Married by Accident

Married by Accident
Membayar tunai apa yang ditanam



Sosok pria yang baru saja berjalan menuju ke arah lobby rumah sakit untuk menjemput sang kekasih yang tadi mengirimkan pesan bahwa akan pulang, sangat terkejut ketika melihat di depan bola matanya, interaksi dua orang itu.


"Kenapa kamu malah asik berdekatan dengannya?" tanya Freddy Kurniawan yang menatap tajam sang kekasih yang dicurigai berselingkuh dengan pria yang merupakan asisten pribadi dari kekasih Marcella.


Kyara seketika menggelengkan kepala dan berjalan cepat mendekati pria dengan raut wajah memerah karena dipenuhi oleh kesalahpahaman, sehingga murka padanya.


"Sayang, ini semua tidak seperti yang kamu lihat." Ia seketika bertambah kesal karena tidak didengarkan.


"Alasan klise para wanita yang ketahuan selingkuh!" seru Freddy dengan wajah masam dan masih tidak bisa menghilangkan kecurigaan serta kekesalannya pada sang kekasih.


Hingga ia semakin bertambah kesal ketika mendengar suara bariton dari pria yang sangat tidak disukainya karena berani mendekati kekasihnya meskipun sudah mengetahui jika memiliki pasangan.


"Ini benar-benar hanya kesalahpahaman karena aku tadi mencoba menghiburnya ketika sangat terpukul saat menyalahkan diri sendiri mengenai kejadian yang menimpa Marcella." Leo sebenarnya sangat malas untuk menjelaskan karena merasa dirinya tidak bersalah.


Namun, tidak ingin menjadi penyebab keretakan hubungan pasangan kekasih tersebut, sehingga mau tidak mau mencoba untuk menjelaskan dan bersabar agar tidak terbawa emosi.


Padahal jujur saja ia sangat lelah dan ingin segera bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk kamar hotel karena beberapa hari ini tidur beberapa jam saja dengan posisi di atas kursi dan badannya pegal-pegal serta kepala terasa berat dan leher juga demikian.


Saat Freddy hendak memotong pembicaraan Leo, tidak bisa melakukannya karena mendengar suara sang kekasih yang murka padanya dan membuatnya benar-benar kebingungan.


"Kalau tidak percaya ya sudah! Kita putus saja sekarang!" Kyara yang dari tadi masih belum baik-baik saja karena dipenuhi rasa bersalah pada Erland serta Marcella, tentu saja semakin bertambah emosi melihat sang kekasih yang berubah kekanakan dan over posesif karena kecemburuan berlebihan.


Tidak ingin mengambil pusing tentang hubungannya yang dianggap hanya akan menambah beban pikiran serta membuatnya gila, sehingga tanpa pikir panjang menyahut dan berlalu pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan dari sang kekasih.


Hingga seseorang yang kini menjadi terdiam membisu di tempat dengan mulut menganga karena awalnya berpikir jika sang kekasih akan merayu dengan cara menjelaskan baik-baik, tapi malah berakhir memutuskan hubungan, Freddy seketika berjalan cepat mengejar Kyara.


"Sayang, tunggu! Jangan bicara seperti itu. Aku minta maaf." Tanpa mempedulikan tatapan dari Leo, Freddy saat ini menutupi kebodohannya karena tidak bisa berpikir positif dan malah mencurigai sang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan dengannya.


Ia berharap bisa merayu wanita yang sangat dicintainya tersebut agar menarik kata-katanya untuk putus.


Berbeda dengan Leo hanya bisa menatap kepergian pasangan kekasih yang terlibat kesalahpahaman tersebut. "Inilah salah satu alasanku tidak ingin menjalin hubungan dengan women. Yang ada hidupku jadi ruwet!"


Ia masih menunggu mereka pergi dari area Rumah Sakit agar tidak melihatnya karena khawatir jika itu akan kembali menambah masalah. Dengan mendengar menatap ke arah anak tangga, ia mengingat tentang atasannya yang tadi terlihat sangat terpukul begitu mengetahui hal yang sebenarnya.


"Semoga tuan Erland kuat menghadapi ini semua. Jika tuan akan berada di sini sampai nona Marcella sadar, lalu bagaimana dengan istrinya? Kasihan juga nona Floe yang tengah hamil muda, tapi ditinggalkan." Ia menggelengkan kepala sambil menepuk jidat karena membebankan pikiran mengenai sesuatu yang tidak perlu dipikirkannya.


"Dasar bodoh! Kenapa ikut ribet memikirkan kehidupan tuan Erland? Yang jalani saja tidak stres, ngapain kamu malah pusing?" Leo yang saat ini terdiam di tempatnya, sekilas melirik jam tangan yang menunjukkan waktu dini hari.


"Kira-kira mereka sudah menghilang dari rumah sakit atau masih berdebat di depan? Aku sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat," ucapnya yang kini kembali menarik koper dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar rumah sakit.


Sementara itu di tempat yang berbeda, yaitu di ruangan ICU, terlihat Erland yang berjalan menuju ke arah ranjang pembaringan sang kekasih. Beberapa saat lalu, setelah Kyara keluar dari ruangan, ia seperti patung yang berdiri tanpa berani mendekat.


Rasa bersalah makin menyeruak karena tadi sempat memikirkan wanita lain yang tak lain adalah Floe ketika pertama kali melihat Marcella. Ia bahkan merasa yakin jika pasti Floe akan mengalami fase terpuruk ketika baru sadar dari proses kuretase begitu mengetahui jika janin sudah tidak bisa diselamatkan dan harus diangkat.


Bahwa dua wanita yang memiliki hubungan dengannya tersebut sama-sama mengalami kemalangan dengan versi berbeda dan rasa bersalah seolah imbang antara pada Floe dan Marcella.


Hanya saja ia saat ini lebih besar rasa bersalah pada Marcella karena berdiri tepat di hadapan sang kekasih dan malah memikirkan wanita lain.


"Sayang, maafkan aku." Akhirnya suara lirih bernada serak lolos dari bibirnya begitu berhasil mendekati sosok wanita yang memakai selang oksigen dan masih menutup rapat kelopak matanya.


Bahkan indra penglihatannya pun kini terlihat berkaca-kaca hingga rasa sesak membuatnya tidak berani menyentuh sosok wanita dengan wajah pucat yang mengalami kemalangan itu.


"Apa yang harus kulakukan untuk memperbaiki semuanya, Sayang? Semua ini salahku. Kamu tidak mungkin mengalami hal ini jika aku tidak menuruti Floe saat itu. Maafkan aku, Sayang." Erland berbicara dengan menahan beban hatinya yang dipenuhi oleh penyesalan.


Meskipun menyadari jika semua penyesalan yang saat ini dirasakan sama sekali tidak berguna dan tidak akan merubah kejadian buruk itu. Hingga beberapa menit berlalu, hanya ada hembusan napas kasar dan juga bola mata berkaca-kaca makin terlihat jelas saat ini.


Erland yang dari tadi berusaha untuk tidak menyentuh sedikitpun sang kekasih karena merasa tidak pantas, lama-kelamaan tidak tahan lagi dan menghambur memeluk erat tubuh wanita dengan posisi terlentang yang dipenuhi oleh beberapa alat dengan bunyi yang menegangkan itu.


"Sayang, kamu harus bangun untuk memberikan hukuman padaku. Aku akan menerima apapun hukumanmu. Kamu harus sadar karena aku sudah datang dan akan mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu."


"Kamu tidak akan mengalami hal seperti ini jika aku tidak melakukan kesalahan malam itu." Dengan wajah berkaca-kaca yang kini berubah mengalir deras memenuhi wajah dan turun ke wajah sang kekasih, Erland masih tidak melepaskan pelukannya.


Ia benar-benar tidak kuasa melihat sosok sang kekasih yang masih kritis dan membuatnya tidak tahu harus bagaimana lagi jika sampai berakhir buruk.


Suasana di ruangan rumah sakit di waktu dini hari itu hanya dipenuhi oleh suara serak Erland yang masih sibuk menyesali perbuatannya. Bahkan ia saat ini sudah seperti seorang wanita karena tidak bisa menahan untuk tidak menangis melihat keadaan sang kekasih.


"Bangunlah, Sayang. Apa kamu tidak bisa merasakan pelukanku dan juga mendengar suaraku? Aku bahkan sekarang berubah lembek dan cengeng hanya karenamu. Bukankah kamu belum pernah melihatku menangis seperti ini? Jadi, bangun dan lihatlah kekasihmu ini tidak tangguh lagi seperti yang kamu banggakan." Saat ini Erland benar-benar berharap jika wanita yang sangat dicintainya itu segera membuka mata agar melihat keadaannya saat ini.


Rasa sesak di dada benar-benar membuatnya seperti kesulitan bernapas saat ini, tapi masih tetap bertahan pada posisinya yang membungkuk dengan memeluk erat tubuh lemah wanita malam yang mengalami pemerkosaan tersebut.


Hingga beberapa menit berlalu dan harapannya pupus karena meskipun sudah memperlihatkan titik terendah dan fase terlemah dalam hidupnya, tapi tetap saja wanita yang saat ini ada di hadapannya tersebut tetap belum membuka mata.


"Aku tidak akan pergi sampai kamu membuka matamu, Sayang. Aku akan selalu berada di sisimu." Erland perlahan memegang telapak tangan yang dibalut perban itu.


"Kamu pasti sangat kesakitan ketika melakukannya. Kenapa kamu harus melakukan ini? Seharusnya kamu langsung menelponku dan mengatakan semuanya agar aku bisa menghabisi bajingan itu," seru Erland dengan raut wajah memerah ketika mengingat cerita dari Kyara tadi.


Ia bahkan juga mengetahui jika pria itu masih berkeliaran dan beberapa kali datang untuk menjenguk, sehingga berniat untuk menghabisinya jika bertemu.


"Aku yakin jika bajingan itu akan datang lagi. Saat dia datang, aku tidak akan melepaskannya dan membalaskan dendammu." Ia benar-benar tidak tega melihat pergelangan tangan yang saat ini ditutup perban dan pasti meninggalkan luka sayatan cukup panjang serta dalam hingga mengalami kritis sampai saat ini.


Kini, ia mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di sebelah kirinya. Kemudian menggenggam erat telapak tangan yang dingin itu. "Kamu pasti sangat kedinginan. Aku akan menghangatkanmu dengan cara seperti ini."


Erland bergerak mengusap telapak tangan Marcella yang sangat dingin dan khawatir jika itu adalah ciri-ciri orang yang tidak lagi bernyawa. Ia benar-benar sangat takut dan berharap perbuatan kecilnya bisa sedikit menyalurkan hawa hangat dan juga membuat sang kekasih segera bebas dari masa kritis.


Saat ia masih sibuk dengan kegiatannya, seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka dan melihat perawat datang mendekat. Refleks ia seketika bangkit berdiri dari kursi untuk membiarkan perawat memeriksa.


"Kenapa tangan kekasih saya sangat dingin? Apa tidak terjadi masalah? Tolong dicek," ucapnya yang kini melihat wanita itu langsung memeriksa dan memastikan perkataannya benar.


Perawat yang bertugas untuk berjaga malam dan mengecek kondisi pasien, kini pemeriksa sesuai dengan arahan dari dokter. Kemudian ia mulai menuliskan apa yang baru saja diketahuinya, lalu beralih pada pria di sebelah kirinya.


"Pada pasien kritis, peningkatan kebutuhan metabolik menyebabkan peningkatan curah jantung. Itu menunjukkan bahwa detak jantung berkorelasi langsung dengan suhu. Jadi, semuanya akan kembali normal jika pasien sudah melewati masa kritisnya." Sang perawat kini berlalu pergi saat dia dihadapannya hanya terdiam sambil menatap ke arah pasien.


Ia sudah dibekali oleh pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara suhu dan detak jantung dapat meningkatkan pengambilan keputusan klinis dengan mengidentifikasi peningkatan detak jantung yang disebabkan oleh peningkatan suhu dibandingkan dengan peningkatan detak jantung akibat penyebab lain.


Jadi, berharap jika penjelasannya bisa dimengerti oleh pria yang tadi diketahui melakukan keributan di depan ruang ICU.


Sementara itu, Erland yang saat ini sedikit bernapas lega karena mengetahui jika semua itu memang berhubungan dengan kondisi sang kekasih yang tengah kritis.


Paling tidak, berapa jam mengatakan jika sang kekasih masih normal saja sudah membuatnya sedikit lega meskipun tidak sepenuhnya.


"Sayang, hukum aku sepuasmu, tapi jangan dengan cara seperti ini. Aku tidak bisa menghadapinya. Bangunlah karena aku sudah datang untuk menerima semua hukuman darimu." Ia beneran saliva dengan kasar ketika suaranya semakin bertambah serak karena rasa sesak makin mendominasi di dada.


"Bahkan temanmu yang ingin kuhabisi itu juga sudah pasrah karena memang sadar jika telah bersalah. Apa kamu tidak keberatan jika aku memberikan hukuman padanya karena berani mengajakmu pergi ke klab malam?" Ia saat ini meluapkan semua keluh kesah yang ingin disampaikan karena tidak ingin menahannya.


Berharap semua yang dikatakannya bisa didengar oleh alam bawah sadar sang kekasih dan akhirnya kembali padanya setelah terbebas dari masa kritis.


Hingga ia lelah sendiri karena tidak berhenti berbicara kesana-kemari. Bahkan juga membahas mengenai masalah asmara mereka yang sudah berjalan lebih dari 5 tahun.


Rasa lelah dirasakan dan kini kembali menurunkan tubuhnya di kursi serta menaruh kepalanya di samping telapak tangan sang kekasih.


"Sayang, aku lelah. Kamu harus sadar setelah aku terbangun nanti." Ia masih menyandarkan kepala pada ranjang pembaringan tersebut sambil terus menatap ke arah wajah pucat dengan memakai selang oksigen itu.


Ia bergerak mengusap lembut punggung tangan dengan jemari lentik itu. "Kamu ingat kan jika aku suka melakukan ini padamu?"


Erland masih tidak berhenti melakukannya. Besar harapannya jika sang kekasih merasakan sentuhannya dan akhirnya sadar dari tidur panjangnya.


"Kamu harus bangun karena aku berjanji tidak akan meninggalkanmu meskipun aku tahu bahwa kamu merasa tidak pantas untukku setelah diperkosa bajingan itu. Aku tidak akan mempermasalahkan itu karena aku juga sudah tidak perjaka lagi, Sayang."


Ia terdiam begitu mengingat hubungan antara dia dan Floe yang sama-sama kehilangan mahkota dalam posisi mabuk. "Sebenarnya apa rencana Tuhan untuk kami bertiga?"


"Kenapa kami bisa menjalani hubungan yang sangat rumit ini? Kenapa aku harus mabuk dan berakhir menghamili Floe? Sementara Marcella juga berakhir diperkosa hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri hidupnya." Erland yang saat ini seketika mengangkat kepalanya dan menatap wanita yang masih belum sadarkan diri tersebut.


Ia seketika terdiam karena tiba-tiba di otaknya terbersit sesuatu yang mengganggunya. 'Saat itu aku melakukannya dua kali pada Floe dan dia berakhir hamil benihku. Lalu, apakah hal yang sama akan terjadi pada Marcella?'


'Bajingan itu hanya melakukannya sekali, kan? Itu tidak akan membuat Marcella hamil, kan? ' Erland makin bertambah bingung serta kepalanya seperti mau meledak saat ini ketika memikirkan hal-hal yang ditakutkannya.


Ia bahkan menggelengkan kepala berkali-kali untuk berusaha tidak membenarkan pikirannya barusan.


"Tidak. Kamu tidak mungkin hamil benih bajingan itu. Ini hanya kekhawatiranku saja." Meskipun pikirannya tidak membenarkan, tetapi hatinya berkata lain dan membuatnya semakin bertambah sesak.


'Ya Allah, Engkau tidak akan memberikan cobaan sebesar ini pada Marcella dan juga aku, kan? Aku yakin jika Marcella tidak akan bisa menerimanya jika nanti sudah sadar. Lalu aku? Apa aku bisa menerima anak dari benih bajingan itu jika sampai menikah dengan Marcella?'


Erland seketika merasa bahwa ia langsung membayar tunai apa yang ditanamnya. "Apakah ini adalah sebuah karma untukku karena membuat calon anakku tidak bisa dilahirkan ke dunia?"


Ia berbicara dengan perasaan berkecamuk saat menatap ke arah sang kekasih yang membuatnya berpikiran buruk.


"Tidak. Aku mohon jangan membuat hidup kami makin hancur jika sampai apa yang kutakutkan terjadi," lirih Erland yang saat ini beberapa kali mengepalkan tangan dan membukanya untuk menenangkan perasaannya.


To be continued...