Married by Accident

Married by Accident
LXIX



Konser akan dimulai beberapa jam lagi tapi Kelana pergi lebih awal untuk menemani Elara latihan. Elara meminta Kelana mengoreksi kesalahannya bersama musisi lain karena ini adalah konser kolaborasi. Nanti Elara juga akan tampil sendiri dengan membawakan lagu barunya yakni Sinar Senja.


"Mas Kelana wangi sekali hari ini." Yana bisa mencium aroma Kelana dari jok depan, setelah turun dari mobil pun aroma itu masih tercium kuat. Mungkin Kelana menuangkan sebotol parfum ke badannya.


"Bukannya setiap hari?" Kelana menunduk menghindari wartawan yang memotretnya, ia belum bersiap-siap untuk menghadapi mereka.



"Benar, tapi hari ini lebih wangi." Yana membantu Kelana menutupi wajahnya dengan kertas yang ia pegang. "Backstage masih sepi Mas."


"Iya, Elara memintaku datang lebih pagi."


"Mbak Rere tahu?"


"Tahu, kami sempat berdebat tadi, dia mengajak ku menanam bunga di balkon setelah makan nasi goreng dan olahraga."


"Anniversary kalian hari ini?" Yana membelalak, kenapa Kelana justru pergi kesini bukannya merayakan anniversary dengan Renjani.


"Iya."


"Mbak Rere pasti sedih, saya masih ingat persis ekspresinya waktu menceritakan rencananya untuk merayakan anniversary itu, saya menawarkan candle light dinner tapi Mbak Rere bilang dia cuma mau menghabiskan waktu berdua dengan Mas Lana." Sebagai sesama perempuan Yana mengerti perasaan Renjani saat ini. Apalagi Elara dan Kelana pernah menjalin hubungan.


Perasaan menyesal tiba-tiba menyergap, Kelana juga masih ingat ekspres kecewa Renjani saat ia pergi tadi. Namun Kelana akan menebusnya besok dengan berada di apartemen sehari penuh.


"Besok ada jadwal mendesak?"


"Tidak ada Mas."


"Kalau begitu besok aku akan bersama Renjani sehari penuh, aku harus menebus kesalahanku hari ini."


Yana mengangguk, walaupun belum pernah menjalin asmara tapi Yana mengerti kalaupun Kelana menebusnya besok, rasanya tidak akan sama. Itu tak akan berarti lagi bagi Renjani sekalipun Kelana menebusnya dengan sesuatu yang dianggap lebih berharga.


"Kelana, kamu datang." Elara menyambut kedatangan Kelana di pintu backstage. "Ayo." Ia menarik Kelana menuju stage. "Tolong koreksi kesalahanku."


"Aku sudah mengoreksi kesalahan mu waktu itu."


"Itu lewat telepon, aku ingin kamu menilai secara langsung."


Kelana mengangguk menyetujui permintaan Elara. Kelana tidak mengerti mengapa Elara memintanya melakukan hal ini padahal dulu Elara yang selalu mengoreksi kesalahan Kelana. Ditambah kemampuan Elara meningkat pesat setelah pulang dari Perancis hingga membuat Kelana kesulitan mencari kesalahan Elara. Menurut Kelana, permainan violin Elara selalu sempurna.


Elara tidak pernah berubah, ia tipe pekerja keras yang selalu latihan berulang-ulang sebelum tampil.


Kelana dibuat takjub oleh permainan violin Elara padahal ini hanya latihan, audio di panggung juga belum diatur. Namun penampilan Elara sudah sempurna apalagi nanti saat ia memainkan violin dengan sungguh-sungguh.


Kelana memberikan tepuk tangan setelah Elara mengakhiri lagu barunya Sinar Senja. Elara tersenyum lebar melihat Kelana menyukai penampilannya.


"Kamu nggak tanya kenapa aku memiliki judul Sinar Senja?" Elara menghampiri Kelana, ia duduk di hadapan lelaki itu. Lelaki yang dari dulu sampai sekarang mengisi seluruh ruang di hati Elara. Sekarang Elara ingin menyelami hati Kelana untuk mencaritahu apakah masih ada dirinya disana atau sudah digantikan oleh Renjani. Namun mengingat Kelana datang pagi ini, Elara menganggap masih ada nama nya di hati itu meski bertahun-tahun sudah berlalu. Sama seperti Elara yang selalu menjaga perasannya untuk Kelana sekalipun jarak jauh memisahkan mereka.


"Kenapa?" Awalnya Kelana tidak ingin tahu tapi setelah Elara berkata seperti itu ia jadi sedikit penasaran.


"Itu jawaban dari lagu Senja Bertemu Cinta." Elara duduk di hadapan Kelana, ia tak ingin menyia-nyiakan kebersamaan mereka.


"Kenapa kamu membuat ini?"


"Supaya kamu nggak merasa sedih lagi, terimakasih sudah datang hari ini." Elara menggenggam tangan Kelana.


Kelana mengangguk samar, "nggak perlu berterimakasih."


"Gimana kalau nanti kita tampil berdua membawakan lagu ini?"


Kelana melepas genggaman Elara karena merasa tidak nyaman meskipun hanya ada mereka berdua disini.


"Aku datang untuk menonton."


"Aku tahu, tapi kamu sudah mendengar lagu ini beberapa kali jadi kamu pasti bisa."


"Sekali ini aja." Elara mengacungkan telunjuknya di atas kepala merayu Kelana, "sudah lama kita nggak main violin di panggung yang sama, kamu nggak kangen momen itu?"


"Baiklah, tapi aku perlu latihan sebentar." Kelana beranjak dari duduknya mengambil violin milik Renjani.


Sepanjang Kelana bermain violin, Elara tidak mengalihkan pandangan. Bagi Elara, ketampanan Kelana akan bertambah dua kali lipat saat bermain violin. Kelana dan violin adalah kombinasi sempurna untuk menghipnotis Elara.


Elara senang karena Kelana menuruti permintaannya. Setidaknya mereka memiliki kenangan manis sebelum Elara kembali meninggalkan negara ini.


"Kelana, aku boleh tanya sesuatu?" Elara mengambil alih violin di tangan Kelana dan meletakkannya dengan hati-hati, benda itu sangat berharga untuknya.


"Tanya aja." Kelana merapikan jas nya setelah memainkan lagu Sinar Senja milik Elara.


"Bukankah kamu dan Renjani akan berpisah setelah satu tahun?" Elara menatap Kelana serius.


"Itu perjanjian kami dulu."


"Sekarang kamu mencintainya?"


"Aku mencintai Renjani, dia satu-satunya orang yang bertanya tentang kebahagiaanku, saat aku memberitahunya bahwa kebahagiaan ku nggak penting dia justru bertekad membahagiakan ku."


Cahaya pada netra Elara meredup mendengar jawaban Kelana. Kelana memberi jawaban beserta alasan hingga membuat Elara tak tahu harus berkata apa.


"Jadi kamu bahagia sekarang?"


"Tentu saja, aku punya Renjani."


"Harusnya aku nggak tanya ini tapi aku penasaran, apa perasaan mu buat aku sudah menghilang?"


"Bukankah seharusnya begitu, kamu akan terbebani jika aku masih mencintaimu."


"Nggak Lana, aku nggak akan pergi kalau kamu tahan aku." Elara meraih tangan Kelana, kini ia punya alasan untuk tidak meninggalkan Kelana. Ia sadar bahwa perasaannya terlalu dalam untuk Kelana hingga ia tak mampu menguburnya.


Kelana tersenyum kecut, "harusnya kamu bilang begitu 4 tahun yang lalu, sekarang semuanya sudah berubah Lara terutama perasaanku."


"Aku mencintaimu." Pungkas Elara tanpa berani menatap Kelana, ia malu tapi untuk menyimpannya seorang diri ia tak mampu. Elara harus mengungkapkannya apapun yang terjadi.


Kelana melepaskan tangan Elara melangkah ke backstage karena violinis dan penyanyi lainnya sudah mulai berdatangan. Kelana tidak tahu harus menanggapi perasaan Elara dengan cara apa. Perasaan Kelana pada Elara sudah luntur sejak ia memiliki Renjani.


Mungkin kedatangan Kelana kesini membuat Elara salah paham. Kelana akan memperjelas semuanya nanti setelah konser ini berakhir. Kelana tidak mau membuat Elara berharap lebih.


******


Renjani terbangun oleh suara notifikasi dari ponselnya, ia menoleh ke arah jendela. Langit sudah gelap, karena kelelahan setelah olahraga dan kekenyangan, Renjani tidur hingga langit gelap.


Layar televisi yang Renjani ingat masih menayangkan film kini berubah menampilkan menu pilihan film-film lainnya. Renjani mengganti saluran televisi digital dan memeriksa ponselnya. Ia mendapat satu pesan dari Kelana.


Tidurlah lebih dulu, jangan tunggu aku.


Renjani tersenyum getir melempar ponsel itu ke kasur. Renjani tidak berniat menunggu Kelana.


"Ini akan menjadi kolaborasi terbaik dan paling menyentuh sepanjang masa, mari kita sambut Kelana Radiaksa dan Elara Adaline!"


Perhatian Renjani seketika teralih pada layar televisi di hadapannya mendengar nama Kelana dan Elara disebut bersamaan.


Alunan violin mulai terdengar membuai seluruh penonton yang hadir di Istora Senayan malam itu.


Ketika kamera menyorot ke arah Kelana dan Elara, Renjani membelalak. Seperti tersambar petir, Renjani tidak bisa bernapas, dadanya sesak seperti tidak ada oksigen di kamar yang luas ini. Air mata Renjani menggenang tapi ia tidak mau menangis untuk kesekian kalinya. Ia sudah banyak menangis hari ini.


Renjani tersenyum getir memukul-mukul dadanya yang terasa amat nyeri, sakit sekali rasanya. Pantas saja Kelana enggan mengajak Renjani, tak sekedar menonton, Kelana justru ikut tampil di atas panggung.


Siapa yang peduli jika kamu menangis malam ini, Re? nggak ada yang peduli.