
"Kelana!"
Sudut bibir Kelana terangkat melengkung membentuk senyum lebar melihat Renjani berlari ke arahnya. Renjani tampak cantik dengan balutan dress putih selutut beraksen bunga di beberapa bagian. Rambut Renjani yang panjang terurai melambai-lambai seiring langkah kakinya.
Renjani seperti magnet yang membuat Kelana enggan mengalihkan pandangan darinya. Bahkan tanpa terasa Kelana melepaskan koper yang dari tadi ia tarik.
Jarak mereka semakin dekat, lima meter, dua meter, satu meter lalu hap! Kelana merengkuh tubuh sang istri lalu mendekapnya sangat erat. Kelana sangat merindukan Renjani setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu.
Seolah lupa tengah berada di tempat umum mereka saling berpelukan erat, sesekali Kelana mendaratkan ciuman di puncak kepala Renjani.
"Aku juga merindukannya." Kelana merendahkan tubuhnya mencium perut Renjani. Setelah satu bulan perut Renjani mengembang dengan cepat.
Saat kilatan cahaya blitz menerpa Kelana dan Renjani, mereka baru sadar bahwa ada banyak wartawan yang berada disana. Mereka sudah mendapat puluhan gambar Kelana dan Renjani dari tadi, setelah ini pasti foto mereka akan menjadi trending topik di internet.
Belasan bodyguard melindungi Kelana dan Renjani menggiring mereka menuju mobil. Kelana tak bisa menjawab puluhan pertanyaan wartawan, ia hanya bisa melambaikan tangan ke arah mereka sembari menggenggam tangan Renjani.
"Harusnya kamu tunggu aku di apartemen."
Renjani terengah-engah karena harus berjalan cepat melewati kerumunan wartawan untuk masuk mobil. Napasnya terasa sesak setelah perutnya semakin membesar.
"Begitu dengar Mas Lana berangkat dari Ngurah Rai, Mbak Rere langsung pilih-pilih baju buat nyambut Mas." Yana angkat bicara, Renjani sangat antusias menyambut kedatangan Kelana.
"Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi." Ujar Renjani setelah berhasil mengatur napasnya.
"Nana besar dengan cepat." Kelana mengusap perut Renjani untuk kesekian kalinya.
"Dokter bilang beratnya udah tiga kilo." Renjani mengacungkan tiga jarinya, terakhir melakukan pemeriksaan rutin bersama Jesi dan Yana beberapa waktu lalu dokter mengatakan janin Renjani tumbuh dengan baik.
"Jadi jangan lari-lari lagi seperti tadi." Kelana memperingatkan, meskipun ia juga tidak sabar memeluk Renjani tapi ia ngeri melihat Renjani berlari di lantai yang licin. "Coba aku lihat." Kelana menangkup pipi Renjani dan menatapnya lekat.
"Kenapa?" Renjani melihat Kelana mengerutkan kening, "aku jelek ya?" Ia menyadari banyak perubahan yang terjadi pada tubuhnya setelah hamil. Kulit Renjani terasa kering terutama wajahnya hingga mengelupas di beberapa bagian. Meskipun sudah rajin menggunakan pelembap tapi tekstur wajahnya tetap kasar dan membuatnya sulit menggunakan riasan.
Kelana menggeleng, "kenapa istriku cantik sekali?"
"Jangan bohong." Mata Renjani menyipit mencari kebohongan di wajah Kelana.
"Tanya Yana dan Pak Dayat kalau nggak percaya, Pak, Renjani semakin cantik kan?"
Dayat tersenyum melihat Renjani dan Kelana dari spion atas.
"Benar Mas." Jawab Dayat setelahnya.
"Yana?"
"Saya setiap hari memuji Mbak Rere jadi nggak usah ditanya lagi."
Renjani tetap tidak percaya meskipun sudah mendengar pujian itu dari Dayat dan Yana. Renjani justru merasakan sebaliknya.
"Apa cermin di apartemen buram? kalau gitu aku akan beli yang baru."
"Maksud kamu?"
"Maksudku kamu cantik." Kelana tak mengerti kenapa Renjani tidak percaya diri dengan wajah cantiknya. Apakah ibu hamil memang seperti itu? Kelana sendiri tidak tahu. "Lihat, galeri di ponsel ku penuh sama foto mu." Kelana menyodorkan ponselnya pada Renjani, ia menunjukkan ponselnya yang penuh dengan foto Renjani.
Mereka tidak langsung menuju apartemen melainkan pergi ke studio foto, Kelana sudah mengatur photoshoot dengan Renjani. Kelana ingin mengabadikan momen kehamilan Renjani dengan memfotonya sebanyak mungkin.
"Kamu pasti capek tapi bukannya istirahat malah kesini." Renjani menggandeng tangan Kelana setelah turun dari mobil.
"Aku takut kita nggak ada kesempatan untuk photoshoot karena ini sudah mendekati HPL kamu."
"Aku juga nggak sabar kasih lihat kamar Nana."
"Kamu sengaja nggak kirim fotonya biar aku penasaran, hm?" Kelana menarik pinggang Renjani agar lebih dekat dengannya.
Renjani tertawa jahil, ia memang sengaja tidak mengirim foto kamar calon anak mereka karena ingin memberi kejutan pada Kelana.
Saat menyadari Yana tertinggal jauh di belakang, Kelana mengambil kesempatan untuk mengecup bibir Renjani.
"Ih dilihat orang nanti!" Renjani memekik tertahan memukul lengan Kelana, ia bahkan belum bersiap menerima ciuman Kelana.
Kelana hanya terkekeh melihat wajah Renjani memerah.
"Aku nggak akan biarin kamu tidur malam ini."
"Aku memang nggak berniat tidur." Renjani tak mau kalah, ia bahkan sudah mengganti sprei, bed cover dan gorden dengan yang baru agar suasana kamar mereka terasa berbeda. Renjani merapikan semua barang dan meletakkan bunga di setiap meja demi menyambut Kelana. Mungkin itu terdengar berlebihan tapi Renjani ingin melakukan yang terbaik untuk Kelana karena sudah bekerja keras selama dua bulan ini.
Kelana tersenyum puas mendengar jawaban Renjani. Bagi Kelana tak ada yang lebih menyiksa dari pada jauh dari Renjani. Namun pada saat yang bersamaan Kelana juga harus meraih impiannya yang sudah ia susun sejak lama. Setelah ini Kelana akan selalu menempel pada Renjani seperti perangko. Ia tak mau jauh-jauh lagi dari Renjani.
Mereka berganti busana untuk melakukan photoshoot. Tak hanya satu kali tapi mereka berganti pakaian sebanyak 5 kali dengan tema yang berbeda. Biasanya untuk hal seperti ini perempuan yang paling bersemangat tapi sekarang justru Kelana yang menentukan gaya pakaian dan fotonya. Kelana sudah membicarakan hal itu dengan fotografer sejak satu bulan lalu. Alhasil semua prosesnya berjalan dengan lancar, Renjani hanya bisa menerima semuanya yang sudah Kelana atur. Renjani paham betul jika Kelana suka merencanakan sesuatu sedetail mungkin.
*******
"Apartemen kita wangi sekali." Itu kalimat pertama yang Kelana ucapkan saat menginjakkan kaki di lantai apartemennya. Ia amat merindukan suasana apartemen dimana Renjani dan dirinya biasa menghabiskan waktu berdua disini.
Kelana tahu sumber aroma lavender yang langsung menyergap cuping hidungnya, pengharum ruangan otomatis yang berada di sudut ruangan tampak menyemprotkan cairan ketika ada sesuatu bergerak.
"Kamu suka?" Tanya Renjani.
"Sepertinya ini keadaan apartemen paling rapi sejak kita menikah." Kelana mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, "ada bunga juga?"
"Iya, katanya anyelir bisa menambah suasana romantis."
"Bahkan tanpa bunga itu, aku bisa menciptakan suasana romantis buat kamu, sayang."
"Ah!" Pekik Renjani ketika Kelana mengangkatnya, "kamu masih kuat?" Ia membelalak tak percaya Kelana masih bisa menggendongnya padahal berat badannya naik 12 kilogram sejak hamil.
"Kamu meremehkan ku?" Kelana mendorong pintu kamar dengan sikunya lalu menjatuhkan Renjani ke atas tempat tidur. Biasanya Kelana akan menghempaskan tubuh Renjani dengan keras tapi kali ini ia harus ingat bahwa Renjani sedang hamil.
"Kamu bakal kaget kalau tahu berat badanku sekarang."
Kelana menggeleng tidak setuju, tak peduli berapapun berat badan Renjani ia tetap menyukainya, tidak, Kelana bahkan tergila-gila pada Renjani.
"Enam puluh delapan."
"Nggak masalah."
Kelana menghempaskan tubuhnya ke samping Renjani, "pertama, kamu tetap cantik nggak peduli berapapun berat badan kamu, kedua kamu akan menyusui Renjana jadi butuh banyak nutrisi dan nggak mungkin kamu diet."
"Gimana kalau banyak yang gosipin aku, Renjani istri Kelana tidak bisa menjaga bentuk tubuhnya setelah melahirkan, Kelana mungkin akan segera berpaling dari Renjani." Renjani menirukan gaya pembaca berita saat mengatakan itu.
"Re, kamu tahu aku nggak mungkin berpaling dari kamu." Kelana menyugar rambut Renjani yang menghalangi pandangannya.
"Aku selalu merasa kurang baik buat kamu."
"Kamu sempurna." Kelana memiringkan tubuhnya menghadap Renjani. "Apalagi setelah ini kamu akan melahirkan anak ku, bagaimana mungkin aku berpaling dari kamu Re." Kelana menyentuh bibir Renjani dengan telunjuk memintanya untuk berhenti bicara macam-macam.
Renjani tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika Kelana membungkam mulutnya. Bahkan untuk bernapas pun Renjani kesusahan.
"Maafkan aku." Kelana melepaskan tautannya setelah sadar ia membuat napas Renjani tersengal. Kelana sulit mengendalikan diri setelah sekian lama tidak bertemu Renjani. Bibir ranum Renjani selalu membuat Kelana tergoda.
"It's okay." Renjani menggeleng pelan, ia tak mau membuat Kelana kecewa. Lagi pula sejak memasuki trimester ketiga Renjani merasa sering sesak napas. Dokter mengatakan itu karena bertambahnya ukuran rahim hingga menekan diafragma.
"Aku akan melakukannya perlahan."
Renjani menggigit bibirnya menahan tawa, ia tak pernah melihat Kelana seperti ini. Kelana seperti merasa bersalah tapi juga menginginkan sesuatu, itu membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata Renjani.
Kelana meraih remote mematikan lampu ruangan, ia sengaja tidak menutup gorden sehingga suasana kamar mereka jadi temaram berkat sinar bulan yang bulat sempurna malam itu.
"Tunggu dulu." Renjani menahan kepala Kelana.
"Apa?" Suara Kelana terdengar serak.
"Tiba-tiba pengen es krim."
Kelana mengatup bibir antara ingin marah tapi tidak bisa, bagaimana mungkin ia marah saat melihat wajah polos Renjani.
"Ini sudah malam." Kelana mencoba sabar.
Renjani menekuk bibir, memangnya kenapa jika ia ingin makan es krim malam hari. Apakah ada larangan untuk itu? tidak ada.
Renjani membalikkan badan memunggungi Kelana dan memilih memeluk guling.
"Re, are you okay?" Kelana menyentuh punggung Renjani, ia berubah panik mendengar Renjani membersit hidung. "Kamu nangis?" Kelana menarik Renjani hingga menghadap ke arahnya. Wajah Renjani sudah basah oleh air mata yang membuat Kelana semakin panik. Kelana tak menyangka jika ucapannya barusan akan membuat Renjani menangis.
"Hei, kenapa nangis?" Kelana bertanya dengan suara lembut, ia berpikir keras untuk mengembalikan mood Renjani. Bayangan malam indah di kepala Kelana tak akan bisa terwujud jika Renjani seperti ini.
"Aku cuma pengen es krim." Rengek Renjani.
"Oke-oke, aku ambilin di kulkas." Kelana segera turun dari tempat tidur.
Kelana membuka kulkas tapi ia tidak menemukan satu pun es krim disana. Biasanya Yana mengisi kulkas mereka dengan es krim dan camilan kesukaan Renjani tapi malam ini, tidak ada satu pun yang tersisa. Itu artinya Kelana harus keluar untuk membeli es krim.
Kelana tidak punya pilihan selain turun ke bawah untuk membeli es krim di minimarket yang terletak di seberang apartemen.
"Apa yang biasa Rere makan?" Kelana bingung memilih rasa es krim kesukaan Renjani, saat seperti ini ia bahkan tidak ingat es krim apa yang biasa Renjani beli.
Akhirnya Renjani membeli 10 bungkus es krim dengan rasa berbeda dan segera menuju kasir untuk membayarnya. Kelana berbisik pada dirinya sendiri bahwa ia dan Renjani memiliki waktu lama malam ini. Namun entah kenapa Kelana tidak sabar untuk kembali ke apartemen, melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.
"Kelana ya?" Kasir wanita itu membelalak melihat Kelana, ia sudah lama bekerja disini tapi baru kali ini bertemu Kelana secara langsung. Padahal apartemen Kelana bersebrangan dengan minimarket tersebut.
Kelana mengulas senyum tipis, ia lupa membawa masker untuk menutupi wajahnya.
"Aku baru tahu kalau Kelana suka makan es krim." Kasir tersebut mengulumm senyum saat memproses pembayaran belanjaan Kelana.
"Ini untuk istri saya." Sahut Kelana.
"Dua ratus tiga ribu, ada kantong belanjanya?"
Kelana menyodorkan tiga lembar seratus ribuan, "kebetulan saya tidak membawa kantong belanja."
"Sayang sekali hari ini kantong belanja kami juga lagi kosong."
Kelana tersenyum getir, ia harus membawa es krim tersebut dengan tangannya. Sekarang Kelana menyesal membeli es krim sebanyak itu.
"Saya benar-benar ingin membantu membawanya." Kasir itu melihat ke kanan dan kiri berharap ada kantong belanja yang tersisa.
"Saya bisa membawanya." Kelana mengambil 10 bungkus es krim itu dengan tangannya yang besar.
Kelana rela melakukan apapun demi memenuhi keinginan Renjani meskipun tangannya harus membeku.
"Rere." Panggil Kelana setelah sampai di apartemen, ia menjatuhkan satu es krim saat hendak masuk lift tadi. Alhasil tersisa 9 es krim yang berhasil Kelana bawa dengan selamat.
Kelana melongokkan kepala di pintu kamar, "Re, kamu mau es krim rasa apa?"
"Matcha."
Kelana berpikir, sepertinya ia tidak membeli es krim rasa matcha.
"Kalau vanilla mau nggak?"
"Ya udah."
Kelana masuk ke kamar membawa es krim vanilla untuk Renjani.
"Makasih ya." Renjani tersenyum lebar melihat es krim di hadapannya.
"Sini aku bukain bungkusnya." Kelana membuka bungkus es krim tersebut lalu kembali memberikannya pada Renjani. Senyum Renjani menular pada Kelana, meski tangan Kelana terasa kebas tapi asal bisa melihat senyum cerah Renjani, ia rela melakukannya lagi.
"Mau nggak?" Renjani menyodorkan es krim pada Kelana.
Kelana menggigit sedikit es krim di tangan Renjani.
"Enak kan?"
"Enak." Kelana manggut-manggut. "Ngomong-ngomong kamu ganti baju ya?" Ia baru sadar jika Renjani sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur tipis sepaha.
Renjani tidak menjawab, ia sibuk menghabiskan es krimnya mengabaikan tatapan Kelana yang sudah seperti pemburu mengintai mangsanya. Tatapan itu menyiratkan bahwa Kelana benar-benar tak akan membiarkan Renjani tidur malam ini. Tentu itu setimpal dengan usaha Kelana mendapatkan es krim yang Renjani inginkan.