
"Kami sudah melakukan seleksi untuk model wanita, sejauh ini yang paling bagus adalah Emma." Seorang staf Wearesia memberi penjelasan saat Kelana memasuki ruang pemotretan. "Kami memang sengaja memilih mereka yang basic nya bukan seorang model karena kami ingin memberikan kepercayaan pada masyarakat bahwa Wearesia bagus dipakai semua kalangan."
Kelana mengangguk mengerti, baginya tak peduli siapapun yang menjadi partner, ia akan tetap melakukannya dengan profesional.
"Re, kamu bisa duduk disana." Kelana meminta Renjani duduk di kursi kosong di depan stage.
"Oke." Renjani akan melihat sepanjang proses pemotretan hari ini, ia sudah berjanji akan menemani Kelana walaupun ia bisa bosan karena tidak melakukan apapun.
"Ini Mbak." Seorang staf meletakkan banana bar berbalut coklat dan dua botol air mineral. "Mas Kelana bilang, Mbak Rere butuh ini."
Renjani tertawa, apakah Kelana menyogoknya dengan sepiring kue ini? Tidak, sepertinya Kelana tahu jika Renjani akan bosan jika hanya duduk seperti itu sepanjang hari. Walau bagaimanapun makanan adalah sahabat sejati Renjani selain Jesi.
"Saya butuh ini untuk bertahan hidup." Canda Renjani setelah mengucapkan terimakasih pada staf tersebut.
Kelana keluar setelah siap mengenakan celana dan kemeja hitam. Seorang staf mengarahkan pose Kelana untuk mendapat beberapa foto dengan pakaian tersebut.
"Dia diem aja udah keren." Gumam Renjani melihat Kelana di depan sana, ia tidak berlebihan soal itu bahkan saat tidur dengan mulut terbuka saja Kelana tetap terlihat tampan. Menurutnya Wearesia memilih orang yang tepat untuk menjadi model.
Kelana berganti pakaian dan melakukan berbagai pose bersama Emma yang mengenakan dress putih off shoulder yang juga memperlihatkan belahan dadanya.
"Siapa yang nggak iri lihat badan Emma?" Renjani mencomot satu banana bar mengalihkan pandangan dari stage. Tiba-tiba ruangan itu panas, Renjani menunduk, ia tak mau mencari keberadaan AC lagi seperti saat itu. Jelas-jelas seluruh ruangan memiliki AC. Renjani tidak boleh cemburu karena ini adalah pekerjaan Kelana. Masalah hatinya, ia harus mengatasinya sendiri. Renjani tak boleh memperlihatkannya pada siapapun.
"Udah lah Re, lagi pula cuma elo yang bisa mandi bareng Kelana, eh." Renjani menutup mulutnya dan melihat ke kanan dan kiri takut jika ada yang mendengar perkataannya barusan.
"Awh!" Suara pekikan Emma menggema ke seluruh ruangan membuat Renjani yang tadinya menunduk sontak mengangkat wajah.
Emma hampir saja terjatuh karena salah berpijak dengan high heels setinggi 7 centimeter yang ia kenakan tapi untung Kelana menahan punggungnya. Ia harus mengenakan high heels setinggi itu agar seimbang dengan Kelana.
Kelana hendak menegakkan tubuh Emma tapi wanita itu justru mencengkram punggungnya. Emma ingin mempertahankan posisi itu, kapan lagi ia bisa sedekat ini dengan Kelana. Meskipun ada Renjani disini, Emma tidak peduli, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tidak mungkin datang dua kali.
Renjani tertegun, itu sudah seperti adegan film atau drama. Mereka akan berasa di posisi itu hingga beberapa menit berlalu.
Namun itu bukan drama atau film, Kelana melepaskan tangannya dari punggung Emma.
"Ah!" Emma memekik saat tubuhnya terjatuh menyentuh lantai, tega sekali Kelana melakukan ini. Kenapa Kelana menolongnya jika akhirnya dijatuhkan juga.
Renjani beranjak mendengar tubuh Emma beradu dengan lantai, gila ya Kelana!
"Nggak apa-apa, saya bisa." Emma menolak bantuan staf, ia berdiri dan segera merapikan pakaiannya.
"Kak Emma boleh istirahat sebentar." Staf mengantar Emma ke ruang ganti.
"Bagaimana kalau kita coba dengan Renjani?" Fotografer melihat Renjani yang berdiri tak jauh dari sana. Ia meminta pendapat staf, karena dari awal konsep produk Wearesia kali ini adalah pakaian untuk semua kalangan maka tak ada salahnya mereka meminta Renjani untuk menjadi pasangan Kelana. Karena mereka suami istri, pasti keduanya tak akan canggung saat berpose.
Renjani melongo saat semua orang melihat ke arahnya, bagaimana mungkin ia tiba-tiba diminta menjadi model. Renjani menggeleng melihat Kelana, dari tatapannya ia seolah memohon agar Kelana menyelamatkannya.
"Renjani tidak pernah melakukan ini sebelumnya." Ujar Kelana walaupun sebenarnya ia justru senang jika Renjani menjadi pasangannya.
"Tidak masalah, kami bisa mengarahkannya." Ucap salah seorang staf yang bertugas mengatur pose.
Renjani menelan ludah, jika tahu akan seperti ini ia tidak akan menemani Kelana.
Kelana menghampiri Renjani, "nggak ada salahnya kamu coba."
"Aku malu tahu!" Renjani menepuk lengan Kelana pelan, "nggak mau ah."
"Kamu cantik, menurutku kamu lebih pantas memakai dress itu dari pada Emma."
"Aku bukan artis."
"Aku tahu tapi fotografer itu pasti tahu potensi kamu, mereka tahu kamu bisa, dia nggak mungkin asal tunjuk."
"Bagaimana Mbak Renjani?"
Renjani mengangguk pelan, ia tak bisa kabur sekarang.
Meski terpaksa Renjani tetap mengikuti fashion stylist pergi ke ruang ganti. Wajah Renjani yang awalnya polos kini tampak lebih segar dengan riasan lembut.
"Wah istri Mas Kelana sangat cantik." Puji make-up artist setelah menyemprotkan setting spray di wajah Renjani. "Saya sering lihat foto-foto anda yang diambil para penggemar di media sosial tapi ternyata Mbak Renjani lebih cantik saat dilihat langsung."
Renjani hanya tersenyum salah tingkah, ia tak tahu harus membalas pujian berlebihan itu dengan kalimat macam apa. Namun setidaknya Renjani merasa lebih percaya diri setelah mendengar pujian tersebut.
Kelana berbinar-binar saat Renjani keluar dari ruang rias. Kelana melihat Renjani setiap hari bahkan dari saat mereka baru bangun tidur tapi ia tetap mengaguminya.
"Biasa aja lihatnya." Renjani menyikut Kelana.
"Gimana bisa biasa kalau penampilan mu luar biasa."
"Diem."
Kelana terkekeh padahal ia tulus memuji Renjani.
Mereka memulai pemotretan dengan berbagai gaya dan pakaian. Fotografer puas dengan hasil jepretannya, ia merasa beruntung karena ada Renjani disini. Pekerjaan mereka bisa selesai dengan cepat karena Renjani bisa menuruti arahan staf. Karena Kelana dan Renjani pasangan, mereka tak canggung saat berpose.
"Terimakasih, kalian sudah bekerja keras." Fotografer menjabat tangan Kelana dan Renjani.
"Terimakasih semuanya." Kelana juga berterimakasih kepada semua staf yang terlibat.
"Renjani!"
Renjani berbalik ketika ada seorang yang memanggilnya, detik berikutnya tubuhnya didorong hingga membentur wastafel.
"Emma." Renjani mendelik melihat Emma menyerangnya tiba-tiba. "K ... kamu kenapa?" Tanyanya terbata.
"Kamu sengaja ya ngambil pekerjaan aku?" Emma diminta istirahat sebentar tapi setelah kembali ke stage ia justru melihat Renjani sudah menggantikan posisinya. Emma pikir mereka hanya uji coba pada Renjani. Namun ternyata staf mengatakan jika mereka akan memakai Renjani sebagai model wanita nya. Tentu Emma tidak terima, walaupun belum ada perjanjian tapi ia yang paling bagus di antara lainnya. Mengapa tiba-tiba orang biasa seperti Renjani bisa menggantikan posisinya.
"Maksud kamu apa, aku kesini cuma nemenin Kelana."
"Kamu pikir aku bakal percaya hm?" Emma mencekik leher Renjani.
Wajah Renjani memerah, napasnya tersengal. Ia tak bermaksud mengambil pekerjaan Emma. Staf yang memintanya melakukan itu.
"Tahan emosi kamu Emma." Renjani memegang tangan Emma yang tengah mencengkram lehernya. Ia ingin berteriak tapi tak akan ada yang mendengarnya di ruang tertutup ini.
"Selama ini aku udah coba sabar sama kamu ya, tapi apa, kamu malah kurang ajar."
"Maafin aku, aku—" air mata Renjani mengalir, ia melihat langit-langit. Tentu saja tidak ada CCTV di kamat mandi. "Aku bisa minta mereka batalin."
"Kamu bodoh?"
"Terus mau kamu apa?"
"Aku mau kamu mati!"
Renjani memejamkan mata, ia berusaha menghirup udara sebanyak mungkin tapi Emma makin mengencangkan cengkraman nya.
Brak!!
Suara pintu kamar mandi terbuka cukup keras mengagetkan Emma.
"Gila kamu!" Kelana mendorong tubuh Emma hingga tersungkur ke lantai. "Re, are you okay?" Kelana merengkuh tubuh Renjani yang sudah lemas.
Renjani lega karena Kelana datang, tubuhnya gemetar memeluk Kelana. Ia teringat saat dimana dirinya tenggelam di kolam, rasanya hampir sama. Renjani juga tidak bisa bernapas saat itu.
"Aku udah kasih kamu peringatan buat nggak macem-macem sama Renjani, kamu malah mau bunuh dia." Emosi Kelana meluap.
Emma hanya bisa duduk memeluk lutut tanpa berani menjawab.
"Itu artinya kamu mau karir mu berhenti disini, aku akan kasih tahu semua orang kalau kamu dalang dari kecelakaan Renjani."
Emma mendongak, karena tersulut emosi ia tidak berpikir sampai kesitu. Emma lupa pada janjinya terhadap Kelana. Emma tak mau karirnya yang cerah ini tiba-tiba berakhir. Tidak. Emma tak akan membiarkannya.
Renjani tak percaya mendengar itu, ia tak menyangka jika Emma lah yang membuat dirinya kecelakaan waktu itu. Jadi benar dugaan Renjani jika Emma menyukai Kelana. Namun Renjani tak mengira jika Emma akan berbuat sejauh itu.
"Jangan, jangan aku mohon." Emma menahan kaki Kelana.
Kelana menyingkirkan Emma dari kakinya dan segera berlalu membawa Renjani.
"Tolong ambilkan air." Pinta Kelana pada Yana.
"Ada apa Mas?" Yana memberikan sebotol air mineral pada Kelana yang sudah ia buka tutupnya.
"Minum dulu." Kelana membantu Renjani minum air.
Bibir Renjani membiru, wajahnya juga pucat pasi.
"Kamu aman sekarang." Kelana mendekap Renjani, ia sudah salah karena percaya pada Emma. Ia lupa bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa kamu percaya bahkan dirimu sendiri.
Langit sudah gelap saat mereka keluar dari gedung Antasena. Pekerjaan membuat waktu terasa lebih cepat.
"Aku pikir itu murni kecelakaan." Renjani akhirnya buka suara setelah mobil meninggalkan basemen Antasena. "Jadi ini alasanmu selalu minta maaf sama aku?"
Kelana mengangguk, ia tak bisa mengelak sekarang.
"Sampai kapan kamu mau rahasiain ini dari aku?"
"Selamanya, aku nggak mungkin ngasih tahu kamu."
Renjani terdiam, ini sama sekali bukan kesalahan Kelana. Pasti selama ini Kelana tersiksa memendam semuanya sendiri.
"Sebelum kamu jatuh dari tangga, aku ngerasa ada yang ikutin mobilku dari belakang, itu orang suruhan kamu?"
"Iya." Kelana pikir Renjani tidak akan peka terhadap keadaan di sekelilingnya tapi ternyata Renjani cukup sensitif.
Sejak memutuskan untuk menikahi Kelana, Renjani sudah mempersiapkan diri bahwa jalan yang akan ia lalui tidak mudah. Namun ia tak mengira akan sesulit ini. Meskipun para penggemar seolah telah merestui hubungan keduanya tapi akan ada banyak orang yang menginginkan posisi Renjani menjadi istri Kelana.
Mungkin Kelana dan Renjani memang tak ditakdirkan bersama. Semesta seolah menolak mereka untuk bersatu.