
"Saya biasa memanggilnya Mas Bagus." Akhirnya Floe mengungkapkan apa yang tadi terbersit di pikirannya ketika mengingat tentang semua hal yang berhubungan dengan Jawa dan disukai wanita paruh baya di sebelah kirinya tersebut.
Lira Andira yang seketika mengerutkan kening karena berpikir bahwa itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan nama putranya, merasa heran. Ia bahkan menoleh sekilas ke arah putranya yang hanya melirik dari spion tanpa berkomentar.
"Mas Bagus? Aku pikir kamu akan memanggilnya se-lebay Kanjeng Ratu Widodariku seperti putraku. Memangnya apa alasanmu memanggilnya mas Bagus?" Bahkan tanpa bertanya pada putranya, ia sudah mengerti arti dari panggilan sayang yang bermakna sangat luar biasa tersebut.
"Kalau Dhewa kan tadi sudah menjelaskan jika panggilan Kanjeng Ratu Widodariku itu karena menganggapmu seperti bidadari yang turun dari langit dan sangat dihormatinya seperti seorang Ratu." Saat ini masih tidak paham dengan alasan apa yang membuat kekasih dari putranya tersebut memanggil seperti itu dan sangat penasaran.
Sementara itu, Floe yang mengingat tentang masa lalu Dhewa, kini memilih untuk menjawab pertanyaan yang tadi sempat membuatnya merasa seperti diinterogasi. "Mengenai pertanyaan Tante tadi, orang tua saya hanya bekerja biasa di sebuah perusahaan kecil."
"Saya ingin menjadi anak yang tidak terus-menerus menyusahkan orang tua karena biaya kuliah makin mahal. Jadi, saya berencana untuk bekerja agar bisa membantu meringankan beban orang tua. Anda tenang saja karena saya punya harga diri yang sangat tinggi dan tidak akan pernah memanfaatkan mas Bagus untuk memenuhi kebutuhan atau gaya hidup saya yang sederhana ini."
Kemudian sengaja menunjukkan pakaian yang dikenakan bukanlah gaun mahal seperti yang dibeli di butik langganan keluarga. Ia yakin jika memakai pakaiannya, wanita itu akan menyadari jika harganya cukup mahal. Apalagi selama ini sang ibu suka membelikannya pakaian pakaian mahal yang membuat almari di ruangan ganti penuh.
"Anda mungkin tidak tahu arti dari panggilan saya. Mas Bagus itu sebenarnya sangat mewakili putra Anda yang berarti sangat tampan. Mas itu adalah panggilan sopan menurut Jawa dan Bagus berati ganteng. Pertama bertemu dengan putra Anda, saya langsung terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama." Ia sengaja menjiplak perkataan dari Dhewa karena tidak tahu harus beralasan apa atas perkataannya yang dianggap sangat konyol.
"Itulah mengapa saya memanggilnya Mas Bagus karena memang faktanya putra Anda sangat ganteng." Floe sebenarnya sangat mual mengatakan hal itu karena tidak sesuai dengan hatinya yang saat ini hanya biasa saja saat melihat pria di balik kemudi yang dari tadi hanya diam saja.
'Kenapa dia tidak mendukung apa yang kusampaikan agar aku tidak kebingungan seperti ini. Harusnya dia bersandiwara sangat excited agar apa yang kukatakan tidak garing di telinga mamanya. Apalagi jika sampai ditertawakan seperti panggilan Kanjeng Ratu Widodariku yang memang sangat konyol dan lebay,' gumam Floe yang saat ini bersiap untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.
Padahal sebenarnya sangat mengantuk dan ingin segera beristirahat di atas ranjang king size miliknya. Ia kita kan tidak tahu nanti akan pulang jam berapa karena sekarang melihat wanita paruh baya tersebut seperti tidak menyerah untuk mengintrogasinya dan membuatnya benar-benar sangat bosan dengan situasi yang dialami saat ini.
"Oh ... jadi seperti itu ya arti mas bagus untukmu. Menurutmu, putraku sangat tampan, sehingga kamu memanggilnya mas bagus. Tapi itu memang benar dan masuk akal karena memang putraku adalah pria paling ganteng setelah papanya." Kemudian ia melihat putranya dari spion dan tersenyum menyeringai sambil menunjuk ke arah depan.
"Lihatlah, dia senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Pasti saat ini kepalanya berubah besar karena merasa paling ganteng sedunia." Geleng-geleng kepala saat melihat putranya sangat senang ketika mendengar panggilan sayang yang berarti pujian.
"Mama ini kayak nggak pernah muda saja. Ya jelas lah aku sangat senang. Bahkan sangat berbunga-bunga hatiku saat dipanggil Mas Bagus sama Kanjeng Ratu Widodariku. Itu berarti menegaskan jika putra Mama adalah pria paling ganteng di hati calon menantu. Bukankah itu perlu disyukuri?" Dhewa berbicara sambil mengurangi laju kendaraan begitu melihat ada apotek.
Kemudian menepikan kendaraan setelah berada di depannya. "Aku beli obat dulu, Ma." Dhewa melepas sabuk pengaman nanti kenakan dan sebelum membuka pintu mobil untuk beranjak keluar, menoleh ke arah Floe. "Kanjeng Ratu Widodariku mau nitip apa?"
"Minuman saja kalau ada. Aku haus." Ia mengusap tenggorokannya untuk menunjukkan bahwa saat ini ingin segera membasahinya karena sangat kering.
Sebenarnya ingin meminta kopi agar bisa mengganjal matanya yang sangat mengantuk. Namun, tidak berani mengatakannya karena khawatir dianggap tidak sopan saat mengantuk ketika berada di sebelah wanita paruh baya itu. Bahkan ia punya feeling tidak baik saat ini.
Dhewa yang kini mengerti, menganggukkan kepala dan keluar dari mobil. "Baiklah. Aku beli minuman nanti."
Saat keheningan kini tercipta di dalam mobil yang hanya ada dua wanita beda generasi tersebut, seolah menjelaskan ada sesuatu hal yang sama-sama dipikirkan.
Floe sama sekali tidak berani membuka suara karena khawatir salah bicara. Ia hanya bisa beberapa kali menelan saliva sambil menormalkan perasaannya yang baru kali ini merasa tidak bisa melakukan apa-apa sesuka hati.
'Rasanya sangat aneh bersama dengan ibu ratu ini dengan keheningan seperti ini. Kira-kira apa yang saat ini tengah dipikirkannya? Seandainya aku bisa membaca pikirannya, pasti tidak akan merasa seperti ini,' gumam Floe yang saat ini hanya mengikuti apa yang akan dilakukan wanita paruh baya tersebut padanya. Hingga beberapa detik kemudian suaranya memenuhi mobil mewah tersebut.
"Jika kamu hanya ingin bermain-main dengan putraku, lebih baik mundur sekarang karena aku tidak akan pernah melepaskanmu jika sampai menyakiti perasaannya yang tulus. Tapi jika kamu serius pada putraku, lebih baik tunjukkan buktinya dengan segera menikahinya." Lira Andira yang sebenarnya berniat untuk menyuruh wanita yang disukai putranya itu mundur, agar menikah dengan Camelia.
Namun, tidak jadi melakukannya begitu melihat raut wajah putranya yang sangat jauh berbeda dan dipenuhi oleh aura kebahagiaan. Tentu saja sebagai seorang ibu yang hamil dan juga melahirkan serta merawat putranya, bisa mengenal dengan baik seperti apa dan bagaimana saat jatuh cinta pada seorang wanita.
Jadi, tidak ingin menyakiti hati putranya yang kembali excited mencintai seorang wanita setelah terluka saat menjadi pria tulus dan berakhir dikhianati. Ia kini menatap intens wanita yang tidak langsung menjawab perkataannya dan membuatnya mengerutkan kening.
"Bagaimana? Apa kamu tidak bersedia menikahi putraku? Melihat ekspresimu itu, Sepertinya kau hanya bermain-main dengan putraku." Menatap penuh kecurigaan karena melihat diamnya wanita itu dan membangkitkan kecurigaan mendalam di hatinya saat ini.
Berbeda dengan Floe yang seketika mengerjapkan mata karena benar-benar kebingungan menjawab. Ia bahkan tidak sekalipun berpikir akan mendengar kalimat yang dianggapnya sangat konyol itu.
'Aku menikahi Dhewa? Bukannya harusnya pria yang menikahi seorang wanita? Ini malah mamanya menyuruhku menikahi putranya saat statusku saja masih istri Erland. Rasanya sekarang aku seperti ingin menenggelamkan diri ke laut saja agar tidak dibebani dengan permintaan orang-orang yang membuatku seperti boneka,' gumam Floe yang menahan diri untuk tidak berteriak di depan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu.
To be continued...