
Bagaimana Tokyo, ceweknya cantik-cantik ya?
Ibu jari Renjani mengetuk ikon pesawat kertas untuk mengirim pesannya pada Kelana. Ia meletakkan ponsel di atas nakas lalu menyingkap selimutnya turun dari tempat tidur.
Renjani membuka gorden hingga kamar yang semula temaram berubah cerah berkat sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca jendela. Renjani melangkah keluar menuju balkon untuk menyapa tanaman-tanaman nya.
Sejak pulang dari Bogor Renjani melanjutkan hobinya bercocok tanam, ia mendapat banyak ilmu dari Edi soal menanam bunga.
Sesekali Renjani datang ke kantor tapi ia lebih banyak bekerja dari apartemen. Mulai dari memilih dan mengedit naskah hingga melakukan rapat secara daring.
Renjani menyemprot bunga Gardenia, Kuma-Kuma, Lily dan Krisan yang berada di salah satu sisi balkon sedangkan di sisi lainnya Renjani terdapat tanaman hias yang tidak berbunga seperti Monstera, Kuping Gajah, Philodendron dan Calathea.
Jika orang lain mengajak bicara hewan peliharaan mereka maka Renjani biasanya mengobrol dengan tanaman-tanaman nya.
Dentingan ponsel menghentikan aktivitas Renjani, ia reflek meletakkan semprotan air dan melompat masuk kamar. Ia tetap lincah meski dengan perut yang semakin membuncit.
Nggak tahu kenapa, kemanapun aku melihat, cuma dia yang paling cantik.
Renjani tersenyum melihat pesan Kelana bersama foto dirinya yang diambil diam-diam. Kelana paling hobi memotret tanpa sepengetahuan Renjani. Di foto itu Renjani tampak pucat, mungkin foto tersebut diambil saat Renjani memasuki awal-awal kehamilan dan tak ada dari mereka yang menyadarinya. Renjani berpikir ia hanya masuk angin begitupun dengan Kelana.
Setelahnya layar berganti menampilkan nama Kelana. Tanpa menunggu lama Renjani langsung menjawab telepon tersebut. Wajah Kelana dengan latar belakang panggung langsung muncul di layar ponsel Renjani.
"Selamat pagi my sweetheart, tidur kamu nyenyak kan?" Kelana mengulas senyum, ia tampak kelelahan karena harus berlatih untuk konser malam ini.
Jepang menjadi negara ke enam dari rangkaian tur dunia Kelana. Sebelumnya Kelana berhasil memukau penonton Atlanta. Mimpinya untuk berada di panggung kompetitif musik di Atlanta berubah menjadi konser yang meriah. Kelana mendapatkan sesuatu lebih dari yang ia harapkan.
"Lumayan walaupun beberapa kali harus ke toilet." Renjani tak akan pernah bisa tidur nyenyak sejak memasuki trimester ketiga.
"Jesi masih tidur sama kamu?"
"Iya tapi dia ada sift malam jadi jam segini masih di rumah sakit, bentar lagi kayaknya pulang, kamu udah sarapan?"
"Udah tadi sama tim juga, kalau butuh sesuatu bilang aja sama Yana, dia selalu siap bantuin kamu."
"Iya suamiku yang bawel." Renjani mengerucutkan mulutnya, Kelana jadi sangat bawel setelah mereka berjauhan seperti ini. "Aku mau bikin sarapan." Ia beranjak dari tempat tidur tanpa memutus sambungan. Mereka bisa membiarkan panggilan video hingga berjam-jam sembari melakukan aktivitas masing-masing. Itu adalah hal yang tidak pernah Kelana lakukan sebelumnya tapi berjauhan dengan Renjani membuatnya selalu menghawatirkan keadaan sang istri. Kelana ingin memastikan Renjani baik-baik saja dengan cara melakukan panggilan video seperti sekarang.
"Bikin apa?"
"Bikin smoothie aja, kemarin Yana beli banyak buah." Renjani menyandarkan ponselnya pada vas bunga di atas kitchen island agar Kelana tetap dapat melihatnya.
Renjani mengambil satu buah naga berukuran sedang dan pisang untuk diletakkan di atas smoothie nya nanti.
"Sayang jangan lupa makan sayur juga biar BAB kamu lancar."
"Pisang juga bisa bikin BAB lancar, nggak cuma sayur aja." Renjani heran karena Kelana masih ingat jika ia sempat mengeluh susah BAB padahal itu sudah sekitar seminggu yang lalu. Meskipun sibuk Kelana masih memperhatikan hal sekecil itu. "Hari ini sebenarnya aku pengen bikin cheesecake tapi lagi nggak ada keju di kulkas."
"Kenapa nggak beli aja dari pada kamu capek bikin."
"Pengen bikin sendiri, nanti deh aku ke supermarket beli keju sama Jesi sekalian beli perlengkapan bayi." Sebenarnya Renjani sudah memiliki beberapa pakaian bayi yang ia beli saat berada di Marseille. Namun Renjani ingin membeli barang lainnya, ia juga sudah mencatatnya setelah menonton banyak video refrensi barang bayi yang harus dibeli.
"Beli online aja Re lebih praktis."
"Nggak apa-apa, lagian udah lama juga nggak pergi bareng Jesi mumpung siang dia nggak di rumah sakit."
Mula-mula Renjani membelah buah naga dan mengambil dagingnya ditemani oleh alunan violin yang mendayu-dayu karena Kelana mulai berlatih untuk tampil nanti malam.
Suara violin yang Kelana mainkan membuat mood Renjani baik untuk mengawali hari ditemani smoothie bowl buah naga dan potongan pisang di atasnya. Tidak lupa segelas susu hangat.
Bel apartemen berdenting berkali-kali mengusik sarapan Renjani. Bukannya buru-buru membuka, Renjani sengaja memperlambat jalannya karena ia tahu siapa yang menekan beli berkali-kali seperti itu.
Wajah Jesi muncul di layar monitor samping pintu, ia sengaja memasang tampang imut karena tahu Renjani akan melihatnya.
"Taraa gue bawa bubur ayam." Jesi menunjukkan bungkusan berisi dua porsi bubur ayam yang ia beli saat perjalanan dari rumah sakit kemari.
"Gue lagi makan smoothie." Renjani menutup pintu mengekori Jesi menuju dapur.
"Wah sarapan orang kaya emang beda ya, elo dulu nggak pernah makan smoothie-smoothie dan semacamnya."
"Kebetulan aja di kulkas lagi banyak buah, lagian bubur ayam itu makanan semua kalangan."
"Jadi buat gue semua ya ini." Jesi meletakkan bubur di atas meja, aroma gurih seketika menyeruak ketika ia membuka kotaknya.
"Emang bisa makan dua porsi?"
"Eh itu Kelana ya?" Jesi mengabaikan pertanyaan Renjani, tentu saja ia tak bisa menghabiskan dua porsi sekaligus. Berbeda dengan Renjani yang suka makan. Jesi melihat punggung Kelana yang lebar di layar ponsel Renjani.
"Iya."
"Dari belakang aja ganteng, sampai sekarang gue heran kenapa Kelana suka sama lo."
"Gue pelet dia, kapan lagi punya suami ganteng, kaya, terkenal." Renjani meneguk susu dan meletakkan gelasnya yang sudah kosong dengan keras.
"Ih muncrat, jorok banget sih." Renjani sedikit mundur agar tidak terkena muncratan mulut Jesi.
Jesi tertawa melihat ekspresi jijik Renjani padahal ini adalah hal biasanya baginya. Dulu Renjani juga tak jauh berbeda dengan Jesi.
Renjani beranjak dari kursi dengan susah payah sembari membawa mangkok dan gelas kosong untuk segera dicuci.
"Punggung lo sakit ya?" Jesi memperhatikan Renjani sering mengusap-usap punggungnya.
"Banget." Kadang Renjani menangis sendirian di kamar mandi merasakan betapa ia kesusahan duduk, berdiri atau tidur. Semuanya terasa tidak nyaman. Lalu Renjani berpikir mungkin itu alasan Lasti membencinya, sudah dibuat menderita oleh anak ditambah hubungan rumah tangga yang tidak harmonis. Namun Renjani tak akan seperti itu, ia bahkan tidak sabar bertemu putri kecilnya.
"Jadi takut nikah."
"Nikah nggak harus hamil juga kali Jes tapi kalaupun nggak pengen nikah ya nggak usah nikah."
"Menurut lo gitu?"
"Iya, nikah itu suatu proses bukan tujuan kehidupan dan hak masing-masing pribadi."
"Wah, lo udah dewasa sekarang beda banget sama Rere satu tahun yang lalu." Jesi menatap Renjani kagum sekaligus bangga. "Gue jadi penasaran apa aja yang udah lo dan Kelana lalui sampai lo jadi gini."
"Gue pikir dari pernikahan ini gue bakal dapat perusahaan penerbit aja tapi ternyata ada banyak hal berharga lainnya, proses kedewasaan, cinta, sakit, menahan ego diri, tangisan, dicemooh, banyak deh."
Bel apartemen kembali berdenting, Jesi bangkit terlebih dahulu untuk membuka pintu karena ia tidak tega melihat Renjani kesusahan berdiri.
"Pagi Mbak Rere."
Renjani memutar kepala melihat kedatangan Yana. Gadis mungil itu membawa kantong plastik yang tampak berat sambil memeluk tas laptop di dadanya.
"Kamu bawa apa?" Tanya Renjani.
"Mbak katanya mau bikin cheesecake jadi aku bawain bahan-bahannya." Yana mengeluarkan berbagai bahan kue dari kantong plastik.
Renjani melongo, pasti Kelana yang meminta Yana membeli semua itu padahal ia sudah bilang akan membelinya sendiri nanti.
"Kamu udah sarapan?"
"Ntar sarapan di jalan, aku buru-buru Mbak." Yana tersenyum lebar seraya melambaikan tangan pada Renjani.
"Makasih ya, hati-hati di jalan." Renjani melihat kepergian Yana. "Dasar Kelana." Gerutunya.
******
Satu per satu daftar barang yang Renjani catat sudah berada di dalam troli. Mulai dari pakaian, selimut, kain bedong, peralatan mandi hingga alat bantu menyusui. Beruntung ada Jesi yang membantu Renjani memilih barang-barang untuk bayinya. Walaupun sama-sama tidak berpengalaman soal itu tapi Jesi memiliki selera yang sama dengan Renjani. Apalagi calon anak Renjani berjenis kelamin perempuan sehingga Jesi lebih antusias untuk memilih aksesoris seperti topi, pita dan bandana yang menggemaskan.
Untuk urusan kamar bayi, Kelana telah meminta jasa dekor untuk menata kamar calon anak mereka sesuai keinginan mereka.
Mempersiapkan kelahiran bayi ternyata sangat menyenangkan, Renjani makin tidak sabar menanti kelahiran anaknya. Meskipun ada rasa takut yang kerap menghantuinya karena takut gagal melahirkan buah hati mereka.
Renjani mencuci semua pakaian yang baru ia beli agar siap dipakai setelah bayinya lahir nanti. Sembari menunggu kering, ia membuat cheesecake sesuai rencananya pagi tadi. Kehamilan ini membuat Renjani lebih rajin. Selain gemar bercocok tanam, ia juga suka membuat kue.
"Gue bagian makan aja ya?" Jesi hanya menonton Renjani yang sedang mengaduk adonan di dalam wadah lalu memasukkannya ke loyang.
"Terserah lo deh." Renjani juga khawatir kue nya akan gagal jika Jesi membantu.
"Kelana telepon lagi tuh." Jesi melirik ponsel Renjani yang menampilkan nama Kelana beserta fotonya.
"Aku udah siap." Kelana yang sudah berganti pakaian dengan setelan jas tampak menawan di layar.
"Ganteng banget." Renjani tersenyum lebar, "aku ragu penonton yang datang bener-bener mau nikmatin musik, jangan-jangan mereka mau lihat muka ganteng kamu."
"Itulah keuntungan punya wajah tampan." Kelana tersenyum percaya diri. "Aku akan menyelesaikan dua konser di Shanghai dan Bali dalam waktu satu Minggu lalu pulang, aku kangen banget sama kamu."
"Aku juga."
Jesi pura-pura memasang ekspresi mau muntah saat mendengar itu.
"Bilang aja iri kan lo." Cibir Renjani setelah memutuskan sambungan telepon.
"Iri lah Re, siapa yang nggak iri sama lo dan Kelana, nama kalian aja selalu ada di akun gosip."
"Akun gosip yang mana?" Renjani lumayan memperhatikan akun gosip di Instagram tapi akhir-akhir sudah jarang melihatnya lagi karena sibuk.
"Ya banyak, katanya kalian tuh couple of the year 2023, pasti lo nggak tahu yang nge-vote elo dan Kelana ada ribuan orang."
"Sok tahu lo." Renjani memasukkan adonan ke dalam oven lalu mengatur suhunya. Ia tinggal menunggu kue itu matang.
"Yah nggak percaya."
Para penggemar itu mudah berubah, sebentar suka lalu jika ada sedikit masalah akan menghujat habis-habisan. Kini Renjani akan berdiri lebih kuat di sisi Kelana apapun yang terjadi.