
Renjani mencelupkan handuk basah ke dalam baskom berisi air hangat, ia memerasnya sebentar untuk menyeka badan Kelana. Setelah mengusap punggung Kelana dengan handuk tersebut, Renjani juga mengusap dada Kelana hingga perut dengan telaten. Renjani kembali mencelupkan tangannya lalu mengusap wajah Kelana agar tidak terlalu pucat. Ia juga mengoleskan lipbalm di bibir Kelana.
Renjani tersenyum puas setelah membersihkan badan Kelana, ia mengancingkan kembali pakaian Kelana dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci handuk yang ia gunakan barusan.
Kelana masih enggan bicara, ia lebih banyak memejamkan mata meski tidak tidur. Namun Renjani tetap banyak bicara seolah sedang mengobrol dengan Kelana.
"Kamu mau makan apa biar aku beliin?" Renjani kembali dari kamar mandi. Kelana tidak menyentuh makanan rumah sakit jadi Renjani pikir mungkin Kelana ingin makan makanan luar.
Pandangan Kelana sayu, ia bertanya-tanya mengapa Renjani tetap sabar menghadapinya. Renjani selalu bertanya padahal Kelana tidak menjawab satu pun. Tangan kanan Kelana terulur, kini ia hanya bisa menggerakkan satu tangan. Kelana sama sekali tidak bisa menggerakkan tangan kirinya.
Kelana menyentuh wajah Renjani dari mata, hidung hingga bibir. Kelana pernah berpikir jika bertemu Renjani adalah kesialan tapi sekarang ia meralat itu semua. Renjani adalah keberuntungan Kelana.
"Aku mau pulang." Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Kelana sejak kemarin.
"Kenapa mau pulang, apartemen dan rumah sakit sama aja."
Kelana menggeleng tidak setuju, ranjang rumah sakit sangat sempit sehingga mereka tidak bisa tidur berdua.
"Dokter bilang kamu harus dirawat sampai Minggu depan, cedera kamu lumayan parah."
Tanpa dokter jelaskan pun Kelana tahu apa yang terjadi padanya. Bahu Kelana pasti mengalami cedera parah karena saat jatuh ia menggunakan bahu untuk menyangga beban tubuhnya. Itu artinya Kelana tak akan bisa bermain violin selama dua atau tiga bulan ke depan.
"Kamu bisa sembuh." Renjani menurunkan tangan Kelana yang berada di wajahnya.
"Kamu tahu violin itu duniaku." Kelana mengalihkan pandangan, ia tak ingin menangis tapi setiap kali memikirkan is tidak bisa bermain violin dan kehilangan kesempatan pergi ke Atlanta, Kelana ingin marah. Entah pada siapa Kelana akan melampiaskan kemarahannya. Apakah pada Wira yang merenggut seluruh kebahagiaan Kelana atau Valia yang begitu meremehkan kehidupan Kelana.
"Aku tahu."
"Aku nggak mungkin punya kesempatan kedua untuk pergi ke IYMC."
"Itu artinya kamu akan dapat sesuatu yang lebih bagus dari itu."
Kelana tersenyum getir, ia tak menemukan sesuatu yang lebih bagus dari bermain violin. Saat ini dunia Kelana sangat gelap, ia tak bisa berjalan di dalamnya.
"Kamu nggak boleh putus asa, aku akan selalu nemenin kamu Kelana." Renjani menjatuhkan diri ke pelukan Kelana berharap ia bisa menyalurkan kekuatan pada pria itu. Renjani tak pandai memberi motivasi pada orang lain, ia hanya bisa memeluk Kelana.
"Aku pesenin strudel ya, mau nggak?" Renjani mengambil ponselnya di atas nakas. "Kamu belum makan apa-apa lo dari kemarin." Renjani memesan dua strudel dengan saus coklat tanpa menunggu jawaban Kelana. Renjani sudah mencoba berbagai cara agar Kelana mau makan tapi pada akhirnya ia yang harus menghabiskan makanan dari rumah sakit.
Renjani bersandar pada kursi sembari memperhatikan Kelana yang kembali memejamkan mata. Pandangannya turun pada punggung tangan Kelana yang memar. Ia ingat kemarin staf menutupi memar itu dengan bedak. Betapa berat menjadi seorang Kelana padahal ia hanya manusia biasa tapi harus selalu terlihat sempurna di depan kamera.
Renjani selalu merasa bersalah setiap kali melihat penderitaan Kelana, ia telah menghabiskan banyak uang untuk memulai perusahaannya. Sedangkan pendapatan yang diperoleh sangat sedikit. Renjani sudah mencoba meminimalisir pengeluaran, ia menguras semua uang tabungan untuk menggaji karyawan.
Renjani tak tahu apakah tujuh bulan setelah ini ia bisa bertahan di perusahaan atau justru kembali ke perpustakaan bergumul dengan buku-buku setiap harinya.
Mengapa semua orang sukses kecuali dirinya?
Ketukan pintu menyadarkan Renjani dari lamunan. Ia sengaja memesan strudel di restoran terdekat agar Kelana bisa segera makan.
"Pesanan atas nama Renjani." Seorang kurir menyodorkan paper bag pada Renjani.
"Iya, terimakasih." Renjani mengulas senyum sesaat sebelum kembali menutup pintu.
Aroma gurih dan manis menguar saat Renjani membuka kotak strudel. Renjani menuang saus coklat ke atas strudel dengan topping pecan tersebut.
"Kelana, makan dulu yuk." Renjani meninggikan posisi ranjang di kepala Kelana. "Aku suapin." Renjani memotong strudel dengan pisau dan garpu lalu mendekatkannya ke mulut Kelana.
"Bawa aku pulang." Kelana mendorong tangan Renjani hingga garpu itu terhempas ke lantai.
Senyum di wajah Renjani pudar karena Kelana terus meminta pulang padahal keadaannya belum pulih. Renjani takut terjadi sesuatu yang buruk jika Kelana tidak dirawat di rumah sakit.
"Kamu nggak mau disuapin?" Renjani meletakkan kotak strudel itu di pangkuan Kelana.
Kelana memindahkan kotak itu ke atas nakas, ia sama sekali tidak ingin makan.
"Dokter bilang kamu harus dirawat, kenapa kamu terus minta pulang?" Renjani menahan napas mengendalikan emosinya. "Di dunia ini kamu nggak akan selalu dapat sesuatu yang kamu mau, ada kalanya kamu harus ngalah, ini demi kebaikan kamu." Renjani memungut sepotong strudel di lantai bersama garpu yang terlempar cukup jauh.
Pandangan Kelana meredup, ia telah membuat Renjani kehilangan kesabaran.
Renjani duduk lama di lantai, pandangannya berkabut. Stok kesabarannya sudah habis, kalaupun di luar sana ada yang menjual kesabaran Renjani tak akan mampu membelinya karena ia tidak punya uang.
"Kamu benar tapi aku hidup memang untuk mengalah, bahkan lagu yang aku buat dengan susah payah harus jadi milik Valia dan studio musik Mama ku mungkin juga akan jadi milik Valia, aku anak kandungnya tapi aku tetap harus mengalah." Kelana mengucapkan kalimat itu penuh emosi, wajahnya memerah, tangannya mengepal kuat hingga tubuhnya bergetar.
Renjani tertegun, ia menyesal telah mengatakan itu pada Kelana. Renjani hanya mau yang terbaik untuk Kelana, ia juga melakukan ini untuk kesembuhan Kelana.
"Aku nggak tahu hidupku ini buat siapa?"
Renjani memeluk Kelana erat tanpa membalas ucapan pria itu.
"Ya udah kita pulang, aku bilang sama dokter dulu." Renjani tahu saat ini dari pada fisik Kelana, hatinya jauh lebih sakit.
Sepanjang melewati koridor menuju ruang dokter, Renjani menangis tersedu-sedu. Dadanya amat sesak mengingat kalimat Kelana barusan. Ia tak sanggup melihat Kelana menderita. Andai rasa sakit itu dapat dibagi Renjani akan mengambilnya sebagian dari Kelana.
"Mau kemana Mbak?"
Mendengar suara Yana, Renjani segera menghapus air matanya kasar.
"Kelana bilang mau pulang, aku mau ke ruangan dokternya."
"Biar saya dan Pak Adam yang urus, Mbak Rere jagain Mas Lana aja."
Renjani mengangguk, "makasih ya."
Akhirnya Renjani kembali ke ruangan Kelana setelah mencuci wajahnya terlebih dahulu. Renjani tidak mau Kelana tahu jika dirinya menangis. Renjani harus selalu memasang senyum di depan Kelana.
*******
Blitz kamera memburu tiada henti saat sosok Kelana keluar dari lift. Puluhan wartawan masuk hingga ke lobi rumah sakit demi mendapat gambar Kelana yang duduk di atas kursi roda dengan satu tangan menggunakan arm sling. Mereka memberikan pertanyaan berbeda-beda pada Kelana.
Yana mendorong kursi roda Kelana sementara security mengarahkan para wartawan keluar rumah sakit.
"Bagaimana kondisi Kelana saat ini?"
"Kelana, benarkah rumor tentang Valia yang mengklaim lagu milik mu?"
"Apakah Pak Wira memaksamu melakukan itu?"
"Hubungan kalian terlihat tidak baik sejak awal, apakah sekarang makin memburuk?"
"Mengapa Pak Wira tidak diperbolehkan masuk?"
Kelana bergeming, pandangannya kosong, ia ingin menjawab semua pertanyaan itu tapi ia terlalu malas. Yana sudah memberitahu Kelana bahwa banyak wartawan yang menunggu di depan rumah sakit sehingga Kelana tidak terkejut saat melihat mereka.
Adam yang berdiri di samping Kelana memberitahu wartawan agar tetap tertib agar tidak mengganggu ketenangan rumah sakit.
Para penggemar Kelana juga datang, mereka bersorak ketika melihat Kelana keluar dari lobi. Bahkan beberapa dari mereka membawa poster Kelana.
"Saya akan mewakili Kelana menjawab semuanya, kondisi Kelana saat ini belum pulih, saya sebagai perwakilan Kelana mengucapkan mohon maaf kepada penggemar Kelana dan teman-teman wartawan karena kemungkinan Kelana akan vakum selama 3 bulan."
Para penggemar bersorak sedih mendengar pernyataan Adam. Namun mereka tetap memberi semangat pada Kelana untuk lekas pulih. Saat mendengar musibah yang menimpa Kelana, mereka merasa amat terpukul. Sebab mereka tahu Kelana tengah menjalani syuting acara Masak Bareng Kelana. Ungkapan kekecewaan dan kesedihan itu meramaikan media sosial hingga menjadi trending. Penggemar Kelana memang terkenal kompak dan loyal.
"Kami membenarkan bahwa hubungan Kelana dan Papa nya tidak baik, saya harap para penggemar terus setia bersama kami."
"Kami ingin mendengar suara Kelana!" Teriak para penggemar sembari mengangkat poster bergambar Kelana tinggi-tinggi. Mereka ingin mendengar sendiri bahwa Kelana baik-baik saja.
Kelana menerima mic dari Adam, Blitz kamera kembali memburu saat Kelana membuka maskernya. Kelana mengembangkan senyum sebelum memulai kalimatnya.
"Sebelumnya saya mohon maaf kepada semua teman-teman karena dengan kejadian ini saya akan istirahat cukup lama dan banyak acara yang gagal tayang, semoga kalian terus bersama saya hingga saya pulih."
"Kami akan terus bersamamu!" Teriak mereka membangkitkan semangat dalam diri Kelana yang sempat terpuruk karena kecelakaan itu.
Enam orang bodyguard menggiring Kelana dan Renjani masuk ke mobil.
Tangan Yana dan Adam penuh oleh benda-benda dari penggemar untuk Kelana. Tidak sedikit yang memberikan buket bunga dan surat. Kelana biasanya akan membaca surat itu setiap kali ia senggang. Karena setelah ini Kelana tak akan punya pekerjaan maka ia bisa membaca semua surat itu.
Kelana tidak tahu apakah dirinya bisa bertahan tanpa bermain violin. Musik adalah dunianya dimana Kelana bisa menuangkan perasan dan membagikannya pada orang lain.
Kelana melihat keluar jendela pada kerumunan penggemar yang masih meneriakkan namanya. Wajahnya kembali redup, ia telah mengecewakan banyak orang. Dari pada sakit dalam dirinya, Kelana lebih memikirkan perasaan penggemar yang kecewa karena banyak acaranya yang gagal tayang.
"Kamu bisa sembuh." Renjani menggenggam tangan Kelana, "mereka setia nunggu kamu."