Married by Accident

Married by Accident
XLII



Sebuah dress putih tergantung di depan pintu walk in closet mencuri perhatian Renjani saat dirinya baru masuk kamar. Terdapat sticky note tertempel pada bagian depan dress. Renjani mencabut sticky note tersebut dan membaca sesuatu yang tertulis disana.


Dress putih untuk Mbak Rere yang cantik!


Pak Dayat akan mengantar Mbak Rere sementara saya menjemput Mas Kelana.


Jangan lupa dandan yang cantik!


"Kok Kelana nggak bilang kalau ada acara?" Renjani menggerutu, tadinya ia ingin merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk setelah seharian duduk di depan laptop. Namun karena catatan yang Yana tinggalkan, Renjani terpaksa pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Renjani membalurkan lulur di tangan dan kakinya karena dress yang akan ia kenakan memperlihatkan bahu dan sepanjang kakinya. Renjani merasa tidak percaya diri setiap kali berjalan dengan Kelana itu sebabnya ia melakukan semua yang terbaik untuk ini. Kelana memiliki banyak penggemar di luar sana, saat Renjani membaca komentar, para fans mengatakan ia tidak cukup baik berada di samping Kelana.


Renjani tahu membaca komentar itu tidak sehat untuknya. Namun itu membuatnya termotivasi untuk lebih baik lagi, membuktikan bahwa ia tidak terlalu buruk untuk menjadi istri Kelana.


"Wah Yana udah siapin semuanya." Renjani terperangah melihat alat make-up di atas meja riasnya. Renjani yakin itu alat make-up baru karena dihari biasa ia tak memakai banyak make-up. Renjani selalu kagum karena Yana dapat menyelesaikan pekerjaannya yang sangat banyak, di samping mengurus keperluan Kelana, Yana bahkan sempat menyiapkan pakaian dan alat make-up.


Renjani menatap pantulan dirinya melalui cermin. Ia meraba bekas kemerahan di pangkal lehernya. Sudah hampir seminggu berlalu tapi bekas ciuman Kelana masih tertinggal di leher Renjani. Itu membuat Renjani harus selalu menutupinya dengan concealer.


Renjani berpikir bagaimana jika ia yang mencium Kelana hingga meninggalkan bekas. Pasti orang-orang akan bergosip tentang dirinya.


Mula-mula Renjani mengaplikasikan cushion pada wajahnya secara perlahan. Ia ingin riasannya terlihat natural, bukankah laki-laki menyukai riasan seperti itu. Renjani melihat banyak tutorial make-up di YouTube, itu sangat membantunya memiliki banyak referensi jika ingin merias wajah.


Terakhir Renjani memoles bibirnya dengan lip tint lalu menyemprotkan setting spray agar riasannya lebih tahan lama.


Makanlah selama perjalanan.


Renjani membaca catatan itu di atas nakas. Terdapat kotak makan transparan berisi dua potong roti.


"Lumayan buat ganjel." Re njani menyambar kotak tersebut lalu keluar.


Dayat sudah menunggu di depan pintu apartemen. Dayat sudah membaca pesan Kelana tentang tempat yang akan mereka tuju malam ini.


Renjani sudah siap mengenakan dress off shoulder putih dengan aksen ruffle di bagian dadanya.


"Kelana dimana Pak?" Tanya Renjani pada Dayat yang duduk di kursi kemudi.


"Tadi Mas Kelana ada di studio, mungkin sekarang lagi di jalan."


"Oh." Renjani tidak tahu kemana mereka akan pergi. Renjani tidak mau banyak bertanya karena ini adalah tugasnya yakni memenuhi kemauan Kelana. Tadinya Renjani hendak mengirim pesan pada Kelana tapi ponselnya low bat dan ia meninggalkan pengisi daya miliknya di kantor. Renjani akan meminjam milik Kelana nanti.


Renjani membuka kotak makan di pangkuannya, "Pak Dayat mau makan roti nggak?" Ia menyodorkan kotak tersebut pada Dayat.


"Tidak usah Mbak." Tolak Dayat sopan.


Renjani kagum pada Dayat karena sangat profesional terhadap pekerjaannya. Renjani tak pernah melihat Dayat makan atau bermain ponsel saat menyetir. Kelana beruntung karena menemukan Dayat dan Yana dalam hidupnya.


Dua potong roti isi ayam krispi dan sayur selada serta tomat dan timun itu habis dalam sekejap. Renjani memang lapar dan dua potong roti itu tidak cukup untuknya. Renjani harap ada banyak makanan di tempat yang akan ia datangi.


"Itu Kelana." Renjani menunjuk Kelana yang baru turun dari mobil. Ia juga segera turun tanpa menunggu Dayat membuka pintu untuknya.


Senyum Kelana mengembang lebar melihat Renjani berjalan menghampirinya. Mata Kelana berbinar-binar melihat penampilan Renjani hari ini. Dress yang Renjani kenakan membuat tubuhnya terlihat lebih tinggi dan ramping.


"Kamu cantik sekali." Puji Kelana, ia mengusap rambut Renjani yang tergerai. Bukan tanpa alasan, Renjani tidak bisa menata rambutnya. Dibiarkan tergerai adalah solusi yang tepat untuknya.


"Dari lahir nggak sih?" Renjani berusaha memasang wajah datar padahal hatinya sudah ingin melompat keluar karena dipuji Kelana.


Kelana tertawa, "aku nggak tahu tapi sejak pertama kali ketemu, kamu memang secantik ini."


Renjani mencibir, kenapa Kelana sekarang pandai menggombal. Padahal sikap Kelana dulu sangat dingin terhadap Renjani.


Renjani menggandeng lengan Kelana ketika hendak masuk ke sebuah gedung yang tidak terlalu besar, mungkin hanya cukup untuk menampung seratus orang.


"Loh." Renjani membelalak melihat nama Arya di pintu masuk. Renjani baru menyadari bahwa dekorasi gedung itu seperti resepsi pernikahan. "Ini?"


"Ya, ini resepsi pernikahannya Arya."


"Kok kamu tahu?" Renjani melongo, ia tidak berniat datang ke acara pernikahan Arya bahkan ia sudah membuang kartu undangannya. Renjani juga tidak memberitahu Kelana tentang hal ini.


"Aku lihat kartu undangan itu sebelum kamu buang jadi aku meminta Yana menyiapkan pakaian untuk mu agar kita bisa datang bersama."


Renjani masih bengong saat Kelana menarik tangannya masuk ke venue. Renjani tak tahu harus mengatakan apa pada Kelana tapi kali ini lelaki itu telah menyelamatkan hidupnya. Keberadaan Kelana membuat Renjani tidak lagi terlihat menyedihkan. Bukannya Renjani belum bisa melupakan Arya tapi ia tak terima pada perlakuan Arya di masa lalu.


Dua perempuan yang berdiri di dekat pintu masuk memekik tertahan ketika melihat Kelana. Mereka tidak tahu bahwa seorang publik figur seperti Kelana juga diundang di acara ini.


"Silakan isi daftar tamunya." Suara perempuan itu gemetar, bagaimana tidak—Kelana berada tepat di depan matanya.


"Biar aku yang tulis." Renjani menulis namanya dan Kelana sekaligus lalu membubuhkan tandatangan.


"Eee maaf, saya penggemar Kelana, boleh kita foto bareng?" Tanya perempuan itu ragu-ragu.


Renjani melirik Kelana, ia juga menunggu jawaban.


"Boleh." Kelana mengangguk.


Dua perempuan itu langsung berdiri di kiri dan kanan Kelana. Renjani menjadi fotografer dadakan ketika salah satu perempuan itu memberikan ponselnya pada Renjani.


Sepertinya mulai sekarang selain berlatih merias wajah dan memasak Renjani harus belajar fotografi. Bukankah menyenangkan jika bisa melakukan banyak hal baru? Renjani tak akan pernah merasa bosan.


"Terimakasih!" Ucap mereka pada Kelana setelah berhasil mendapat beberapa foto.


Kehadiran Kelana dan Renjani mencuri perhatian para tamu lain. Sekali lagi Renjani harus terbiasa dengan ini.


"Bukan si cewek Rusia?" Renjani melihat ke arah pelaminan dimana Arya dan istrinya berdiri menyambut para tamu yang memberi selamat. Renjani tidak sempat membaca nama istri Arya pada surat undangan itu. Renjani pikir Arya akan menikah dengan cewek keturunan Rusia itu tapi ternyata mempelai wanita yang berdiri di samping Arya adalah wanita Indonesia totok.


"Kamu masih menyukainya?" Kelana menoleh pada Renjani.


Renjani menggeleng, bagaimana mungkin ia masih menyukai Arya sedangkan lelaki di sampingnya saat ini adalah Kelana. Kelana tak bisa dibandingkan dengan Arya. Mereka bagai bumi dan langit.


"Tapi kenapa langkahmu ragu?"


"Aku nggak siap aja ketemu dia." Renjani takut jika Arya kembali merendahkannya seperti dulu saat ia menangkap basah Arya bersama wanita lain. Arya mengatakan Renjani hanya gadis biasa yang tidak memiliki kelebihan apapun, Renjani pantas diselingkuhi.


Kalimat Arya kembali berkelebat di pikiran Renjani. Ia harap Arya tak akan merendahkannya sekarang apalagi di depan Kelana.


"Kamu sempurna malam ini, melangkah lah dengan penuh percaya diri."


Renjani tersenyum hambar, ia memang mengenakan pakaian dan sepatu bagus bahkan make-up yang menempel di wajahnya merupakan produk mahal. Namun Renjani tetaplah Renjani, ia tak punya apa-apa untuk membuatnya percaya diri.


"Selamat ya." Renjani mengulurkan tangan pada Arya.


Arya tertegun, ia hampir tidak mengenali Renjani jika tak melihatnya dari dekat. Renjani banyak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu tiga tahun yang lalu. Arya akui bahwa Renjani semakin cantik.


"Kamu sendiri?"


"Sama suami aku." Renjani melirik Kelana di belakangnya, "kenalin, Kelana."


"Jadi kamu beneran menikah sama violinis bernama Kelana ini, aku pikir itu hanya rumor."


"Apa selama ini kamu tinggal di luar negeri?" Tanya Renjani.


"Bukan gitu,"  Arya tergagap, ia hanya tidak menduga jika Renjani yang dulu ia sia-siakan ternyata bisa menikah dengan violinis terkenal seperti Kelana. Bagaimana mereka bertemu?


"Selamat atas pernikahan kalian." Kelana menjabat tangan Arya.


"Ah terimakasih." Arya minder melihat Kelana, ia harap Renjani tidak memberitahu Kelana bahwa ia adalah mantan pacarnya.


"Selamat ya." Renjani memberi selamat pada istri Arya.


"Kamu teman Arya waktu kuliah ya?"


"Bukan."  Renjani bahkan tidak tahu Arya berkuliah dimana dulu, ia juga tak peduli. "Kami hanya sekadar kenal."


Mereka melakukan foto bersama beberapa kali. Saat turun dari pelaminan, banyak tamu undangan yang meminta Kelana berfoto.


Renjani hendak melangkah menjauh, lebih baik ia menunggu Kelana di depan. Sepertinya sesi foto-foto itu akan berlangsung lama.


"Jangan pergi." Kelana menahan tangan Renjani, mereka adalah pasangan—para penggemar mungkin akan mempertanyakan keberadaan Renjani.


"Aku malu."


"Jangan sia-siakan riasan mu untuk bersembunyi, senyum." Kelana merangkul pinggang Renjani dan tersenyum ke arah kamera.


Renjani reflek tersenyum ketika kamera mengarah kepadanya dan Kelana serta beberapa orang di kanan dan kiri mereka.


Kelana menyudahi sesi foto tersebut karena akan mengganggu acara Arya.


Mereka segera masuk mobil sebelum orang-orang kembali berkerumun.


******


Malam ini Kelana ingin memasak untuk Kelana karena mereka tidak sempat makan di acara pernikahan Arya tadi. Mereka hanya berada disana sekitar 10 menit. Dalam waktu sesingkat itu, mereka sudah cukup membuat Arya terkejut.


"Duduklah." Kelana menarik kursi yang berada di kitchen island untuk Renjani sementara ia memasak.


"Mau masak apa?" Renjani menyangga dagunya dengan tangan, ini adalah pertama kalinya Kelana memasak, Renjani tidak sabar untuk memakannya.


"Nasi goreng." Kelana mengenakan celemek terlebih dahulu sebelum mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.


"Aku bantuin ya." Renjani tidak bisa hanya duduk diam selama Kelana memasak.


"Dinginkan nasi lebih dulu."


"Oke." Renjani mengambil sepiring nasi, katanya nasi goreng akan lebih enak jika menggunakan nasi dingin. Renjani biasanya akan makan nasi goreng dipagi hari jika ada sisa nasi kemarin. Renjani yakin Kelana tidak pernah makan nasi kemarin.


Kelana membumbui dada ayam dengan garam, bubuk paprika, bubuk bawang putih, lada dan minyak zaitun.


Tangan Kelana begitu terampil memotong bawang bombai, bawang putih dan paprika. Ia terlihat seperti koki profesional.


Renjani kagum, kini ia bertanya-tanya apa yang Kelana tak bisa lakukan. Bahkan kemampuan masak Kelana jauh di atas Renjani.


"Bumbu nasi goreng kamu agak beda ya."


"Ini nasi goreng spesial."


"Biasanya kalau spesial pakai dua telur."


"Aku menggunakan dada ayam untuk protein nya."


Kelana memanaskan butter di atas wajan lalu memanggang ayam yang sudah dibumbui.


"Wah enak banget baunya." Renjani semakin tidak sabar untuk menyantap makan malam mereka.


Setelah memanggang dua potong dada ayam, Kelana menggunakan bekas panggangan itu untuk menumis bumbu dan nasi.


Renjani meletakkan dua piring di dekat penggorengan. Kelana membagi nasi menjadi dua di piring mereka. Kelana menambahkan potongan alpukat dan ayam yang sudah dipanggang ke piring Renjani. Karena Kelana tidak suka alpukat, ia hanya meletakkan dada ayam di piringnya. Terakhir ia memberi perasaan jeruk nipis di atas alpukat agar lebih segar.



"Wah!" Renjani terpesona dengan penampilan makan malam mereka. Ketika Kelana mengatakan ia akan memasak nasi goreng, Renjani pikir itu hanya nasi goreng biasa. Namun Kelana selalu memiliki selera tinggi termasuk soal makanan.


Ini pertama kalinya Renjani melihat nasi goreng dengan ayam panggang dan alpukat, itu cukup aneh.


"Cobalah." Kelana mempersilakan Renjani mencoba masakannya lebih dulu.


Renjani melahap sesendok nasi dan potongan alpukat sekaligus.


"Wah, enak banget." Renjani membelalak, ia tak menyangka jika nasi goreng akan seenak ini.


Kelana tersenyum puas mendengar komentar Renjani. Ia juga makan dengan lahap. Masakan sendiri memang selalu enak karena Kelana dapat menyesuaikan dengan seleranya.


"Kamu pernah sekolah masak ya?" Melihat hasil masakan tersebut, Renjani menduga Kelana pernah kursus memasak.


Kelana tidak segera menjawab, sebenarnya saat bersama Elara dulu mereka sering masak bersama di restoran milik papa Elara. Saat itu Elara banyak mengajari teknik memasak pada Kelana. Itu sebabnya Kelana jadi mahir membuat berbagai makanan.


"Enggak, aku hanya sekolah musik." Jawab Kelana akhirnya, ia tak mau menyinggung soal Elara karena itu akan merusak selera makan Renjani.


"Eh aku pinjam charger kamu ya." Renjani baru ingat jika ia belum mengisi daya ponselnya. "Charger aku ketinggalan di kantor."


"Pakai aja, ada di dalam nakas."


Renjani beranjak dari sana membawa ponselnya yang sudah kehabisan baterai.


Renjani membuka laci pertama nakas mencari pengisi daya milik Kelana. Laci pertama kosong, Renjani membuka laci kedua dan menemukan pengisi daya tersebut. Renjani mengeluarkan pengisi daya itu dan menyambungkannya ke stop kontak. Setelah memastikan ponselnya terisi, Renjani hendak menutup kembali laci tersebut tapi ia menemukan ponsel dan album foto disana.


"Jangan Re, itu punya Kelana." Renjani memperingatkan dirinya sendiri tapi tangannya seolah bergerak sendiri mengambil album foto yang tidak terlalu tebal tersebut.


Mata Renjani memanas seperti ditusuk-tusuk jarum saat melihat halaman pertama. Itu adalah foto-foto Kelana dan Elara. Sebagian besar latar belakang foto tersebut adalah studio musik.


Kekasihku Elara mendapat penghargaan untuk ketiga kalinya.


Elara terlihat memegang sebuah piala dan tersenyum lebar ke arah kamera.


Renjani membuka halaman selanjutnya.


Kekasihku membuat lagu pertama di tahun 2015


Foto Elara sedang memainkan piano, rambutnya yang bergelombang tergerai sepunggung.


Memasak cauliflower rice di sore yang cerah.


Terdapat foto cauliflower rice dengan potongan alpukat dan ayam berwarna kecoklatan. Itu mirip dengan masakan Kelana malam ini.


Renjani tersenyum getir, ternyata Kelana mahir memasak karena sering melakukannya bersama Elara dulu. Renjani mendongak berusaha menelan air matanya kembali.


Lagu untuk kekasihku, Elara Adaline. Senja Bertemu Cinta, itu adalah senja paling indah selama hidupku dimana kita pertama kali bertemu.


Terdapat foto album bertuliskan Senja Bertemu Cinta dengan gambar siluet laki-laki dan perempuan yang sedang berciuman.


Setetes kristal bening jatuh mengenai foto tersebut lalu tetes berikutnya menyusul dengan cepat. Renjani sadar bahwa ia telah melihat terlalu jauh.


"Re, ketemu nggak?" Suara Kelana terdengar di depan pintu.


Renjani segera menghapus air matanya kasar dan mengembalikan album tersebut ke dalam laci.


"Iya!" Renjani setengah berteriak.


"Kok lama, aku pikir belum ketemu." Kelana berdiri di depan pintu kamar, jika belum ketemu ia bisa membantu Renjani mencarinya.


"Iya aku bales WA Jesi dulu barusan." Dusta Renjani, ia melangkah melewati Kelana kembali ke ruang makan.


"Kamu nggak apa-apa?" Kelana melihat perubahan raut wajah Renjani setelah keluar dari kamar.


"Emangnya kenapa?" Renjani kembali melahap makanannya meski rasanya tak lagi enak. Nasi goreng itu tiba-tiba terasa hambar.


"Kamu masih mikirin Arya?"


Renjani menggeleng, bahkan ia tak menggunakan sedikitpun untuk memikirkan Arya.