Married by Accident

Married by Accident
Wibawa hilang



"Maafkan aku, Ma." Begitu mengantar sang ibu masuk ke dalam taksi yang baru saja datang, entah untuk ke berapa kalinya ia meminta maaf pada sang ibu karena benar-benar merasa sangat bersalah atas perkataan dari mertua.


Apalagi ia tahu jika semua itu tidaklah benar karena sang ibu sangat menyayangi Floe seperti putri sendiri dan tidak pernah membedakan sebagai seorang menantu di keluarga Felix. Hal itulah yang membuatnya selalu merasa bangga mempunyai seorang ibu sangat baik karena bisa menerima siapapun wanita yang dibawanya masuk ke dalam keluarga.


Bahkan juga tidak pernah sekalipun mengatakan tidak setuju pada hubungannya dengan Marcella. Jadi, sebagai anak laki-laki satu-satunya yang selalu dibanggakan, merasa berdosa pada wanita yang telah melahirkannya tersebut karena menjadi korban dari keegoisannya.


Sementara itu, Elvina Garvita hanya menggelengkan kepala karena berpikir bahwa menyalahkan putranya tidak akan mengubah semua yang terjadi hari ini. "Mama hari ini tidak bisa mengantarmu ke bandara. Kamu bukan anak kecil yang perlu disetir oleh orang tua."


"Semua keputusan yang kau ambil hari ini harus bisa dipertanggungjawabkan dan jangan pernah merasa menyesal. Mama pulang!" ucapnya yang kini beralih menatap ke arah sang supir di balik kemudi. "Jalan, Pak!"


"Iya, Nyonya." Sang supir yang dari tadi melirik ke arah spion untuk menunggu perintah, segera menginjak pedal gas dan meninggalkan area rumah sakit menuju ke alamat yang sudah diketahuinya.


Erland hanya diam menatap taksi yang mulai menjauh dari hadapannya. Ia menghembuskan napas kasar ketika perkataan sang ibu seolah menghujam jantungnya.


"Mama pasti sangat kesal padaku, hingga berbicara seperti itu. Biasanya mama selalu mendukung apa yang kulakukan, tapi ini pertama kalinya kalimat yang diucapkannya seperti ingin membuatku menyesal. Aku tidak salah, kan jika lebih mementingkan Marcella yang bahkan sudah bertahun-tahun menjalin hubungan denganku?" Erland sebenarnya menyadari ada sedikit keraguan di hatinya.


Itu karena ada kebimbangan yang dirasakan ketika memikirkan keadaan sosok wanita yang berada di ruangan operasi. Bahwa wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya tersebut telah kehilangan janin karena kecerobohannya.


"Kenapa semua ini harus terjadi dan membuatku dilanda rasa bersalah teramat besar? Aku hanya sekali membiarkannya pulang dengan naik taksi, tetapi kenapa langsung terjadi sesuatu hal buruk dan seolah semua kebaikan yang kulakukan seketika sirna hanya dengan satu kekacauan ini." Masih berdiri di tepi jalan raya, Erland ini berbalik badan dan menatap bangunan tinggi rumah sakit di hadapannya.


Ia sebenarnya ingin melihat bagaimana keadaan Floe saat ini, tapi karena waktu tidak membuatnya bisa melakukannya karena harus buru-buru pergi ke bandara setelah mengambil koper yang berada di rumah.


Kini, Erland kembali menatap ke arah mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Apa aku suruh sopir saja mengantarkan koper ke bandara? Sekalian membawa paspor yang beberapa dokumen yang ada di atas ranjang karena sudah menyiapkannya tadi."


Merasa jika ia harus mengejar waktu agar tidak ketinggalan pesawat, sehingga meraih ponsel miliknya dan menghubungi supir. Selama beberapa saat ia berbicara dengan supir agar tidak sampai ada yang tertinggal.


Hingga beberapa saat kemudian ia mematikan sambungan telepon setelah dirasa semuanya sudah diberitahukan. Kemudian ia memasukkan kembali ponsel miliknya di saku celana dan berjalan menuju ke parkiran untuk mengambil motor sport miliknya.


Namun, di saat bersamaan indra penglihatannya kini mengarah pada seorang pria yang baru saja berjalan keluar dari lobi rumah sakit dan membuatnya mengerutkan kening.


"Kenapa dia masih ada di rumah sakit? Bukankah sudah dari tadi berpamitan pergi? Apa dia sengaja melakukannya untuk mendekati orang tua Floe? Wah ... sepertinya dia adalah tipe pria penjilat," lirih Erland dengan tersenyum mengejek ketika tanpa sengaja bersitatap.


Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Harry, awalnya ingin langsung keluar dari area rumah sakit, tapi sama sekali tidak menyangka jika bertemu dengan pria yang sebenarnya membuatnya malas untuk berinteraksi.


Ia merasa yakin jika akan terjadi perdebatan dan juga kesalahpahaman karena tatapan dari Erland seolah membuatnya menjadi orang tidak disukai.


Hingga beberapa saat kemudian berdiri di hadapan pria yang sebentar lagi sudah bukan lagi menjadi suami Floe. Apalagi tadi sudah mendengar semua cerita dari orang tua dari orang tua Floe yang menitipkan putrinya dan juga sangat baik padanya.


"Sepertinya Anda menungguku, Tuan Erland. Apa ada yang ingin anda sampaikan?" Meski ia berlagak bodoh, bisa melihat reaksi dari sosok pria dengan raut wajah yang seolah jelas-jelas tersenyum mengejeknya.


Erland hanya tertawa terbahak-bahak karena merasa pria di hadapannya tersebut adalah orang munafik. "Seharusnya kau tidak perlu bertanya jika sudah mengetahui jawabannya. Sepertinya kau sudah mengincar Floe sejak lama, ya. Pantas saja kau masih berada di sini, padahal sudah berpamitan dari tadi."


"Apa kau menunggu aku pergi, baru bergerak untuk melaksanakan niatmu mendekati orang tua Floe dengan mencari simpati mereka?" Erland yang tadinya ingin buru-buru pergi ke bandara, seolah melupakan apa yang harus dilakukannya begitu melihat sosok pria yang sangat tidak disukainya tersebut.


Sebenarnya Harry ingin sekali langsung meninju wajah Erland, tapi karena merasa jika hal itu hanya akan membuatnya terlihat seperti seorang pecundang karena mengandalkan emosi, sehingga memilih untuk bersabar dan tidak terpancing.


"Jika itu semua benar, memangnya apa yang akan Anda lakukan? Mau menghajarku karena marah? Bukankah Anda tidak berhak marah karena akan bercerai dengan Floe dan memilih kembali pada mantan? Oh ya, tuan Hugo Madison sudah menceritakan semuanya padaku." Harry yang saat ini tersenyum mengejek karena berhasil melawan tuduhan tidak berdasar Erland, kini melirik ke arah jam tangan mewah miliknya.


"Bukankah Anda juga ada penerbangan sebentar lagi? Awas, nanti terlambat. Aku tidak ingin disalahkan karena Anda terlambat ke bandara." Kemudian ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum smirk. "Selamat atas perceraian dan juga selamat karena akan kembali bersama dengan kekasih Anda yang berada di London."


Erland yang tadinya ingin meluapkan amarahnya pada pria yang masih menggantung tangannya di udara dan ia sama sekali tidak berniat untuk mengulurkan tangannya.


Merasa tersindir dengan apa yang baru saja dikatakan oleh juniornya di kampus tersebut, tapi tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantah karena memang semuanya benar dan akan terjadi.


Jadi, ia saat ini hanya bertepuk tangan dan tertawa. "Wah ... ternyata kau bahkan sudah mengetahui semua masalah pribadiku dengan Floe rupanya. Apakah aku harus merasa rendah diri karena rahasia besarku kau ketahui?"


Harry kembali tertawa dan merasa jika saat ini berada di atas angin. "Tidak perlu merasa seperti itu meskipun aku sudah tahu jika kalian menikah karena bukan atas dasar cinta, tapi pengaruh mabuk hingga membuat Floe hamil. Pantas saja Floe dulu selalu muram jika aku membahas tentang pernikahan kalian."


"Ternyata dia terpaksa menikah denganmu dan bukan atas dasar cinta." Harry akhirnya menurunkan tangannya yang digantung di udara karena yakin jika tidak akan mendapatkan sambutan.


Namun, ia seketika terhuyung ke belakang begitu mendapatkan pukulan pada wajahnya.


"Berengsek!" sarkas Erland yang tidak bisa menahan lebih lama lagi amarahnya pada pria yang berusia jauh lebih muda darinya tersebut.


Amarahnya sudah tidak bisa ditahan lagi karena melihat tatapan mengejek sosok pria yang mengetahui semua tentangnya tanpa terkecuali karena perbuatan dari mertuanya.


'Sial! Kenapa orang tua Floe harus mengatakan semuanya pada cecunguk ini? Sekarang wibawaku seolah hilang di depannya,' gumam Erland yang merasa sangat puas karena berhasil membuat wajah bagian kiri Harry memerah dan yakin jika sebentar lagi akan meninggalkan bekas lebam di sana.


To be continued...