Married by Accident

Married by Accident
Meminta tolong



Dhewa seketika terkekeh untuk menguraikan aura keheningan yang serasa mencekam di antara mereka. Ia sebenarnya tahu jika wanita di hadapannya hanya berpura-pura tidak mendengar. Namun, ingin mengikuti akting Floe. "Sepertinya kamu tidak membersihkan telingamu hari ini. Aku tadi mempraktekkan memanggil. Apa benar yang kusebutkan tadi itu? Ternyata artinya sangat luar biasa, ya?"


"Jika aku memanggilmu seperti itu, pasti orang lain akan salah paham. Kanjeng Ratu Widodariku," ucapnya yang kini kembali mencoba untuk menggoda sosok wanita yang seperti tengah merasa kesal padanya.


Floe yang merasa sangat geli dengan panggilan itu, seketika mengusap lengannya dengan bergidik. "Jangan menyebut itu di depanku. Geli mendengarnya," ucap Floe yang saat ini menunjuk ke arah kertas berukuran lebar di atas meja.


"Tujuan saya adalah ingin Anda memeriksa ini. Bukan membahas tentang panggilan yang sangat menggelikan itu," ucap Floe yang kini mengarahkan dagunya ke depan untuk menunjukkan hasil kerjanya beberapa saat lalu, agar bisa mengerti kesalahan ataupun apa yang dikerjakan benar atau tidak.


Saat tidak berhasil mengerjai sosok wanita di hadapannya, akhirnya Dhewa hanya melirik sekilas ke arah catatan yang ada di atas meja. Ia sebenarnya kecewa dengan respon biasa dari Floe, tapi tidak menunjukkannya dan kini fokus pada apa yang dilihatnya.


Dalam diam ia mulai memeriksa apa yang dikerjakan oleh Floe tanpa bantuannya. Beberapa kali ia juga melirik ke arah kertas putih di sebelah kanannya, selalu beralih pada catatan milik Floe. Dalam hati ia mengungkapkan apa yang saat ini ada di otaknya.


'Bagaimana aku jadi baby sitter-nya jika dia saja sudah sepintar ini. Bahkan dia mengerjakannya dengan baik tanpa aku harus menjelaskan panjang lebar. Aku bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mengajarinya. Sepertinya tuan Hugo Madison tidak mengenal putrinya dengan baik. Bahkan tanpa diajari pun, dia sudah pintar,' gumam Dhewa yang seketika buyar lamunannya begitu suara Floe memecahkan keheningan di ruangan dan membuatnya mengangkat pandangan.


"Apa ada yang salah? Atau semuanya salah?" Floe bahkan dari tadi fokus menatap pria dengan rahang tegas di hadapannya tersebut.


Ia bahkan dengan sabar menunggu hingga suara bariton pria itu mengungkapkan apa yang ingin diketahuinya, tapi karena tidak kunjung membuka suara, sehingga membuatnya tidak sabar. "Saya tadi hanya melihat dari mesin pencarian untuk mencari tahu. Itu yang saya tulis adalah hasil dari pemikiran setelah mempelajarinya."


Dhewa yang tadinya berniat untuk membuka mulut untuk menanggapi, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara panggilan telepon miliknya yang ada di sebelah kiri. Saat ia melihat kontak dari sang ibu, seketika mengerutkan kening.


'Tumben mama menelpon,' lirih Dhewa yang saat ini mengambil benda pipih di atas meja tersebut dan melirik ke arah Floe. "Sebentar."


Floe yang tadinya tidak sabar, kini hanya mengangguk lemah karena merasa ada saja yang mengganggu saat ia ingin serius dan mengetahui bagaimana hasil usahanya.


'Kenapa ada saja yang mengganggu saat aku ingin fokus,' gumamnya yang kini masih belum beranjak dari posisinya yang berdiri di balik meja dan mendengar suara bariton pria yang berbicara di telepon.


"Iya, Ma," ucap Dhewa yang saat ini merasa ada sesuatu karena memiliki feeling yang kuat.


Ia memiliki mata batin yang sangat kuat, sehingga bisa merasakan sesuatu yang akan terjadi. Semenjak kecil ia sadar memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain dan tidak tahu itu didapatkan dari mana. Hanya saja ia memilih untuk menerimanya dan menganggap sebuah keistimewaan yang harus disyukuri.


"Sayang, kamu ada di mana sekarang?" tanya sosok wanita paruh baya berusia 55 tahun bernama Lira Andira yang menanyakan pada putranya.


Saat keheningan melanda beberapa detik, lalu berubah begitu raut wajah Dhewa yang dari tadi merasa ada sesuatu tidak disukai akan terjadi. Dhewa seketika sangat malas berada di lokasi saat ini.


"Kalau begitu kamu kirim lokasinya pada Camelia. Kebetulan hari ini dia ada di Jakarta karena ada urusan bisnis. Biar dia mampir ke sana sebelum kembali ke Kalimantan. Kamu harus segera membangun chemistry sebelum menikah dengan Camelia. Mama dan papa sudah ingin menimang cucu, Sayang. Orang tuamu sudah berkejaran dengan waktu dan usia kami tidak lagi muda. Bagaimana jika ...." Lira Andira tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh putranya.


Ia sebenarnya mengetahui seperti apa putranya saat kesal ketika dipaksa, tapi tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang ada di otaknya adalah ingin segera melihat putranya melepas masa lajang dan bisa menimbang cucu sebelum meninggal.


"Sudah, Ma. Hati-hati dalam berucap karena itu bisa menjadi doa. Aku akan mengirim lokasinya. Aku saat ini benar-benar sedang sibuk karena banyak pekerjaan. Nanti kita lanjutkan. Love you, Ma." Kemudian Dhewa seketika mematikan sambungan telepon karena merasa sangat kesal.


Bahkan ekspresi wajahnya terlihat jelas sedang dipenuhi oleh amarah sekaligus rasa kesal karena tidak bisa melakukan apapun jika sang ibu selalu membahas masalah usia.


'Aku pikir dengan kabur ke Jakarta akan membuat hidupku lebih tenang sedikit, tapi usahaku untuk menghindari perjodohan dengan Camelia tidak membuahkan hasil. Selain ingin membuat perusahaan berkembang di Jakarta, aku pun ingin menghindari perjodohan konyol ini, tapi sialnya tetap saja membuatku pusing.'


Dhewa yang saat ini terpaksa mengirimkan lokasi pada nomor seorang wanita yang merupakan putri dari rekan bisnis sang ayah yang dijodohkan dengannya. 'Kenapa juga dia ada di Jakarta? Apa dia sengaja datang ke sini untuk menggangguku?'


Begitu selesai dengan sesuatu yang membuatnya kesal, kini ia kembali menaruh benda pipih tersebut di atas meja dan beralih menatap ke arah Floe yang dari tadi masih setia berdiri di hadapannya. Bahkan mungkin melihat bagaimana ekspresi wajahnya ketika kesal pada sang ibu.


"Ah ... maaf karena kamu sudah terlalu lama menunggu." Kemudian kembali menatap ke arah buku catatan milik Floe yang sudah dihiasi dengan tulisan tangan cantik yang membuatnya makin salut pada wanita di hadapannya itu.


Refleks Floe seketika menggelengkan kepala karena tidak ingin ada ketidaknyamanan di antara mereka. Ia merasa tidak enak mendengar permohonan maaf dari pria yang kini seperti tengah kesal setelah berbicara dengan sang ibu.


"Tidak apa-apa." Ia tidak ingin membuat mood pria itu bertambah buruk jika berbicara panjang lebar atau memberondong dengan banyak pertanyaan.


'Sepertinya dia kesal sekarang. Apa aku harus menunda untuk membahas hasil kerjaku?' Floe yang saat ini merasa ragu, kini seketika mengerjapkan mata begitu mendengar sesuatu yang tidak pernah sekalipun terpikirkan.


"Apa aku boleh meminta tolong padamu untuk berpura-pura menjadi wanitaku?" Dhewa yang dari tadi merasa kesal setelah sang ibu menelpon, seketika mendapatkan sebuah ide di kepalanya dan tanpa pikir panjang ingin mencari tahu apakah bisa mendapatkan sebuah solusi dari masalah hidupnya saat ini.


To be continued...