Married by Accident

Married by Accident
Membuatmu kembali padaku



Beberapa saat lalu, Floe yang baru saja menghampiri Kirana agar tidak mengatakan siapa sebenarnya dirinya jika mendekat ke arah Dhewa dan mamanya. Ia tersenyum simpul dan langsung memeluk erat iparnya tersebut. "Kamu di sini juga, Kirana? Mau pergi atau baru datang?"


Kirana yang saat ini mengusap lembut punggung belakang sang kakak ipar karena sebenarnya sangat menyayangi seperti saudara sendiri dan sempat marah pada sang kakak ketika menyia-nyiakan istri dan lebih memilih sang kekasih yang ternyata malah tidak bisa digapai.


Meskipun juga iba pada kakaknya karena mengalami hubungan percintaan yang sangat rumit, berharap bisa kembali bersama dengan wanita di hadapannya tersebut. "Aku baru kembali dari Paris, Kak. Sekarang sedang menunggu jemputan dari sopir. Lalu Kakak di sini?"


Kirana melepaskan pelukannya dan mencegah perkataannya karena tengah mengatur kalimat yang pantas untuk ditanyakan agar iparnya tidak tersinggung. "Kakak di sini bersama siapa? Itu ...."


Ia tidak bisa melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh sang kakak ipar yang terlihat seperti gelisah dan membuatnya merasa aneh sekaligus curiga.


Floe yang sadar jika tidak bisa berlama-lama berinteraksi dengan iparnya tersebut karena dianggap tidak sopan oleh mamanya Dhewa, seketika mengungkapkan sesuatu yang dari tadi sudah dipikirkan.


"Itu bosku dan aku saat ini berpura-pura menjadi orang lain, bukan Floe. Jadi, aku harap kamu tidak memanggilku dengan nama asli karena saat ini berakting menjadi wanita bernama Ayu Ningrum yang masih single dan bukan berstatus sebagai istri orang." Floe tidak mungkin menceritakan panjang lebar mengenai keinginan dari sang ayah yang membuatnya harus menyamar menjadi orang biasa, bukan putri dari pemilik perusahaan.


Berharap saudara iparnya tersebut mengerti dan tidak bertanya panjang lebar karena berniat untuk kembali menghampiri Dhewa beserta mamanya.


Kirana sebenarnya saat ini merasa bingung dengan arti dari kalimat bos sang kakak ipar. Padahal wanita di hadapannya tersebut adalah putri dari pemilik perusahaan besar dan bisa dibilang juga dipanggil bos. Saat ia menatap ke arah ibu dan anak yang saat ini juga mengamati interaksinya, di saat bersamaan melihat seseorang yang tak lain adalah saudara laki-lakinya berjalan menghampiri.


Bahkan belum sempat menceritakan pada iparnya, suara bariton dari sang kakak berhasil membuatnya merasa akan ada sesuatu hal besar yang terjadi.


"Floe?"


Sementara itu, Floe yang tadinya menatap ke arah Kirana, seketika bulu kuduknya meremang begitu namanya dipanggil oleh pria yang sangat dibenci dan tidak ingin ditemuinya. Ia bahkan tidak berani berbalik badan untuk sekedar menegaskan jika apa yang didengar benar. Bahwa itu adalah suara Erland yang baru saja datang dan malah membuatnya semakin bertambah bingung sekaligus pusing.


'Erland? Jadi, sopir yang dimaksud Kirana adalah kakaknya sendiri? Takdir macam apa ini? Aku benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Aku tidak ingin bertemu Erland saat sedang menyamar seperti ini karena pasti akan ketahuan Dhewa dan mamanya,' gumam Floe yang saat ini merasa bingung harus bagaimana menghadapi Erland yang makin terdengar jelas suaranya ketika berbicara dan sudah berada di sampingnya.


"Ternyata ini yang membuatku ingin menjemput Kirana. Padahal awalnya aku sangat malas dan menyuruh supir, tapi entah kenapa seperti ada yang menggerakkan hatiku untuk datang ke bandara. Ternyata hati tidak bisa berbohong karena saat ini bisa bertemu denganmu ketika ingin berbicara banyak hal." Erland tadinya tanpa sengaja melihat sosok pria yang dicari tahu dari media sosial, hingga ia melihat siluet wanita yang sangat dihafalnya berbicara dengan saudaranya.


Jadi, sudah menduga apa yang terjadi di bandara. Bahwa Floe bersama dengan pria bernama Dhewa Adji Ismahayana ismahayana tersebut untuk diperkenalkan pada sang ibu. Itulah mengapa ia sengaja memanggil dengan suara nyaring agar pria itu mendengarnya.


Jujur saja ada sesuatu yang membuatnya kesal dan tidak suka saat Floe bersama dengan pria lain yang bahkan ia anggap jauh lebih baik darinya. Apalagi ia sudah mencari tahu semua hal tentang pria yang hendak dijodohkan oleh Hugo Madison tersebut untuk putrinya.


Untuk pertama kalinya merasa insecure dengan pria lain. Padahal selama ini selalu merasa percaya diri, tapi semuanya berbeda setelah ia mengetahui pria bernama Dhewa Adji Ismahayana tersebut bukanlah pria biasa karena masih keturunan darah biru dan menjadi seorang pebisnis sukses.


Ia yang saat ini masih menatap wanita yang seperti enggan menoleh ke arahnya karena berbicara sesuatu yang diketahuinya memang sangat konyol dan lebay. Hingga beberapa saat kemudian melihat tatapan tajam Floe saat menoleh ke arahnya.


"Jangan berbicara konyol dan membuatku muak!" sarkas Floe yang saat ini menatap penuh kebencian dengan kilatan amarah dan juga hati yang bergejolak karena setiap kali berhadapan dengan Erland, selalu mengingat perbuatan pria itu yang tidak memperdulikannya saat keguguran.


Ia tidak pernah bisa melupakan perbuatan pria itu yang lebih mementingkan wanita lain ketimbang statusnya yang masih menjadi istri yang mengalami keguguran. Kemudian menoleh ke arah Kirana karena tidak ingin berlama-lama di sana.


"Tolong jelaskan pada kakakmu tersayang ini mengenai apa yang kukatakan tadi. Aku mohon bantuanmu," ucap Floe yang saat ini berniat untuk melangkah pergi dari tempat itu.


"Iya, Kakak ipar," sahut Kirana yang saat ini merasa tidak enak dengan situasi yang terjadi di antara saudara serta iparnya tersebut.


"Tunggu, Flow!" seru Erland yang merasa jika masih belum selesai berbicara dengan wanita yang membuatnya merasa cemburu ketika berniat untuk menghampiri pria bernama Dhewa tersebut.


Floe sebenarnya ingin berteriak agar Erland melepaskan kuasanya. 'Sialan! Apa yang dilakukannya? Berani-beraninya dia menyentuhku. Rasanya aku ingin menendangnya saat ini juga,' gumam Floe yang saat ini seketika bernapas lega begitu mendengar suara bariton dari pria yang dianggap bisa menyelamatkannya dari kuasa Erland.


"Kanjeng Ratu Widodariku, kenapa lama sekali?" seru Dhewa yang saat ini berjalan menghampiri Floe dan menatap tajam pria yang saat ini memegang tangan wanita yang telah berhasil menggetarkan hatinya.


'Apa mau dia sebenarnya? Kenapa berani menyentuh wanita yang bahkan hendak diceraikan? Rasanya aku ingin sekali mengempaskan tangannya agar melepaskan kuasa dan tidak lagi menyentuh Kanjeng Ratu Widodariku,' gumam Dhewa yang saat ini tersenyum simpul dan merasa senang ketika melihat Floe mengempaskan tangan dengan sangat kuat hingga kuasa pria itu terlepas begitu saja.


"Maaf, Sayang karena aku terlalu lama meninggalkan kalian. Ada gangguan kecil yang harus aku selesaikan," ucap Floe yang saat ini merasa lega karena untuk pertama kalinya merasa senang mendengar panggilan dari Dhewa yang awalnya dianggap sangat lebay.


Namun, hari ini menyelamatkannya dari aksi penyamarannya sebagai wanita bernama Ayu Ningrum ningrum dan bukan menjadi seorang penerus utama perusahaan Madison.


Ia bahkan seketika melepaskan kuasa karena sangat marah pada perbuatan berani Erland dan merasa lega ketika berhasil melakukannya. 'Aku benar-benar tidak menyangka berada pada kondisi konyol seperti ini. Berakting bersama Dhewa di depan Erland dan Kirana serta suaminya, membuatku terlihat seperti seorang wanita yang buruk dan tidak tahu malu.'


'Tapi untuk pertama kalinya aku tidak peduli akan pendapat mereka karena yang saat ini kupikirkan hanyalah ingin memberi Erland pelajaran. Memangnya hanya dia yang bisa menyakiti hati? Aku juga bisa karena itu sangat mudah bagiku,' gumam Floe yang saat ini langsung menggenggam erat telapak tangan Dhewa dan menunjukkannya pada Erland.


"Perkenalkan, dia calon suamiku." Floe kini tersenyum pada pria di sebelahnya tersebut. "Sayang, kamu perkenalkan diri dulu gih!"


Dhewa yang seketika berbinar wajahnya karena merasa senang pada apa yang dilakukan Floe, seketika menganggukkan kepala dan mengulurkan tangannya pada pria yang tadi ia cari tahu di mesin pencarian setelah bertanya pada Hugo Madison.


"Dhewa Adji Ismahayana," ucapnya yang saat ini menunggu tanggapan dari pria yang merupakan suami Floe tersebut.


Erland yang saat ini hanya terdiam dan tidak langsung menanggapi tangan yang menggantung di udara tersebut karena jujur saja tidak suka dengan keadaan yang terlihat saat ini. Ia masih menatap pria dengan rahang tegas yang memiliki postur tubuh lebih tinggi darinya.


'Jadi ini pria pilihan seorang Hugo Madison? Apakah sekarang pria ini secara terang-terangan mengibarkan bendera perang padaku? Apa dia lupa jika aku masih menjadi suami sah Floe? Aku yang masih memegang kendali semuanya jika tidak menyetujui perceraian, kau tidak akan pernah bisa menikahi Floe,' sarkas Erland yang saat ini masih bergumam sendiri di dalam hati ketika memikirkan sesuatu dan tiba-tiba mengambil keputusan besar dalam hidupnya.


'Aku tidak akan pernah menceraikan Floe sampai kapanpun.' Erland yang saat ini mengambil keputusan besar dalam hidupnya karena menganggap jika langkah yang diambil menentukan masa depannya.


Ia merasa sangat yakin jika keputusannya untuk tidak bersedia bercerai bisa menggagalkan rencana perjodohan yang dirancang oleh Hugo Madison untuk putrinya. Dengan tersenyum menyeringai, Erland akhirnya menjabat tangan pria dengan buku-buku kuat tersebut.


"Erland Carl Felix," ucapnya yang saat ini sengaja tidak menjelaskan tentang statusnya sebagai apa karena yakin jika pria di hadapannya sudah mengetahuinya.


Bahwa Floe saat ini masih berstatus sebagai istri sah dan tidak mungkin bisa menikah jika ia tidak mau bercerai. 'Kita lihat saja siapa yang menang di antara kita.'


Erland yang sengaja tidak mengatakan rencananya dan bersikap setenang mungkin agar Floe dan pria di hadapannya tersebut merasa di atas angin. Padahal saat ini ada rencana besar yang sudah tersusun rapi di otaknya dan sangat yakin akan berhasil membuat Floe kembali padanya.


'Aku akan membuatmu kembali padaku, Floe. Kita lihat saja nanti dan tunggu tanggal mainnya karena aku akan membuktikan bagaimana seorang Erland Carl Felix meluluhkan hati Floella Khaisyla.'


To be continued...