
Dua porsi nasi uduk tersaji di atas meja dengan lauk telur dadar, tempe orek, bakwan sayur, bihun goreng dan kerupuk lengkap dengan bumbu kacang serta taburan bawang goreng. Renjani memasak nasi uduk sendiri dan menyajikannya dengan cantik di atas meja seperti yang Kelana biasa lakukan.
Meskipun semalam Renjani sempat kesal pada Kelana tapi pada akhirnya ia berhasil dirayu dengan makanan enak yang katanya berasal dari Mesir. Saat Renjani mengeceknya di internet, ternyata benar roti itu berasal dari Mesir.
Sebagai ganti makanan enak semalam maka hari ini Renjani membuat nasi uduk sendiri dengan berbagai jenis lauk pendamping. Karena Renjani membuat banyak maka ia mengirim sebagian pada Jesi dan papa nya. Akhir-akhir ini Renjani sering mengirim makanan untuk Aji karena ia tahu papa nya itu tidak makan dengan baik.
"Apa itu?" Renjani melihat Kelana datang membawa sesuatu di tangannya.
"Pot dari gerabah, Papa titipin ini ke Pak Dayat buat anaknya yang paling cantik di dunia."
"Dibanding aku, pot ini jauh lebih cantik." Renjani mengambil dua pot tersebut dari kelana. Aji memang paling mengerti selera Renjani, ia membuat dua pot dengan hiasan bergambar pelangi dan jamur berwarna cerah. Rupanya Aji tahu Renjani memiliki hobi baru menanam bunga sehingga ia membuat pot tersebut.
Kelana tidak membual, dalam pot tersebut terdapat kertas bertuliskan untuk putriku yang paling cantik sedunia. Renjani tertawa membaca pesan tersebut, Aji manis sekali hingga membuat Renjani berkaca-kaca. Tentu saja Renjani jadi putri paling cantik sedunia karena Aji dan Lasti tidak memiliki anak selain dia.
"Ayo sarapan dulu mumpung putri kita masih tidur." Renjani menarik kursi untuk Kelana, ia menirukan papa nya yang menyebut dirinya putri.
"Masakan Ibu hari ini spesial banget." Kelana mengambil sendok dan garpu tidak sabar mencicipi nasi uduk buatan Renjani.
"Ada ayam bakar juga ini." Renjani meletakkan sepotong paha ayam ke piring Kelana. "Berkat kamu, aku bisa makan yang enak-enak."
"Bukannya aku yang harus bilang begitu?" Kalimat Kelana tidak terlalu jelas karena mulutnya penuh dengan nasi yang menyebarkan rasa gurih begitu ia mengunyah nya bersama kerupuk dan bumbu kacang.
Renjani menggeleng, sebelum kenal dan menikah dengan Kelana, Renjani selalu meminimalisir pengeluarannya dengan membeli makanan murah. Dulu, untuk makan nasi padang dengan lauk ayam saja Renjani harus menunggu awal bulan saat gajinya baru keluar. Kehidupan Renjani berubah 180 derajat setelah menikah.
"Dulu aku nggak pernah sarapan roti pakai mashed avocado, palingan cuma sarapan cilok deket perpustakaan."
"Tapi kamu suka makan."
"Itu makanya aku berusaha beli makanan yang murah karena uangku habis cuma buat sewa kos dan makan."
"Andai kita ketemu lebih awal." Kelana menatap Renjani lekat, betapa ia bersyukur karena telah dipertemukan dengan Renjani kembali setelah belasan tahun berlalu.
"Kalau lebih awal, mungkin waktu itu kamu masih pacaran sama Elara dan aku nggak bakal dilirik sama sekali."
Kelana terkekeh meletakkan sendok dan garpu untuk meraih tangan Renjani.
"Apapun itu Elara cuma pacarku dulu dan sekarang kamu istriku, ibu nya Renjana."
"Nggak tahu kenapa aku lebih suka disebut Ibunya Renjana."
"Kamu nggak suka disebut istriku?"
Renjani tertawa jahil, mungkin karena ia sudah sering mendengar orang-orang menyebutnya istri Kelana, sekarang Renjani lebih suka disebut sebagai ibu Renjana. Ada perasaan bangga karena Renjani bisa melahirkan seorang putri.
"Eh jadi semalem Fatan ada perlu apa sama kamu?" Renjani mengalihkan pembicaraan, ia baru ingat jika Kelana belum bercerita soal semalam.
"Siap-siap, kamu akan kaget."
Renjani menatap Kelana sepenuhnya, ia bahkan berhenti mengunyah demi mendengarkan kalimat Kelana selanjutnya.
"Nggak mungkin Fatan mau resign kan? kalau iya, kenapa dia nggak bilang langsung sama aku?" Renjani jadi panik sendiri memikirkan apa yang Fatan katakan semalam pada Kelana. Renjani tak bisa kehilangan Fatan di kantor.
"Bukan itu sayang."
"Jadi apa?"
"Cowok yang suka sama Yana itu Fatan, karyawan kamu."
Kini mata Renjani membulat sedangkan mulutnya sedikit terbuka. Renjani tak pernah menyangka jika cowok itu adalah Fatan.
"Kok bisa?" Renjani masih tidak percaya, Fatan dan Yana jarang bertemu, Renjani juga tak pernah melihat mereka mengobrol. "Terus dia bilang apa?"
"Dia izin sama aku untuk mendekati Yana." Kelana salut pada Fatan karena meminta izin padanya lebih dulu bukannya Yana.
"Terus?"
"Aku bilang Yana nggak boleh pacaran sebelum lulus kuliah."
"Apa!" Renjani menepuk-nepuk telinganya, ia tidak salah dengar kan? "Jahat banget sih kamu."
"Ini semua demi kebaikan Yana."
"Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau Yana berhak punya pacar seperti anak muda lainnya, Yana juga baru masuk kuliah."
"Itu kamu yang bilang, bukan aku."
Renjani mendengus kesal, ia hanya ingin Yana memiliki kehidupan seperti yang lain. Yana sudah cukup bekerja keras selama ini dan Renjani ingin memberi sedikit kebebasan.
"Kamu nggak ngomong sama Yana soal ini?"
"Udah."
"Terus?"
"Yana setuju, untuk saat ini dia emang nggak pengen pacaran sama siapapun, kalau Fatan beneran suka sama Yana maka dia bisa menunggu hingga tiga atau empat tahun lagi."
Renjani meringis, siapa yang bisa sabar menunggu hingga selama itu apalagi Fatan sudah berusia matang untuk menikah. Walaupun usia bukan satu-satunya tolak ukur pernikahan tapi tetap saja Renjani merasa kasihan pada mereka berdua.
"Jangan bilang kamu bakal bikin aturan yang sama untuk Nana."
"Tentu saja, Nana nggak akan pacaran sampai dia lulus kuliah."
"Aku nggak akan galak sama Nana, tapi sama cowok yang deketin Nana."
"Sepertinya Nana akan membuat dirinya sulit dideketin cowok berkat didikan kamu."
"Kamu juga akan mendidik Nana, kita sama-sama belajar." Kelana menggenggam tangan Renjani. Ia menyesal karena pernah egois dengan mengatakan tak ada anak dalam rencana kehidupannya. Kini Kelana mengerti bahwa kadang hidup tak akan sesuai dengan rencananya tapi ia yakin bahwa ketentuan Tuhan jauh lebih baik. Seperti sekarang Kelana selalu melihat Renjana sebagai keajaiban dalam hidupnya. Bahkan rasanya Kelana belum percaya jika Nana adalah anak kandungnya. Namun sekilas Nana terlihat mirip Kelana dan itu membuat Kelana sadar bahwa Nana memang anaknya.
******
Gedung dua lantai yang terletak strategis di tengah kota itu merupakan hadiah untuk cucu pertama Wira yakni Renjana. Gedung itu merupakan wujud kebahagiaan dan rasa syukur Wira atas kelahiran Renjana. Kelana dan Renjani mengatakan hadiah itu terlalu berlebihan untuk Nana. Namun Wira tetap ingin memberikan gedung tersebut. Bahkan Valia dibuat iri saat tahu Wira memberikan hadiah sebuah gedung.
Siang ini untuk pertama kalinya Kelana dan Renjani membawa Nana melihat gedung yang masih kosong tersebut. Mereka bahkan tidak tahu akan menggunakan gedung itu untuk apa. Sepertinya mereka harus menunggu beberapa tahun lagi hingga Nana bisa memutuskan sendiri.
Jendela-jendela kaca yang luas mendominasi dinding gedung sehingga matahari bisa menembus masuk menerangi seluruh ruangan. Lantai granit bermotif kayu tampak kontras dengan dinding yang berwarna putih.
Tak ada sekat yang memisahkan lantai satu sehingga mereka bisa melihat seluruh ruangan sekaligus. Terdapat vas bunga keramik di sudut ruangan dengan bunga kering di dalamnya.
"Ini seperti studio musik." Suara Kelana menggema.
"Itu karena kamu suka musik, aku ngelihat ruangan ini justru kayak perpustakaan, tinggal dikasih rak-rak aja." Renjani menyahut.
Sedangkan si pemilik gedung tetap anteng di dalam stroller nya.
"Kamu bisa membayangkan Nana akan jadi apa lima tahun lagi?" Kelana membayangkan Nana berlarian di gedung tersebut sambil tertawa.
"Dia akan jadi anak yang ceria seperti ku."
"Atau dia akan pemarah sepertiku." Kelana terkekeh, Nana akan sangat menggemaskan saat marah. "Atau dia akan jadi seorang kakak."
"Maksud kamu kita akan punya anak kedua lima tahun lagi?"
"Itu terserah kamu sayang, sekali lagi aku nggak berhak menentukan karena kamu yang akan hamil, melahirkan dan menyusui, aku cuma bantu sedikit."
"Kamu tinggal minta."
Kelana menggeleng, ia masih ingat betapa Renjani harus kesakitan saat melahirkan Renjana.
"Hamil itu nggak mudah apalagi saat melahirkan dan menyusui, kamu harus begadang dan nggak cukup istirahat, aku belum siap kamu mengalami itu lagi, tapi jika kamu bersedia, kapanpun itu aku akan memperlakukan mu sebaik mungkin, aku akan selalu ada di sisi mu dan membantu kamu sebisaku." Kelana menangkup pipi Renjani, ia tak akan mengulang kesalahan yang sama yakni membiarkan Renjani menjalani awal-awal kehamilan seorang diri.
"Kenapa kamu jadi pria manis sekarang, hm?" Renjani berjinjit mengecup bibir Kelana, ia selalu memilih bibir karena itu paling dekat dan bisa ia raih.
"Aku manis sejak dulu." Kelana menekan tengkuk Renjani agar semakin dekat dengannya.
Dering ponsel mengejutkan Renjani dan Kelana hingga terpaksa mereka melepas tautan. Suara itu berasal dari ponsel Renjani.
Dengan sekali gerakan Renjani menjawab telepon tersebut, ia bicara sebentar dan langsung menutupnya.
"Bi Tumi udah ada di dekat sini."
Mereka janji bertemu dengan Tumi dan Edi di restoran tak jauh dari sini. Kebetulan hari ini Tumi dan Edi pergi ke Jakarta untuk menghadiri ulang tahun Wijaya Kusuma. Sebenarnya nanti mereka akan bertemu lagi di acara ulang tahun tersebut. Namun Renjani ingin mengobrol lebih lama dengan Tumi dan Edi.
******
"Bibi!" Tanpa sadar Renjani memekik di tengah keramaian saat melihat Tumi. Beberapa orang yang berada di sekitar mereka seketika memperhatikan Renjani.
Kelana sudah berusaha tidak terlihat mencolok di tempat umum tapi Renjani justru mencuri perhatian dengan teriakannya.
Beberapa orang langsung memotret Kelana dengan ponsel mereka. Mereka berbisik-bisik tak menyangka akan bertemu Kelana secara langsung.
"Ayo masuk dulu." Ajak Kelana seraya mendorong stroller Nana.
Renjani menggandeng tangan Tumi masuk ke restoran yang sudah mereka pesan. Sebenarnya Renjani ingin mengajak Tumi dan Edi bertemu di apartemen, hanya saja mereka tidak punya waktu banyak dan jarak apartemen cukup jauh dari sini. Belum lagi jalanan Jakarta yang selalu padat.
"Ya ampun, anak kalian cantik sekali." Tumi mengangkat tubuh mungil Nana dari dalam stroller. Sebelumnya Tumi hanya bisa melihat Nana dari foto-foto yang Renjani kirimkan padanya. Hari ini akhirnya Tumi bisa menggendong Renjana.
"Matanya indah." Timpal Edi.
Tanpa sadar Kelana mengangguk setuju dengan kalimat Edi. Kelana selalu dibuat kagum oleh sepasang netra Nana yang sangat mirip dengan Renjani.
"Ini untuk Paman dan Bibi." Kelana meletakkan dua paper bag di atas meja. "Renjani yang pilih, semoga kalian suka."
"Kalian nggak perlu ngasih hadiah seperti ini." Tumi hanya ingin bertemu dengan Renjani dan Kelana serta Nana, pertemuan ini sudah cukup untuknya.
"Itu bukan apa-apa dibandingkan kebaikan Bibi dan Paman pada Renjani, berkat kalian juga kami kembali bersatu." Kelana sangat berterimakasih pada Tumi dan Edi, selama ia tidak ada, mereka sudah menjaga Renjani dengan baik.
"Bibi dan Paman beneran langsung pulang besok?"
"Iya Re."
Renjani muram, ia masih ingin bertemu Tumi dan Edi lebih lama.
"It's okay, nanti kita bisa ke Bogor kalau kamu kangen sama Bibi dan Paman." Kelana berusaha menghibur Renjani.
Tumi tersenyum melihat perlakuan Kelana terhadap Renjani, ia ikut bahagia karena mereka kembali bersatu dan menjalin hubungan yang harmonis.