Married by Accident

Married by Accident
Inilah cinta



Beberapa saat lalu, saat Dhewa sibuk mencari ide untuk membuat sang ibu bersedia menunggu ketika ia berniat menghampiri Floe, seketika merasa sangat lega begitu mendengar wanita paruh baya yang sangat disayanginya tersebut.


"Sebentar, Mama mau ke toilet," ucap Lira Andira yang saat ini mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari toilet di area sekitar Bandara. "Di mana toiletnya?"


Refleks Dhewa langsung menuju ke arah sebelah kanan ia berdiri karena mengetahui jika toilet berada di sana. Apalagi dulu pernah ke sana saat baru saja tiba di Jakarta. "Itu, Ma. Kalau begitu, aku tunggu di sini."


Lira Andira yang mengangguk perlahan dan mengikuti jari telunjuk putranya, kini berjalan menuju ke arah toilet.


Sementara itu, Dhewa tidak membuang waktu karena langsung mendorong troli berisi koper milik sang ibu dan tentu saja langsung menghampiri Floe dan akhirnya berhasil memperkenalkan diri setelah wanita di sampingnya berakting layaknya sepasang kekasih.


Meskipun apa yang saat ini dilakukan oleh Floe sebenarnya hanya memanfaatkan dirinya untuk membalas dendam pada pria bernama Erland Carl Felix tersebut, sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu karena merasa seperti orang yang berguna untuk wanita yang sanggup membuat hatinya bergetar.


Hingga ia melepaskan tangannya yang sebelumnya berjabatan begitu mendengar suara Floe saat bertanya padanya.


"Mama mana? Kamu tinggal begitu saja?" tanya Floe yang sebelumnya merasa aura ketegangan tercipta di antara mereka ketika dua pria tersebut saling memperkenalkan diri dan membuatnya aneh.


Ia sengaja mengalihkan perhatian dengan menoleh ke arah belakang untuk mencari wanita paruh baya yang tadi memperhatikan penampilannya mulai dari ujung kaki hingga kepala saat memperkenalkan diri.


Dhewa yang saat ini mengikuti arah pandang Floe, menjelaskan tentang sang ibu yang hendak pergi ke toilet. "Sepertinya sebentar lagi mama kembali dari toilet dan kita harus segera ke sana."


"Baiklah. Kita ke sana sekarang." Floe seketika menoleh ke arah Kirana dan sang suami tanpa mempedulikan Erland. "Aku harus pergi. Oh ya, jangan lupa ceritakan apa yang tadi kukatakan pada abangmu."


Kirana yang saat ini hanya mengangguk perlahan sambil melirik ke arah sang kakak yang tidak berkedip menatap Floe. "Iya, Kakak ipar, siap."


Kirana hanya melambaikan tangan ketika sang kakak ipar melangkah pergi terlebih dahulu sebelum pria yang dianggap memiliki raut wajah rupawan dan body sixpack tersebut.


"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Erland Carl Felix," ucap Dhewa yang mengangguk perlahan dan memberikan kode pada pasangan suami istri tersebut ketika hendak berpamitan.


Erland yang saat ini berniat untuk menghentikan Floe dan pria itu karena belum selesai berbicara, tidak bisa melakukannya saat tangannya ditahan oleh adiknya. "Tunggu!"


"Kak, berhenti!" seru Kirana yang saat ini ingin melaksanakan perintah dari sang kakak ipar yang meminta tolong padanya. "Aku akan menjelaskan apa yang kak Floe katakan padaku tadi. Jangan ganggu kak Floe sekarang karena dia sedang bekerja."


Erland seketika mengerutkan kening karena tidak paham apa yang dimaksud Kirana. Sejujurnya dari tadi ia tengah menahan diri untuk tidak melayangkan tinjunya pada wajah pria yang sangat tidak disukai. Apalagi ketika pertama kali mendengar panggilan dari pria itu pada Floe, ingin sekali terbahak-bahak menertawakannya.


Namun, menahan diri karena tidak ingin membuat Floe ilfeel padanya dan juga bertambah kesal. "Apa maksudmu? Memangnya Floe bicara apa padamu? Lalu, bekerja yang bagaimana?"


Tidak ingin bertele-tele dan membuang waktu, Kirana pun mulai menceritakan apa yang tadi disampaikan oleh sang kakak ipar untuk membuat saudara laki-lakinya tersebut memaklumi dan juga tidak mengacaukan semuanya karena hanya akan makin bertambah ilfeel.


Seolah tidak tertarik untuk ikut campur mengenai masalah pribadi saudaranya dan selalu saja hanya menjadi penonton. "Ayo, Sayang. Bawa semuanya ke mobil."


Erland yang saat ini masih merasa bingung tentang penjelasan saudaranya, mencoba untuk memecahkan misteri dari cerita Floe yang ambigu. 'Jadi Floe hanya berakting bersikap mesra pada pria bernama Dhewa itu karena pekerjaan?'


'Lalu pekerjaan yang bagaimana hingga harus bersikap semesra itu dengan lawan jenis? Itu bahkan tidak seperti seorang Floella Khaisyla yang selalu berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan.' Erland saat ini perjalanan mengekor pasangan suami istri yang baru saja pulang berbulan madu dari Paris tersebut menuju ke area depan.


Bahkan ia saat ini mencari keberadaan Floe dan pria itu yang sudah tidak terlihat lagi. "Ke mana mereka? Apa sudah pulang?"


Saat masih mengedarkan pandangannya untuk mencari, mendengar suara saudaranya yang menunjuk ke arah sebelah kiri.


"Mereka baru akan pulang, Kak. Kalau dipikir-pikir, kak Floe sangat serasi ya dengan pria bernama Dhewa Adji Ismahayana itu. Bahkan hanya mendengar satu kali namanya saja sudah membuatku hafal karena sangat unik dan jarang dimiliki oleh orang lain."


Namun, ia seketika terkekeh melihat sang suami yang mengungkapkan nada protes.


"Apa secara tidak langsung kamu tengah memuji pria lain, Sayang? Aku ada di sini lho. Jadi, jangan coba-coba melirik pria lain yang lebih tampan dariku." Felix yang saat ini merasa cemburu ketika sang istri dari tadi curi-curi pandang pada pria yang menurutnya memiliki postur tubuh ideal.


Apalagi lebih tinggi darinya dan juga lebih berisi, sehingga membuatnya berpikir untuk menaikkan berat badan dan juga pergi gym untuk melatih otot tubuh agar bisa seperti pria itu.


Sementara itu, Kirana yang tadinya tidak mengalihkan perhatian saat melihat pria bernama Dhewa membukakan pintu untuk iparnya dan juga sang ibu, seketika terkekeh geli karena sang suami menunjukkan kecemburuan.


"Aku hanya milikmu dan kamu hanya milikku, Suamiku. Kita sudah menikah dan kamu tidak perlu bukti lain jika aku menganggapmu adalah pria paling sempurna di dunia karena memutuskan untuk mengakhiri masa lajang." Kemudian ia melirik ke arah sang kakak yang dari tadi masih memperhatikan mobil yang baru saja menjauh pergi dari hadapan.


"Apa sekarang Kakak menyesal dan menyadari kesalahan? Sayang meskipun itu benar, semua sudah terlambat karena kak Floe sekarang hanya membencimu. Sepertinya segera bereskan proses perceraian kalian agar bisa saling membuka lembaran baru."


Saat Kirana berniat untuk menyuruh sang kakak untuk segera mengambil mobil, seketika membulatkan mata ketika mendengar jawaban dari sang kakak yang dianggapnya sangat egois sebagai seorang pria. Bahkan benar-benar merasa kecewa karena seperti tidak mengenal sosok sang kakak yang selama ini adalah pria panutannya yang dihormati dan disayangi.


"Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya. Aku pun tidak akan pernah menceraikan Floe karena ingin membuka lembaran baru bersamanya, bukan dengan wanita manapun karena hanya menginginkannya," ucap Erland yang saat ini berlalu pergi menuju ke arah parkiran untuk mengambil kendaraan.


Sepanjang ia melangkah, semakin memantapkan hatinya dengan keputusannya yang tidak akan pernah melepaskan Floe bersama dengan pria lain. "Ya, aku memang egois karena saat ini baru menyadari bahwa aku tidak ingin melepaskanmu hidup dengan pria lain."


"Inilah cinta dan aku baru menyadari sekarang bahwa kamu adalah wanita yang sangat ku inginkan dan merasa cemburu jika melihatmu bersama dengan pria lain," ucap Erland yang kini tersenyum simpul ketika lega saat merasa keputusannya sangatlah tepat dan terbaik.


To be continued...