
"Kamu bikin kayak gini?" Mata Renjani berbinar-binar melihat scrapbook milik Kelana yang berisi foto-fotonya. Renjani tidak tahu jika Kelana suka memfotonya diam-diam.
"Iya." Kelana senang melihat ekspresi terkejut Renjani.
Ketika Kelana mengalami cedera bahu ia memikirkan hobi lain karena saat itu ia tidak bisa bermain violin. Akhirnya Kelana membuat scrapbook dengan menempelkan foto-foto Renjani yang ia ambil tanpa sepengetahuan Renjani.
Setelah melihat scrapbook tersebut Kelana dan Renjani baru sadar bahwa mereka telah melewati banyak hal.
Ada satu halaman khusus foto Kelana dan Renjani saat mereka berlibur ke Bandung. Mereka tersenyum lepas seolah tidak memiliki beban apapun.
"Ini foto pernikahan kita." Kelana menunjuk foto saat mereka berada di pelaminan.
"Kamu cemberut terus." Renjani melihat ekspresi Kelana yang sama sekali tidak menampakkan senyum. Kelana benar-benar buruk soal berakting.
"Pikiranku kalut waktu itu, tiba-tiba menikah dengan wanita yang nggak aku kenal."
"Aku juga, duniamu sangat berbeda jadi aku sulit beradaptasi."
"Kamu sudah melakukannya dengan baik." Puji Kelana, ia mengerti bagaimana perasaan Renjani saat itu. Dunia mereka memang jauh berbeda tapi Renjani bisa menyesuaikan diri dengan baik. Bahkan Renjani bisa membuat penggemar Kelana juga menyukainya seiring berjalannya waktu.
"Tapi sekarang banyak orang membenciku, bahkan aku dilempari telur." Renjani terkekeh menyembunyikan kesedihannya, ia tak tahu bagaimana caranya meredakan kemarahan mereka. Baru saja Asmara Publishing hendak dikenal banyak orang tapi ternyata kesuksesan tidak bisa diraih semudah itu.
"Aku sudah bilang, mereka yang membencimu berarti bukan penggemarku yang sesungguhnya." Kelana tahu Renjani masih sering membaca komentar penggemarnya di media sosial padahal ia sudah melarangnya. Membaca komentar mereka tak akan ada habisnya. Sekeras apapun usaha mereka untuk berbuat baik, pasti ada saja yang membencinya.
"Nggak nyangka udah mau satu tahun." Renjani jadi melow mengingat semua hal yang mereka lalui selama ini.
"Oh ya?" Alis Kelana terangkat, waktu begitu cepat berlalu. Mungkin karena Kelana menikmati momen kebersamannya dengan Renjani, tanpa terasa satu tahun sudah mereka lalui.
"Ya, lihat tanggalnya." Renjani menunjuk tanggal yang tertera pada foto-foto pernikahan mereka.
"Apa yang kamu inginkan untuk hadiah anniversary?"
"Mmm-" Renjani berpikir, kira-kira apa yang bisa mereka lakukan untuk merayakan satu tahun pernikahan. "Aku mau seharian sama kamu disini."
"Hanya itu?"
"Ya, kita udah jarang ngabisin waktu seharian berdua di apartemen."
Setelah sembuh Kelana selalu pergi ke kantor begitupun dengan Renjani sehingga mereka jarang menghabiskan waktu berdua.
"Baiklah, tapi coba pikirkan hadiah yang kamu inginkan."
"Apa ya, kamu udah ngasih segalanya buat aku." Renjani melihat meja riasnya penuh oleh produk skincare dan make-up yang Kelana belikan untuknya. Renjani tidak pernah meminta itu tapi Kelana lebih tahu soal skincare sedangkan make-up, Yana yang mengurusnya. Tas, sepatu dan pakaian juga memenuhi walk in closet, Renjani tidak menginginkan apapun.
"Bahkan kamu ngasih aku lagu romantis, aku bener-bener nggak butuh hadiah." Tambah Renjani.
"Istriku benar-benar hemat." Kelana meraih tangan Renjani dan mengecupnya. "Aku selalu bersyukur punya kamu." Ia menatap Renjani penuh cinta.
"Karena aku hemat?"
"Bukan, karena kamu Renjani."
"Sebentar." Renjani mengambil tablet miliknya di atas nakas. "Aku mau bikin daftar apa aja yang harus dilakukan untuk merayakan anniversary pertama."
"Tumben?"
"Aku belajar dari kamu, pertama kita harus bangun pagi terus olahraga bareng setelahnya Kelana bikin nasi goreng." Renjani menulis daftar kegiatan di tabletnya.
"Setelah olahraga kita sarapan nasi goreng?" Kelana terkejut, kenapa Renjani memilih makanan berminyak setelah berolahraga. Kerja keras mereka membakar kalori akan sia-sia.
"Iya." Renjani mengangguk yakin, nasi goreng buatan Kelana adalah yang paling enak di dunia.
"Kalau gitu aku mau bikin nasi goreng sehat, lalu?" Kelana tidak punya pilihan selain menuruti kemauan Renjani.
"Lalu tanam Alyssum di balkon, nanti aku beli alat-alatnya buat tanam bunga supaya balkon kita nggak terlalu kosong, katanya bercocok tanam dengan pasangan itu juga menambah keharmonisan."
"Kenapa kita nggak bercocok tanam di kamar aja?"
"Kamu mau bunga di dalam kamar, kalau gitu aku harus beli sansevieria." Renjani mencatat nama tanaman yang hendak ia beli nanti.
Kelana tertawa melihat kepolosan Renjani padahal mereka hampir melakukan itu setiap malam. Bercocok tanam dengan konotasi yang berbeda.
"Gimana kalau kita bikin mug pasangan?" Renjani menemukan refrensi membuat mug dari tanah liat.
"Kamu bisa?"
"Kelihatannya gampang."
"Gimana kalau nonton film, kita belum pernah nonton sebelumnya." Meski kelihatannya gampang tapi Kelana yakin membuat mug akan memakan waktu lama dan hasilnya belum tentu bagus.
"Nonton Redeeming Love ya, Jesi bilang film itu bagus banget, dia nonton sama gebetannya waktu itu."
"Oke, apapun yang kamu mau."
Renjani begitu bersemangat mencatat hal-hal yang akan ia lakukan di peringatan satu tahun pernikahan mereka. Melalui hari dengan normal seperti pasangan pada umumnya adalah impian Renjani.
"Lagu Renjani juga akan rilis tepat di tanggal tersebut."
"Oh ya? kamu udah ngasih banyak hal tapi aku belum ngasih apapun buat kamu."
"Keberadaan mu udah jadi hadiah paling berarti buat aku." Kelana mengusap rambut Renjani yang terurai. "Siapa sangka aku akan ketemu wanita yang 20 tahun lalu pernah aku tolong."
"Terimakasih Kelana Radiaksa." Entah kenapa dada Renjani berdebar saat menyebutkan nama lengkap Kelana. Mungkin karena nama itu lah yang papa nya ucapkan di depan penghulu saat akad nikah satu tahun lalu.
"Aku boleh tanya sesuatu?" Kelana mengambil tablet Renjani dan meletakkannya, sebagai gantinya ia menggenggam kedua tangan Renjani seolah ingin mengalirkan kehangatan.
Renjani mengangguk.
"Sebelum berangkat ke kantor untuk konferensi pers, aku lihat kamu menangis di balkon, ada apa, kamu baca komentar jahat lagi?"
Renjani tidak segera menjawab, ia pikir Kelana tidak melihat itu.
"Waktu itu Mama telepon."
"Terus kenapa kamu nangis?"
Renjani menekuk bibir bawahnya, kalimat mama nya masih membekas sampai sekarang, pun dengan sakitnya.
"Maaf Re, aku udah kasih penjelasan ke Mama setelah kita melakukan konferensi pers, aku berusaha meyakinkan mereka kalau aku bisa menjagamu dengan baik."
"Itu udah terjadi, jangan minta maaf."
"Lalu apa yang membuatmu menangis?"
"Mama bilang aku wanita murahan karena mau nikah gitu aja sama kamu, dia-Mama ku, apa dia perlu bilang gitu?"
"Mungkin waktu itu Mama lagi emosi, lagi pula itu sama sekali nggak bener."
Ponsel Kelana bergetar panjang mengalihkan perhatian si pemilik. Kelana melepaskan genggamannya di tangan Renjani untuk memeriksa ponselnya.
Kelana melirik Renjani menimbang-nimbang apakah akan menjawab telepon tersebut atau tidak.
"Siapa, angkat aja." Renjani beranjak untuk membuat sarapan, mereka harus segera pergi ke kantor. Renjani sedang mempersiapkan penerbitan buku baru.
Kelana menolak panggilan dari Elara dan menyusul Renjani. Ia tidak mau merusak suasana karena mereka baru saja baikan.
******
Bercocok tanam untuk merayakan anniversary sepertinya ide yang buruk karena Renjani sama sekali tidak mengetahui cara melakukannya. Buktinya Renjani sudah 10 menit mondar-mandir di toko peralatan bercocok tanam tapi ia belum juga menemukan barang yang harus dibelinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang karyawan toko menghampiri Renjani yang tampak kebingungan.
"Saya mau biji bunga Alyssum untuk ditanam di balkon tapi saya nggak tahu alat-alat apa saja yang dibutuhkan." Harusnya Renjani meminta tolong pada karyawan toko lebih awal, ia hanya membuang waktu selama 10 menit disini.
"Kalau begitu mari ikut saya." Karyawan wanita tersebut mengajak Renjani menuju rak dimana berbagai bibit tanaman dipajang. "Ada Hydrangea, Carnation, phlox, matahari, lavender."
Renjani tidak tahu tanaman yang disebutkan karyawan itu, ia hanya mencari di google secara acak saat mengatakan Alyssum. Renjani ingin membeli semua benih itu tapi belum tentu ia bisa merawatnya. Dari pada benih itu sia-sia, sebaiknya Renjani mencoba satu tanaman dulu.
"Mbak mau apa tadi?"
"Alyssum."
"Pilihan yang bagus, berapa banyak?"
"Untuk tiga pot."
Karyawan tersebut memasukkan benih Alyssum ke dalam wadah kertas. Setelahnya Renjani memilih pot, sekop kecil, alat semprot, tanah dan pupuk.
Renjani juga membeli bunga Lily untuk diletakkan di meja kantor dan kamarnya.
"Lily oranye?" Karyawan yang berdiri di belakang kasir itu menanyakan kembali bunga pilihan Renjani. "Bukan putih?"
"Putih sudah biasa, saya mau yang warnanya cerah."
"Baiklah kalau begitu, saya pikir ada alasan tertentu."
"Misalnya?"
"Lily oranye dikenal memiliki makna perpisahan bagi mereka yang mempercayainya."
"Saya bukan orang yang percaya mengenai filosofi bunga, terimakasih ya." Renjani membalas senyum ramah karyawan toko itu setelah membayar semua barang yang dibelinya.
Dibantu oleh karyawan, Renjani memasukkan semua peralatan ke dalam bagasi mobil sedangkan bunga Lily ia letakkan di jok depan.
"Selamat pagi." Renjani menyapa 5 karyawannya yang sedang sibuk dengan laptop masing-masing. Mereka tengah mempersiapkan penerbitan novel baru.
"Pagi Mbak." Balas mereka.
"Mbak Rere udah sehat?" Tanya Manda disusul yang lain, mereka mengkhawatirkan keadaan Renjani apalagi setelah berita tentang pernikahan Kelana dan Renjani merebak. Manda juga mengidolakan Kelana tapi ia tak mau ikut-ikutan membenci Renjani, ia akan selalu memberi dukungan.
"Udah." Renjani mengambil vas kaca di rak untuk memindahkan bunga Lily yang ia bawa.
"Wah suasana hati Mbak Renjani lagi baik ya." Eve mengering menggoda Renjani, tidak biasanya Renjani membeli bunga.
"Justru bunga ini yang akan membuat suasana hati kita lebih baik." Renjani meletakkannya di tengah ruangan.