
"Akhirnya!" Renjani berseru girang melihat armsling Kelana dilepas setelah menjalani fisioterapi selama satu bulan terakhir. Bahu dan lengan Kelana sudah bisa bergerak bebas, hanya saja dokter belum memperbolehkannya bermain violin.
"Akhirnya suami mu nggak cacat lagi." Sudut bibir Kelana terangkat membentuk senyum manis.
Renjani tertawa, "jadi aku nggak bisa ngeledek kamu lagi." Ia meraba sepanjang lengan Kelana hingga bahu dengan hati-hati.
"Pegang aja, nggak sakit kok."
"Akhirnya kamu berhasil melewati ini." Mata Renjani berkaca-kaca, ia tahu ini sulit bagi Kelana. Violin adalah dunia kedua bagi Kelana lalu dunia itu hancur hingga membuatnya tidak bisa melarikan diri kemanapun kecuali menerima takdir yang sudah Tuhan gariskan.
Selain saat Karalyn meninggal, saat-saat dimana Kelana tak bisa bermain violin adalah momen terberat dalam hidupnya. Kelana harus merelakan undangan ITYC yang tak akan ia dapatkan dua kali. Kelana harus melepaskan impian bermain violin di tengah-tengah juri ITYC dan peserta yang datang dari berbagai negara. Kelana telah latihan keras demi menampilkan yang terbaik tapi pada akhirnya ia tak bisa melakukan apa-apa. Kadang takdir memang sebercanda itu.
Tiga bulan terakhir ini terasa sangat sulit bagi Kelana karena ia harus vakum dari semua kegiatannya. Kelana bisa menghadapi masalah apapun selama ia bisa bermain violin. Namun saat kecelakaan itu terjadi, Kelana tak bisa memainkan violin, ia merasa dunianya hancur saat itu juga.
Selama itu juga Kelana telah memutuskan hubungan dengan Wira. Beberapa kali Wira berusaha untuk menemui Kelana di apartemen. Namun Kelana sudah berpesan pada staf apartemen untuk tidak membiarkan Wira masuk. Itu adalah cara terbaik menghukum Wira atau sebaliknya Wira mungkin senang karena Kelana tidak akan mengganggunya lagi.
Kelana harus melepaskan beberapa hal untuk mendapat sesuatu yang lebih baik. Konon kita harus membersihkan rumput liar di sekitar kita agar bisa tumbuh subur. Kelana sedang membersihkan rumput tersebut.
"Mau kemana kita?" Renjani menggandeng lengan Kelana melewati koridor rumah sakit menuju tempat parkir.
"Kantor." Kelana sudah membaca jadwalnya hari ini. Adam telah menandatangani kontrak dengan salah satu brand pakaian yang meminta Kelana menjadi modelnya.
"Langsung ke kantor?"
"Ya, aku udah istirahat lama banget."
"Tapi dokter bilang kamu belum boleh main violin."
"Iya sayang, aku nggak lupa." Kelana mengacak rambut Renjani gemas, ia bukan anak kecil yang harus selalu diingatkan.
Renjani menunduk menyembunyikan wajahnya yang ia yakini sudah memerah padahal Kelana sudah sering memanggilnya dengan sebutan sayang. Namun Renjani selalu saja tersipu saat mendengar itu.
"Mas, sebaiknya kita lewat pintu belakang, di depan kantor banyak penggemar dan wartawan." Yana baru saja mendapat informasi dari staf Antasena jika wartawan dan penggemar berkerumun di depan kantor. Mereka sudah berusaha menyembunyikan berita kembalinya Kelana tapi para penggemar tetap mengetahuinya.
"Nggak apa-apa aku temuin mereka."
"Jumlah mereka lebih banyak dari yang Mas kira."
"Bener kata Yana, nanti security malah kewalahan buat jaga kamu." Renjani tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada Kelana padahal ia baru saja sembuh.
Akhirnya Kelana mengangguk samar menyetujui Yana jika mereka akan masuk melalui pintu belakang kantor.
"Hari ini kamu temenin aku kan?"
Renjani mengangguk, karena ini hari pertama Kelana kembali bekerja maka ia akan menemaninya. Pekerjaan di Asmara Publishing juga tidak banyak, mereka sedang mempersiapkan terbitan novel baru tapi semuanya sudah bisa dihandle oleh tim Renjani.
"Mas, ini pakaian yang akan Mas Kelana kenakan untuk pemotretan, ada lima pakaian." Yana menyodorkan tabletnya pada Kelana.
Kelana memperhatikan lima foto pakaian di layar tablet tersebut. Sebenarnya Kelana tidak suka pekerjaan jenis ini, ia adalah seorang pemusik tapi justru menjadi foto model. Namun karena belum bisa bermain violin, Kelana tak bisa menolak pekerjaan itu apalagi Adam telah menyetujuinya. Adam sering menandatangani kontrak tanpa persetujuan Kelana.
"Mas, wartawan juga memenuhi pintu belakang." Dayat menghentikan mobil cukup jauh dari kantor Antasena tapi dari sini mereka bisa melihat wartawan yang mengerumuni sekeliling gedung.
"Sudah kuduga." Kelana mengembalikan tablet pada Yana. Kini ia tak punya pilihan selain menghadapi mereka. Kelana tahu pasti mereka juga ingin mengetahui kabarnya setelah lama vakum dari dunia hiburan. Tak ada gunanya menghindar karena pada akhirnya mereka akan menemukan Kelana.
"Kalau begitu lewat pintu depan." Tukas Kelana.
"Baik Mas." Dayat kembali melajukan mobil.
"Jangan takut." Kelana merasakan tangan Renjani semakin erat mencengkram bajunya. "Mereka cuma mau tahu kabar ku."
"Mereka nggak bakal dorong-dorongan kan?"
Renjani menggigit bibir, ia belum bisa beradaptasi dengan suasana seperti itu. Renjani kagum pada Kelana karena bisa tetap tenang menghadapi ratusan orang dan kilatan blitz kamera yang menerpa.
Begitu mobil Kelana mendekat, para wartawan seketika berkerumun. Security yang dikerahkan tidak mampu mengurai kerumunan tersebut.
Kelana menurunkan kaca jendela mobil, "saya akan turun kalau kalian tertib." Tukasnya.
Mereka langsung mundur memberi ruang untuk Kelana. Para penggemar di belakang juga sudah siap dengan ponsel mereka, seolah tidak puas dengan mata mereka juga ingin mengabadikan momen itu menggunakan ponsel.
"Pegang tanganku." Kelana mengulurkan tangan pada Renjani saat turun dari mobil.
Renjani menarik napas dalam lalu mengembuskan nya perlahan, ia tahu wartawan hanya menginginkan Kelana tapi tetap saja ia ikut tegang.
"Selamat siang semuanya." Kelana menyapa wartawan yang kini mengerumuninya. Ia melambaikan tangan pada penggemar di belakang kerumunan wartawan. Mereka adalah orang-orang paling setia yang selalu mendukung Kelana.
"Kondisi bahu saya sekarang sudah sangat membaik jadi hari ini bisa kembali ke kantor, terimakasih kepada teman-teman yang selalu mendukung saya, saya akan pulih dengan cepat dan kembali bermain violin, semoga kalian bisa bersabar menunggu sampai hari itu."
"Kami akan selalu mendukungmu!" Teriak para penggemar, mereka berasal dari berbagai kalangan, remaja hingga usia senja. Musik Kelana bisa dinikmati oleh semua orang.
"Tolong lihat kesini Kelana!" Teriakan itu terdengar dari berbagai sisi.
Kelana melambaikan tangan melihat ke berbagai arah agar semua wartawan bisa mendapat fotonya dengan baik.
Setelahnya Kelana dan Renjani digiring masuk ke gedung Antasena dibantu oleh security.
"Selamat kembali ke kantor!" Suara terompet menyambut Kelana.
Kelana berdecak kesal, ia tidak suka perayaan semacam ini apalagi ditambah terompet dan balon. Bahkan tahun baru sudah lewat dua bulan lalu tapi mereka masih menggunakan terompet itu.
"Terimakasih semuanya." Kelana tetap berterimakasih atas kerja keras teman-teman dan staf Antasena yang telah menyiapkan ini untuknya. "Jangan minta traktir, saya pengangguran selama 3 bulan kemarin."
Mereka tertawa, tentu saja meski berdiam diri di apartemen, uang Kelana tetap mengalir dari penjualan album Love Season.
"Kalau begitu traktir kopi saja." Seru salah satu dari mereka.
"Minta pada Yana." Kelana berlalu dari lobi masuk ke lift bersama Renjani meninggalkan Yana yang pasti akan langsung ditodong traktiran kopi oleh para staf.
"Yana juga mengatur keuangan mu?" Renjani penasaran soal itu.
"Untuk urusan pekerjaan Pak Adam yang mengaturnya dan untuk traktiran semacam itu, Yana akan mengurusnya dan kalau nafkah untuk istri, aku yang bertanggungjawab." Kelana mencubit dagu Renjani.
Renjani tersenyum lebar mendengar itu, ia tak menyangka bahwa Kelana akan menjadi suami yang penuh dengan kehangatan. Meski besar tanpa keluarga yang tidak harmonis mereka bisa saling mencintai dan menguatkan satu sama lain.
"Nggak heran kalau kamu bisa sangat sukses diusia 28 tahun, kamu sudah bekerja keras meraih semua ini."
"Kamu juga bisa sukses, usiamu baru 26 tahun."
"Teman-temanku bahkan bisa beli apartemen diusia 23."
"Bagi sebagian orang kesuksesan mungkin terkesan lambat tapi its okay, nikmati aja prosesnya lagi pula kamu sudah memilih pekerjaan yang kamu suka."
"Berkat kamu."
"Kalau gitu setelah pulang dari sini layani aku sampai pagi."
Renjani mendelik, apakah tubuhnya akan dibuat remuk lagi? Ah Renjani harus mempersiapkan diri dari sekarang. Jika Kelana mengatakan sampai pagi maka mereka benar-benar akan terjaga semalaman.