Married by Accident

Married by Accident
Suara merdu



"Bagus," ucap Dhewa yang saat ini tengah menatap ke arah Floe yang seperti merasa tidak enak padanya.


Ingin menghilangkan aura kecanggungan di antara mereka, ia kini berjalan lebih dulu. "Ikut aku!"


Bahkan saat berjalan di depan, ia tersenyum simpul ketika mengingat ekspresi wajah Floe ketika memanggilnya dengan nama saja. 'Baru kali ini aku merasa namaku terdengar indah,' gumamnya yang kini terus berjalan menuju ke arah salah satu bangunan yang akan sementara waktu ini menjadi ruangannya.


Floe yang berjalan sambil membawa gulungan putih di tangan serta tas punggung yang berisi beberapa perlengkapan untuk kerja, serta bekal dari sang ibu, kini hanya diam melihat pria yang menurutnya memiliki punggung lebar tersebut.


Bahkan ia beberapa kali tersenyum simpul pada beberapa pekerja yang menatapnya dan membungkuk hormat karena ada di belakang pria yang dipanggilnya dengan nama saja.


Ia mengerutkan kening kala melihat sebuah cabinet besar di pojok kiri dan beberapa saat kemudian pintu dibuka dan mendengar suara bariton dari pria yang menoleh ke arahnya.


"Taruh barangmu di dalam dan itu meja kerjamu selama bekerja di sini. Oh iya, sekalian pelajari gulungan itu dan katakan pendapatmu mengenai pemikiranmu." Dhewa yang baru saja menunjuk ke arah meja yang ada di pojok kanan, kini menuju ke mejanya sendiri.


"Terima kasih." Floe yang seketika berbinar karena ia mempunyai meja kerja, kini langsung menaruh apa yang dibawanya.


Jujur saja ia benar-benar merasa sangat aneh jika sering menyebut nama pria yang kini menjadi atasannya itu. Begitu menaruh tas miliknya dan mengeluarkan bekal makanan di atas meja, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel di saku celana panjang yang dikenakannya.


Awalnya ia tidak ingin memeriksanya karena berada di jam kerja, tapi khawatir jika itu adalah sebuah kabar penting, kini menoleh ke arah pria yang kini sudah duduk di kursi kerjanya.


'Aduh, mana harus memanggilnya Dhewa lagi. Aku malah merasa sangat aneh rasanya bekerja dengan orang yang tidak mau dipanggil formal. Mana namanya Dhewa pula. Dewa cinta atau Dewa maut,' gumam Floe yang menelan saliva sebelum akhirnya membuka mulut untuk bertanya.


"Ehm ... Apa boleh saya bertanya?" Dengan ragu-ragu ia tidak memanggil nama pria yang kini bersitatap dengannya.


Dhewa yang baru saja menyalakan laptop karena ingin memeriksa mengenai email yang berisi seluruh laporan mengenai pekerjaan, kini menoleh sekilas ke arah Floe.


"Apa boleh sebentar mengecek pesan atau mengangkat telepon saat bekerja? Maksud saya, kira-kira apa ada daftar peraturan yang harus saya ketahui? Mengenai apa yang boleh dan dilarang saat jam kerja." Floe yang tadinya tidak terlalu memperhatikan sebelah kiri meja kerja pria dengan rahang tegas itu, kini mengerutkan kening karena melihat sesuatu yang sangat membuatnya heran.


Ia bahkan merasa aneh saat menatap sesuatu yang berdiri di sebelah pria yang kini melambaikan tangan padanya.


"Oh iya, untung kamu ingatkan. Kemarilah," ucap Dhewa yang kini mengambil sesuatu yang berada di dalam laci, yaitu sebuah buku yang tadi disimpan di sana.


Semalam ia sudah membuat daftar pekerjaan apa saja untuk wanita yang kini berjalan mendekat. Bahkan ia berpikir keras saat menuliskannya sendiri. Sesuatu hal yang bahkan baru sekali ini dilakukan karena biasanya sang asisten yang mengurus semuanya.


Namun, kali ini ia mengurus sendiri karena memang menjadi seorang guru untuk calon pewaris tahta perusahaan Madison yang sangat terkenal itu. Begitu Floe tepat berada di hadapannya yang terhalang meja, kini ia menunjukkan apa yang dibukanya saat ini.


"Baca itu karena aku tidak mungkin menjelaskan satu persatu. Tanya saja jika ada yang tidak paham." Dhewa yang tadinya menatap Floe, seperti mengerti ke mana wanita di hadapannya curi-curi pandang. "Kenapa? Apa aneh melihat itu?"


Tadinya Floe hanya mencuri-curi pandang ke arah sesuatu yang ada di dekat dinding dan seketika merasa malu begitu ketahuan. "Maaf. Aaah ... hanya aneh saja saat melihat gitar di sini. Apa itu adalah milik Anda?"


Dhewa yang seketika bangkit berdiri dari kursi kerjanya karena tidak ingin menjawab dan memilih untuk memberitahu secara langsung. Ia mengambil gitar kesayangan yang dikembalikan oleh temannya tadi pagi.


Ya, temannya memang ia suruh untuk mengantarkan ke lokasi karena memang ia kebetulan tadi sudah tiba di sana. Bahkan kebetulan lokasi memang searah dengan perusahaan temannya.


Kemudian ia kini langsung bergerak memetik gitar kesayangannya, sekaligus mengeluarkan suara emasnya. Ia kali ini menyanyikan sebuah lagu Jawa yang berjudul Manot.


Floe seketika mengerjapkan mata melihat apa yang ditunjukkan oleh pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut. 'Wah ... dia yang bukan orang Jawa saja pintar nyanyi lagu daerah yang sangat viral itu. Mana suaranya merdu dan kemampuan main gitarnya di atas rata-rata lagi '


To be continued...