Married by Accident

Married by Accident
Jalan terbaik



"Tidak! Jangan lakukan itu padaku. Aku bukan pelacur yang bisa kau gunakan untuk memuaskan nafsumu. Pergi dariku! Aku jijik padamu!" Masih mencoba untuk menghindar agar bibir tebal itu tidak menelusuri kulitnya, Marcella yang meremang bulu kuduknya, beberapa kali menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri.


Bahkan wajahnya pun demikian karena benar-benar tidak ingin kembali merasa ternoda dan jijik pada tubuhnya sendiri. Hingga ia seketika berlinang air mata begitu Zack malah makin berbuat gila sesuka hati tanpa memperdulikan penolakannya.


Zack malah semakin bernafsu melihat wanita di bawahnya makin menjadi saat menolak dan menghindar darinya. Ia kini tidak ingin menanggapi perkataan Marcella karena hanya fokus pada tujuannya, yaitu mendaki puncak kenikmatan untuk kedua kalinya.


'Rasanya percuma aku menjelaskan padanya. Lebih baik kuselesaikan semua ini terlebih dahulu, baru memberikan pengertian untuk kesekian kali jika aku ingin menjadikannya hanya milikku. Aku tidak akan menyerahkan pada pria yang dikatakan kekasihnya itu,' gumam Zack yang kini sudah mencium serta ******* bibir sensual wanita di bawahnya.


Ia tidak mempermasalahkan wanita yang sama sekali tidak mau membalas ciumannya. Bahkan tangannya pun sudah bergerilya kemana-mana dan pastinya ingin memberikan sensasi kenikmatan bagi Marcella.


Masih tidak menyerah, Marcella yang masih dibungkam mulutnya, berusaha untuk melepaskan kuasa pria yang menahan kedua tangannya hanya dengan satu tangan kanan.


Sementara tangan kiri pria di atasnya tersebut menyerang titik paling sensitif dan membuatnya membulatkan matanya. 'Tidak! Aku benar-benar jijik padanya. Kenapa hidupku jadi hancur seperti ini? Siapapun, selamatkan aku. Erland, sekarang aku benar-benar membutuhkanmu.'


Marcella makin berlinang air mata kala Zack makin menjadi dan sekarang kembali menyerangnya habis-habisan. Ia bahkan menganggap jika pria itu adalah binatang yang tidak punya hati.


Ruangan kamar hotel yang kini dipenuhi oleh suara ******* dari Zack saat menyalurkan hasratnya, berbanding terbalik dengan apa yang ditunjukkan oleh Marcella.


Masih dengan berurai air mata, Marcella yang kini sudah kehabisan tenaga untuk melawan, akhirnya menyerah dan tatapan penuh kebencian dirasakannya pada sosok pria yang masih memacu diri dan menahan kedua tangannya.


Hingga ia makin jijik ketika Zack yang terlihat parau wajahnya tersebut membisikkan sesuatu di telinganya, sehingga makin bertambah besar perasaan hancurnya.


Ia dengan sangat jelas menatap Marcella yang membencinya, tapi tetap tidak mengurungkan niatnya untuk memuaskan hasratnya yang seperti meletup-letup dan hampir meledak.


"Kau pun juga merasakan nikmatnya, bukan? Jangan berbohong padaku, Sayang. Mendesahlah karena respon tubuhmu tidak bisa menipu. Kamu sudah basah," ejek Zack dengan tersenyum menyeringai.


Namun, ejekannya tetap tidak membuat wanita itu menunjukkan respon yang diharapkan, sehingga hanya fokus pada nafsunya semata dan makin menjadi. Bahkan kali ini ia makin bertambah besar kekuatannya kala melihat tatapan penuh kebencian dari wanita di bawahnya tersebut.


Marcella yang mengepalkan tangannya, meskipun masih dicengkeram kuat oleh Zack, berniat untuk kembali mengumpat. Bahwa ia sangat jijik dan tidak menikmati seperti yang dikatakan Zack.


"Aku tidak ...."


Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya kala bibirnya kini dibungkam oleh bibir tebal yang sudah ******* kasar dengan penuh nafsu. Satu-satunya yang saat ini ia pikirkan adalah, kenapa hari ini malapetaka besar menimpanya setelah Erland menghubungi.


'Sampai kapan semua ini berakhir? Aku benar-benar ingin mati sekarang. Aku sudah tidak punya sesuatu yang bisa kubanggakan untuk Erland. Apakah hari ini kisah kita berakhir? Apa kau akan bersedih jika tahu aku mati?' gumam Marcella yang ingin menyelesaikan semua masalah yang menimpanya.


Bahwa mengakhiri hidup agar tidak lagi tersiksa oleh rasa jijik atas tubuhnya sendiri adalah jalan terbaik dan merasa yakin dengan keputusannya.


To be continued...