
Bulir embun membasahi kaca jendela. Matahari mengintip malu dari balik dahan pohon angsana perlahan menghempas mendung yang sejak semalam bersemayam di atas langit Bogor.
Renjani membuka jendela kamar, udara dingin seketika menerobos masuk ke kamar. Renjani menghirup udara dengan rakus dan mengedarkan pandangan ke halaman villa. Mata Renjani dimanjakan oleh pemandangan ini setiap hari. Setidaknya ini bisa Renjani jadikan alasan untuk betah tinggal disini dibandingkan pemandangan gedung pencakar langit yang ia lihat di apartemen.
Andai rindu itu seperti bulir embun pasti Renjani tak akan tersiksa. Sekali sentuh rindu itu pasti langsung hilang. Sayangnya rindu itu seperti noda tinta pada baju, sulit dihilangkan meski sudah dikucek berulang kali.
Renjani tak boleh merindukan Kelana, ia harus terbiasa dengan kehidupan barunya. Meski sudah mempersiapkan diri untuk kehilangan Kelana tapi nyatanya jika itu sudah terjadi, Renjani tetap tidak terbiasa. Renjani tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia berat meninggalkan Kelana. Namun rasa sakit karena ditinggalkan Kelana hari itu jauh lebih besar itu sebabnya Renjani memilih pergi.
"Paman mau kemana?" Renjani berlari keluar menuju halaman melihat Edi menaiki sepeda motor.
Edi menghentikan motornya menoleh pada Renjani, "mau ke pasar, mau titip sesuatu?"
"Titip buah ya Paman, boleh nggak?"
"Boleh, dicatat aja biar saya nggak lupa."
"Tunggu sebentar." Renjani kembali ke kamarnya untuk mencatat buah dan sayur yang ingin ia makan.
Setelah selesai Renjani memberikan catatan tersebut pada Edi.
"Bibi nggak ikut ke pasar?"
"Enggak, biasanya memang saya yang ke pasar, Bibi yang masak."
Renjani mengucapkan terimakasih pada Edi. Di antara kesedihannya, Renjani beruntung karena dipertemukan dengan Edi dan Tumi yang memperlakukannya seperti anak sendiri. Mereka tidak pernah punya anak tapi bisa menjadi orangtua yang baik.
Renjani melangkah menuju dapur, ia mencium aroma masakan dari sana. Tumi pasti sedang memasak sesuatu. Renjani hampir tidak pernah memasak karena Tumi selalu melakukannya lebih dulu.
"Masak apa Bi?"
"Eh, kamu udah bangun." Tumi mengulas senyum melihat Renjani menghampirinya. "Mau coba nggak?" Ia menyuapkan sepotong ayam goreng pada Renjani.
"Mmm enak banget, saya nggak pernah makan ayam goreng seenak ini Bi." Ujar Renjani tidak terlalu jelas, mulutnya penuh oleh daging dan kulit ayam yang menyebarkan rasa gurih begitu menyentuh permukaan lidahnya.
"Oh ya? ini bikinnya gampang lho, bawang putih digoreng bareng ayamnya jadi makin gurih."
"Bi Tumi masak banyak, ada acara apa?"
"Nggak ada acara apa-apa, yang punya villa mau datang hari ini, dia selalu minta dibikinin ayam goreng bawang kalau kesini."
"Nggak heran sih karena emang enak."
"Oh iya Re, kalau kamu mau jalan-jalan di sekitar sini, boleh pakai sepeda yang ada di samping villa, olahraga pagi-pagi bagus buat kamu."
"Boleh saya pinjam?"
"Boleh, dari pada kamu bosen di kamar terus."
Renjani membantu Tumi sebisanya karena kemampuan memasaknya tentu jauh berada di bawah. Renjani hanya bisa memasak hidangan simpel seperti yang biasa ia sajikan pada Kelana.
"Udah, tinggal nunggu beberapa bahan yang dibeli sama Paman."
"Kalau gitu saya mau jalan-jalan di sekitar sini ya Bi."
"Iya, hati-hati Re jangan sampai jatuh." Tumi setengah berteriak dari arah dapur pada Renjani yang sudah berlari ke samping villa.
Renjani mengayuh sepeda di jalanan sekitar villa. Ada banyak bunga yang ditanam oleh Edi di sekitar situ sehingga Renjani tak akan mudah bosan meski bersepeda sendirian.
Renjani berhenti sejenak membiarkan matahari pagi menerpa tubuhnya. Angin berhembus menggoyangkan dedaunan dan rambut Renjani yang dibiarkan terurai.
"Lumayan keringetan." Renjani duduk di gazebo sembari menikmati pemandangan pagi ini. Ia mengeluarkan ponsel untuk menelepon Manda.
"Halo Mbak."
Renjani tersenyum, Manda selalu menjawab telepon pada dering pertama.
"Tolong kirimkan foto novel baru kita, sudah selesai dicetak semuanya kan?"
"Sudah Mbak, seminggu yang lalu Pak Aji sendiri yang mengantarnya ke kantor, beliau juga bertemu Kak Kelana."
Mendengar nama Kelana membuat Renjani merasakan sesuatu yang aneh. Ini baru seminggu, mungkin setelahnya Renjani akan terbiasa hidup tanpa Kelana.
"Kondisi Kak Kelana benar-benar kacau Mbak, dia nggak kelihatan seperti Kak Kelana, wajahnya kusam, penampilannya juga acak-acakan, dia sangat mengkhawatirkan Mbak Rere."
Renjani tersenyum getir, kenapa Kelana mengkhawatirkannya padahal ia sendiri yang memilih Elara.
"Dan maaf Mbak, saya nggak sengaja memberitahu Kak Kelana kalau Mbak Rere telepon."
"Aku sudah menduga kalau kamu pasti keceplosan." Renjani tahu betul Manda paling tidak bisa berbohong. Dulu sifat itu sangat menguntungkannya tapi sekarang Renjani merasa khawatir, untungnya ia tidak memberitahu keberadaannya sekarang.
"Kak Kelana meminta saya menyampaikan permohonan maaf, Kak Kelana harap Mbak Rere menjaga diri dengan baik, dia akan terus mencari Mbak Rere."
"Sekarang aku akan fokus sama diriku sendiri dan Asmara Publishing, semoga kamu dan yang lain juga masih betah bekerja dengan ku."
"Tentu saja Mbak, kami akan berjuang sama-sama."
"Terimakasih ya."
"Tolong jaga diri Mbak Rere, saya akan kirimkan foto-fotonya ke email."
Renjani memutus sambungan, pandangannya menerawang ke arah langit. Mendung mulai menyingkir memperlihatkan langit biru yang indah. Mendung saja tak selamanya ada, pasti kesedihan Renjani juga akan segera berakhir digantikan oleh tawa kebahagiaan.
Ketika Renjani kembali ia melihat ada mobil terparkir di depan villa. Mungkin pemilik villa yang Tumi katakan sudah datang.
"Pagi sekali dia kesini." Renjani menyandarkan sepeda ke pohon cemara di samping villa lalu masuk ke dapur.
"Yang punya villa udah dateng ya Bi?" Renjani merendahkan suaranya.
"Udah Re, dia di lantai dua, sebentar lagi kita sarapan sama-sama ya."
"Saya malu ah Bi, saya makan di kamar aja."
"Eh nggak apa-apa, dia minta kamu makan bareng juga sekalian."
"Kalau gitu saya mandi dulu Bi, keringetan abis naik sepeda."
Renjani mendengar dentingan piano dari lantai dua, untungnya ia tahu kalau pemilik villa sudah datang. Jika tidak, mungkin Renjani akan menduga ada hantu di lantai dua karena tiba-tiba terdengar alunan piano.
Bersepeda akan menjadi olahraga favorit Renjani selama ia tinggal disini karena baru sebentar berkeliling di sekitar villa, ia sudah berkeringat. Tak usah angkat beban atau lari seperti yang Kelana ajarkan.
Renjani memperhatikan pantulan dirinya di cermin dan meraba perutnya, "kenapa masih rata, kamu udah 6 Minggu sekarang."
Renjani masih tetap langsing, ia tidak sabar melihat perutnya membuncit seperti wanita hamil pada umumnya.
Usai mandi dan ganti baju Renjani keluar kamar, perutnya sudah keroncongan minta diisi. Renjani bahkan tidak sempat mengeringkan rambut, ia membalut kepalanya dengan handuk. Ia akan mengeringkan rambutnya setelah makan.
"Renjani ya?"
"Kok kamu disini?" Renjani spontan bertanya.
"Jadi kamu yang sewa villa ini?"
"Ini villa milikmu?"
"Iya."
Renjani melongo, ia pikir pemilik villa ini adalah pengusaha lanjut usia yang selalu berlibur ke tempat tenang setelah seminggu sibuk bekerja. Namun ternyata villa ini milik Devin—orang yang Renjani kenal. Renjani sama sekali tidak berpikir bahwa villa ini milik Devin.
"Semua temen-temen artis sudah tahu kalau kamu pergi tapi aku nggak nyangka kalau ternyata kamu disini."
Kelana memang menyembunyikan kepergian Renjani tapi berita tersebut begitu cepat menyebar, hanya saja mereka tetap menjaganya agar tidak diketahui oleh media.
"Devin, tolong jangan beritahu siapapun kalau aku disini terutama Kelana." Renjani panik, ia tidak mau jika Kelana tahu dirinya disini.
"Kenapa, dia terlihat kesulitan sejak kamu pergi."
"Aku nggak bisa ceritakan detailnya tapi aku mohon sama kamu, jangan beritahu siapapun."
"Baiklah." Devin mengedikkan bahu meski sebenarnya penasaran apa yang terjadi antara Kelana dan Renjani.
Setiap akhir pekan Devin berkunjung sekaligus bermalam di villa tersebut. Jadwal Devin yang padat membuatnya membutuhkan waktu untuk kabur sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta.
Berbagai hidangan sudah tersaji di atas meja. Momen yang paling Devin tunggu setiap kali datang kesini adalah makan bersama Tumi dan Edi sembari mengobrol ringan. Bukan obrolan tentang piano, skandal artis apalagi pekerjaan.
"Bi Tumi nggak bilang kalau wanita yang menyewa villa ini namanya Renjani." Devin duduk di samping Edi.
"Kenapa Mas Devin?" Tumi menuangkan air putih untuk Devin.
"Renjani orang yang saya kenal, walaupun nggak akrab tapi kami sering bertemu." Devin tersenyum lebar melihat Renjani yang duduk tepat di hadapannya.
"Oh ya? kebetulan sekali." Tumi terkejut mengetahui Renjani dan Devin saling mengenal.
"Aku selalu ingin ngobrol sama kamu tapi setiap kali ada kesempatan, Kelana pasti menjauhkan mu dariku, dia suami yang posesif."
"Soal itu aku minta maaf." Renjani tidak menyadari bahwa Kelana selalu menjauhkannya dari Devin. Kelana hanya posesif tapi tidak bisa menjaga perasaan Renjani dengan baik. Lalu apa gunanya bersikap posesif.
"Karena kamu udah disini, kita bisa lebih banyak ngobrol."
Renjani mengangguk pelan disertai senyum tipis. Ini adalah pertemuan yang mengejutkan bagi Renjani. Ia pikir villa ini adalah tempat sempurna untuk bersembunyi tapi ternyata ia justru dipertemukan dengan teman Kelana.
Renjani tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Devin untuk menjaga rahasianya. Sepertinya Devin cukup akrab dengan Kelana, mereka sering melakukan kolaborasi satu panggung. Bahkan di beberapa lagu Kelana, instrumen piano nya dimainkan oleh Devin.
******
Meski sudah satu Minggu tinggal di villa tersebut tapi Renjani tidak pernah naik ke lantai dua karena Tumi mengatakan ia hanya boleh berada di lantai satu. Ternyata lantai dua nya adalah studio musik milik Devin. Terdapat satu piano di tengah ruangan. Dindingnya dihiasi oleh partitur piano dan pianis terkenal dunia seperti Franz Schubert, Alexander Scriabin hingga Yiruma.
Setelah sarapan tadi Devin mengajak Renjani menuju studio musiknya. Devin memperlihatkan koleksi alat musik yang ia punya di studio tersebut.
"Kamu nggak akan kaget karena alat musik Kelana jauh lebih lengkap." Tukas Devin.
"Ya, dia sangat mencintai musik." Renjani teringat betapa stress nya Kelana saat menyalami cedera bahu, ia tidak bisa bermain musik selama dua Minggu. Setelahnya Kelana bermain piano dengan satu tangan.
"Kamu bisa main piano?" Tanya Devin.
"Kelana sering mengajariku bermain piano tapi paling mentok aku cuma bisa Twinkle Twinkle Little Star." Renjani terkekeh di ujung kalimatnya.
Devin tertawa, bukannya mengejek tapi ia merasa Renjani sangat menggemaskan. Tidak heran jika selama ini Kelana selalu menjaga Renjani dari laki-laki lain.
"Mau coba?" Devin mempersilakan Renjani duduk.
"Aku udah agak lupa sih." Renjani ragu-ragu, meskipun Kelana mengatakan bermain piano lebih mudah dibanding violin tapi menurut Renjani, memainkan piano tidak semudah itu.
Jemari Renjani mulai menekan tuts piano, awalnya tempo lagu Twinkle Twinkle Little Star tersebut agak lambat tapi semakin lama Renjani tampak percaya diri. Devin bertepuk tangan bersamaan dengan tempo lagu tersebut, senyumnya merekah melihat Renjani memainkan piano.
Kedatangan Tumi menghentikan Renjani yang hampir menyelesaikan lagunya.
"Tadi Paman ambil kelapa di belakang rumah, airnya buat kamu, bagus untuk ibu hamil." Tumi menyodorkan segelas air kepala pada Renjani.
Devin tertegun mendengar ucapan Tumi, Renjani hamil?
"Diminum ya." Tumi juga meletakkan potongan buah apel dan pir di atas meja untuk Renjani dan Devin.
"Makasih Bi." Renjani meneguk air kelapa itu hingga setengah gelas.
"Kamu hamil?" Tanya Devin ketika Tumi sudah pergi.
"Iya."
"Kenapa kamu pergi padahal sedang hamil."
Renjani terdiam, ia tak mau mengatakan alasan sebenarnya pada Devin. Ia bisa menceritakannya pada Tumi tapi tidak pada Devin yang merupakan teman Kelana. Pertemanan sesama artis tidak seperti orang-orang biasa, jika mengetahui keburukan artis lain, mereka akan saling menjatuhkan. Meski Kelana telah menyakiti Renjani tapi Renjani tidak mau melakukan hal yang sama. Renjani tidak mau ada orang yang memanfaatkan keadaan ini untuk menjatuhkan Kelana.
"Kalau kamu tahu, Kelana selalu merencanakan masa depannya dan anak nggak ada di dalam daftar rencananya, jadi lebih baik aku pergi."
"Bukan karena mantan pacar Kelana yang bernama Elara itu?"
"Bukan, ini sudah menjadi keputusanku sendiri."
"Kamu akan membesarkan anak itu tanpa Ayah?"
Renjani tidak pernah berpikir masa depannya akan seperti ini, tapi karena sudah terjadi maka ia pasti bisa melakukannya. Tuhan telah memilih Renjani untuk menanggung ujian ini, itu artinya Renjani bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anaknya.
"Aku pasti bisa melakukannya." Renjani tersenyum, berpura-pura tegar di hadapan Devin. Ia tak suka terlihat lemah di depan orang lain.
"Semoga kamu betah tinggal disini." Devin bersyukur karena Renjani tinggal disini, ia bisa menjamin Renjani akan di villa miliknya.
Devin melahap apel yang Tumi bawakan untuk mereka, ia juga memberikannya pada Renjani.
"Ngomong-ngomong lagu Twinkle Twinkle Little Star mu lumayan."
"Jangan bohong."
"Serius."
Renjani tertawa, ia tidak merasa permainan pianonya bagus. Devin pasti hanya asal bicara.
"Aku harap kamu selalu bahagia."
Renjani memutar kepala melihat Devin, mungkin karena seumuran mereka mudah akrab. Sejak pertama berkenalan, Devin memang terlihat baik. Hanya saja Renjani tidak bisa mengenal Devin lebih jauh.