
Seorang wanita berambut panjang hitam legam tengah serius membuat sesuatu di meja kerjanya. Wajahnya tertutup masker, hanya sepasang matanya yang terlihat menyorot tajam pada sesuatu di atas meja. Ia mengaduk cairan resin dan menuangnya pada cetakan berbentuk violin. Untuk mempercantik tampilan gantungan tersebut ia memetik bunga Azalea berwarna merah muda yang ditanamnya di dalam pot.
Karalyn, nama itu terukir pada satu gantungan dari resin yang sudah beku. Ia hendak membuat satu lagi untuk anaknya, Kelana.
"Apa yang Mama buat?" Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahunan menerobos masuk ke ruang kerja Karalyn, ia penasaran apa yang membuat mama nya berada di ruang kerja begitu lama. Namun setelah mencium aroma menyengat ia buru-buru menutup hidung.
"Pakai masker, Kelana." Karalyn mengambil satu masker dan memasangkannya pada Kelana. Ia tertawa karena masker tersebut kebesaran di wajah mungil Kelana.
"Apa yang Mama buat?" Kelana mengulang pertanyannya.
"Mama membuat gantungan kunci untuk mu, lihat yang ini punya Mama." Karalyn menunjukkan gantungan kunci miliknya.
"Punya Mama ada namanya, punyaku?"
"Walaupun punya kamu nggak ada namanya tapi Mama menambahkan bunga Azalea di dalamnya, cantik kan?"
"Kenapa harus bunga Azalea?"
"Bunga Azalea melambangkan kecantikan dan kasih sayang jadi Mama memberikan ini untuk Kelana."
"Berapa lama dia akan beku?"
"Kita tunggu sampai besok." Karalyn merapikan rambut Kelana yang sedikit berantakan.
"Ma, aku besok mau renang sama Papa." Kelana sudah meminta hal itu sejak seminggu yang lalu tapi papa nya selalu sibuk. Namun Kelana senang karena akhirnya besok ia bisa pergi berenang dengan papa nya.
"Oke, kalau gitu Mama siapin bekal buat kamu dan Papa besok."
"Mama, lain kali ayo berenang bersama."
"Baiklah sayang, nanti Mama atur waktunya ya."
******
Sepanjang perjalanan dari apartemen ke kantor, Kelana bercerita tentang gantungan kunci tersebut. Saat itu ia merasa bersalah karena menghilangkannya saat berenang. Kelana lega karena setelah belasan tahun akhirnya ia bisa melihat kembali gantungan kunci buatan mama nya. Ternyata benda tersebut ada bersama Renjani.
Takdir begitu ajaib mempertemukan Kelana dan Renjani setelah kejadian singkat di masa lalu. Pada akhirnya Renjani menikah dengan seseorang yang pernah menyelamatkannya dulu.
Renjani menatap Kelana masih tak percaya jika Kelana adalah orang yang menyelamatkannya dulu. Renjani tak ingat wajah bocah itu atau Kelana memang sudah banyak berubah setelah belasan tahun berlalu. Namun satu hal yang Renjani ingat, ia merasa ada kesamaan saat bocah itu menempelkan bibirnya untuk memberi napas buatan, rasanya sama seperti saat Kelana menciumnya.
"Kamu ingin aku meyakinkan mu?" Kelana mendekatkan wajahnya pada Renjani.
"Aku bukannya nggak yakin, tapi—"
"Yana, fokuslah menyetir dan jangan pernah lihat ke belakang." Ujar Kelana pada Yana yang berada di kursi kemudi.
"Baik Mas." Yana tak akan menoleh ataupun melihat spion atas.
Renjani tak tahu apa yang hendak Kelana lakukan tapi sebelum ia berpikir, Kelana telah memberi jawabannya.
Sepasang mata Renjani melebar ketika Kelana mendaratkan ciuman di bibirnya. Renjani terdorong ke belakang hingga kepalanya hampir membentur jendela tapi Kelana dengan sigap memposisikan tangannya ke belakang kepala Renjani.
Pandangan keduanya terkunci untuk beberapa saat sebelum Renjani memejamkan matanya. Renjani tak mampu membalas tatapan Kelana, ia bisa gila jika melakukan itu. Renjani bisa kehilangan akal sehat padahal mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor.
Mobil itu terasa sesak, Renjani menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya setelah Kelana mengakhiri tautan di antara mereka.
"Lihatlah, sejak awal bibir itu milikku." Ucap Kelana bangga. Ia bahkan sudah mencium Renjani sejak usianya 7 tahun. Walaupun sebenarnya itu tidak bisa disebut sebagai ciuman, yang jelas bibir mereka saling menempel.
"Kamu lupa kalau aku pernah punya pacar?" Sindir Renjani setelah ia berhasil mengatur napasnya kembali.
"Tapi aku yakin kalian tidak pernah berciuman."
Renjani mendelik, kenapa Kelana tahu soal itu. Ia dan Arya berpacaran sekitar 6 bulan dan selama itu mereka hanya berpegangan tangan tidak lebih. Itu sebabnya saat Renjani jatuh menimpa tubuh Kelana di perpustakaan, ia menyebut itu sebagai ciuman pertamanya.
"Sok tahu." Desis Renjani.
"Aku bisa merasakannya."
"Emang kamu paranormal?"
"Paranormal mana yang bisa merasakan wanita itu pernah berciuman atau belum?"
Renjani kalah dalam perdebatan itu, ia melipat tangan di depan dada dan melempar pandangan keluar jendela meski sebenarnya ia tak benar-benar melihat sesuatu di luar sana. Renjani hanya tidak mau Kelana melihat ekspresinya saat ini.
Mobil berhenti di depan kantor Asmara Publishing, Renjani menyampirkan tas kerjanya dan membuka pintu.
"Kamu nggak cium aku dulu?"
Sejak kapan Renjani harus mencium Kelana dulu sebelum pergi.
"Ada Yana."
"Yana nggak lihat."
Renjani tetap keluar dari mobil lalu segera menutupnya kembali.
"Re, kamu pergi gitu aja?" Kelana melongokkan kepala melalui jendela mobil.
Manda dan Eve menyambut Renjani di depan pintu sementara yang lain sudah berada di lantai dua. Mereka tinggal menunggu kedatangan Maia untuk memulai rapat.
"Mbak Rere habis makan apa, lipstik nya belepotan gitu?" Eve menunjuk bibir Renjani.
Renjani buru-buru mencari cermin dengan panik, ini pasti karena ulah Kelana barusan. Harusnya Renjani bisa menahan Kelana agar tidak melakukan itu saat mereka hendak pergi bekerja.
Wajah Renjani memerah seperti tomat menahan malu. Ia harap tidak ada yang berpikir macam-macam tentang hal ini walaupun mereka bukan anak kecil. Mereka sudah dewasa dan cukup mengerti tentang ini.
"Ah ini, makan gorengan barusan." Renjani mengusap bibirnya dengan tisu basah lalu mengaplikasikan lipstik nya lagi.
Renjani memutar lagu Cloudy Night yang semalam belum selesai ia dengarkan. Sesuai saran Kelana, Renjani membawa album tersebut ke kantor. Mendengarkan musik membuat mereka lebih santai.
"Wah itu album barunya Kak Kelana ya Mbak?" Manda mengintip dari belakang Renjani.
"Iya." Renjani membalikkan badan.
"Aku pengen banget punya album Love Season tapi tabungannya belum cukup."
"Kalau gitu untuk sementara kamu dengerin lagu-lagunya disini dulu, setelah gajian kamu bisa beli albumnya." Renjani tiba-tiba ingat jika ia punya photocard Kelana. "Kamu mau ini nggak, aku nggak tahu harus ngasih ini buat siapa." Ia mengeluarkan photocard dari dalam tasnya.
Manda membelalak tak percaya karena Renjani hendak memberikan photocard yang berharga itu padanya.
"Mbak Rere serius?"
"Serius." Renjani mengangguk dua kali meyakinkan Manda.
Manda mengucapkan terimakasih berkali-kali, bahkan matanya berkaca-kaca karena mendapatkan benda itu. Manda akan selalu bekerja untuk Asmara Publishing tak peduli pada jumlah gajinya, mendapatkan photocard tersebut membuatnya bahagia dibanding dengan gaji.
"Wah di album Kak Kelana ada photocard nya Mbak?" Eve ikut nimbrung.
"Iya."
"Ini sih udah kayak album K-Pop yang aku punya di rumah Mbak, jarang-jarang loh seniman Indonesia yang menyertakan photocard di albumnya atau bahkan Kak Kelana jadi satu-satunya."
Renjani hanya tersenyum samar karena ia juga tidak tahu tentang hal tersebut. Ia bukanlah penggemar Kelana.
Renjani melangkah duduk di kursi kerjanya begitupun dengan Manda dan Eve. Mereka mulai menyiapkan materi rapat hari ini.
"Saya sudah mendesain tiga sampul Meet Sunshine." Jeno menunjukkan tiga desain sampul yang sudah dibuatnya pada Renjani.
"Wah, kamu jago banget gambarnya." Renjani kagum melihat gambar-gambar Jeno.
"Mana yang menurut Mbak Rere paling bagus?"
"Aku suka nomor dua, warna dasarnya kuning dan itu menggambarkan Meet Sunshine banget."
"Saya juga suka nomor dua."
"Kita tinggal minta pendapat Maia aja sama bikin voting di Instagram, kita dengarkan pendapat para pembaca."
"Baik Mbak." Jeno kembali ke meja kerjanya.
"Fatan sudah menentukan sinopsis yang hendak dicantumkan di sampul belakang?" Renjani melihat ke arah meja kerja Fatan.
"Sudah Mbak, saya akan mengirimnya ke email Mbak Rere."
"Oke." Renjani mengalihkan pandangan ke arah Ervin yang dari tadi sibuk dengan laptop dan ponselnya. "Ervin sudah menghubungi pihak percetakan?"
"Sudah Mbak, saya sudah mendapatkan daftar biaya untuk mencetak satu novel berdasarkan kualitas kertas, tinta dan sampulnya." Jelas Ervin.
Beberapa saat kemudian Maia datang, mereka segera memulai rapat pagi itu karena Maia tidak bisa terlalu lama berada disitu. Pekerjaan Maia di luar menulis sudah sangat sibuk, ia sendiri tak menduga jika Renjani tertarik dan ingin menerbitkan Meet Sunshine.
*******
"Mas," Yana memanggil Kelana sebelum mereka masuk ke gedung Antasena.
"Ada apa?" Kelana membalikkan badan.
Yana menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada orang lain disitu.
"Ada lipstik di bibir Mas Lana." Yana memberikan ponselnya pada Kelana untuk bercermin.
Alis Kelana terangkat, ia segera mengusap bibirnya yang berwarna kemerahan seperti lipstik Renjani.
"Kenapa bisa begini?" Gerutu Kelana. "Aku nggak merasa pakai lipstik Renjani."
"Tapi Mas mencium Mbak Rere." Yana merendahkan suaranya, sebenarnya ia takut mengatakan hal itu pada Kelana. Namun Yana juga tak mau Kelana membuat semua orang salah fokus karena noda lipstik tersebut.
"Kalau begitu tolong belikan Renjani lipstik yang nggak mudah transfer seperti ini, belikan dia lipstik yang paling tahan lama di dunia yang nggak bisa geser."
Yana mengangguk walaupun ia tak tahu apakah ada lipstik seperti itu di dunia ini.