Married by Accident

Married by Accident
Jodoh adalah cerminan diri



"Sudah, jangan bersedih lagi karena Floe akan baik-baik saja setelah dokter menanganinya." Hugo Madison yang saat ini mengusap lembut punggung sang istri agar tidak terus menampilkan wajah murung karena merasa kecewa pada besan yang baru saja diusir.


Sementara itu, Lestari Juwita terus merasa bersalah pada putrinya karena beberapa saat lalu sempat bersikap baik pada wanita yang dianggap sangat menyayangi Floe seperti dirinya.


"Kenapa nasib putriku yang sangat baik dan polos itu menjadi seperti ini? Padahal selama ini Floe adalah seorang putri yang baik dan tidak pernah membantah apapun yang dikatakan oleh orang tua, juga kuliah dengan baik. Tapi kenapa semua ini terjadi padanya?" Ia berbicara dengan suara lirih dan serak karena menahan perasaan membuncah yang membuatnya tidak tega pada nasib malang putrinya.


Sementara itu, sebagai seorang suami yang tidak ingin misterinya berlarut-larut dalam kesedihan, Hugo Madison kini beralih memeluk erat wanita yang sudah lebih dari 25 tahun menemaninya.


"Anggap saja semua ini adalah takdir dari Tuhan untuk keluarga kita. Semua yang terjadi ada hikmahnya. Aku yakin jika setelah ini, putri kita akan hidup berbahagia. Meskipun bermula dari kesedihan karena aku yakin jika Floe akan merasa sedih kehilangan janinnya." Ia tahu jika putrinya yang sudah bisa menerima kehamilannya.


Jadi, ia sebenarnya tidak tega melihat dua wanita yang menjadi pusat dunianya tersebut berlarut-larut dalam kesedihan.


Saat ia masih berusaha untuk menenangkan sang istri ketika menunggu proses kuratase selesai, seketika menoleh ke arah sebelah kiri dan melihat sosok pria yang tadi merupakan teman dari putrinya.


Pria muda yang masih diingatnya bernama Harry itu terlihat membawa kantong plastik. Padahal tadi sudah berpamitan pulang.


"Om, Tante." Harry yang tadi sebenarnya hendak pulang, perlunya kelaparan dan akhirnya memilih untuk pergi makan ke kantin Rumah Sakit.


Hingga ia berpikir untuk membawakan sesuatu yang bisa mengganjal perut orang-orang yang tengah menunggu proses kuratase Floe. Ia membeli beberapa kue serta minuman karena berpikir jika ada 4 orang di depan ruangan operasi.


Namun, saat tadi berjalan mendekat, mengerutkan kening karena hanya ada orang tua Floe saja. Sementara Erland sudah tidak terlihat dan membuatnya bertanya-tanya ke mana mereka pergi.


Ia menceritakan semuanya dan menyerahkan kantong plastik berisi makanan dan minuman yang dibawanya tersebut. "Sambil menunggu proses kuratase, bisa sambil minum atau makan ini, Om, Tante."


Sebenarnya ia ingin bertanya mengenai ibu dan anak yang tidak ada di depan ruang operasi, tapi tidak jadi melakukannya karena khawatir dianggap ikut campur dengan masalah pribadi orang lain. Akhirnya berniat untuk pergi setelah menyerahkan apa yang dibawanya.


Pasangan suami istri yang saat ini tengah duduk di kursi tunggu tersebut menatap ke arah kantong plastik yang baru saja diterima.


"Terima kasih. Kami pikir kamu sudah berada di rumah, tapi ternyata masih mempunyai niat baik seperti ini. Duduklah dulu kalau tidak keberatan karena aku ingin berbicara sesuatu hal padamu." Hugo Madison menepuk kursi yang berada di sebelah kirinya.


Harry yang sebenarnya mengetahui jika keluarga pasien tidak akan mungkin bisa nafsu makan ataupun minum saat berada di depan ruangan operasi, tapi tetap saja berpikir untuk membelikan.


Ia menganggukkan kepala dan mendaratkan tubuhnya di sebelah pria yang sebaya dengan sang ayah. "Iya, Om. Apa ada yang perlu kubantu?"


Saat baru menyerahkan kantong plastik pada sang istrinya agar mengisi perut yang kosong dengan makanan yang dibeli oleh teman putrinya. Kemudian ia kembali menoleh pada Harry dan menceritakan tentang semua yang berhubungan dengan putrinya mulai dari awal mula pernikahan karena adanya janin yang tidak diinginkan akibat minuman beralkohol.


Sampai keputusannya untuk mengurus perceraian. "Aku menceritakan semua tentang putriku karena merasa yakin jika kamu adalah seorang pria yang baik. Mungkin jika tidak ada kamu yang langsung membawa putriku ke rumah sakit, akan terjadi hal buruk padanya."


"Kamu adalah teman sekelas putriku, jadi pastinya akan setiap hari bertemu. Jadi, aku berharap kamu bisa menjadi teman yang baik untuk Floe karena dia bukan tipe orang yang mempunyai banyak teman. Dia lebih suka menutup diri dan hanya berteman dengan beberapa orang saja yang bisa mengerti dirinya." Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar sang istri yang meminta tolong untuk membukakan botol air mineral.


"Kenapa aku merasa hari ini sangat lemah sekali karena tidak kuat membuka ini. Padahal biasanya melakukannya sendiri dengan mudah," lirih Lestari Juwita yang merasa tubuhnya sangat lemas seperti kehilangan banyak ion tubuh hingga tidak kuat untuk sekedar membuka botol minuman.


Hingga ia hanya bisa diam ketika perkataan dari sang suami membuatnya sadar dan menerima botol yang sudah dibuka dan diberikan padanya.


"Energimu memang sudah terkuras habis karena memikirkan tentang Floe serta mantu kurang ajar itu! Sekarang apa pendapatmu tentang Harry? Bukankah kamu sangat pandai menilai orang saat pertama kali bertemu." Sengaja Hugo Madison ingin meminta pendapat dari sang istri agar tidak kembali menyalahkannya karena mengambil keputusan sepihak.


Harry yang berada di sebelah kiri, masih terdiam karena jujur saja ia juga bingung ketika tiba-tiba mendapatkan kepercayaan besar dari ayah Floe, padahal baru saja bertemu.


"Aku bisa melihat jika dia adalah pria yang baik dan bertanggung jawab jika menjadi seorang suami. Terbukti dia sama sekali tidak merasa jijik pada darah yang kini sudah mengering di bajunya. Mungkin orang lain sudah langsung membuang baju yang penuh darah dari wanita yang bukan siapa-siapa." Lestari Juwita sebenarnya tadi perhatiannya jatuh pada pakaian yang penuh dengan darah.


Ia merasa tidak enak karena melihat anak muda tersebut harus bersusah payah untuk menggendong putrinya yang mengalami pendarahan. Kemudian ia mengulurkan tangannya karena belum sempat berterima kasih ketika berada di depan ruangan IGD.


"Maaf karena terlambat mengatakannya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada putriku jika kamu tidak segera membawanya ke rumah sakit. Sekali lagi terima kasih," ucap Lestari Juwita yang saat ini tengah tersenyum saat pria muda dengan paras rupawan itu menyambut uluran tangannya.


"Tante tidak perlu berbicara seperti itu karena orang lain pasti akan melakukan hal yang sama sepertiku. Ini adalah sebuah perikemanusiaan sebagai sesama." Kemudian ia menuju ke arah pakaiannya yang sudah dihiasi dengan darah mengering itu.


"Ini bukanlah sesuatu yang sangat menjijikkan karena berhubungan dengan nyawa yang akhirnya tidak bisa diselamatkan dan menjadi takdir dari Tuhan yang harus diterima. Aku akan menjaga Floe dengan baik di kampus. Jadi, Om dan Tante tidak perlu khawatir." Harry yang kini sakit berdiri dari kursi setelah tangannya dilepaskan karena tidak bisa berlama-lama di sana.


Ia ada janji dengan sang ayah untuk pergi ke salah satu tempat yang akan menjadi usahanya untuk memulai bisnis kecil-kecilan. "Oh ya, Om, Tante. Saya harus pulang karena ada janji dengan papa. Nanti kabari saya saja jika Floe sudah selesai menjalani Kuratase."


Kemudian ia mengeluarkan sebuah kartu nama yang memang baru dibuatnya beberapa hari lalu. "Ini nomor saya."


Hugo Madison yang tadinya mengerutkan kening karena merasa heran saat melihat anak yang masih kuliah mempunyai kartu nama seperti seorang pengusaha saja. Ia pun langsung menerima dan membacanya.


"Baiklah. Ternyata kamu adalah seorang mahasiswa yang inspiratif sekali karena sudah memiliki bisnis sendiri. Ini sangat keren lho. Semenjak kapan kamu memulai bisnis ekspor barang-barang dari UMKM ke luar negeri?" Ia seketika menyadari kebodohannya ketika mendengar suara sang istri.


"Lain kali saja mencari tahu karena dia sudah ditunggu oleh papanya." Lestari Juwita sengaja menyenggol lengan sang suami agar tidak meneruskan obrolannya yang mungkin tidak akan pernah selesai dengan cepat karena rasa penasaran yang begitu tinggi.


Harry yang sebenarnya mempunyai usaha kecil-kecilan, merasa malu untuk menceritakan dengan seorang pengusaha sukses sekelas ayah Floe. Jadi, ia hanya tersenyum simpul ketika wanita itu mengingatkan sang suami dan membebaskannya untuk menjelaskan sesuatu yang belum membuatnya menjadi orang bebas seperti ujian pria itu.


"Mungkin lain kali saja aku menceritakannya, Om. Saya pamit pulang dulu," ucap Harry yang saat ini mencium punggung tangan pasangan suami istri tersebut dan berlalu pergi setelah mendapatkan anggukan kepala.


"Hati-hati di jalan. Oh ya, maafkan Om karena terlalu kepo," ucap Hugo Madison yang saat ini sangat senang bisa bertemu dengan teman satu kelas putrinya.


Begitu juga dengan Lestari Juwita yang kini menepuk lengan di balik kemeja lengan pendek tersebut. "Kapan-kapan main ke rumah karena pintu rumah keluarga Madison selalu terbuka untukmu, Harry."


"Iya, Tante. Dengan senang hati aku akan datang ke rumah." Kemudian Harry melangkahkan kaki panjangnya menyusuri koridor rumah sakit dan menjauh dari pasangan suami istri tersebut.


Sementara itu, Hugo Madison dan Lestari Juwita yang saat ini masih terdiam melihat siluet belakang sosok pria muda itu, seolah mempunyai harapan yang sama.


"Aku tidak akan keberatan jika suatu saat nanti Floe menjalin hubungan dengannya." Hugo Madison yang baru saja mengungkapkan sesuatu di pikirannya, seketika mengerutkan kening karena respon dari sang istri tidak seperti yang dibayangkan.


"Jangan berusaha untuk menjodohkan Floe lagi karena aku tidak ingin putriku kembali bersedih. Biarkan dia menjalani hidupnya dengan baik setelah bercerai dengan Erland. Serahkan saja semuanya pada Tuhan karena pasti putri kita akan mendapatkan yang terbaik." Sebagai seorang ibu yang mengerti perasaan putrinya, ia tidak ingin melakukan kesalahan dengan membiarkan sang suami mencampuri urusan putrinya mengenai jodoh.


"Bukankah jodoh adalah cerminan diri? Pastinya Floe akan mendapatkan seorang suami yang baik suatu saat nanti dan pastinya bisa memperlakukannya seperti seorang ratu." Saat ia belum selesai berbicara, melihat pintu ruangan operasi terbuka dan seketika bangkit berdiri.


Begitu juga dengan Hugo Madison yang saat ini tengah melakukan hal sama dan menghampiri dokter karena merasa khawatir sekaligus lega karena proses kuratase sudah selesai.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" tanya pasangan suami istri itu dengan bersamaan pada seorang dokter yang baru saja keluar.


To be continued...