Married by Accident

Married by Accident
XXVII



"Welcome home!" Suara teriakan Jesi begitu memekakkan telinga hingga membuat Kelana dan Renjani terpaku di depan pintu.


Kelana tertegun melihat tulisan Welcome Home di dinding ruang tamu dengan hiasan kertas dan balon warna-warni. Siapa yang berinisiatif membuat hal kekanakan seperti ini. Kelana melirik Yana yang berdiri di samping Jesi dengan wajah bersalah tapi ditutupi oleh senyum. Tentu saja itu pasti bukan ide Yana, ia tahu Kelana tidak suka jika apartemennya kotor.


Renjani mendelik, kenapa ia harus disambut dengan balon-balon itu dan sejak kapan Jesi tahu tempat tinggalnya. Pantas saja kemarin Jesi mengobrol cukup lama dengan Yana. Ternyata Jesi merencanakan hal ini.


"Apaan sih?" Renjani menarik tangan Jesi, "kenapa lu kesini?"


"Mau menyambut elu lah, gue udah tiup banyak balon buat lu."


"Iya deh thank you udah bikin kayak gini tapi ini bukan rumah gue, mending sekarang lu pulang deh sebelum Kelana ngamuk." Renjani merendahkan suara saat menyebutkan nama Kelana.


"Masa pulang sih, lu nggak mau ngasih gue makan?"


"Ck lain kali aja kalau gue udah sembuh, gue janji bakal traktir lu makanan enak tapi sekarang lu balik dulu."


"Janji ya?" Jesi menunjuk wajah Renjani.


"Iya."


Akhirnya Jesi melenggang pergi dari sana meski penyambutan Renjani kembali ke apartemen tidak sesuai bayangannya. Jesi pikir mereka akan makan makanan mahal karena Kelana tajir melintir.


Jesi dibuat kagum saat menginjakkan kaki pertama kali di apartemen Kelana yang memiliki puluhan lantai. Jesi juga mau dinikahi orang terkenal seperti Kelana. Namun sayangnya Jesi tak seberuntung Renjani. Setiap hari ia hanya berkutat dengan urine, darah dan banyak cairan lain.


Sebelumnya Renjani selalu menyebut Jesi lebih beruntung karena gajinya lebih tinggi. Namun sekarang Renjani lah yang lebih beruntung.


"Siapa yang akan membersihkan semua ini?" Kelana meninggalkan Renjani yang duduk di kursi roda. Ia terlalu lelah melihat kekacauan itu.


"Maaf ya Yana." Renjani merasa bersalah karena Yana harus membereskan semuanya. Ia juga tak bisa membantu banyak karena belum bisa berjalan.


"Nggak apa-apa Mbak, gimana kalau Mbak Rere ambil foto dulu supaya nggak sia-sia hiasannya." Yana membantu mendorong kursi roda memposisikan nya di tengah-tengah hiasan balon dan tulisan Welcome Home. Jesi dan Yana membuat hiasan itu demi menyambut Renjani kembali atas inisiatif Jesi. Awalnya Yana tidak mengizinkan Jesi karena takut Kelana marah. Namun Jesi terus memaksa hingga akhirnya Yana memberi izin.


"Segera bereskan itu, aku tidak mau melihatnya lagi." Kelana menarik kursi roda Renjani lalu mendorongnya menuju kamar.


"Aku mau bantuin Yana."


"Apa yang bisa kamu bantu, lebih baik istirahat."


"Loh kok kesini?" Renjani membalikkan badan melihat Kelana karena ia tidak dibawa ke kamarnya melainkan kamar Kelana.


"Mulai sekarang kamu tidur disini." Kelana membantu Renjani turun dari kursi roda.


"Kenapa?" Renjani sudah nyaman di kamarnya sendiri.


"Kamu suka matahari." Kelana membuka gorden hingga sinar matahari menerangi kamar itu. "Kamu bisa lihat sunrise dari kamar ini."


"Kapan aku pernah bilang suka matahari?"


"Tanpa bilang pun aku sudah tahu." Kata Kelana dengan percaya diri.


Renjani salah tingkah, rupanya selama ini Kelana memperhatikannya. Dada Renjani berdebar karena perlakuan Kelana terhadap dirinya. Renjani harus menikmati momen ini, setelah sembuh pasti Kelana akan kembali dingin seperti dulu. Dingin hingga Renjani tidak bisa menyentuhnya.


Kelana menghidupkan televisi agar Renjani tidak bosan sementara ia keluar kamar untuk membantu Yana membereskan kekacauan yang Jesi lakukan.


"Mas Lana mau bantuin saya?" Yana sumringah melihat Kelana keluar dari kamar.


"Ayo selesaikan dengan cepat, aku bisa darah tinggi jika melihat ini lebih lama."


Yana memasukkan semua dekorasi kejutan Renjani ke dalam kantong sampah sementara Kelana melepas ikatan balon helium sebelum memasukkannya ke kantong.


"Setelah ini tolong siapkan pakaian Renjani untuk dipakai besok."


"Iya Mas."


"Pilih pakaian yang panjang untuk menutupi kakinya, ini pertama kalinya Renjani datang ke acara talk show, aku ingin dia tetap percaya diri dengan kondisinya."


"Baik Mas." Yana mengangguk patuh.


Sementara itu Renjani melakukan panggilan video dengan Setiani dan Desty. Sejak resign dari perpustakaan Edelweiss, Renjani belum bertemu lagi dengan Setiani dan Desty apalagi mengobrol. Setelah sembuh Renjani ingin mengajak mereka bertemu.


"Aku kaget banget waktu denger kamu kecelakaan tapi sayangnya nggak bisa jenguk, coba kalau kamu belum menikah pasti sekarang aku ajak Desty jenguk kamu."


Renjani tersenyum lebar karena perhatian Setiani, "aku udah nggak apa-apa, udah bisa makan banyak."


Renjani tertawa mendengar perkataan jujur Setiani, ia memang selalu memiliki selera makan yang tinggi.


"Eh gimana perpustakaan?" Renjani rindu suasana perpustakaan, ia sudah bekerja di tempat itu selama 3 tahun.


"Semuanya udah diperbaiki Kak tapi belum dibuka lagi makanya aku sama Kak Setia masih libur."


"Setia?" Renjani mengerutkan kening.


"Si Desty ngasih aku panggilan baru."


"Padahal sering gonta-ganti pacar udah kayak ganti baju sehari dua kali."


"Lebay banget Re! dari pada kamu susah move on padahal doi udah bahagia sama si cewek Rusia."


"Eh kamu lupa ya aku udah nikah?"


Setiani langsung membekap mulutnya padahal baru beberapa menit yang lalu mereka membahas ini.


"Ngomong-ngomong mana Kelana?"


"Iya Kak, aku penasaran Kelana Radiaksa ngapain kalau di rumah."


Tepat saat Desty bertanya, Renjani melihat Kelana masuk ke kamar. Renjani reflek menegakkan tubuhnya dan berdeham memberi kode bahwa jangan ada yang menyebut nama Kelana.


"Gila aku belum percaya kalau Renjani bisa nikah sama seorang Kelana."


Kelana berjalan mendekat, ia melihat Renjani penasaran apa yang mereka bicarakan. Kelana mendengar mereka menyebutkan namanya.


"Ada apa?" Kelana duduk di pinggir ranjang. Ia membawa buah anggur dan susu untuk Renjani.


"Nggak ada apa-apa."


"Aku dengar kalian menyebutkan namaku."


"Itu suara Kelana ya? please tunjukin muka Kelana sebentar aja."


Renjani menatap Kelana seolah meminta persetujuan, jika tidak boleh maka Renjani akan segera menutup panggilan.


Kelana tiba-tiba berpindah ke samping Renjani membuat Setiani dan Desty menjerit heboh.


"Terimakasih kalian sudah menghibur Renjani." Tukas Kelana pada dua teman Renjani. "Maaf karena kalian tidak bisa menjenguk Renjani."


Renjani terperangah melihat sikap Kelana. Mengapa Kelana begitu hangat, Renjani jadi meleleh dibuatnya.


"Kelana, aku percaya kamu bisa menjaga Renjani dengan baik." Setiani mengulas senyum lebar.


"Udah ya aku tutup dulu." Renjani langsung memutus sambungan sebelum Setiani bicara macam-macam tentangnya.


Kelana mengambil alih ponsel Renjani dan meletakkannya di atas nakas. Kelana menyodorkan segelas susu hangat untuk Renjani.


"Itu bagus untuk mempercepat penyembuhan luka operasi."


"Makasih." Renjani meneguk susu itu hingga habis sebelum dingin.


"Besok kita diundang ke acara talk show." Kelana meletakkan gelas yang sudah kosong lalu menyuapkan buah anggur pada Renjani.


"Kenapa aku diundang juga?" Renjani spontan berhenti mengunyah, ia bukan selebriti mengapa stasiun tv mengundangnya juga.


"Karena kamu istriku." Kelana memberi jawaban yang sama seperti Adam.


"Kamu tenang aja, nanti kita briefing dulu di backstage jadi kita tahu apa aja pertanyaan yang harus dijawab."


"Gimana kalau mereka ngasih pertanyaan tak terduga." Renjani takut salah bicara, ia belum pernah muncul di televisi sebelumnya.


"Aku akan menjawabnya untukmu." Walau bagaimanapun Kelana yang telah membawa Renjani ke dunianya maka Kelana harus membantu wanita itu sebisanya.


Renjani mengangguk samar, bukankah ini sudah resikonya menjadi istri Kelana. Renjani seperti menanggung beban berat di bahunya padahal belum genap dua bulan ia menikah. Renjani tak bisa membayangkan bagaimana menjadi seorang Kelana yang harus selalu tampil di depan umum dan menjaga citranya.


Kini Renjani mengerti perasaan Kelana saat foto mereka di perpustakaan tersebar di internet. Kelana yang susah payah membangun citra nya tiba-tiba digosipkan berciuman dengan seorang wanita di tempat umum. Renjani memilih jalan yang tepat untuk membantu Kelana mempertahankan nama baiknya sebagai violinis.