleh Erland, memang tidak sempat membalas secara fisik. Namun, kali ini ia hanya tersenyum hanya menyeringai karena merasa berhasil melumpuhkan lawan tanpa melakukan apapun.


Ia sudah mengetahui isi dari surat pernyataan sekaligus perjanjian yang ada di atas meja karena memang orang tuanya sudah memberitahu adanya semalam.


Jadi, ia langsung menandatanganinya tanpa pikir panjang dan mengarahkan kertas tersebut pada pria yang selalu menatapnya dengan sorot mata membunuh.


"Lebih baik bekerja sama karena jika tidak akan dipulangkan secara paksa ke negaramu. Kau boleh tetap tinggal di negara ini jika mengikuti peraturan yang ada di sini. Marcella akan dijaga oleh medis dan juga aparat kepolisian." Ia berbicara dengan raut wajah yang dipenuhi oleh rasa puas karena berhasil membuat pria di hadapannya tidak berkutik karenanya.


"Jadi, jangan memfitnah kami melakukan sesuatu yang buruk untuk membuatnya depresi karena aku pun tidak akan menampakkan wajahku di depannya. Aku tidak ingin membuatnya mengalami traumatik. Bukankah ini yang disebut cinta, Tuan Erland?" seru Zack yang saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ia menunggu detik demi detik keputusan dari keluarganya datang untuk memindahkan Marcella ke salah satu istana keluarganya. 'Beberapa menit lagi aku akan semakin puas karena melihatnya tidak bisa apa-apa untuk Marcella.'


'Marcella akan menyadari bahwa pria yang sangat dibanggakannya hanyalah sebutir debu di sini karena tidak bisa melakukan apapun untuknya. Seharusnya dia sadar dan mengerti jika aku jauh lebih baik dari Erland,' gumam Zack yang saat ini malah tertawa terbahak-bahak melihat respon dari pria yang masih tetap tidak mau bekerja sama dengannya.


Erland yang saat ini sangat marah karena merasa ketidakadilan dialami oleh Marcella ketika tidak mempunyai hak sama sekali untuk meninggalkan London. Ia seketika merobek kertas yang sudah ditandatangani oleh Zack.


"Kalian semua tidak bisa memaksa seseorang yang bahkan tidak ingin melakukannya. Pasien yang menjadi korban berhak untuk meninggalkan negara ini karena hanya akan terpuruk di sini. Aku akan membawa pengacara untuk mengurus semuanya!" Erland bangkit berdiri dan berniat untuk meninggalkan ruangan yang dianggap seperti neraka baginya.


Ia bahkan seperti merasa sesak karena kesulitan bernapas saat berhadapan dengan orang-orang yang dianggapnya tidak punya nurani. Namun, saat membuka pintu dan berjalan keluar, melihat polisi dan beberapa orang dengan badan besar datang dan menuju ke arah ruangan yang dihuni oleh sang kekasih.


Seolah bisa menangkap apa yang akan terjadi sebentar lagi, sehingga membuatnya berjalan cepat untuk mendahului orang-orang yang berjumlah lebih dari 5 itu. Ia saat ini mengkhawatirkan keadaan Marcella yang pastinya akan semakin terpuruk jika mengetahui apa yang akan terjadi.


"Tuan Erland!" Leo seketika mengejar atasannya karena merasa yakin jika perbuatan yang dilandasi amarah hanya akan sia-sia karena kalah telak dengan orang-orang yang mendukung keluarga pria pemerkosa itu.


Erland sama sekali tidak memperdulikan panggilan dari sang asisten karena ingin melihat keadaan sang kekasih. Apalagi orang-orang itu sudah masuk ke dalam dan membuatnya semakin mempercepat langkah kaki.


"Marcella pasti benar-benar merasa sangat syok karena rencana kami hancur berantakan gara-gara bajingan itu." Ia bahkan tidak mengetuk pintu dan langsung menganggur masuk dan melihat sang kekasih yang kini sudah duduk di atas ranjang perawatan dengan raut wajah memerah dan berteriak.


"Aku tidak mau pergi ke sana!" teriak Marcella yang tadinya merasa bingung dengan kedatangan para pria berbadan besar yang menunggunya sangat menakutkan.


Namun, seketika mengerti ketika baru saja membaca sebuah kertas yang diberikan padanya. Bahwa pihak kepolisian dan keluarga Pieterson bekerja sama untuk memindahkannya ke tempat yang bahkan tidak ia inginkan.


"Aku akan kembali ke negaraku dan tidak akan ikut kalian!" teriak Marcella yang seketika menatap ke arah Erland dan sangat lega melihatnya. "Sayang, cepat bicara pada mereka bahwa aku tidak ingin dipindahkan. Kita akan kembali ke Jakarta setelah aku pulih, kan?"


Erland yang merasa sangat iba sekaligus bersalah karena tidak bisa melakukan apapun saat raut wajah penuh pengharapan itu mempercayainya bisa membantu. Padahal kenyataannya ia tidak bisa menghentikan perbuatan orang-orang itu.


Namun, tetap berusaha untuk menghentikannya meskipun tahu jika semuanya akan sia-sia. "Kalian tidak bisa memaksakan sesuatu pada korban pelecehan seksual. Apa hukum di negara ini tidak mengedepankan hak asasi manusia?"


"Anda bisa membicarakan ini pada pengacara jika tidak terima dengan keputusan yang sudah diambil oleh kepolisian serta pihak keluarga Pieterson." Ia pun memberikan kode dengan mata untuk pria itu agar membaca sebuah surat yang berisi keputusan dari pusat.


"Semua ini hanya berlangsung selama dua minggu saja karena setelah hasil keluar bukan berarti negatif, kasihan akan dikembalikan dan bebas melakukan apapun, termasuk kembali ke negara asal," ucap salah satu pria berseragam hitam yang saat ini memberikan kode pada perawat untuk membantu memindahkan pasien.


"Lepaskan, berengsek!" seru Erland yang saat ini berusaha untuk menggerakkan tubuhnya agar dilepaskan, tapi tentu saja usahanya sia-sia karena tenaganya tidak sebanding dengan dua pria berbadan besar yang menguasainya.


Leo dan Kyara yang saat ini merasa bingung harus melakukan apa karena memang tidak bisa berkutik ketika jumlah orang-orang itu jauh lebih banyak dan tidak mungkin melarikan diri dari mereka.


Tentu saja saat ini hanya fokus pada Marcella yang terlihat terpukul karena tidak bisa melakukan apapun.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin kembali ke negaraku sekarang juga." Marcella benar-benar merasa takut jika nanti keluarga dari pria yang telah menghancurkan hidupnya akan membuatnya makin tersiksa.


Ia bahkan merasa hidupnya yang semula biasa saja dan tenang, kini seperti cerita di film-film yang ditonton. Mendapatkan pemaksaan dari orang-orang yang mempunyai kekuasaan dan membuatnya tidak bisa berkutik, sehingga harus mematuhi apapun yang diperintahkan.


Bahkan juga merasa iba pada sang kekasih yang kini berada dalam kuasa dua pria berseragam hitam tersebut. 'Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Saat aku baru berpikir ada rencana baik dari-Mu, tapi seketika Engkau hempaskan berkali-kali.'


"Saat aku baru saja merasa lega setelah Erland tetap mau menerima, meskipun sudah tidak suci lagi, tapi sekarang harus mendapatkan cobaan lagi seperti ini. Aku benar-benar takut jika perbuatan bajingan itu benar-benar membuatku hamil, harus berakhir di sini sampai melahirkan. Lebih baik Engkau mengambil nyawaku saja daripada hidup dalam kubangan penderitaan.'


Saat hanya bisa mengungkapkan perasaan yang membuncah hingga membuat dadanya terasa sesak hingga kesulitan bernapas dan juga bola matanya berkaca-kaca, ia disadarkan oleh kenyataan jika perawat sudah bergerak untuk memindahkannya.


"Lebih baik menurut sesuai dengan peraturan yang ada di negara ini karena semuanya sudah diatur oleh pihak yang berwenang dan tidak akan terjadi apapun pada Anda, Nona Marcella. Ada pihak kepolisian serta perawat yang selalu memastikan keadaan Anda baik-baik saja." Pria yang merupakan pimpinan dari rekannya, berbicara seperti itu untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk agar bisa dengan mudah bekerja sama.


Meskipun ia masih mendengar suara penolakan dari yang bersangkutan dan juga beberapa orang yang berusaha untuk menghentikan mereka.


"Jangan bawa temanku! Apa tidak bisa terus berada di rumah sakit ini? Bagaimana kami bisa tahu jika semuanya akan baik-baik saja? Apa kami bisa mengunjunginya? Bagaimana jika kalian malah menyakitinya?" Kyara berusaha untuk menghentikan dengan cara menahan brankar agar tidak dibawa keluar dari ruangan.


Leo pun juga membantu untuk menahannya karena hanya itu yang bisa dilakukannya dan tidak mungkin hanya diam saja seperti patung tidak berguna. Meskipun sebenarnya mengetahui jika usaha mereka akan sia-sia karena tidak mungkin bisa melawan orang-orang berkuasa di negara lain.


Bahkan tidak yakin atasannya akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan menyewa pengacara, tapi tidak mungkin mengatakannya karena hanya akan dibuat babak belur.


"Tolong perhatikan mental pasien yang mengalami kemalangan ini," ucap Leo yang saat ini hanya bisa mengatakan hal itu saja karena otaknya pun seakan tumpul melihat orang-orang berkuasa hendak menyingkirkan mereka dengan mudah.


"Kalian benar-benar bukan manusia karena tidak bisa melihat korban saat ini mengalami traumatik!" seru Erland yang berteriak sambil terus berusaha untuk melepaskan diri dan tentu saja usahanya sia-sia karena tenaganya tidak sebanding sama sekali.


Marcella yang merasa tubuhnya sangat lemas dan tidak lagi bisa berteriak seperti tadi, seolah merasa dunianya makin runtuh hari ini. Ia hanya bisa melihat semuanya tanpa melakukan apapun karena kondisinya pun juga masih sangat lemah.


Mungkin jika tidak, akan berusaha melarikan diri dari orang-orang yang seperti dikatakan oleh sang kekasih. Bahkan melihat tiga orang yang peduli padanya dan ingin menolongnya, tapi tidak bisa karena kondisinya tidak memungkinkan saat kalah kekuasaan.


'Apa yang akan terjadi pada nasibku setelah ini? Ya Allah, apa aku tidak boleh berburuk sangka pada-Mu? Aku tidak bisa melakukan apapun dan sekarang hanya pasrah atas semua garis takdir yang Engkau tentukan untukku,' gumam Marcella yang saat ini menghapus kasar boleh air mata yang menganak sungai itu wajahnya.


Ia sebenarnya juga tidak tega melihat sang kekasih serta dua orang yang menahan berangkat untuk membantunya. Namun, menyadari jika semuanya akan sia-sia dan akhirnya memilih pasrah.


"Hentikan! Jangan melakukan apapun. Mereka berjanji tidak akan terjadi sesuatu hal yang buruk padaku. Aku akan kembali dua minggu lagi setelah hasil tes keluar negatif." Saat Marcella baru saja menutup mulut untuk menghibur 3 orang yang mengkhawatirkannya tersebut, seketika beralih pada pria yang dari tadi mendominasi di ruangan.


"Kalian bisa melakukan video call, tapi tidak diperbolehkan datang karena keluarga Pieterson khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Seperti kalian membawakan obat untuk membuat pasien akhirnya negatif karena bagi keluarga mereka sangat penting untuk memastikan semuanya tidak ada sebuah konspirasi."


Pria yang saat ini mengeluarkan kartu nama miliknya dan menyerahkan pada tiga orang tersebut agar mau bekerja sama. "Hubungi saya karena nanti akan menjadi perantara kalian untuk tetap bisa berhubungan dengan pasien yang akan diambil alih oleh keluarga Pieterson."


Erland yang saat ini hanya bisa menatap kepergian orang-orang yang membawa sang kekasih, benar-benar diharuskan pasrah karena memang tidak ada yang bisa dilakukan untuk melawan orang-orang berkuasa di sana.


'Tuhan, jadi ini jawaban dari rasa takut yang kurasakan semenjak meninggalkan Floe? Bahwa aku akan mendapatkan karmanya karena menyakiti wanita yang merupakan istri sah serta calon dari ibu anakku yang tidak jadi dilahirkan ke dunia,' gumam Erland yang saat ini otaknya dipenuhi oleh berbagai macam pikiran buruk.


Entah mengapa ia merasa yakin jika Marcella akan hamil dan akhirnya tetap berada di London karena dijaga ketat oleh keluarga Pieterson.


'Aku yang dulu tanpa sengaja melakukannya dengan Floe saja bahkan berakhir hamil. Apalagi bajingan itu yang mengatakan melakukannya tidak hanya satu kali. Apakah yang akan terjadi pada hubungan kami? Jika Marcella hamil dan tinggal bersama dengan keluarga Pieterson, apakah aku harus menunggunya sampai melahirkan?'


To be continued...