
Harry yang tadinya tidak mengalihkan perhatian dari sosok wanita dengan raut wajah kesal karena perbuatannya yang ingin menghubungi Erland karena berpikir jika keadaan teman satu kelasnya tersebut sedang membutuhkan sosok suami saat ini.
Apalagi wajah pucat mendominasi dan membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada ibu dan anak tersebut. Hingga ia bisa melihat laju kendaraan besar yang semakin mendekat dan seperti tidak berniat untuk berbelok ketika ada taksi yang sedang berhenti.
Ia refleks beralih menatap ke arah wanita yang hendak masuk ke dalam mobil sekaligus berteriak untuk menghentikannya, tapi berpikir jika itu akan sia-sia belaka, sehingga langsung berlari secepat kilat dan menarik tubuh Floe ke trotoar hingga membuatnya terjatuh.
Floe yang tadinya sama sekali tidak memperdulikan karena sangat kesal pada Harry, tetapi menyadari begitu sebelah kanan dan truk melaju ke arahnya hingga tubuhnya melesat dan terjatuh di atas Harry.
Sementara itu, truk yang melaju sangat kencang karena sopir mengantuk, sudah menghantam taksi yang berhenti tersebut hingga cukup jauh terseret hingga ringsek dan menghantam beberapa kendaraan yang lain yang melintas.
"Astaghfirullah! Allahuakbar!" seru sang supir yang saat ini hanya bisa melihat taksi sudah cukup jauh hingga beberapa ratus meter dan membuat kemacetan di jalan utama. Bahkan suara dentuman dari kendaraan yang beradu karena truk, menghiasi suasana di jalan raya.
Ia berniat untuk mendekat, tapi tidak jadi melakukannya karena mendengar suara rintihan dari wanita yang merupakan penumpang taksinya.
Harry merasakan tubuhnya terhempas trotoar sambil menahan tubuh Floe di atasnya dan juga membuat lengannya berdarah. "Floe, kamu tidak apa-apa?"
Floe yang tadinya memejamkan mata saat pasrah apa yang akan terjadi padanya, tapi merasakan sakit pada bagian bawah tubuhnya hingga membuatnya memegangi perut.
"Perutku!" lirihnya saat ini masih meringis menahan rasa sakit yang dirasakan.
Hingga ia mendengar suara bariton dari sang sopir ketika Harry mulai bergerak dan menyadarkannya.
"Nona, Anda berdarah!" seru sang supir yang tadinya ingin memastikan jika penumpangnya selamat dari maut karena ditolong oleh pria yang baru saja datang itu.
"Apa yang terjadi padaku? Aaarrh ... Perutku sangat sakit." Floe bahkan semakin merasakan kesakitan luar biasa pada perutnya.
Bahkan saat bergerak dari atas tubuh Harry saja tadi dengan kekuatan ekstra yang membuatnya makin bertambah kesakitan.
'Apa terjadi sesuatu hal yang buruk pada janinku? Bagaimana jika itu benar? Tidak, kamu baik-baik saja, kan?' gumam Floe dengan raut wajah semakin pucat.
"Floe, kita harus ke Rumah Sakit. Pasti benturan tadi saat jatuh membuatmu jadi seperti ini." Harry yang sebenarnya merasa sangat bersalah karena tadi secepat kilat menarik tubuh Floe hingga terjatuh karena berpikir harus segera terhindar dari truk melaju sangat cepat itu.
Namun, berpikir jika penyesalan akan percuma jika tidak segera menyelesaikan dengan mencari jalan keluar dari apa yang dialami wanita dengan wajah semakin pucat t dan kesakitan tersebut.
Ia sekilas menoleh ke arah sang supir taksi. "Apa bisa hubungi sesama teman supir taksi untuk segera datang ke sini? Cari yang kira-kira berada dekat dari sini, agar tidak jauh dan lebih cepat datang."
Sang supir yang sebenarnya memikirkan nasib taksi karena khawatir jika dipecat dari perusahaan karena membuat kendaraan yang menjadi radang rezeki telah hancur. Namun, ia tetap menentukan kepala dan langsung meraih ponsel miliknya untuk menghubungi temannya di grup agar dibaca semua supir taksi.
Saat Floe dipenuhi rasa khawatir sekaligus ketakutan atas keadaan dari janin yang berada di rahimnya, perlahan buram dan lama-kelamaan menghilang.
Harry yang tadinya berniat untuk mengangkat tubuh Floe setelah taksi tiba, kini langsung menahan beban berat wanita itu karena pingsan.
"Floe?" Harry bahkan saat ini beberapa kali menepuk ringan pipi putih yang pucat tersebut. "Bangun, Floe! Kamu tidak pergi ke surga, kan?"
To be continued...