
Karyawan Renjani mengucapkan terimakasih karena Kelana telah mentraktir mereka makan malam di restoran mewah. Mereka makan mie instan bersama di kantor saja sudah bahagia apalagi makan steak di restoran mewah ditambah bertemu langsung dengan Kelana. Mereka sempat mengabadikan momen dengan berfoto bersama Kelana.
Saat keluar Kelana melihat mobil papa nya terparkir di depan restoran. Ia tidak mungkin salah mengenali mobil papa nya meskipun mobil seperti itu bukan satu-satunya di Indonesia.
"Kami pamit pulang dulu, sekali lagi terimakasih." Ucap para karyawan Renjani. Mereka undur dari dari sana menaiki motor masing-masing meninggalkan tempat parkir restoran.
Dugaan Kelana benar, Wira keluar dari mobil itu dengan ekspresi menahan amarah. Kelana tidak heran karena papa nya selalu memasang wajah seperti itu saat bertemu dengannya. Bahkan Kelana lupa seperti apa wajah papa nya ketika tersenyum.
"Itu Papa." Gumam Renjani.
"Kamu masuk dulu." Kelana membuka pintu agar Renjani masuk lebih dulu, perasannya tidak enak karena Wira tiba-tiba menemuinya.
"Rupanya kamu punya banyak waktu senggang." Wira tersenyum miring, sekarang Kelana ingat ternyata senyum Wira sangat menyeramkan.
"Langsung saja pada intinya." Kelana tak suka berlama-lama bicara dengan papa nya. Pasti Wira hanya akan membicarakan soal Valia atau keburukan Kelana yang dibuat-buat. Kelana tak pernah cukup baik untuk Wira.
"Kamu sengaja membuat lagu yang sulit untuk Valia, bahkan guru musiknya nggak bisa memainkan lagu itu dengan baik." Wira sudah memilih biola terbaik produksi baru pada Valia tapi lagu itu tetap tidak bisa dimainkan dengan baik. Wira kesal karena Kelana pasti sengaja melakukan itu.
"Kenapa Papa memilih guru musik yang buruk untuk Valia?" Kelana tertawa mengejek.
"Kamu begitu tinggi hati." Wira mendekatkan wajahnya hingga Kelana bisa mencium aroma rokok dari sana.
"Aku belajar dari Papa." Kelana mundur satu langkah.
"Buatkan lagu yang ringan untuk Valia." Pinta Wira dengan nada menyentak.
"Kalau Valia nggak bisa memainkan lagu yang aku buat itu artinya dia harus latihan lebih keras lagi bukan justru memintaku membuat lagu lain."
"Jangan menguji kesabaran Papa."
"Jangan terlalu memanjakan Valia, dia nggak akan bisa berkembang dengan cara Papa memperlakukannya."
"Papa jauh lebih tahu, kamu juga seperti ini karena Papa kan?" Jika Wira tidak memasukkan Kelana ke Melodi pasti tak akan bisa seperti sekarang.
"Itu kewajiban seorang Ayah." Kelana tak mau kalah.
"Kamu persis seperti Karalyn, kalian sama-sama keras kepala dan tergila-gila pada violin." Wira menemukan cara untuk membuat Kelana mati kutu yakni dengan menyinggung Karalyn.
"Mama tergila-gila pada violin tapi Papa tergila-gila pada wanita lain."
"Jangan ucapan mu!" Sentak Wira dengan nada tinggi mencuri perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sejuta situ.
"Papa yang mulai duluan." Kelana menutup wajahnya berjaga-jaga jika ada seseorang yang memfotonya diam-diam.
"Papa selingkuh karena Mama mu menghabiskan waktu lebih lama di studionya dari pada bersama Papa."
Renjani melihat dari jendela dengan khawatir, Kelana dan Wira tampak bersitegang. Renjani takut jika Kelana tidak bisa mengontrol emosi. Renjani hendak keluar tapi Yana menahannya.
"Jangan Mbak."
Renjani mengembuskan napas pasrah, ia hanya bisa melihat papa dan anak itu dari dalam mobil.
"Jangan jadikan itu sebagai alasan Papa selingkuh, hari itu Papa sengaja kan kunci kami di kamar?" Mata Kelana memerah seperti ditusuk-tusuk duri bersiap mengeluarkan airnya. Kelana paling sensitif jika membahas soal mama nya.
"Papa nggak sengaja bawa kunci ruang baca, udah berapa kali Papa bilang sama kamu?" Wira mengepalkan tangannya kuat, ia juga merasa kehilangan tapi Kelana selalu menyalahkannya atas musibah kebakaran itu.
"Kalau hari itu Papa nggak bawa kuncinya, Mama nggak akan meninggal!" Teriak Kelana, kini ia tak peduli jika ada yang merekamnya. Kelana tak tahan lagi pada sikap papa nya.
"Kok kamu jadi nyalahin Papa, itu semua kecelakaan!"
"Yang jelas aku sudah menuruti kemauan Papa." Kelana berlalu dari sana dengan hati dongkol luar biasa karena papa nya mengungkit mendiang Karalyn. Bahkan hingga akhir hayatnya, Wira tak pernah menunjukkan cinta pada Karalyn. Kelana heran mengapa mereka memutuskan untuk menikah jika pada akhirnya Wira menduakan Karalyn.
"Kelana." Renjani menggeser duduknya ketika Kelana masuk mobil.
Kelana menunduk dalam menyembunyikan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Ucapan Wira seperti jeruk nipis yang menyiram luka lama Kelana yang belum sepenuhnya sembuh. Tidak, luka itu memang tak akan pernah sembuh.
Renjani menyentuh bahu Kelana dengan gerakan ragu, takut jika Kelana ikut marah padanya.
"Kelana." Perasaan Renjani ikut hancur melihat kesedihan Kelana. Renjani menarik Kelana ke dalam pelukannya meski tangannya tak cukup memeluk tubuh Kelana secara keseluruhan.
Kelana menyembunyikan wajahnya ke leher Renjani, ia tak mau menangis tapi air mata itu luruh dengan sendirinya.
Kini Kelana tidak terlihat seperti violinist sempurna yang selalu tersenyum di depan kamera. Ia seperti manusia pada umumnya yang bisa menangis saat sedih. Kelana seperti ini hanya di depan Renjani, biasanya ia menangis seorang diri di kamar atau studio musik kala mengingat mama nya.
Sesampainya di apartemen, Kelana langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Ia terlihat sangat berbeda dengan Kelana biasanya. Sebelum tidur biasanya Kelana memiliki ritual menggosok gigi dan cuci muka serta mengganti pakaiannya dengan piyama. Bahkan jika Renjani langsung ke tempat tidur tanpa membersihkan diri sebelumnya, Kelana akan marah. Atau Kelana akan mengganti pakaian Renjani pelan-pelan serta menghapus riasannya.
Kelana menjaga agar matanya tetap terbuka karena setiap kali memejamkan mata ia akan melihat bayangan tubuh mama nya yang terbakar api. Kelana benci dirinya sendiri pada saat itu karena ia tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan mama nya. Jika waktu bisa diulang lebih baik Kelana memeluk mama nya dan membiarkan api membakar mereka berdua.
Butuh waktu lama untuk Kelana sembuh dari trauma karena kejadian itu. Namun sekarang Wira dengan mudahnya mengungkit soal Karalyn. Dulu Wira pernah menjadi satu-satunya sandaran Kelana setelah kehilangan sang mama. Namun setelah kehadiran Ratih dan Valia sandaran Kelana roboh, ia harus berdiri dengan dua kakinya sendiri.
Kelana memutuskan pergi dari rumah itu setelah ia merilis lagu pertamanya diusia 21 tahun. Kelana tak sanggup lagi berada di rumah yang seperti neraka baginya.
Renjani duduk di pinggiran tempat tidur menatap Kelana yang tampak sayu. Jejak air mata begitu kentara di wajah Kelana. Dari pada melihat Kelana seperti ini lebih baik Renjani mendengar omelan Kelana. Renjani tidak suka melihat Kelana seperti ini.
"Jangan nyalahin diri sendiri terus." Renjani mengusap rambut Kelana.
"Lebih baik aku ikut Mama waktu itu."
Renjani menggeleng, "bersyukurlah karena kamu masih bisa hidup sampai sekarang, dengan begitu kamu bisa mewujudkan mimpi Mama Karalyn yang belum terwujud, pasti sekarang beliau bangga melihat anaknya sudah menjadi violinist hebat dan terkenal dimana-mana."
Kelana tersenyum tipis, untung ada Renjani yang bisa menghiburnya saat seperti ini. Kelana tak tahu bagaimana jadinya jika tidak ada Renjani. Mungkin ia akan menelan banyak obat tidur seperti dulu dan berakhir di rumah sakit. Kelana tak seharusnya melakukan itu dan menjadi pengecut dulu tapi ia tidak sanggup mengingat kejadian itu.
"Aku boleh jujur nggak?"
"Kamu memang harus jujur."
Renjani menjatuhkan kepalanya di dada Kelana, "kamu lebih ganteng kalau senyum kayak barusan."
Senyum Kelana semakin lebar, ia mengusap-usap rambut Renjani yang tergerai.
"Oh ya?"
"Kamu nggak tahu cewek-cewek pada teriak heboh kalau kamu udah senyum." Renjani ingat saat fan sight yang hanya dihadiri 50 orang tapi teriakan mereka terdengar hingga keluar gedung.
"Aku nggak terlalu memperhatikan itu."
"Aku nggak tahu berapa banyak cewek yang tergila-gila sama ketampanan kamu di luar sana."
"Coba kamu hitung."
"Mungkin sebanyak bintang di langit."
"Tapi malam ini mendung, nggak ada bintang sama sekali."
"Baguslah." Jika boleh egois Renjani ingin memiliki Kelana hanya untuk dirinya sendiri tapi tentu saja itu tidak mungkin. Kelana juga milik para penggemarnya. Namun saat berada di kamar seperti ini, tak ada yang boleh memiliki Kelana kecuali Renjani.
"Aku mau minum obat, mungkin malam ini akan susah tidur."
"Nggak perlu minum obat, waktu itu kamu juga bilang nggak bakal bisa tidur tapi kenyataannya kamu tidur nyenyak sampai pagi."
Renjani benar, Kelana juga tidak menyadari bahwa Renjani bisa menjadi pengganti obat tidurnya. Kelana tahu obat tidur tidak sehat untuknya tapi dulu ia mengalami insomnia yang cukup parah. Namun sekarang Kelana hampir tidak pernah minum obat lagi. Kelana baru menyadari bahwa ternyata perasannya pada Renjani muncul sejak saat itu. Kelana terlambat menyadarinya pikirannya terbiasa dengan Elara. Kelana berpikir ia tak akan pernah bisa menaruh perasaan terhadap orang lain setelah Elara meninggalkannya.
"Aku pernah dengar orang bilang, kemarahan orangtua itu karena mereka sayang pada anak-anaknya tapi meskipun aku memikirkannya, aku nggak bisa menemukan kasih sayang di diri Papa." Pandangan Kelana menerawang ke langit-langit kamar.
Renjani juga berpikir seperti itu ketika mama dan papa nya sering bertengkar lalu mama nya akan melampiaskan amarah kepadanya. Renjani merasa tak ada kasih sayang pada diri mereka.
"Pada akhirnya hanya kita yang bisa menyayangi diri kita sendiri." Balas Renjani.
Kelana terdiam merenungi ucapan Renjani. Seperti sekarang mereka jadi terbiasa hidup tanpa kasih sayang orangtua. Walaupun tidak seperti anak-anak lainnya tapi mereka harus tetap hidup bahagia dan mencintai diri sendiri.