Married by Accident

Married by Accident
Menjadi gigolo



Saat Floe baru saja memposting story di sosial media, ia melanjutkan video dan cukup lama melakukannya. Hingga ia merasa bosan dan tiba-tiba berpikir yang sesuatu yang membuatnya berpikir bisa membalas dendam pada Erland. Ya, setelah mengetahui apa yang terjadi pada pria itu dan wanita pilihannya, rasa sedih yang dirasakan berubah menjadi kebahagiaan.


Apalagi ia merasa jika saat ini Tuhan berpihak padanya meskipun berawal dari kesedihan dan tangisan karena kehilangan sesuatu yang paling berharga sepanjang sejarah hidupnya.


"Aku jadi ingin mengejeknya sekarang. Tapi sepertinya harus berakting tidak tahu apapun," ucap Floe yang saat ini membuka daftar panggilan dan melihat kontak atas nama Erland.


"Telpon tidak ya? Rasanya aku ingin mengejeknya habis-habisan sekarang, tapi akan lebih baik jika menggunakan cara yang elegan." Floe yang saat ini melirik ke arah pintu, tengah memikirkan apakah sang ibu akan marah padanya jika menghubungi Erland.


"Kira-kira mommy kesal atau malah senang ya?" Ia yang saat ini masih menimbang-nimbang apa yang akan dilakukannya, sehingga membuatnya tidak langsung menelpon.


Namun, perasaannya yang kini dipenuhi oleh keinginan luar biasa untuk membalas dendam pada pria yang bahkan tidak memperdulikannya, ia pun sudah tidak peduli lagi.


"Menikahi wanita yang dicintai memang merupakan harapan semua orang, tapi bukankah mencintai wanita yang dinikahi merupakan sebuah kewajiban? Bukankah dia adalah seorang suami yang harus memenuhi kewajibannya pada istri?" Ia bahkan saat ini tersenyum menyeringai ketika mengingat perkataan dari sang ibu mengenai berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"Seorang suami malah memilih membuang istrinya yang baru saja keguguran demi kekasihnya yang mungkin bisa saja hamil anak pria itu? Jika aku diizinkan untuk meminta sesuatu pada Tuhan, semoga wanita itu hamil dan akhirnya tidak bisa kembali berhubungan karena ada keluarga pria itu yang campur tangan dan tidak akan tinggal diam."


Floe pun kini memencet tombol hijau untuk melakukan panggilan internasional dan menunggu sampai mendapatkan jawaban. Namun, panggilan pertama mati dan ia mencobanya sampai Erland mau mengangkatnya.


"Sepertinya dia masih bersedih karena gagal dengan rencananya untuk kembali ke Jakarta bersama kekasihnya. Aku tidak akan menyerah untuk meneleponnya agar bisa mengucapkan selamat," ucap Floe sambil terkekeh karena membayangkan bagaimana ekspresi wajah Erland saat ini.


"Aku masih berbaik hati karena tidak melakukan video call padanya agar tidak melihat wajahnya yang pasti dipenuhi oleh kekecewaan." Saat ia baru saja menutup mulut dan menunggu, kini menyadari jika panggilan sudah diangkat oleh Erland.


Jadi, ia langsung membuka suara untuk menyapa dengan memanggil nama pria itu dan disambut hal serupa. Bahkan setelahnya hanya keheningan seolah mereka sama-sama dipenuhi oleh berbagai macam pikiran.


Akhirnya ia langsung berakting layaknya orang bodoh yang tidak tahu apapun demi bisa membalaskan dendamnya. "Bagaimana keadaan Marcella? Apa dia sudah sadar? Aku benar-benar tidak tenang karena memikirkan dia. Apalagi akulah yang menjadi penyebab dia bunuh diri."


Sebenarnya ia ingin tertawa terbahak-bahak ketika mendengar sendiri perkataan dari bibirnya, tapi berusaha untuk menahannya agar tidak ketahuan dari pria yang masih diam saja di seberang telepon.


Erland yang berada di London, saat ini hanya kebingungan untuk menjawab. Ia tidak ingin Floe diliputi rasa bersalah saat bukan menjadi penyebab utama Marcella bunuh diri, tapi juga tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya mengenai kekalahannya dari keluarga pria yang telah memperkosa itu.


'Apa yang harus kukatakan pada Floe? Dia pasti semakin dipenuhi oleh rasa bersalah pada Marcella. Kasihan Floe karena saat keguguran pun masih memikirkan keadaan Marcella,' gumam Erland yang saat ini tengah mencari alasan.


"Kamu sendiri gimana? Jangan memikirkan orang lain saat kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Kamu fokus saja memulihkan kesehatanmu. Marcella sudah sadar dan baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Maafkan aku karena tidak bisa menunggu hingga kamu sadar dan harus pergi ke sini." Ia yang saat ini mendengar suara sang asisten baru saja membuka pintu dan keluar dari ruangan, memberikan kode agar tidak bersuara.


Ia tidak ingin terganggu saat berbicara dengan wanita di seberang telepon yang kini membuatnya mengerutkan kening.


Floe artis profesional dengan bernapas lega. "Syukurlah kalau begitu. Akhirnya aku bisa lega karena tidak membuat orang lain kehilangan nyawa. Aku baik-baik saja dan mungkin sebentar lagi diizinkan pulang. Hanya tinggal pemulihan sedikit, lalu kembali masuk kuliah seperti biasa."


"Hanya saja, aku ingin bertanya padamu tentang sesuatu. Tadi mommy bilang akan mengirimku ke Jepang jika kamu pulang ke Jakarta. Saat aku bertanya alasannya, disuruh bertanya padamu. Memangnya kenapa orang tuaku mengirimku kuliah di Jepang?" Ia bahkan saat ini berbicara sambil memainkan gantungan kunci berukuranu mungil itu.


"Aneh banget nggak sih?" Saat Floe membuka mulut agar tidak terbahak karena menjadi seorang wanita yang pandai menipu, di saat bersamaan melihat suara pintu yang terbuka dan bersitatap dengan sang ibu.


Ia seolah mengerti tatapan sang ibu yang seperti ingin bertanya padanya mengenai siapa yang diajak bicara. Akhirnya ia membuka loudspeaker agar bisa mendengar pembicaraannya.


Berpikir cara itu akan membuat wanita yang telah melahirkannya tersebut percaya sepenuhnya padanya bahwa saat ini sama sekali tidak punya keinginan sedikitpun untuk kembali pada pria yang telah membuangnya seperti sampah.


Lestari Juwita yang tadi berbicara cukup lama di telepon karena membahas masalah saham yang hari ini naik dan membuatnya meraih keuntungan cukup besar.


Ia memang tidak pernah campur tangan dengan masalah pekerjaan di perusahaan, tapi menggunakan masa luangnya untuk fokus pada saham yang berawal kecil-kecilan dan saat ini sukses dengan meraih banyak keuntungan.


Begitu melihat putrinya seperti sangat senang saat berbicara di telepon, tentu saja merasa heran dengan siapa dan begitu mendengar suara bariton dari seberang sana, merasa sangat terkejut karena putrinya berani berhubungan dengan Erland.


"Orang tuamu ingin mengirim ke Jepang? Aku sama sekali tidak tahu alasannya, Floe. Lebih baik kamu tanya saja pada mereka," ucap Erland yang sebenarnya mengerti ke mana arah orang tua Floe.


Jika ia kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, memang tidak akan bersama dengan Marcella dan orang tua Floe pasti mengira jika ia akan mengganggu putrinya. Hingga ia seketika menelan saliva dengan kasar begitu mendengar suara dari ibu mertua yang menyangkut ketika Floe bertanya.


"Oh ... kebetulan sekali Mommy datang. Ini mumpung ada, Mom. Lebih baik katakan apa maksud Mommy tadi yang ingin menyuruhku pindah kuliah di Jepang." Floe memberikan kode pada sang ibu agar mengikuti aktingnya demi membalaskan dendam dengan cara mengucapkan selamat.


"Tentu saja Mommy dan daddy tidak ingin melihat putri semata wayang bersedih ketika mantan suaminya menikah dengan kekasihnya yang sudah menjalin hubungan lebih dari 5 tahun."Lestari Juwita awalnya ingin mengatakan kejadian yang sebenarnya mengenai ia dan sang suami sudah tahu tentang Marcella.


"Mom, jangan begitu karena aku tidak ada hubungan apapun dengannya karena memang semua bermula dari mabuk. Aku malah akan datang ke acara pesta pernikahannya untuk mengucapkan selamat. Tapi karena kebetulan sekarang ada yang bersangkutan, lebih baik aku mengucapkan sekarang dan menjadi orang pertama yang melakukannya."


Floe hanya tersenyum menyeringai ketika sang ibu mengarahkan ibu jari padanya. Seolah merasa sangat bangga pada apa yang dilakukannya.


"Erland, selamat ya. Semoga kamu dan Marcella hidup berbahagia sampai kakek nenek. Aku pun akan menemukan pasanganku suatu saat nanti. Jadi, doakan aku agar mendapatkan seorang pasangan yang bisa mencintaiku melebihi diri sendiri hingga rela melakukan apapun." Floe yang saat ini seperti berhasil menembakkan peluru tepat ke jantung Erland, seperti mendapatkan sebuah kelegaan luar biasa di hatinya.


Ia yang berhasil membalas dendam dengan cara elegan, membuatnya seperti menjadi seorang wonder woman melawan penjahat.


'Rasanya aku ingin melihat bagaimana wajahnya sekarang. Pasti sangat putus asa karena tidak bisa menikahi wanita yang didambakan jika sampai hamil benih pria yang memperkosanya. Erland, akhirnya aku memanggil namamu lagi karena merasa sangat puas bisa melihatmu hancur kehilangan apa yang kau yakini bisa kau miliki.'


Sementara itu, Erland yang merasa tertampar karena seperti diejek secara tidak langsung ketika perasaannya saat ini tidak karuan. Ia akan seperti berubah menjadi seorang pria bodoh yang tidak bisa berkomentar apapun ketika mendapatkan sebuah kalimat sindiran.


"Floe, apakah kamu masih merupakan wanita polos yang kuketahui selama ini? Atau kamu sengaja ingin tertawa melihat semua yang terjadi padaku karena sudah mengetahuinya?" Erland berbicara seperti itu karena mengetahui jika ayah mertuanya membuatnya tampak seperti badut karena diawasi.


Jadi, saat ini berpikir jika Floe mengetahui semuanya dari orang tuanya dan berpura-pura bodoh seperti orang yang tidak tahu apapun. Padahal sedang bercorak melihat kehancurannya karena tidak berhasil menikahi Marcella, tapi malah ada konflik besar yang tidak tahu apakah bisa diselesaikannya.


Ia bahkan masih menunggu jawaban dari wanita di seberang telepon yang tidak langsung menjawab dan dugaannya semakin besar.


Hingga ia seperti tidak mengenali sosok wanita yang selama ini diketahuinya sangat polos.


"Aaah ... maaf, Erland. Sepertinya aktingku kurang bagus karena kamu bisa mengetahui jika aku hanya berpura-pura. Kau tahu tidak tentang hukum tabur tuai? Jadi, apakah aku salah jika merasa senang melihatmu menuai apa yang kau tanam? Kau tak lebih dari seorang pecundang karena sama sekali tidak memperdulikan calon anakmu." Floe berubah merah wajahnya saat mengingat jika prosesi penguburan janinnya dilakukan oleh pelayan.


Padahal seharusnya yang melakukan adalah sang ayah, tapi lebih mengedepankan ego hanya demi wanita lain yang bahkan belum sah menjadi istri. Sementara ia adalah istri yang sah dan seharusnya jauh lebih diutamakan daripada status kekasih pria itu.


"Itulah hukuman seorang pecundang yang lebih mementingkan wanita lain daripada istri dan anak sendiri. Membusuklah dengan penyesalan dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku karena aku tidak sudi melihatnya!" sarkas Floe yang saat ini merasa sangat murka ketika pria di seberang telepon menghubungkan ke polosannya dengan apa yang dilakukannya sekarang.


Seolah-olah ia lah yang salah karena berpura-pura tidak tahu dan mengejek. Padahal yang bersangkutan jauh lebih parah kelakuannya dan tidak bisa bercermin pada diri sendiri.


Refleks ia langsung memutuskan sambungan telepon karena tidak ingin lagi mendengar suara pria yang kini hanya menyisakan api amarah dan bahkan berhasil membuat hatinya bergejolak.


Namun, saat melemparkan ponselnya ke arah ranjang, ia melihat sang ibu yang menenangkannya dengan beberapa kali mengusap lengannya.


"Sabar, Sayang. Kamu adalah putri Mommy yang hebat. Mommy sangat bangga padamu. Kamu benar, seharusnya yang menguburkan anakmu adalah ayahnya, tapi malah dia hanya memikirkan wanita itu." Lestari Juwita yang tadinya tidak yakin pada putrinya karena khawatir akan merasa lemah jika sampai merasa iba pada Erland, kini benar-benar lega.


Putrinya saat ini telah membuktikan bahwa sudah bukan lagi sosok Floe yang polos seperti yang dikatakan oleh Erland tadi. Ia kini beralih memeluk putrinya untuk menyalurkan aura positif demi menenangkan amarah.


"Putriku sudah dewasa. Kelak kamu akan menjadi seorang wanita yang hebat, Sayang. Saat itu terjadi, akan ada banyak pria yang memujamu dan menginginkanmu untuk dijadikan pendamping hidup. Kamu yang suatu saat nanti akan memilih yang terbaik, bukan jadi salah satu pilihan seorang pria."


Saat tidak sependapat dengan kalimat terakhir dari sang ibu karena mengetahui bahwa menurut survei, jumlah popularitas laki-laki dan perempuan jauh lebih banyak perempuan.


"Bukannya zaman sekarang laki-laki lah yang mendominasi dengan memilih para wanita? Hingga mereka dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa pria itu bisa menjadikan wanita salah satu pilihan karena popularitasnya jauh lebih banyak." Floe yang sering mendengar ada pria yang berbicara seperti itu, rasanya ingin sekali merobek mulutnya.


"Bikin kesel aja "


"Itu tidak berlaku untuk putri Mommy karena kamu berasal dari keluarga Madison dan juga cantik serta berpendidikan. Awas saja jika ada laki-laki yang berani menyakiti putri Mommy lagi, akan daddy yang akan menghabisinya." Sebagai seorang ibu yang hanya bisa melahirkan satu anak karena memiliki kelainan di rahimnya dulu setelah melahirkan, ia berdoa agar putrinya tidak mengalami nasib yang sama.


'Lindungi putriku dari semua hal buruk dan izinkan dia berbahagia suatu saat nanti saat menemukan jodohnya.' Ia kini mendengar tanggapan dari putrinya yang kini seolah bangkit dari keterpurukan.


"Oh iya, aku sampai lupa jika punya daddy yang segala raja hutan. Bahkan mungkin Erland sudah tidak berani lagi menampakan wajahnya karena berhasil mendapatkan hukum mentah dari daddy. Sepertinya ada satu yang kurang." Floe yang tadinya tidak berniat untuk membalas dendam pada perbuatan Rafadan padanya, kini berubah pikiran.


"Maksudmu Rafadhan?" Sang ibu menggelengkan kepala karena tidak sependapat dengan putrinya. "Dia sekarang lontang lantung menanggung malu karena wajahnya sudah tersebar di media sosial."


"Menjadi gigolo yang suka memanfaatkan para wanita kaya menjadi judul berita utama Rafadhan. Nanti dia juga akan datang menyembah kakimu untuk memohon ampunan." Ia bahkan sudah membaca beritanya pagi semalam setelah sang suami menyuruh untuk mengirim berita itu.


To be continued...