Married by Accident

Married by Accident
LXI



Renjani, harusnya dari awal lu nggak pernah muncul di hidup Kelana


Lu cuma parasit


Kelana kami nggak pernah kena skandal, harus lu pergi jauh-jauh


Please pergi dari hidup Kelana


Tanpa sadar Renjani menjatuhkan ponselnya saat membaca komentar di postingan Instagram terakhirnya. Ia tersenyum getir, padahal beberapa saat yang lalu mereka berkomentar positif terhadap hubungan Kelana dan Renjani. Namun sekarang mereka terasa sangat membenci Renjani.


Renjani seperti kembali pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Penggemar Kelana selalu benar, harusnya dari awal Renjani tidak muncul di kehidupan Kelana. Andai bisa Renjani memilih untuk tidak pernah muncul di hadapan Kelana. Hidupnya menjadi penjaga perpustakaan jauh lebih menyenangkan. Tak apa jika memiliki perusahaan penerbit hanya menjadi angan-angan semata. Tidak masalah jika ia hanya bisa mengagumi Kelana dari belakang meja kasir.


Renjani merosot terduduk di lantai, ia meringkuk memeluk lututnya dan mulai menangis tanpa suara. Ia teringat betapa Kelana telah mengorbankan banyak hal untuk hubungan mereka. Renjani telah mendapat sesuatu lebih dari yang seharusnya.


Renjani terkesiap mendengar deringan ponselnya, ia melihat nama Mama terpampang di layar. Renjani telah mengabaikan telepon mama dan papa nya beberapa hari ini.


"Halo Ma."


"Bisa-bisanya kamu nggak angkat telepon Mama, Renjani, jelasin ke Mama, berita itu nggak bener kan?"


"Berita itu bener Ma."


"Re, Mama tahu kamu pengen terkenal dan sukses tapi bukan begitu caranya, jangan jadi cewek murahan yang mau menikah gitu aja sama Kelana."


Renjani bergeming, ia tak tahu harus menanggapi ucapan mama nya dengan kalimat macam apa. Kenapa mama nya mengatakan ia cewek murahan. Mengapa Lasti tidak bertanya alasan sebenarnya terlebih dahulu pada Renjani.


"Kapan sih Re kamu bisa bikin Mama bangga?"


"Aku emang nggak pernah bikin Mama bangga tapi aku bukan cewek murahan Ma." Renjani gemetar menahan tangis. Dari pada menghawatirkan Renjani, Lasti justru ikut mencemooh nya. Apa bedanya Lasti dengan orang-orang itu.


"Renjani."


Samar-samar Renjani mendengar suara Kelana memanggilnya. Renjani segera menghapus air matanya dan memutuskan sambungan. Ia menggeser pintu yang menghubungkan balkon dengan kamar.


"Aku cari kamu kemana-mana, ternyata disini." Kelana meraih tangan Renjani. "Kamu kenapa?" Ia meneliti wajah Renjani yang terlihat sayu.


"Nggak apa-apa." Renjani tersenyum samar, tidak seharusnya ia membebani pikiran Kelana dengan kesedihannya.


"Re, kita sudah melewati banyak hal dan aku mohon sama kamu, tetap lah disini." Kelana menangkup pipi Renjani dan mengusap matanya yang basah. Tanpa mengatakannya Kelana tahu jika Renjani baru saja menangis. "Kamu berarti buat aku?"


Renjani mengangguk samar, apakah ia begitu berarti untuk Kelana? bahkan ia tidak melakukan apapun kecuali menghabiskan uang Kelana untuk perusahaannya yang masih merangkak naik.


"Ayo siap-siap pergi."


"Kamu yakin mau ngelakuin ini?"


"Iya Re."


"Gimana kalau mereka masih nggak suka sama hubungan kita?"


"Mereka cuma penggemar, aku nggak peduli mereka suka atau enggak."


"Kamu akan kehilangan kepopuleran mu Kelana."


"Aku bisa kerja lain." Kelana seolah tak peduli padahal ia tidak pernah memikirkan pekerjaan lain. Kelana merasa dilahirkan untuk menjadi seorang musisi. Namun jika Kelana harus benar-benar meninggalkan dunia hiburan, ia akan belajar melakukan hal lain meski sulit.


"Kerja apa?"


"Sekarang belum kepikiran, tapi Re, aku akan mempertahankan kamu apapun resiko nya."


Bibir bawah Renjani tertekuk, ia tak bisa mengatakan apapun lagi dan hanya bisa jatuh ke pelukan Kelana. Renjani pernah dengar bahwa orangtua lah yang paling mencintai kamu di dunia ini tapi baginya Kelana memberikan cinta yang jauh lebih besar.


"Sebentar." Renjani merogoh tasnya ketika hendak keluar apartemen, "hp ku bunyi."


"Ya udah angkat dulu."


"Halo Jesi, hah lu di depan, ngapain, ya udah aku jalan kesana." Renjani memutus sambungan, "Jesi ada di bawah, mau ketemu katanya."


"Kalian bisa bicara sebentar."


"Bakal terlambat nggak?"


"Masih ada waktu kok."


Renjani bertemu dengan Jesi di restoran di lantai dasar sementara Kelana menunggu di basemen.


"Rere kangen banget!" Jesi langsung memeluk Renjani begitu melihat sahabatnya itu muncul.


"Makasih ya lu udah jauh-jauh kesini."


Mereka duduk di salah satu kursi kosong. Renjani memesan minuman meski ia hanya bisa bertemu sebentar dengan Jesi.


"Lu kelihatan kurang tidur." Jesi menyangga dagu dengan satu tangan meneliti wajah Renjani, "gue tahu apa yang lu alami akhir-akhir ini makanya gue sempetin dateng."


"Kelihatan kayak zombie ya?"


Jesi mengangguk, "lu harus pakai concealer agak banyak disini." Ia menunjuk bagian bawah matanya. "Lu harus buktiin kalau Renjani satu-satunya cewek yang pantas buat Kelana, lu harus buktiin ke mereka kalau lu nggak bisa diremehkan begitu aja."


Jesi berpindah duduk di samping Renjani untuk memeluknya. Ia tahu Renjani banyak melalui hal sulit akhir-akhir ini.


"Ingat kalau Kelana udah berkorban banyak demi hubungan kalian, lu nggak boleh menyerah dan bikin Kelana kecewa, jangan sampai Kelana merasa berjuang sendirian."


Ucapan Jesi menyadarkan Renjani bahwa selama ini ia selalu ragu untuk menunjukkan perasannya pada Kelana. Renjani masih merasa ia tidak cukup baik untuk Kelana padahal mereka sudah melalui banyak hal bersama. Benar, Renjani tidak boleh mengecewakan Kelana.


Selama perjalanan menuju gedung Antasena Renjani tidak melepaskan genggamannya di tangan Kelana. Renjani berharap dengan itu ia bisa memberi keluaran lebih untuk Kelana.


"Semua akan baik-baik aja." Renjani mengeratkan genggamannya.


"Tentu saja, ada kamu." Kelana tak akan pernah menyesal karena telah berbuat sejauh ini demi mempertahankan hubungannya dengan Renjani.


Mobil Kelana kesulitan bergerak karena wartawan sudah berkerumun di halaman gedung Antasena. Mereka mengetuk-ngetuk mobil memaksa Kelana segera keluar.


Beberapa saat yang lalu Renjani optimis bahwa konferensi pers kali ini akan berjalan dengan lancar tapi ia salah. Sekarang mereka bahkan terjebak di dalam mobil.


Yana menelepon salah satu staf untuk menambah penjagaan agar Kelana bisa masuk ke gedung sebelum melakukan konferensi pers.


"Kamu sedih ya?" Renjani tidak bisa sepenuhnya memahami perasaan Kelana tapi ketika mengingat Asmara Publishing baru populer dan harus kehilangan peminat lagi ia sangat sedih. Apalagi Kelana yang sudah bekerja keras demi mencapai titik ini.


Kelana menggeleng, "sebaliknya aku bahagia karena setelah ini hanya penggemar yang benar-benar menikmati karyaku yang akan bertahan."


"Ayo keluar." Kelana meraih tangan Renjani saat keluar dari mobil dengan penjagaan ketat.


Para penggemar yang berada di belakang mengacungkan poster dan meneriakkan nama Renjani agar segera pergi dari hidup Kelana.


Renjani sengaja menyumpal telinganya dengan headset tapi teriakan mereka membuat lagu Azalea yang ia putar tidak terdengar.


Jika semesta menolak Renjani apakah ia masih punya kesempatan untuk bersama dengan Kelana.


Kelana melindungi kepala Renjani dengan tangannya saat ada yang melempar telur ke arah mereka. Wajah Kelana merah padam menahan amarah.


Renjani kaget mendengar suara pecahan telur, ia hendak mendongak demi melihat seseorang yang telah melempar telur itu tapi Kelana menahan kepalanya.


Beberapa staf membersihkan telur di lengan Kelana setelah mereka sampai di dalam gedung.


"Mbak Renjani nggak apa-apa?" Tanya Yana.


"Aku nggak apa-apa." Renjani tidak menyangka keadaannya akan se-kacau ini. Para penggemar itu bisa seketika berubah menjadi haters dalam hitungan hari.


Cahaya blitz menerpa wajah Kelana dan Renjani saat keluar dari lobi kantor Antasena. Jumlah wartawan dua kali lebih banyak dari pada saat Kelana mengumumkan pernikahannya.


Kelana mengepalkan tangan menguatkan dirinya sendiri, ia pasti bisa menghadapi ini. Bukankah ia sudah melalui banyak masalah sebelumnya dan buktinya ia masih bisa berdiri disini dengan dua kakinya. Kelana membayangkan saat ini mungkin Wira tengah menertawakannya. Sepertinya Wira adalah orang yang paling senang jika Kelana hancur. Namun tentu saja Kelana tak akan membuat dirinya hancur begitu saja, ia sudah susah payah meraih kesuksesan. Kelana masih memiliki banyak mimpi yang harus ia wujudkan satu per satu.


"Saya akan bicara jika kamu tidak bisa." Gumam Adam yang siaga berada di samping Kelana.


"Saya bisa." Sahut Kelana mantap.


"Kelana, apakah benar berita yang beredar bahwa pernikahan kalian palsu?"


"Apakah kalian menikah karena insiden itu?"


"Apakah Kelana sengaja membuat skandal seperti itu untuk mendapat penonton yang lebih banyak karena kita semua tahu saat itu Kelana sedang mempersiapkan konser."


Pertanyaan demi pertanyaan terus bergulir hingga Kelana bingung hendak memulainya dari mana.


"Berita tersebut benar." Kelana berkata dengan lantang agar setiap orang mendengarnya dengan jelas.


Para penggemar bersorak di belakang wartawan, mereka memaki dan mengumpat sambil meneriakkan nama Renjani.


"Tapi itu bukan pernikahan palsu, saya benar-benar mengucap ijab qobul di depan penghulu dan orangtua Renjani, pada awalnya saya memang menikahi Renjani untuk meredakan isu yang beredar karena insiden tidak disengaja itu tapi karena saya sibuk mempersiapkan konser jadi jalan pintasnya adalah saya memaksa Renjani menikah."


"Sebelumnya saya memohon maaf kepada orangtua Renjani dan semua orang yang sudah merasa dibohongi."


"Apakah setelah ini kalian akan bercerai?" Tanya beberapa wartawan.


"Awalnya kami sepakat untuk berpisah setelah satu tahun tapi sekarang—saya mencintai Renjani, kami akan terus bersama." Kelana memutar kepala menatap Renjani yang setia menunduk sejak mereka keluar dari lobi. "Saya berharap kalian tetap mendukung hubungan kami."


Kelana dan Renjani saling berpegangan dan sedikit membungkuk untuk mengucapkan terimakasih kepada semua orang. Mereka membalikkan badan untuk kembali masuk setelah Kelana merasa cukup menjelaskan semuanya meskipun pertanyaan wartawan masih terus bergulir. Namun menanggapi pertanyaan wartawan tentu tak akan ada habisnya.


"Kelana!"


Di antara suara riuh wartawan dan penggemar, Kelana mendengar satu suara yang amat familiar di telinganya. Suara yang sudah lama tidak didengar Kelana.


Kelana membalikkan badan mencari seseorang yang memiliki suara itu. Pandangan Kelana menyapu seluruh halaman.


Tiba-tiba pandangan Kelana tertumpu pada seseorang yang berada di tengah kerumunan wartawan. Wanita dengan netra kecoklatan dan rambut bergelombang hitam pekat. Setelah beberapa tahun berlalu mengapa suara itu masih bisa Kelana kenali.


"Ada apa?" Tanya Renjani.


"Bukan apa-apa, ayo masuk." Kelana menarik tangan Renjani masuk ke gedung Antasena.