
Renjani mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dan menarik napas dalam-dalam, andai bisa ia ingin menyimpan udara disini di dalam paru-parunya hingga sampai di Jakarta. Renjani menyukai tempat ini tapi ia harus kembali ke Jakarta bersama Kelana meninggalkan Tumi dan Edi.
Perpisahan selalu terasa berat apalagi Renjani menyayangi Tumi dan Edi seperti orangtuanya sendiri. Mereka selalu memperlakukan Renjani dengan baik.
Renjani sudah membereskan barang-barangnya sejak semalam. Karena tidak membawa banyak pakaian, ia tak menghabiskan waktu lama untuk membereskan semuanya ke dalam satu koper berukuran sedang.
"Aku akan berkunjung kesini sama Kelana Bi." Renjani merangkul Tumi.
"Kamu jaga diri baik-baik, semoga nanti lahirannya berjalan lancar, jangan berantem lagi sama suami mu." Pesan Tumi pada Renjani, meski ia senang Renjani tinggal disini tapi ia tetap berharap rumah tangga Kelana dan Renjani semakin harmonis.
"Bi, Paman, terimakasih sudah menjaga Renjani selama ini." Ucap Kelana pada Tumi dan Edi.
"Bibi dan Paman juga jaga kesehatan ya." Renjani memeluk Tumi sekali lagi. Jakarta-Bogor bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan kereta tapi setelah Renjani akan kembali ke rutinitasnya. Ia tak akan bisa sering berkunjung. Kelana tidak akan mengizinkan Renjani pergi sendiri.
Renjani melambaikan tangan pada Tumi dan Edi ketika ia sudah berada di dalam mobil. Renjani menolak untuk dijemput dengan helikopter, mereka bisa naik mobil ke Jakarta.
"Setelah melalui banyak kesedihan dalam hidup, akhirnya aku bisa merasakan keberuntungan." Renjani menoleh pada Kelana yang duduk di sampingnya.
"Apa itu?"
"Ketemu mereka." Renjani merasa amat beruntung bertemu dengan Tumi dan Edi yang telah begitu baik padanya.
"Bagaimana denganku?"
"Kamu juga." Renjani menyandarkan kepalanya di lengan Kelana. Tentu saja Kelana juga salah satu dari keberuntungannya. Renjani tak pernah merasa dicintainya sehebat ini oleh orang lain, hanya Kelana yang bisa melakukannya.
"Kamu juga keberuntunganku, Re." Kelana menggenggam tangan Renjani, tak hanya menjadi istri, sebentar lagi Renjani juga akan melahirkan anaknya. Kelana tak pernah membayangkan akan menjadi papa. Sebelumnya impian Kelana hanya tentang pekerjaan dan prestasi tapi sekarang ia mulai belajar menjadi papa yang baik. Kelana banyak membaca e-book tentang parenting.
Tak peduli alasan awal mereka untuk menikah karena insiden tak terduga di perpustakaan, kini keduanya berjanji akan saling menjaga. Takdir sudah begitu baik karena mempertemukan Renjani kembali dengan laki-laki yang dulu menolongnya saat tenggelam.
"Mbak Rere!" Yana berteriak menyambut Renjani di depan pintu apartemen, ia langsung menghambur memeluk Renjani. "Ya ampun kangen banget."
"Aku juga kangen banget sama kamu, Yana." Renjani balas memeluk Yana.
"Biasa aja peluknya, nanti perut Renjani kegencet." Kelana memperingatkan Yana.
"Eh iya lupa." Yana berbinar-binar melihat perut buncit Renjani, rasanya belum percaya melihat Renjani benar-benar hamil. "Maaf Mbak."
"Nggak kegencet kok, Kelana aja yang lebay." Bisik Renjani membuat Yana terkikik.
"Tiba-tiba udah gede." Yana mengusap perut Renjani. "Mbak Rere udah makan belum, saya masakin, mau apa?"
"Aku sama Kelana udah sarapan tadi."
"Kalau gitu saya bantu pindahin baju ke lemari ya."
"Boleh, yuk." Renjani menarik koper menuju kamar bersama Yana.
Kelana cemberut, harusnya ia yang menghabiskan waktu berdua dengan Renjani tapi Yana justru mendahuluinya. Kelana harus mengusir Yana kembali ke apartemennya sendiri setelah ini.
"Saya seneng banget Mbak Rere kembali kesini." Yana membuka koper Renjani. "Apartemen ini jadi sepi tanpa Mbak Rere."
Renjani tersenyum, beberapa bulan lagi apartemen ini akan lebih ramai setelah kelahiran bayinya.
"Gimana rasanya hamil Mbak?"
"Hm?" Renjani tampak berpikir, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan kalimat sederhana karena apa yang ia rasakan terlalu banyak. "Awalnya nggak ngerasa apa-apa tapi setelah periksa ke klinik pertama, besoknya langsung muntah-muntah setiap pagi, nggak bisa makan apapun, dan rasanya aneh bayangin ada bayi di dalam perut."
Yana tersenyum lebar, ia kagum pada Renjani karena bisa hamil anak Kelana padahal awalnya mereka menikah tanpa cinta. Namun sekarang Renjani menjadi wanita paling dicintai oleh Kelana.
"Kayaknya aku harus kosongin satu lemari khusus buat baju anak." Renjani merasa pakaiannya sudah terlalu banyak, setiap ada acara pasti Yana membelikan yang baru.
"Alih-alih mengosongkan satu lemari, Mas Lana pasti akan menambah ruang lagi khusus untuk pakaian bayi." Yana tahu betul pada sifat Kelana.
Renjani membenarkan perkataan Yana apalagi Kelana tampak sangat antusias untuk menyambut anak mereka.
"Bajunya mau disetrika dulu Mbak?" Yana mengeluarkan beberapa kaos pendek dari dalam koper.
"Nggak usah, ini nggak aku pakai dulu untuk sementara." Renjani melipat atasan kaos miliknya dan meletakkannya di lemari paling bawah, ia akan memakainya lagi setelah melahirkan.
Mereka mengeluarkan semua baju dari koper dan memindahkannya ke lemari sembari membicarakan banyak hal. Yana bercerita bahwa ia sangat bosan saat Renjani tidak ada disini. Biasanya ia selalu sibuk mengatur jadwal Kelana dan menyiapkan pakaian. Itu adalah masa paling membosankan bagi Yana, ia berharap setelah ini Kelana akan kembali bekerja.
"Belum selesai?" Kelana muncul di ambang pintu, ia sudah bosan menunggu dua wanita itu mengobrol.
"Sudah Mas." Jawab Yana, mereka sudah selesai membereskan pakaian sejak satu jam yang lalu tapi tak ada kata selesai untuk mengobrol.
"Sebaiknya kamu kembali ke apartemen mu."
"Kenapa? aku masih mau ngobrol sama Yana." Sahut Renjani.
"Aku juga mau ngobrol sama kamu."
"Kalau gitu saya ke apartemen sebelah dulu Mbak." Yana pamit undur diri dari sana, ia tak berani melawan Kelana yang sudah memasang wajah galaknya.
"Kita kan udah ngobrol banyak." Renjani menghampiri Kelana setelah Yana tidak ada disana.
"Ada banyak hal yang belum kita bicarakan." Kelana mendekap Renjani.
"Misalnya?"
"Misalnya kita akan melakukan apa seharian ini di apartemen, itu mimpi kamu, aku akan mewujudkan nya sampai kamu merasa cukup."
Renjani mendongak menatap Kelana, apa yang ia inginkan sekarang? bersama kembali dengan Kelana membuatnya tak menginginkan apapun lagi.
"Pertama aku harus mencium mu." Kelana mendaratkan kecupan di bibir Renjani.
"Aku yang bikin daftarnya bukan kamu." Protes Renjani.
"Pemanasan dulu." Kelana kembali mencium Renjani tapi kali ini lebih lama.
"Pemanasan apa, maksud kamu—" Renjani mendelik, ia tidak mau melakukannya disiang hari.
"Maksudku sebelum kita melakukan rencana-rencana lainnya, memangnya apa yang kamu pikirkan?" Kelana mengangkat tubuh Renjani dengan mudah membawanya menuju tempat tidur.
"Kalau gitu aku mau makan brownies." Renjani ingin makan brownies utuh.
"Baiklah, kamu bisa pilih sendiri." Kelana memberikan ponselnya pada Renjani.
"Aku beli yang mahal ya?"
"Memangnya ada brownies mahal?"
"Itu standar." Kelana melompat naik bergabung dengan Renjani, walaupun bukan pecinta kue tapi ia tahu harga rata-rata kue di restoran.
"Menurutku ini mahal." Renjani memutuskan untuk memesan brownies seharga 200 ribuan yang sering ia makan sebelumnya. "Aku mau makan satu kotak penuh, kamu jangan minta."
"Terserah kamu, dua kotak juga nggak apa-apa kalau kamu mau." Kelana memeluk Renjani, meski sudah menghabiskan satu Minggu di villa tapi Kelana masih merindukan Renjani. "kamu sudah menyiapkan nama anak kita?"
"Belum."
"Bagaimana dengan Renjana?"
"Kenapa Renjana, itu mirip namaku."
"Justru itu, kamu Ibunya, kamu mau tahu arti Renjana?"
"Apa?"
"Rindu."
"Bagus juga, anak yang selalu membuat kita merasa rindu meski bersama."
"Seperti kamu." Kelana menarik tali rambut Renjani.
Tubuh Renjani menegang, jika Kelana telah melakukan itu, artinya—
"Sebentar." Renjani turun dari tempat tidur mendengar deringan ponselnya.
Kelana mendengus, siapa yang berani mengganggu waktu berduanya dengan Renjani. Kelana akan meremukkan tubuh orang itu dan melemparnya dari lantai 30.
"Halo Jes."
"Rere! lu udah balik dari Bogor?" Suara Jesi terdengar memburu.
"Udah." Renjani melirik Kelana yang memasang wajah kesal di atas tempat tidur. Ia lupa jika setelah sampai di apartemen, Jesi akan bertemu dengannya. Tentu mereka akan menghabiskan waktu seharian untuk mengobrol di luar.
"Gue udah di bawah ini."
"Oke, gue jemput sekarang." Renjani langsung memutus sambungan, ia jadi merasa bersalah pada Kelana. Lihatlah sekarang Kelana tengah melempar tatapan tajam pada Renjani.
"Siapa?" Tanya Kelana.
"Jesi, dia mau kesini." Renjani menjawab dengan ragu. "Boleh ya, kami lama nggak ketemu, bahkan aku juga nggak balas pesan dia waktu di Bogor."
"Ya sudah." Kelana harus mengalah pada dua bersahabat yang hendak melepas rindu itu.
"Aku jemput dia di bawah ya."
"Hati-hati." Kelana melihat kepergian Renjani lalu tali rambut di tangannya, sia-sia ia melepasnya kalau akhirnya Renjani pergi.
******
Jesi membelalak saat melihat Renjani keluar dari lobi. Setelah sekian lama tidak bertemu sekarang Jesi melihat perut Renjani sudah membuncit.
"Rere, lu beneran hamil?" Jesi berteriak tak percaya membuat Renjani terkejut.
Renjani meletakkan telunjuk di bibirnya meminta Jesi diam, sekarang beberapa orang yang berada di lobi melihat ke arah mereka.
"Apaan sih lu teriak-teriak." Gerutu Renjani.
"Sorry sorry gue kelepasan." Jesi langsung merendahkan suaranya, "jadi lu beneran hamil, ya ampun gue nggak percaya."
"Ya beneran lah."
"Coba gue lihat." Jesi menyentuh perut Renjani lalu sedikit menekannya.
"Ah!" Renjani meringis, "sakit tahu, ngapain dipencet." Ia menepuk lengan Jesi lalu menepisnya.
"Siapa tahu isinya bantal kayak di sinetron yang biasa gue lihat."
"Kebanyakan nonton sinetron lu."
"Ya ampun Re, gue kangen banget sama lu, lu tega ya nggak angkat telepon gue, nggak balas pesan gue." Jesi merangkul Renjani dari samping ketika mereka masuk lift menuju lantai atas. "Lu beneran hamil?"
"Nanya lagi?" Renjani kehilangan kesabaran menghadapi Jesi yang super bawel.
"Gue mau lihat bentuknya." Jesi menyingkap pakaian Renjani.
"Malu ah gue, jangan dibuka." Ada CCTV di lift tersebut dan Jesi mau membuka bajunya begitu saja.
"Selamat ya, gue terharu lu sebentar lagi jadi ibu." Jesi kembali merangkul Renjani hingga mereka sampai di unit apartemen Kelana. "Nggak kebayang muka anak lu kayak apa nanti pas lahir."
"Kenapa emang?"
"Ya kan Kelana ganteng dan lu cantik banget." Jesi duduk di sofa ruang tamu.
"Mau minum apa?"
"Di kulkas lu ada apa?"
Renjani melangkah ke dapur, ia juga tidak tahu ada apa di kulkas.
Jesi mengekori Renjani, ia penasaran ingin berkeliling apartemen ini tapi tak pernah punya kesempatan. Untuk berkunjung saja ia kesulitan. Tempat tinggal artis memang sulit dijangkau.
"Wah!" Renjani terkejut melihat kulkas penuh oleh berbagai macam makanan dan minuman, ia membuka kulkas lain khusus bahan makanan. Kulkas tersebut juga penuh dengan daging dan sayur. "Lu pilih dah sendiri, nggak tahan gue." Renjani menutup hidungnya, ia tidak suka aroma kulkas.
Jesi memilih satu botol teh rasa markisa lalu di kitchen island, ia lebih suka dapur ini dari pada ruang tamu.
"Jangan pergi-pergi lagi, semua orang khawatir sama lu."
"Kecuali Mama kayaknya." Renjani duduk di samping Jesi.
"Tentu aja dia juga khawatir sama lu."
Renjani terdiam, saat menyalakan ponselnya ia tidak melihat ada satu pesan pun dari mama nya. Itu artinya Lasti sama sekali tidak mengkhawatirkan Renjani.
"Tante Lasti berkali-kali telepon gue nanyain kabar lu."
Renjani menatap Jesi, mereka sudah bersahabat bertahun-tahun dan Renjani tidak bisa dibohongi begitu saja.
"Jangan sedih, ada gue, ada Kelana yang sayang banget sama lu." Jesi menarik Renjani ke dalam pelukannya.