Married by Accident

Married by Accident
LXXXI



Tempat paling nyaman di villa untuk menikmati suasana pagi adalah teras samping yang menghadap langsung ke arah matahari terbit. Di sekitar teras terdapat banyak jenis bunga yang ditanam oleh Edi. Beberapa dari bunga tersebut juga ditanam oleh Renjani. Sejak tinggal di villa dan hampir setiap hari melihat Edi mengurus taman, Renjani jadi tergerak untuk ikut menanam bunga. Sekarang itu menjadi hobi barunya. Mengurus tanaman memiliki kebahagiaan tersendiri bagi Renjani, melihat ada kelopak baru yang tumbuh setiap paginya membuatnya terhibur.


Kelana tidur di pangkuan Renjani menikmati semilir angin yang bertiup lembut.


"Sepertinya dia akan mirip Papa nya." Kelana mengacungkan foto USG di tangannya tinggi-tinggi saat cahaya matahari menerpa wajahnya, ia memicing mata karena silau.


"Jangan salah, dia perempuan." Renjani mengetahui itu saat USG terakhir kali, dokter memberitahu jenis kelamin anaknya.


"Oh ya?" Kelana mengangkat kepalanya dari pangkuan Renjani, ia membayangkan memiliki Renjani mini setelah ini pasti akan sangat menyenangkan. Kelana menatap wajah Renjani lalu turun ke perut, ia tak sabar menanti kelahiran putrinya. "Aku akan punya dua Renjani."


Renjani tertawa, kalimat itu terdengar sangat menggemaskan. Apakah jika anak itu laki-laki, berarti ia akan memiliki dua Kelana? Renjani sudah cukup dengan satu Kelana di dunia ini.


"Tapi Renjani yang ini hasil kerja kerasku." Kelana menarik Renjani dan mendekapnya, entah sudah berapa kali ia melakukannya seharian ini.


Kelana bercerita tentang keterpurukannya selama Renjani pergi, ia tak memperhatikan jadwal makan dan sama sekali tidak menyentuh alat-alat musik di studionya. Kelana berada di atas tempat tidur seharian.


"Bagaimana denganmu, Bi Tumi bilang kamu mengalami morning sickness yang parah."


Renjani mengangguk, "aku cuma bisa makan buah dan minum teh hangat selain itu pasti langsung muntah, tekanan darahku juga rendah jadi harus minum vitamin setiap hari tapi itu susah banget, setelah minum keluar lagi sampai aku capek."


"Istriku luar biasa." Kelana mengusap rambut Renjani.


"Tapi sekarang udah bisa makan apapun dan jarang muntah."


"Terimakasih karena sudah menjaga anak kita, mulai sekarang aku juga akan menjaga kalian." Kelana menangkup pipi Renjani lalu mencium bibirnya.


"Kamu kesini naik apa, aku nggak lihat mobil kamu." Renjani baru sadar jika ia tidak melihat mobil Kelana di halaman villa.


"Helikopter Papa."


"Serius?" Renjani membelalak, sekarang ia ingat kalau Kelana itu kaya raya begitupun dengan keluarganya. Bertemu lagi setelah sekian lama membuat Renjani lupa beberapa hal. Namun ia tetap ingat kalau Kelana sangat mencintainya.


Kelana mengangguk, "jalanan macet kemarin, karena nggak sabar jadi aku minta Papa kirim helikopter."


"Wah aku penasaran seperti apa rasanya naik helikopter."


"Kayak naik pesawat."


"Aku belum pernah naik pesawat." Renjani malu saat mengatakan itu, apakah hanya dirinya yang belum naik pesawat di usia 26.


"Kalau gitu nanti aku ajak kamu naik pesawat." Kelana pernah mengatakan bahwa ia ingin tur keliling dunia dan ia sudah menulis daftar negara yang akan ia kunjungi.


"Jadi kamu udah baikan sama Papa?" Renjani senang jika Kelana dan Wira akhirnya berbaikan. Meskipun Renjani tahu kesalahan Wira saat itu membuat Kelana sangat marah. Namun Wira satu-satunya orangtua Kelana yang tersisa.


"Belum lama ini Papa ke rumah dan menawarkan bantuan untuk mencari mu jadi otomatis kami baikan, sikap Papa lebih lembut waktu itu mungkin karena aku terlihat menyedihkan."


"Maaf karena aku sudah menyusahkan banyak orang." Renjani merasa bersalah karena membuat semua orang bingung mencari keberadaannya. Saat itu ia pergi dengan perasaan terluka.


"Kamu nggak harus minta maaf, aku tahu rasanya cemburu." Kelana mengerti perasaan Renjani karena kemarin ia juga mengalaminya saat melihat Devin merangkul Renjani. "Aku akan memperbaiki diri dan menjaga kalian lebih baik."


"Aku baca pesan-pesan yang kamu kirim."


"Jadi itu alasan kamu maafin aku?"


"Aku mempertimbangkan banyak hal." Renjani memikirkan semua ucapan Tumi, ia dibesarkan oleh orangtua tunggal yang selalu memarahinya dan itu sama sekali tidak menyenangkan. Renjani tak ingin anaknya bernasib sama. Renjani ingin membesarkan anaknya dengan penuh kehangatan dan kasih sayang orangtua.


"Re, kalau kamu nggak maafin aku hari ini, aku akan coba cara lain sampai kamu maafin aku, aku akan membuktikan kesungguhan ku."


"Dan membiarkan kamu mati kedinginan di luar?" Renjani tak mungkin sekeji itu, ia mencintai Kelana. Perasaan itu tak berubah meski Kelana telah membuatnya terluka.


"Tadi malam emang dingin banget, aku nggak sadar semalam itu aku tidur atau pingsan."


"Makanya aku kaget waktu lihat kamu ada di depan kamar, suhu semalam 12 derajat, bibir kamu sampai biru."


"Tapi aku baik-baik aja." Kelana mengembangkan senyum, tidak sia-sia ia hampir mati beku karena akhirnya Renjani mau memaafkannya. "Aku takut banget kehilangan kamu." Mata Kelana berkaca-kaca membayangkan hidupnya tanpa Renjani, ia benar-benar tak bisa hidup normal jika itu terjadi.


"Hm? itu Papa." Renjani menunjuk ke arah mobil yang berhenti di depan villa lalu Wira keluar dari sana.


"Papa." Kelana menghampiri Wira bersama Renjani.


Renjani mencium punggung tangan Wira dan menanyakan kabarnya.


"Papa baik, maaf karena Papa telat menemukanmu." Wira memeluk Renjani, meski jarang bertemu tapi ia juga sudah menganggap Renjani seperti anak sendiri. Wira tidak terlalu khawatir saat Kelana mengatakan memutus hubungan dengannya berkat Renjani. Wira tahu Renjani bisa menjaga Kelana dengan baik. Hingga akhirnya ia mendengar kabar bahwa Renjani menghilang. Wira terlambat mendengar kabar tersebut karena sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya Valia dan Ratih tahu lebih dulu tapi mereka menyembunyikannya dari Wira.


"Enggak Pa, jangan minta maaf."


Kelana merasa aneh melihat Wira dan Renjani berpelukan karena ia sendiri jarang melakukan itu pada Wira. Tanpa sadar Kelana telah membuat jarak antara dirinya dan Wira. Namun saat Wira menawarkan bantuan, Kelana sadar bahwa Wira tetaplah papa nya. Setelah ini Kelana akan berusaha memperbaiki hubungannya dengan Wira.


"Kapan kamu kembali ke Jakarta?"


Renjani melihat ke arah Kelana seolah mencari jawaban. Alhasil Wira juga melihat Kelana.


"Aku ingin secepatnya." Kelana memberi jawaban, ia ingin Renjani segera kembali ke apartemen tapi tak mau memaksa karena Renjani mengatakan menyukai tempat ini.


"Kamu bilang nggak masalah kapanpun aku mau balik." Renjani menekuk bibir bawahnya.


"Iya tapi sebenarnya aku mau lekas kembali."


Renjani mengajak Wira masuk ke ruang tamu agar mereka lebih nyaman mengobrol. Renjani pergi ke dapur untuk membuat minuman, ia tak mau terlalu merepotkan Tumi.


"Loh Bi Tumi bikin apa?" Renjani melihat Tumi sudah sibuk menyiapkan gelas.


"Siapa yang datang?"


"Papa mertua saya Bi, ini buat siapa?"


"Buat tamu kamu." Begitu melihat ada yang datang, Tumi bergegas membuat minuman tanpa diminta.


"Aku baru aja mau bikin makanya kesini, aku udah banyak merepotkan Bibi."


"Jangan bilang begitu, lagi pula sebentar lagi kamu nggak disini."


Renjani memeluk Tumi dari samping, ia akan sangat merindukan Tumi setelah kembali ke Jakarta. Tak ada lagi yang memasak atau mengeringkan rambut untuknya. Tentu Kelana juga bisa melakukan itu tapi rasanya berbeda, Renjani merasa memiliki Ibu yang menyenangkan.


"Biar saya yang bawa ke depan." Renjani mengangkat nampan dengan tiga gelas jus mangga di atasnya.


"Hati-hati ya."


"Iya Bibi ku sayang." Renjani tersenyum lebar karena Tumi memperlakukannya seperti anak kecil.


"Kapanpun kamu siap, nanti Papa kirim helikopternya kesini." Ujar Wira saat Renjani meletakkan gelas di atas meja.


Renjani melirik Kelana, "kami bisa naik kereta Pa lagi pula barang ku nggak banyak." Ia duduk di samping Kelana.


"Bukannya kamu mau tahu rasanya naik helikopter?"


Renjani menyikut Kelana, kenapa juga Kelana mengatakan itu di depan Wira. Lagi pula Kelana berjanji akan mengajak Renjani naik pesawat bukannya helikopter.


"Mungkin kami akan tinggal beberapa hari disini Pa."


"Baik kalau begitu." Wira meneguk jus mangga yang Renjani bawa. "Enak."


"Bi Tumi yang bikin."


"Papa tahu ini nggak pantas tapi Papa mau bilang terimakasih sama kamu."


"Terimakasih untuk apa Pa?"


"Terimakasih berkat kamu, sekarang Papa bisa baikan sama Kelana." Wira menemukan jalan berbaikan dengan Kelana saat ia menawarkan bantuan untuk mencari Renjani. Beruntung orang suruhannya lah yang menemukan Renjani.


"Siapa bilang kita baikan?" Kelana pura-pura memasang wajah galak.


"Kamu nggak mau baikan sama Papa?"


"Kelana mau kok Pa." Renjani menjawab mewakili Kelana, ia tahu Kelana gengsi untuk membalas ucapan Wira.